Menjalani Coparenting dengan Rileks


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hola halo!

Coparenting secara bahasa berarti menjalankan aktivitas pengasuhan anak secara bersama-sama. Bersama siapa? Dalam kasus single parent, coparenting ini dilakukan bersama mantan pasangan.

Sebenarnya, pasangan normal yang masih tinggal di dalam satu atap saja masih banyak sekali yang belum bersinergi melakukan pengasuhan. Misalnya, para suami yang masih menganggap bahwa mengasuh dan mendidik anak hanyalah tugas istri, sedangkan suami bertugas mencari nafkah. Betul?

Sebenarnya, pasangan normal yang masih tinggal di dalam satu atap saja masih banyak sekali yang belum bersinergi melakukan pengasuhan. Misalnya, para suami yang masih menganggap bahwa mengasuh dan mendidik anak hanyalah tugas istri, sedangkan suami bertugas mencari nafkah.

Oleh karena itu, sejujurnya saya bahagia banget ketika ayahnya Ahza punya itikad baik untuk bersama-sama mengasuh Ahza, walaupun kebanyakan dilakukan secara remote. It’s okay, menurut saya sudah lebih dari cukup.

Bagaimana sih coparenting yang kami jalankan? Hmm.. Nggak seribet yang mungkin kelihatan di film-film, kok.. Wkwk..

Hal pertama yang dilakukan adalah berkomunikasi dengan mantan pasangan tentang tujuan pengasuhan agar tercipta pengasuhan yang konsisten dan kongruen. Konsisten maksudnya adalah agar A adalah A dan B adalah B. Satu suara dalam pengasuhan itu sangat penting untuk anak. Kalau orangtuanya aja beda suara, anak pasti bakalan bingung dan ujung-ujungnya hilang arah. Kongruen artinya kami menggunakan peraturan ABC ketika bersama ibu dan ayah. Sama aja. Semua sayang dengan Ahza dan nggak ada yang lebih memanjakan.

Nah, maunya sih begituuu.. Kenyataannya? Mewujudkan kekonsistenan dan kekongruenan ini sulit banget, ya. Apalagi ketika dihadapkan dengan keluarga, terutama nenek dan kakek. Ketika ayah ibunya sudah satu suara, nenek dan kakek biasanya punya misi lain: memanjakan cucu mumpung ada waktu dan rezeki. Benar apa benar? Hehehe..

Terus, gimana dong kalau ndak bisa konsisten dan kongruen? Nanti kan bisa berpengaruh pada perilaku dan pikiran anak. >.<

Saya pun selalu berpikiran seperti itu, lho. Beberapa bulan terakhir ini, tak terhitung seberapa sering Ahza memohon kepada kami agar diperbolehkan menginap di rumah neneknya di Bogor. Kelihatannya Ahza kangeeeen sekali dengan nenek dan saudara-saudaranya di sana. Sama ayahnya? Mungkin nggak terlalu, karena sering bertukar kabar via WhatsApp atau bertemu langsung.

Beberapa bulan kemarin, tak terhitung pula seberapa sering saya menahan Ahza dengan dalih takut Ahza ‘berubah’ sepulangnya dari sana. Takut Ahza terpapar value-value yang nggak sejalan dengan yang diterapkan di rumah. Takut Ahza terlalu dimanja sehingga nantinya bisa syok setelah kembali ke Bandung. Ini semua bukan ketakutan semata, karena hampir selalu terjadi setiap kali Ahza pulang dari Bogor. Hiks..

Tapi kemudian, saya ‘diingatkan’ Allah melalui perkataan Nabi Ibrahim as dan Rasulullah saw saat berada di situasi genting, “Cukuplah Allah bagiku, Ialah sebaik-baiknya penolong”.

Ternyata saya sok tahu banget, ya. Sok-sokan mendahului kehendak Allah. Takut sendiri dengan berbagai pikiran saya, sampai menahan hak anak untuk bertemu dengan keluarga ayahnya. Astaghfirullah..

Padahal apa yang harus ditakuti kecuali Allah? Bukankah Allah berkata bahwa tidak ada yang harus kita takuti kecuali Ia? Walaupun seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakan kita, niscaya mereka tidak akan berhasil, kecuali apa yang sudah ditakdirkan Allah. Begitupun ketika seluruh manusia berkumpul untuk melindungi kita dari bencana, niscaya tidak akan berhasil jika Allah sudah berkehendak.

Walaupun seluruh manusia berkumpul untuk mencelakakan kita, niscaya mereka tidak akan berhasil, kecuali apa yang sudah ditakdirkan Allah. Begitupun ketika seluruh manusia berkumpul untuk melindungi kita dari bencana, niscaya tidak akan berhasil jika Allah sudah berkehendak.

Qadarullah wa maa sya’a fa’al..

Semua yang terjadi pada kita adalah ketetapan Allah. Tinta sudah mengering dan pena sudah diangkat.

Baik dan buruk yang terjadi, kita harus selalu yakin bahwa semua adalah jalan terbaik yang dipilihkanNya untuk kita. Harusnya nggak ada lagi tuh takut ini takut itu. Khawatir begini khawatir begitu. Manusia bisa berikhtiar, tapi Allah yang menentukan. 

Anak itu bukan milik kita. Ia hanya titipan dari Yang Maha Memiliki. Kita bukan pemilik, apalagi rabb dari anak-anak kita yang berhak mengatur, bahkan menahan hak mereka. Na’udzubillahimindzalik. Ampuni kami, Yaa Ghafuur..

Kita bukan pemilik, apalagi rabb dari anak-anak kita yang berhak mengatur, bahkan menahan hak mereka. 

Tapi kan kita itu hanya mencegah terjadinya keburukan dari anak-anak kita? Masa sih nggak boleh ikhtiar?

Boleh, dong! Ikhtiar itu kan wajib, tapi kan selama ini bukankah kita sudah berikhtiar menghadirkan iklim pengasuhan yang kondusif di rumah? Berapa lama sih anak menginap di rumah keluarga mantan? Paling lama 2 minggu, kan? Coba bandingkan dengan waktu yang kita miliki bersama anak? Hampir setiap hari, bukan?

Ayah dan ibunya anak-anak akan selalu menjadi ayah dan ibu mereka, dari awal penciptaan hingga kelak hari akhir. Ndak ada kan yang namanya mantan ayah atau mantan ibu? 

Begitupun cinta ayah dan ibu kepada anak-anaknya dan betapa mereka selalu merindukan anak-anak mereka ketika jauh. Nah, sekarang kebayang nggak betapa kangennya ayah dan anak ini untuk sekadar tidur bareng, main bareng, ngobrol bareng? Dan bukan hanya mereka, karena keluarga di sana pun pasti kangen banget dengan anak kita.

Keegoisan yang selama ini melingkupi pikiran kita, ternyata telah merenggut hak anak, hak ayahnya, dan hak keluarga besar di sana. Siapa sih kita? Hanya hamba Allah yang penuh dosa, kan? Kok bisa-bisanya berbuat sejahat itu? Hiks.. Astaghfirullahaladzim..

Pada akhirnya, ketika ada yang bertanya bagaimana cara menjalani coparenting? Jawabannya adalah menyadari dan menerima dengan ikhlas apa yang terjadi pada hidup kita dan yakinlah seyakin-yakinnya bahwa semua ini adalah ketetapan Allah yang pasti baik. Yup, takdir Allah itu pasti baik, karena Allah itu sayaaaang banget sama kita.

Setelah menyadari dan menerima, maka berikhtiarlah membangun iklim pengasuhan yang kondusif di rumah. Ibarat pohon, ia akan mampu menahan terjangan angin, jika akarnya kuat. Begitupun anak-anak kita. Jika selama ini kita telah berikhtiar untuk menanamkan value-value kebaikan dan pengasuhan yang baik, insya Allah mereka akan dilingkupi kebaikan di manapun mereka berada. 

Yang jauuuuh lebih penting di atas semuanya, tumbuh suburkan fitrah keimanan kepada anak-anak kita sedini mungkin. Ketika mereka yakin bahwa Allah selalu bersama mereka, insya Allah mereka akan punya pegangan dan ‘akar’ yang kuat. Insya Allah..

Terakhir, berserah dirilah kepada Allah. Mari titipkan anak-anak kita, yang sebenarnya bukan milik kita, kepada Pemiliknya. Yakinlah bahwa Ia pasti akan menjaga  mereka dan menetapkan takdir yang baik untuk mereka.

Jadi, ternyata coparenting itu nggak seseram yang dibayangkan, kan? Kita bisa menyikapinya dengan rileks jika memang sadar diri. Sadar bahwa kita adalah hamba Allah dan kita punya Allah yang  ketetapanNya pasti baik? 

Lalu, apakah dengan menulis ini berarti saya sudah legowo dengan coparenting ini? Harus, dooong.. Supaya nggak stres sendiri. Wkwk..

Dan apakah berarti saya lebih baik dari ibu-ibu yang lain? Absolutely, NO! Saya adalah ibu yang luar biasa fakir ilmu dan fakir keterampilan sebagai seorang ibu. Ibu yang sangat sangat payah. :(

Tapi, bukankah Allah tidak akan membebani kita di luar kemampuan kita?

Kalau Allah saja yakin bahwa saya bisa melalui ini semua, kenapa saya harus takut? Toh, akan selalu ada Allah bersama saya. Semoga..

*Allah, jangan tinggalin aku, yaa.. :(

Kamu pasti kuat,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Tiga Nasihat Ini Dijamin Bikin Baper Pergi! Bye Bye Baper!