Low Mood, Mari Kita Bersahabat!


Bismillah,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hola Halo!

Tiga tahun belakangan ini, saya merasa ada yang janggal ketika awal tahun datang. Sebutlah awal tahun ini adalah rentang antara bulan Februari hingga Juni. Ada yang selalu datang di bulan-bulan ini selama 3 tahun terakhir.

Dia adalah si sahabat jauh, low mood. Si lemas.

Tapi, ada yang berbeda tahun ini. Sang sahabat datang cukup intens dan sangat meresahkan. Saya benar-benar merasa tidak ingin bertemu siapapun; tidak ingin berbasa-basi, ngobrol-ngobrol cantik; tidak ingin melakukan hal-hal yang sebelumnya sangat menggairahkan untuk saya, menulis dan berkomunitas misalnya; dan mudah sedih (dan marah juga).

Sangat sangat mengganggu. Dan kali ini saya baru menyadari, bahwa hal ini terjadi hampir di setiap awal tahun. Pasalnya, saya teringat pada kejadian di mana saya ‘menghilang’ dari sebuah komunitas di awal tahun 2018. Sampai-sampai, Mbak Tyas dan Mbak Bulan bela-belain datang ke rumah untuk bertanya kabar saya. Dan saat itu saya ingat sekali kalau saya merasa useless, sedih, dan low mood sekali. Depresi? Entahlah. 

Tahun ini semakin parah, karena saat ada trigger, respon yang saya berikan sangatlah menyeramkan. Ya, bagi saya saja menyeramkan, apalagi bagi mereka yang menyaksikan dan mungkin juga bingung ada apa dengan saya. Saya juga bingung.

Sampai akhirnya saya menyerah. Saya harus sembuh dari penyakit-apapun-itu demi anak. Karena anaklah yang secara langsung merasakan dampak dari ketidakwarasan saya. Selain itu, ada banyak amanah yang terbengkalai, karena saya diserang ketidakpercayaan diri akut untuk tampil di Grup WhatsApp. Nggak mampu untuk menyapa banyak orang, seperti yang saya lakukan di Kelas Matrikulasi Bandung 1.

Yaw, para pembaca mungkin berpikir saya sakit jiwa? Bipolar? Depresi? Entahlah, saya pun nggak peduli namanya apa, tapi saya harus sembuh.

Ketika saya menyerah untuk pura-pura kuat, saya pun menghubungi Mbak Fitri Ariyanti, penulis buku ‘Bukan Emak Biasa’, sekaligus psikolog yang menangani saya sejak akhir tahun lalu. Mbak Fitri adalah pemberi pelukan terhangat dan tererat yang pernah saya rasakan selama 30 tahun belakangan ini. Hmm, pernah sih, waktu kecil saya dipeluk eraaaat sekali oleh Om saya, tapi itu pun karena dia kerasukan roh nenek moyang (katanya). Yang pasti, saat itu boro-boro senang, yang ada saya sangat ketakutan.

Setelah mengatur jadwal, saya pun berkonsultasi dengan Mbak Fitri di BPIP Dago. Saya mengadukan masalah saya, kemarahan saya, ketidakwarasan saya.

Mbak Fitri pun melakukan sesi terapi pada saya: membuat saya relaks dan membawa saya kepada kenangan-kenangan sejak masa kecil hingga saat ini yang memang saya tuliskan sebagai bentuk PR dari Mbak Fitri. Sayangnya memori HP saya hilang, jadi nggak bisa menunjukkan bagaimana bentuk terapi menulis yang Mbak Fitri PR-kan. Pokoknya seru sekali!

Sesi terapi kali ini cukup berbeda dengan sesi-sesi sebelumnya, karena jika sebelumnya terdapat bagian cerita yang akan saya respon dengan tangisan heboh, namun kali ini tidak. Sebaliknya, air mata saya mengalir cukup deras ketika Mbak Fitri mengingatkan saya kepada momen meninggalnya om-om kesayangan saya. Oh, sungguh saya rindu sosok lelaki yang bisa melindungi dan membuat saya merasa aman dan nyaman. Al-Fatihah untuk om-om saya..

Pada sesi kali ini, timbul kesadaran yang menyelinap dari neokorteks saya, bahwa hal-hal itu sudah berlalu dan kita nggak bisa mengubah siapapun. Ya, masalah terbesar saya adalah dengan orangtua saya, Mama dan Papa, terutama dengan Mama karena saat ini tinggal bersama. Timbul kesadaran, bahwa saya tidak bisa mengubah Mama. Mama adalah Mama, apapun yang terjadi pada saya. Mama adalah Mama, yang tidak bisa dipaksa berubah demi saya. Mama ya Mama. Ya sudah. Ilham itu yang terus menerus muncul.

Kemudian, ada juga pikiran nakal dan tidak membangun, ketika Mbak Fitri mengingatkan saya tentang prestasi-prestasi saya pada zaman dahulu kala. Bisa-bisanya neokorteks saya berkata, “Ya elah, segitu aja bangga siiih. Orang lain juga ada yang lebih sukses dari kamu dan biasa aja. Jadi kamu juga ya biasa aja”. Hmm, sungguh ilham yang menyebalkan!

Yup, pikiran yang datang dan pergi memang begitu, kan? Kadang positif dan kadang pula menjatuhkan. Saya lupa pernah baca atau dengar di mana, bahwa faktanya, manusia itu lebih sering berkata negatif pada diri sendiri dibandingkan kata-kata positif nan membangun. Jadi yang terjadi ya ketakutan-ketakutan itu malah berubah jadi nyata.

Awalnya Mbak Fitri mengagendakan saya untuk psikodrama. Ketika malam sebelum konsultasi Mbak Fitri membahas tentang psikodrama, saya sudah agak paham, karena pernah mendengar istilah ini dari Mbak Aisya Yuhanida. Menurut psycologytoday.com, “psychodrama is an experiential form of therapy that allows for correction through the re-experiencing and then dynamic improvement through expression and role rehearsal”.

Yaw, semacam gladi resik ketika menghadapi situasi yang sesungguhnya.

Karena saya merasa sudah baikan dan memang nggak heboh-heboh amat kesalnya, jadilah sesi psikodrama ini ditiadakan. Saya pribadi memang sudah memiliki prinsip bahwa fokus pada apa yang bisa saya kontrol, dan jangan habiskan waktu untuk mengubah sesuatu yang memang sulit untuk diubah. Istilah Bu Septi Peni tentang hal ini adalah “for things to change, i must change first”.

Dan itulah yang sering juga dibahas oleh Ustadz Nouman Ali Khan pada ceramah-ceramahnya. Dakwah yang terbaik itu ya dimulai dari diri kita sendiri. Buatlah banyak kebaikan dan orang akan melihat bagaimana Islam dari diri kita. Sibuklah dengan diri kita sendiri.

Efek prinsip ini pada saya adalah saya bisa mengurangi rasa kesal dan marah saya pada Mama. Menerima bahwa Mama memang seperti itu dan reframing bahwa Mama melakukan hal itu pun pasti ada sebabnya. Banyak alasan yang melatarbelakangi beliau dan banyak hal lain yang tidak saya ketahui. Dan semua ibu pasti sangat mencintai anaknya!

Efeknya lagi adalah saya jadi fokus untuk memperbaiki diri saya sendiri dan tidak buru-buru menghakimi orang lain, selain diri saya sendiri, ketika ada yang salah dengan Ahza. Kalau anaknya aneh, itu pasti karena ibunya aneh. Dan saya harus bisa pulih untuk Ahza.

Tentang PTSD


Setelah terapi, saya masih sangat penasaran tentang apa yang saya rasakan selama 3 tahun belakangan ini. “Ada kemungkinan PTSD,” kata Mbak Fitri. Ah, apa itu PTSD?

“Post Traumatic Stress Disorder. Biasanya diderita oleh tentara yang pulang dari perang. Misalnya, ketika melihat kembang api atau petasan, ia bisa menjadi sangat takut. Itu disebabkan karena tubuh kita memiliki memori tubuh. Walaupun otak sudah lupa, memori tubuh tetap mengingat apa yang terjadi pada kita. Nah, coba Dessy ingat-ingat, pernah mengalami apa di bulan-bulan ini? Bisa jadi tubuh kamu mengingat kejadian-kejadian itu, karena terjadinya sangat intens,” jelas Mbak Fitri.

Ah ya, saya catat dulu, ya. Menurut National Institut of Mental Health, “PTSD is a disorder that develops in some people who have experienced a shocking, scary, or dangerous event.

It is natural to feel afraid during and after a traumatic situation. Fear triggers many split-second changes in the body to help defend against danger or to avoid it. This “fight-or-flight” response is a typical reaction meant to protect a person from harm. Nearly everyone will experience a range of reactions after trauma, yet most people recover from initial symptoms naturally. Those who continue to experience problems may be diagnosed with PTSD. People who have PTSD may feel stressed or frightened even when they are not in danger.

Untuk lebih jelasnya bisa di-googling sendiri, ya. Saya sendiri saat membaca hasil pencarian Mbak Google jadi ketakutan sendiri. Walaupun belum didiagnosa secara resmi, tapi ada banyak sekali tanda dan sindrom yang selalu saya rasa setiap awal tahun di 3 tahun belakangan ini.


Jadi, apa jawaban dari pertanyaan Mbak Fitri? Setelah berpikir serius, saya teringat bahwa proses KDRT yang saya alami memang dimulai sejak awal tahun dan berakhir pada Juni 2015, saat mantan suami akhirnya menggugat cerai ke pengadilan agama. KDRT verbal, sosial, fisik, seksual, dan apapun itu, ternyata sangat diingat oleh memori tubuh saya. Bahkan saya sendiri pun sudah lupa, atau mungkin ini adalah salah satu bentuk pertahanan tubuh saya, akan apa yang terjadi saat itu. Lupa ingatan. Tapi, ternyata tidak demikian dengan tubuh saya. Ternyata tubuh saya masih mengingat dengan kuat apa yang saya rasakan saat itu.

Secara umum, hal-hal yang saya rasakan belakangan ini adalah:
  • Lemas dan lesu
  • Tidak bergairah melakukan apapun, bahkan melakukan apa yang biasanya membuat saya berbinar-binar
  • Gampang sekali menangis
  • Gampang sekali marah
  • Tidak mau bertemu dengan orang lain
  • Tidak mau mengobrol jika tidak urgent
  • Menutup diri
  • Susah tidur banget banget
  • Pelupa akut
  • Sakit kelapa, pusying banget
  • Merasa diri useless, bahkan hampir menyudahi kehidupan, huhu


Lemas dan lesu adalah hal yang paling mendominasi akhir-akhir ini. Gimana sih kalau kita habis lari? Lemas, kan? Nah, begitulah yang saya rasakan. Capeeeeek banget, padahal nggak ngapa-ngapain.


Lalu, pertanyaan saya yang belum terjawab adalah, “Apakah iman saya selemah itu sampai saya mengidap PTSD, bahkan kemarin sempat mau mengakhiri hidup? Apakah iman saya secetek itu?”.

Alhamdulillah, ada Teh Herly, seorang psikolog yang juga member IP Bandung, yang menjelaskan hal ini pada saya. Kata beliau, 
“PTSD itu bukan karena kurang iman, Teh. Tapi, dengan iman memang bisa membantu kita untuk bisa cepat sembuh. Teteh jangan terbebani dengan pikiran seperti itu, ya, karena itu malah bisa bikin tambah drop. Keimanan dan PTSD adalah dua hal yang berbeda. Karena kita punya Allah, perasaan tidak sendiri akan terasa. Perasaan ini, bisa membantu menenangkan saat sedang merasa sendiri,”.

Aah, terima kasih Teh Herly yang sudah membuat saya agak tenang. Jujur, pikiran semacam ini jadi beban untuk saya. Apakah shalat saya seburuk itu? Apakah usaha saya untuk dekat dengan Al-Quran sungguh-sungguh tidak berpengaruh? Apakah serendah itu iman saya? Pikiran-pikiran seperti ini sangat membayangi saya dan membuat saya semakin jatuh.

Lalu, apakah PTSD bisa disembuhkan? Nah, menurut referensi yang saya baca, PTSD ini memang sulit untuk disembuhkan, namun bisa diminimalisir dengan cara mengenali pencetusnya, paham akan apa atau situasi yang seperti apa yang membuat kambuh. Menurut Teh Herly, sembuh di sini artinya telah terlepas dari simptom-simptomnya atau minimal bisa mengendalikan.

Jujur, saya agak pesimis, karena untuk menyembuhkan diri dari luka masa kecil saja sulit, apalagi ditambah ini. Huaaa, rasanya ingin menangis terus.

Apa yang bisa dilakukan ketika lemas dan lesu menyerang? Jawaban Mbak Fitri cukup membuat saya kaget, “Terima saja. Ajak dia ngobrol dan beri waktu,”.

“Lemas, terima kasih ya sudah datang. Terima kasih sudah mengingatkan saya akan apa yang terjadi beberapa tahun lalu. Tapi, kalau bisa, datangnya jangan sering-sering ya, boleh? Atau kalau mau datang, jangan lama-lama, ya? Karena aku butuh semangat dan tenagaku untuk bisa jadi ibu yang baik untuk anakku,” begitu kira-kira yang saya dialogkan pada sahabat saya, si lemas, si low mood.

Huaaa, cirambay ih pas ngetik ini. Karena memang bagi saya, menerima itu sulit, apalagi menerima sesuatu yang inginnya kita lawan. Menerima sesuatu yang inginnya kita musnahkan.

Tapi harus diterima, harus ikhlas, karena rasa ini adalah bagian dari memori tubuh saya. Bagian dari diri saya sendiri. Bagian dari perjalanan hidup saya yang mengantarkan saya menjadi Dece yang saat ini bisa berdiri tegak untuk Kakang.

Lalu, beri waktu, rasakan lemas itu. Beri batas waktu, karena jangan sampai terhanyut dan terlalu meresapi si lemas. Biasanya yang saya lakukan hanyalah tidur, berbaring, karena seriusan, berasanya memang capek banget lho. Tapi, nggak mungkin juga tidur terus, karena saya harus mengasuh Kakang, harus bergerak, harus bekerja, dan berjualan buku. Iya lah, kalau nggak nanti jajan pakai apa? Heu..


Selain itu, Mbak Fitri juga memberikan info tentang teknik relaksasi dengan metode tapping EFT yang sepertinya 11-12 dengan metode tapping DEPTH. Yang berbeda, prosedur tapping diawali dengan menyadari apa masalah yang kita rasakan dan pernyataan bahwa kita mencintai diri kita. Misalnya, “Walaupun aku tidak dicintai, tapi aku mencintai diri kita apa adanya” atau “Walaupun aku merasakan kemarahan, tapi aku mencintai diri kita apa adanya”.

Setelah itu, lakukanlah proses tapping seperti yang terlihat pada gambar atau ada videonya juga!


Apakah bekerja untuk saya? Entahlah, tapi rasanya lebih nyaman aja kalau habis tapping-tapping dan lebih berjarak dengan marah. Ya, biidznillah, semoga dengan seizin Allah bisa bekerja, ya.

Terus, kalau bisa menulis, berarti sudah sembuh, dong? Insya Allah, mohon doanya, ya.. Rasanya  2 hari ini sudah merasa much much much better sih. Sudah nggak lemas dan mellow, dan sudah bisa nimbrung ngobrol dengan keluarga saat menjaga Mak Uu di HCU. Alhamdulillah.. Doakaaan, semoga nggak sementara. Semoga besok bisa bangun dengan keadaan yang prima. Bismillah..

Yaaa, memang ada banyak hal yang harus kita syukuri daripada terus berkutat dengan masa lalu dan penderitaan kita. Tapi, nggak bisa saya pungkiri juga, walaupun otak saya sudah melupakan dan mengikhlaskan apa yang terjadi, bahkan rasanya sudah memaafkan, tapi tidak demikian dengan memori tubuh saya. Rupanya daya ingatnya luar biasa tajam ya, Buh! (tubuh)

Nggak apa-apa kok kalau kamu masih ingat. Melupakan sesuatu yang menyakitkan secara fisik untukmu pasti sulit. Aku paham dan aku tahu rasanya. Maafkan aku ya, kalau aku egois. Sering sekali pura-pura kuat dan tegar, dan melawan apa yang kamu rasakan. Insya Allah, aku akan berusaha menerima apa yang kamu rasakan dan kita akan menjalani ini semua bersama-sama, biidznillah, dengan seizin Allah. Aamiin..

Ah ya, dan yang sangat penting dalam penyembuhan PTSD adalah support dari orang-orang terdekat, seperti keluarga. Qadarullah, keluarga saya kayaknya malah ketakutan dengan saya dan malah menjauh. Hehe.. Subhanallah. Tapi nggak apa, selama masih ada Kakang yang mau peluk saya erat-erat, insya Allah all is well..

Dan yang terpenting, selama Allah masih ada dengan saya, saya nggak akan sendirian. Insya Allah bisa sembuh total. Allah, toloooong, jangan tinggalkan saya.. Huhu..

Sumber: cascadepschbend.com

Bismillah, tulisan ini saya sengaja publish di blog, supaya teman-teman yang mungkin selama ini bertanya-tanya, “Kenapa kok katanya sakit, tapi masih bisa update di medsos dan aktif jualan?”. Jawabannya adalah karena selama ini teman ngobrol saya ya hanya Kakang dan medsos. Curhatnya ya di Instagram, status WhatsApp, atau Facebook. Atau supaya nggak curhat, pelariannya ya jualan buku. Habis ngapain lagi, kan? Mau bikin postingan kayak gini aja, kemarin-kemarin mah asli nggak bisa. Susaaaah banget. Ketik-hapus-ketik-hapus.

Sekarang, diusahakan setiap lemas datang, ya diterima, dan setelahnya nggak berlarut dalam kesedihan, tapi berusaha untuk melakukan hal-hal yang saya suka. Baca buku, main sama Kakang, jualan, apa aja. Yang penting bahagia.

Karena, bahagia itu kadang nggak sederhana sih kalau saya bilang. Dengan kondisi saya yang seperti ini, kadang bahagia itu harus diupayakan dengan keras. Berusaha menampar diri sendiri untuk membuka mata dan hati, menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa disyukuri, sambil tentunya menerima apa yang tubuh saya rasakan saat ini. Biidznillah. Dengan seizin Yang Maha Penyayang.

Iyaaa, Allah itu sayang banget sama saya! Super baik! Saya selalu yakin, apapun yang Allah kasih, itu pasti yang terbaik. Dan mungkin kondisi ini adalah yang terbaik untuk saya. Tulisan ini saya buat pun dengan harapan agar bisa sampai kepada teman-teman yang mungkin merasakan hal yang sama dengan saya, tapi nggak tahu harus ngapain. Semoga apa yang saya jalani bisa menjadi wasilah kebaikan untuk banyak orang. Nggak cuma menjadi virus negatif, tapi juga menjadi angin semangat untuk teman-teman pejuang masalah kejiwaan, apapun itu.

Setelah membaca tulisan ini, mungkin akan banyak yang ngejudge saya macam-macam, tapi ya nggak apa-apa.. :)

Sejujurnya, saya sudah muka badak, sudah jagoan pura-pura budeg dari komentator orang-orang tentang hidup dan kondisi saya. Apalagi tentang status saya. Hehehe.. :)


Yang terpenting adalah nilai saya di mata Allah. Kalau jelek, baru gawat banget!! Ya, kalau jelek di mata manusia mah nggak apa-apalah. Yang penting Allah ridha..

Selain terima kasih banyak-banyak untuk Mbak Fitri, Teh Herly, dan Kakang, saya juga mau mengucapkan banyak terima kasih untuk teman-teman yang sudah mengirim pelukan virtual dan bertanya,  "Teh, sakit apa?". Percayalah, bagi saya itu berhargaaaa banget. Masya Allah..

Dan Allah Maha Baik, dari kemarin banyak yang ngirim hadiah hadiah. Buku pula. Terima kasih Litara dan Teh Danica. Kebetulan yang indah banget, karena buku-buku itu jadi penyemangat banget. Alhamdulillah.. 

Salam sehat,
Salam sayang,
Kita pasti BISA SEMBUH,

-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
https://www.nimh.nih.gov/health/topics/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/index.shtml
https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-healing-crowd/201011/what-is-psychodrama

Komentar

  1. Salam kenal dan salam sehat ya, Ibu Jerapah.

    Salam hangat dari Medan.

    BalasHapus
  2. Masya Allah perjuangannya, Bu. Tetap semangat ya. Semoga senantiasa diberikan Allah kekuatan dan kemudahan. Peluk dari jauh....

    BalasHapus
  3. Curhat penuh ilmu ini Teh:D, makasih ya saya juga terbantu dengan pemaparan teteh karena ada salah satu poin yang saya alami juga. Salam sehat, semangat kembali Ibu Jerapah.

    BalasHapus
  4. Jazakillah khairan katsira Teh sharingnya. Jadi membuka wawasan dan membuat elin semakin yakin untuk meminta bantuan ahli dalam menyelesaikan masalah kejiwaan yang sepertinya sedang elin alami juga. Sehat selalu lahir batinnya ya Ibu Jerapah. 😊❤

    BalasHapus
  5. Teh Dece ku terharu bacanya , kalau aku di posisi tteh mungkin ga sekuat tteh , semangat ttehku , peluk jauh yaaa 😍 ❤

    BalasHapus
  6. Semangaaat teh dece sayang.. *sending virtual hug* 🤗 terima kasih sudah mengajarkan banyak hal melalui tulisannya 😘

    BalasHapus
  7. Teh Deceeeee....!
    Huaaaaaa... T_T

    Ingin gabrug, deeeh. Aku kaci menyusup di kopdar Bandung 1 nanti buat gabrug? Atulaaah.. cirambay aku bacanya.

    Semangat Ibu Jerapah favoritku! Keep inspiring, yaaa. Loveeeee ❤

    (Maapin aku mah komen di blog ge katka lebay kieu)

    BalasHapus
  8. Makasih sharingnya bunda. Saya pun kadang berada di kondisi itu dan berusaha bangkit dan pernah down sedown2nya tp sy tidak pede mengungkapkan..saat ini sy saat down buka di ig kajian ustd Hanan Attaki utk memotivasi diri..
    Semangat bunda jerapah, ayoo 💪💪

    BalasHapus
  9. Subhanallah teteh 😢, semangat ya..

    Saya juga sedang berjuang sembuh dari ketidakwarasan ,
    Mengasuh 2 batita sekaligus sangat menguras emosi buat sy

    Bahkan ketika sangat lelah sy berharap sakit agar bisa istirahat dan anak anak d jaga oleh ayahnya..
    Astagfirullah 😢

    Padahal sehat itu nikmat

    Semoga allah menolong kita ya teh, aamiin

    Peluk teh dece

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini