Menjadi Orangtua yang Bahagia dan Damai

Bismillah,

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola Halo!

Buku yang baik adalah buku yang berhasil menginspirasi pembacanya untuk mengambil hikmah sekaligus mengamalkan apa yang penulis sampaikan. Setidaknya, begitulah menurut saya. Hehe..

Beberapa buku dikategorikan sebagai buku-buku best seller, tetapi jika menurut saya nggak aplikatif atau inspiratif, yaa berarti belum termasuk buku yang baik versi saya. Deuh, ini gaya banget bisa menilai buku, padahal nulis buku pun belum pernah. Ahaha, biarkanlah, ya.. -__-"

Minggu lalu, saya membaca dua buku inspiratif dan bisa langsung diaplikasikan di rumah. Buku-buku tersebut adalah The Danish Way of Parenting dan Don't Be Angry Mom. Yang disebutkan pertama adalah karya fenomenal dari Jessica Joelle Alexander dan Iben Dissing Sandahl, sedangkan yang kedua ditulis oleh dr. Nurul Arifah. Yang satu berasal dari kebudayaan yang sama sekali berbeda dengan kita dan buku satunya mengusung isu-isu lokal dibalut dengan pandangan agama Islam.

Walaupun bersumber dari hal-hal yang sangat berbeda, bagaikan utara dan selatan, namun ada satu garis merah yang bisa saya tarik dari kedua buku tersebut. Beberapa persamaan yang benar-benar mencerahkan saya, sekaligus bukti bahwa sebenarnya pengasuhan bersifat universal. Jika A, maka hasilnya akan A dan jika B maka hasilnya pun B. Belum ada yang melakukan A dan menghasilkan B. Ah, bingung ya jadinya, wkwk..

Beberapa value yang saya temukan di dalam kedua buku ini adalah:
  1. Hanya orangtua yang bahagia yang bisa menghasilkan generasi-generasi selanjutnya yang bahagia.
  2. Sebelum mengasuh dan mendidik anak dengan baik, terlebih dahulu kita harus berdamai dengan diri sendiri dan semua unfinished business yang kita miliki.
Kedua hal ini pasti sudah sering disebut-sebut di berbagai buku atau seminar parenting, tapi memang inilah inti dari pengasuhan. Sepakat?

Ibu-ibu yang bahagia pasti akan lebih luwes dalam mengasuh, dibandingkan dengan ibu yang penuh tekanan lahir batin. Ibu-ibu yang sudah selesai dengan masa lalunya pasti akan lebih damai dalam mendidik anak, dibandingkan dengan ibu yang masih hidup di masa lalu. Ah, saya yakin pasti kita semua pernah menghayati kondisi-kondisi ini, bukan?

Selama ini orangtua berfokus pada anak: bagaimana membuat anak menurut, shaleh, pintar, dan lain sebagaimana. Atau orangtua mungkin sering menuntut anak untuk bisa A, B, C, sampai Z -bahkan lebih- tanpa menuntut diri sendiri untuk berubah. Kadang, atau seringnya, orangtua tidak pernah memikirkan bahwa anak-anak adalah cerminan dari orangtua. Jika ingin anak yang shaleh, jadilah orangtua yang shaleh. Jika ingin anak gemar membaca, jadilah teladan membaca yang baik. Dan seterusnya.

Dengan adanya gap-gap ini, rasanya senang sekali menemukan pencerahan terkait bagaimana menjadi orangtua yang terlebih dahulu harus A, B, dan C, sebelum menuntut anak untuk A, B, dan C. Dan alhamdulillah, Allah Maha Baik, karena memberikan inspirasi tersebut melalui kedua buku di atas.

The Danish Way of Parenting dan Don't Be Angry Mom memang lebih berfokus kepada bagaimana menjadi orangtua yang bahagia dan damai. Di luar itu, barulah dibahas tentang bagaimana mengasuh anak: dengan cara orang Denmark dan tanpa amarah.

Yang saya yakini, selama hati masih riuh, grudak gruduk, dengan aneka luka masa lalu atau innerchild yang masih berkuasa, masa selama itu pula kita akan sulit untuk bisa mengasuh dan mendidik anak-anak kita dengan bahagia. Jadi, PR besarnya adalah berdamailah terlebih dahulu dengan diri sendiri, maka perjalanan kita sebagai orangtua akan jauh lebih mudah dan indah. Percayalah..

Selamat berproses untuk menuntaskan masa lalu dan hidup di masa kini, karena kata Imam Ghazali, "Tempat yang paling jauh adalah masa lalu".

Selamat menjadi orangtua yang bahagia!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Tiga Nasihat Ini Dijamin Bikin Baper Pergi! Bye Bye Baper!