Catatan dari Seminar Mengurangi Kecanduan Games pada Anak dengan Metode 4T


Bismillah..

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hola halo!

Pertanyaan Ahza (5 tahun) yang akhir-akhir ini sering terlontar dan agak sulit saya jawab adalah seputar games.

“Bu, Om Aji lagi ngapain sih?” 
“Bu, kayaknya games itu seru banget, ya?”
“Bu, kok Om Alvin jadi main games? Padahal aku ke rumah Om buat main lho!”
“Bu, bapak itu lagi main games, ya?”
“Bu, kenapa semua orang suka main games?”
“Main games itu seru banget ya, Bu?”

Games, bagi ibu-ibu seperti saya, entah mengapa menjadi momok yang mengancam. Apa pasal? Apa lagi kalau bukan para lelaki yang jadi kecanduan games dan melupakan kewajibannya pada keluarga.  Iya sih, saya nggak ngalamin langsung, tapi melihat saudara-saudara perempuan saya bercerita tentang suaminya dengan raut sedih dan emosi  tak nyaman yang melimpah ruah, rasanya itu sudah cukup membuat saya mengerti sampai sejauh mana kecanduan games ini bisa mengganggu keharmonisan keluarga. Hiks..

Imbas dari keparnoan saya terhadap games ini adalah saya agak protektif kepada Ahza dengan membatasi penggunaan gadget. Nggak games aja sih sebenarnya, tapi Youtube juga. Masalah emak-emak zaman now itu ya kecanduan gadget pada anak. Tul nggak, Maks? Hehe..

Qadarullah, di waktu-waktu kunjungan Ahza ke rumah keluarga ayahnya di Bogor, saat-saat itulah akulturasi kebudayaan terjadi. Heuheu.. Pernah sekali waktu ketika Ahza pulang dari Bogor, dia meminjam handphone saya dan menunjukkan saya cara mengunduh game di Playstore dan meng-uninstall-nya “kalau sudah bosan”! Alamak! Mamak kecolongan. Syok deh waktu itu!

Sejak itu, Ahza jadi tahu games. Tapi ya sudah, kan kita nggak bisa bikin anak kita steril. Terlalu steril juga nggak baik. Yang bisa kita lakukan adalah menemani dan mengendalikan waktu bermainnya. Tapi, sejujurnya, masih tetap sih ada drama-drama karena main games ini. Hahaha..

Alhamdulillah, walaupun terpapar kenyataan bahwa anak-anak dan orang dewasa di sekelilingnya sering berlebihan ketika nge-games, Ahza masih patuh pada peraturan yang kami buat. Maksimal 15-20 menit per hari dan itupun akhirnya nggak setiap hari main games. Malah sekarang memasuki fase handphone bebas game. Haha..

Nah, ketika ada seminar tentang kecanduan games yang diadakan oleh Home Sweet Home, Ludenara, Kummara, Play Space dan boargame.id, saya justru langsung kepikiran saudara-saudara lelaki saya yang sudah kecanduan games. Ngaruh nggak ya cara yang akan dipresentasikan di seminar itu untuk mereka? Selain itu, kayaknya seminar ini pas banget untuk mengedukasi diri saya sendiri tentang games, supaya saya tahu tentang hal ini dari sudut pandang lain, bukan dari emak-emak parnoan.

Narasumber dari seminar 4T ini nggak main-main, yaitu Mas Eko Nugroho. Saat saya posting info seminar di Instagram, seorang teman langsung berkomentar, “Wah, ini mah pakarnya boardgame! Keren!”. Masya Allah, sungguh beruntung bisa menimba ilmu dari pakar di bidang games.


Mulai dari nol, ya. Saya tumpahkan semua gelas bertema games di otak saya, agar mampu menyerap dengan baik informasi yang saya dapat dari seminar ini. teman-teman pun sebaiknya demikian, pastinya gelasnya siap diisi ketika membaca catatan ini, karena mungkin akan ada beberapa hal yang baru kita ketahui atau yang tak sejalan dengan value keluarga kita. Nggak apa-apa kok, let’s agree to disagree.. :)

Berikut ini beberapa catatan dari seminar “Mengurangi Kecanduan Games pada Anak dengan Metode 4T”:

Sebelum jauh-jauh ngobrolin game, yuk flashback dulu ke masa kecil kita! Masa kecil indah, tanpa beban cicilan setiap bulan dan uang sekolah anak. Hehe..

Pernah nggak punya pengalaman berhasil menyelesaikan sebuah tantangan yang sulit sekali? Sulit dalam sudut pandang anak kecil tentunya, ya..

Ini cerita saya. Dulu, bahkan mungkin sampai sekarang, saya punya ketakutan saat tampil di depan umum. Rasanya grogi, pengin menghilang aja kalau mau tampil. Hihi.. Apapun penampilannya, biasanya saya suka mules, tanpa nervous.

Nah, si anak grogian ini entah bagaimana ditunjuk menjadi tim paskibra di sekolah. Saya lupa banget nih ceritanya gimana. Yang saya ingat, waktu itu saya menjadi pembuka bendera, itu lho petugas paskibra yang tugasnya membuka bendera dari keadaan terlipat sampai terbuka sempurna dan berteriak, “Bendera siap!”. Haha..

Saat berlatih saja sudah gugup, karena diperhatikan oleh guru pembina. Nggak kebayang deh pas upacara nanti kayak gimana. Yang saya ingat, saat itu kami berlatih dengan tekun. Lagi, lagi, dan lagi.

Akhirnya, waktu untuk ‘tampil’ pun tiba. Alhamdulillah, sukses! Yeay! Rasanya? Whuaaa, bangga banget, senang luar biasa! Setelah tugas pertama itu, ada tugas-tugas selanjutnya. Ah, lumayan sering deh pokoknya. Kejadian bendera terbalik? Pernah dong.. Tapi ya sudah, sudah berlalu ini. ahahaha..

Kamu punya pengalaman menantang seperti saya? Insya Allah punya, ya. Masih ingat rasa bahagia, senang, bangga, dan merasa berhasil menaklukkan tantangan yang sulit itu? Yes! Seperti itulah kira-kira yang dirasakan oleh kita ketika bermain game.

Sebutlah main Mario Bross. Haha, generasi 90an banget emang. Pastinya seneng banget kan ketika kita berhasil menyelamatkan puteri raja setelah melawan naga? Whuaaa, berasa keren banget!

Nah, sekarang, kalaulah di percobaan pertama saya menjadi paskibra tadi saya mengalami kegagalan. Kira-kira bisa mencoba lagi, nggak? Mungkin saja sih, tapi sepertinya peluangnya tipis, mengingat Pak Guru mungkin akan memilih murid lain yang lebih kompeten. Tapi, sebaliknya, dalam game ada ribuaaan kesempatan untuk mencoba dan menjadi lebih baik. Batasnya? Ya sampai gamenya selesai! Panjang kan batasnya, ehehe..

Maka, catatan pertama untuk kita, emak-emak parnoan, adalah ternyata ada sudut pandang lain dalam melihat anak bermain game. Jika kita biasanya memandang hal ini sebagai “anak yang sedang membuang-bung waktu”, maka kita juga bisa memandang hal ini sebagai  “anak yang sedang berusaha menyelesaikan tantangan”.

Jika kita biasanya memandang hal ini sebagai “anak yang sedang membuang-bung waktu”, maka kita juga bisa memandang hal ini sebagai  “anak yang sedang berusaha menyelesaikan tantangan”.

Wah wah..

Setelah Mas Eko menjelaskan tentang perasaan puas saat berhasil menyelesaikan tantangan dalam game yang biasa disebut dengan hard fun, beliau melanjutkan presentasinya dengan catatan kedua yang sangat menampar saya dan berkali-kali membuat air mata saya ingin keluar dari rumahnya. Tapi saya tahan sih.

Main adalah hak anak.

Main itu adalah sesuatu yang sangat serius untuk anak. Jadi, ketika anak mengajak kita bermain, maka ini adalah sesuatu yang SERIUS untuk anak.

Berapa kali saya nyuekin Ahza? Berapa kali saya menolak ajakan mainnya?

“Bu, main, yuk!”
“Nanti ya, ibu kerja dulu..”
“Nanti ya, ibu ngerjain ini dulu, kagok..”
“Kan tadi udah main, nanti aja ya main lagi..”

Huhuhu, ibu macam apa saya…… T_T

Maka, jangan heran kalau anak kecanduan main game, karena mungkin ada peran kita juga di sana yang nggak pernah bisa hadir dan menjadi teman main serius untuk anak. Padahal, anak kita jadi anak kecil itu kan nggak akan lama. Usia 7 tahun, masuk SD, sudah punya teman. Sibuk deh, tinggal kita sendirian di rumah.

Dan bagi saya, waktu menuju Ahza sekolah itu tinggal kurang lebih 1 tahun lagi. Huhu..

Tentunya kita semua ingin keluarga kita menjadi keluarga yang bermanfaat bagi umat. Dan keluarga yang bermanfaat hanya akan lahir di lingkungan inovatif, yaitu tempat di mana orang leluasa untuk bermain. Pastinya sudah tahu kan kantor Google yang fenomenal itu? Semakin cool kantornya, semakin inovatif karyawannya. Dan sebaliknya.

Lalu, pembahasan selanjutnya adalah tentang game itu dikenalkannya sejak umur berapa tahun? Dan, btw, game itu sama aja kan dengan mainan biasanya? Mari kita simak, Marimar!

Kemarin Mas Eko memperlihatkan Taksonomi Bermain:


Dalam taksonomi ini, kita bisa tahu kalau ternyata seperti semua pekerjaan serius lainnya, bermain pun ada tahapannya!

Tahap pertama adalah ludic games, bermain bebas. Permainan ini dilakukan oleh newborn, si bayi merah, seperti menggigit-gigit, mengenal bentuk, dan lain-lain.

Tahap kedua adalah epistemic games. Nah, di fase ini (0-3 tahun), kadang orangtua termakan jebakan marketing mainan anak yang menggembar-gemborkan bahwa mainan A baik untuk sensorik anak, mainan B cocok untuk mengasah kognitifnya, mainan C best seller dan direkomendasikan oleh pakar. Padahal, mainan terbaik untuk anak 0-3 tahun itu ada di depan matanya! Gratis dan sangat sangat menghibur! Yap, siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya.. Huhu..

Mainan terbaik untuk anak 0-3 tahun itu ada di depan matanya! Gratis dan sangat sangat menghibur! Yap, siapa lagi kalau bukan kedua orangtuanya.

Sayangnya, niat kita ingin memberikan yang terbaik dengan membelikan A, B, dan C untuk anak ternyata tidak dibutuhkan anak. Yang paling dibutuhkan mereka adalah kehadiran kedua orangtuanya.

Lupakan semua mainan, karena anak membutuhkan figur yang utuh yang bisa memahami anak.

Ya ampun, ke mana saja kita selama ini, Buibu?

Nah, tahap ketiga adalah games with rules. Karena sudah ada peraturannya dan menjadi kompleks, maka jenis permainan ini membutuhkan kemampuan kognitif yang mana baru matang di usia anak 6-7 tahun.

Jadi, catatan ketiga adalah kenali tahap bermain anak dan berikan permainan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak kita.

Selanjutnya, Mas Eko membahas tentang jenis-jenis games, yaitu physical game, boardgame, cumputer/console game, dan mobile game. Whoa, lebih familiar dengan yang mana nih, Mak? Ternyata, masing-masing jenis game ini punya karakteristiknya masing-masing, lho! Yuk, cari tahu!


1. Pshysical game
Sesuai namanya, permainan ini mengikutsertakan fisik dalam aktivitasnya. Bisa jadi, jenis permainan inilah yang paling awal kita kenali. Karakteristik dari physical game:
- Bermain bersama-sama, membutuhkan individu lain dalam permainan. Lebih banyak pemain, lebih seru!
- Konten tidak terbatas, hanya dibatasi oleh imajinasi. Pemain bisa menjadi apa saja, melakukan apa saja, dan membuat peraturan apa saja.
- Bisa jadi gratis dan minim modal.
- Lingkungan sangat berpengaruh pada permainan ini. Misalnya, bermain layang-layang di jalan raya tentu berbeda dengan bermain di lapangan bola.
- Contoh: benteng-bentengan, balap ban bekas, dll.


2. Boardgame 
Yaitu permainan yang dilakukan di atas meja atau alas datar. Karakteristik dari boardgame:
- Bermain bersama-sama, membutuhkan individu lain dalam permainan. Pemain terbatas pada peraturan game.
- Konten terbatas.
- Relatif murah.
- Lingkungan cukup berpengaruh pada permainan ini. Misalnya, dibutuhkan meja atau alas datar untuk menggelar permainan.
- Contoh: monopoli, ular tangga, dll.


3. Computer/console game
Yaitu permainan yang dimainkan melalui komputer atau console (Nitendo, PlayStation, dll). Karakteristik dari permainan ini:
- Bisa bermain secara individu ataupun bersama-sama, membutuhkan. Pemain terbatas pada peraturan game.
- Konten tak terbatas.
- Relatif mahal, karena harus memiliki perangkat permainan.
- Lingkungan berpengaruh pada permainan ini. Misalnya, dibutuhkan colokan listrik.
- Contoh: Harvest Moon, Mario Bross, Grand Turimo, dll. (contohnya 90an banget hhahahaha)


4. Mobile game
Yaitu permainan yang dimainkan melalui smartphone. Karakteristik dari permainan ini:
- Dimainkan seorang diri, karena terkait keterbatasan layar smartphone. Bisa mainkan bersama-sama dengan cara online.
- Konten tak terbatas.
- Mulai dari tak berbayar.
- Lingkungan tidak berpengaruh, bisa bermain di dalam kamar, di pantai, atau di atas kendaraan. Bebhas..

Katakanlah usia anak kita masih di bawah 7 tahun, nah, jenis permainan yang manakah yang sudah kita perkenalkan padanya? Sudahkah kita membuatnya puas bermain fisik? Atau malah sejak bayi sudah diberikan mobile game?

Apa pengaruhnya?

Dalam mobile game, kita mengenal adanya Games Rating System. Atau malah baru ngeh kayak saya kemarin? Wkwk..


Pada rating system ini, kita bisa melihat untuk umur berapakah game ini dirancang. Yang kita tidak tahu, atau mungkin lupa, kebanyakan game ini dirancang oleh para gamemakers yang berasal dari kebudayaan yang berbeda dengan kita. Tentunya hal ini akan sangat berpengaruh pada nilai-nilai yang kita anut. Contoh sederhananya, adegan tembak menembak bisa jadi wajar di belahan dunia yang lain, namun menjadi adegan kekerasan di Indonesia. Atau ada yang punya contoh lainnya?

Selain itu, ratingnya sendiri dibuat dengan standar Amerika, yang mana mungkin tantangan umur 7+ di sana akan sama dengan umur 10+. Atau jangan tantangan di gamenya, deh! Bisa jadi indikator kekerasan dalam gamenya pun berbeda antara di Amerika sana dengan di sini.

Terkait faktor-faktor di atas, kita bisa menambahkan umur yang tertera di game dengan 3 tahun. Misalnya, jika pada Playstore game tersebut ditujukan untuk 3+, maka tambahkan 3 tahun menjadi 6, dan itulah standar game yang pas untuk anak 6 tahun. Tapiiii, ini bukan prinsip baku ya, kata Mas Eko.

Yang menarik dan menjadi catatan keempat adalah kenalkan jenis game sesuai dengan umur anakDan jika anak sudah terlanjur mengakses game yang tidak sesuai umurnya, maka carilah cara agar dampaknya minimal. Bagaimana caranya? Naaah, Buibu bisa mencoba metode yang sedang dikembangkan oleh Mas Eko dan tim, yang sebenarnya mungkin sudah kita terapkan dalam aspek lain di aktivitas pengasuhan.

Mengoptimalkan Potensi Game untuk Keluarga dengan 4T


Judulnya mindblowing banget nggak sih? Sejujurnya, pertama kali membaca judul ini, saya rada-rada mlongo. Apa? Potensi game? Dioptimalkan? Untuk keluarga? Begimane ceritanye nih game bisa ada manfaatnya? Hahaha, ndeso banget memang. >.<

Namun, setelah mendengar pemaparan Mas Eko sejak awal tentang bermain dan game, ternyata pemikiran saya tentang game masih sangat sempit. Game bisa dipandang lebih luas lagi sebagai sarana anak untuk menyelesaikan sebuah tantangan, berdamai dengan peraturan yang mengikat game, dan bersahabat dengan kesabaran saat memainkan ulang game.

Sebenarnya, orangtua bisa kok memanfaatkan game untuk media pembelajaran. Apalagi seperti yang Mas Eko bilang, konten game itu sekarang bisa dibilang tak terbatas! Mau cari game apapun, insya Allah ada. Belajar tentang morfologi tubuh, percobaan kimia, belajar fisika, bahasa asing, you named it lah, insya Allah ada. Seperti anak kandung teknologi lainnya, game juga memilliki dua sisi mata uang yang bisa kita pilih sendiri: mau pilih manfaatnya atau parno dengan mudharatnya.

Jadi, apa itu 4T?

4T adalah singkatan dari Tertarik, Terlibat, Temani, dan Tambah Variasi. Terapi 4T bisa diberikan kepada anak yang sudah kecanduan game maupun anak kicik yang baru mengenal mobile game supaya mamaknya nggak parnoan, kayak saya. hehe..

T1 – Tertarik


“Ya Allah, Gusti, apa sih yang bikin mereka betah berjam-jam memandangi layar smartphone sambil sesekali berteriak, “Awas di kiri! Urang kaditu, nya! (kita ke sana, ya!)” kepada temannya melalui headset?”
“Apa sih yang bikin PUBG lebih menarik dari ngobrol bareng keluarga?”

Well, setidaknya dua pertanyaan inilah yang selalu muncul ketika saya melihat para Pejuang PUBG di acara kumpul keluarga, entah itu pengajian, tahlilan, sampai Lebaran. Sungguh kutak mengerti …

Jika hal yang ini terjadi pada anak-anak kita, maka mari kita lakukan T yang pertama, yaitu TERTARIK.

Bangun ketertarikan yang jujur pada game tersebut. Untuk apa kita tertarik? Yaaa, katanya mau jadi teman anak? Katanya mau mengatasi kecanduan anak? Dan mengapa harus jujur? Karena anak-anak itu selalu tahu kalau kita berbohong. Hehe..

Pahami game tersebut dari sudut pandang kita dan bangun ketertarikan kita supaya kita bisa memahami dan menghargai pilihan anak. Hal ini juga bermanfaat untuk orangtua untuk melatih rasa ingin tahu dan berpikir kritis.

Saya jadi ingat pesan dosen saya, seorang ibu dengan remaja pecinta K-Pop, “Supaya bisa dekat dengan anak, ya saya harus tahu apa yang dia suka, supaya ada bahan untuk ngobrol, main, dan jalan bareng. Karena dia sukanya K-Pop, ya saya berusaha untuk mencari tahu tentang K-Pop dan rela menemaninya ke konser idolanya,”.

Hayo, bisa nggak Mak kita sampai segitunya?

Saya pribadi, sejak mendengar petuah ini, saya sudah kadung berazam bahwa saya akan menjadi ibu yang bisa membersamai anak saya dalam melakukan kegiatan favoritnya. Suka berenang, ya ikut berenang. Suka sepak bola, ya mencoba mengenal tim favoritnya. Kayak gitu.. Bisakah? Ya, mayan sih, waktu Ahza suka mobil pemadam kebakaran, saya sampai ngeprint macam-macam mobil pemadam dari seluruh dunia. Hahahahahha.

T2 – Terlibat


Setelah kita mulai tertarik, walaupun sebiji zarah, maka tahap selanjutnya adalah terlibat. Setelah memahami game dari sudut pandang kita, maka kini saatnya melihat dari sudut pandang anak kita. Caranya? Ajak ngobrol atuh.. :)

Bisa juga kita menemani anak bermain, mengintip layar smartphonenya, tapi jangan sampai mengganggu ya, Mak! Cukup menjadi penonton yang baik saja.

Langkah ini bermanfaat untuk berlatih komunikasi dengan anak dan membangun empati.

T3 – Temani


Aha! Akhirnya kita tahu deh kenapa anak suka banget dengan game tersebut!

Setelah itu, apa lagi? Yuk, kita main bersama anak kita untuk membangun pemahaman bersama. Dari aku, dia, menjadi kita.

Jangan lupa membuat jadwal bermain, supaya kita bisa bersiap-siap dan anak pun bisa mengosongkan jadwalnya. Yha, kan zaman sekarang mah semua anggota keluarga punya jadwal padat merayap. Hehe..

Di tahap ini, orangtua akan belajar untuk khusyuk bermain, karena setelah menjadi orang dewasa kita menjadi lebih sulit untuk bermain. Ingat! Kesempatan main dengan anak itu hanya sebentaaaar sekali sebelum mereka sibuk dengan hidupnya masing-masing.

Dalam bermain bersama, kita akan belajar tentang sinergi, kolaborasi, dan kesetaraan. Siapapun yang bermain dalam game akan menjadi setara, karena semua memiliki status yang sama sebagai pemain.

T4 – Tambah Variasi


Langkah keempat ini bisa menjadi sangat menarik, karena terkait dengan mengoptimalkan game untuk media pembelajaran keluarga.

Misalnya, ketika anak senang bermain Harvest Moon (contohnya lagi-lagi jadul), kita bisa menjadikan hal ini sebagai tema pembelajaran keluarga. Ajaklah anak-anak ke perternakan sapi atau ke ladang pertanian. Perkenalkan anak dengan beragam pekerjaan di sana dan bandingkan kondisinya dengan yang ada di dalam game. Hmm, pasti akan menjadi menarik sekali, ya?


Setelah melakukan 4T, bukan tidak mungkin anak yang kecanduan game akan berubah menjadi anak yang kecanduan bermain dengan orangtuanya! Wah! Seru banget!

Dan 4T ini nggak hanya bisa dilakukan untuk anak yang kecanduan game, ya! Tapi bisa dilakukan bersama semua anak, karena semua anak suka bermain! :)

Akhirnya, catatan kelima yang saya dapatkan dari seminar ini adalah jangan besarkan anak kita seperti bagaimana kita dibesarkan, karena mereka diciptakan untuk menghadapi tantangan di zamannya.

Anak-anak kita, Generasi Alfa, seakan dilahirkan untuk menggunakan segala macam kecanggihan teknologi. Lihat saja bayi berumur kurang dari 1 tahun pun sudah bisa mengoperasikan gadget, bukan?

Maka, tugas orangtua pada hari ini bisa jadi sangat berat, karena harus menjalankan fungsi ganda sebagai sahabat sekaligus mentor. Ia yang bisa menjadi teman bermain terasyik, sekaligus menjadi inspirasi bagi anak melalui keteladanan.

Seperti yang Mas Eko bilang, anak itu hadir untuk membuat kita menjadi baik setiap harinya. Sebenarnya, anaklah yang banyak mengajarkan kita, bukan sebaliknya. Insya Allah, mulai hari ini, siap yaaa jadi teman bermain terasyik untuk anak? Insya Allah, bismillah.. Semangat!

Foto bersama peserta seminar dan Mas Eko Nugroho

Berbagi cerita tentang pengalaman bermain games bersama anak

Kids cornernya seruuu

Aneka boardgames buatan anak negeri yang bisa didapatkan di boardgame.id

Sambutan dari Bubu Wiwik Home Sweet Home

Salam sayang,
Si Ibu Jerapah

Sumber gambar dan foto:
Materi presentasi seminar
Facebook page boardgame.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Tiga Nasihat Ini Dijamin Bikin Baper Pergi! Bye Bye Baper!