Catatan tentang Menghidupkan Pembelajaran untuk Anak Berkebutuhan Khusus dengan Buku Cerita


Bismillah..

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hola Halo!

Insya Allah, tahun ini saya akan mencoba untuk konsisten menulis seputar literasi di setiap Rabu. Tapi nggak janji setiap Rabu di setiap minggunya, yaa.. Bisa jadi setiap seminggu sekali, dua minggu sekali, sebulan sekali. Yaa, tapi beneran deh nggak akan setahun sekali. Wahaha..

Tadi siang, saya berjanji untuk mencoba membagikan apa yang saya dapatkan dan pahami di Workshop Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang berjudul Menghidupkan Pembelajaran untuk Anak Berkebutuhan Khusus dengan Buku Cerita. Wow, judul yang sangat menarik sekali, bukan?

Bagi saya, materi ini sangat penting, karena memang saya belum memiliki pengalaman dalam mempergunakan buku cerita untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Dan lagi, pada beberapa kesempatan ada teman-teman yang bertanya kepada saya tentang bagaimana membacakan buku untuk ABK yang sampai saat ini belum sempat saya jawab karena memang saya tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan untuk menjawab pertanyaan tersebut.

Qadarullah, melalui Pesta Cerita Anak (TaCiTa) yang diselenggarakan sejak tanggal 23 Januari 2019 yang lalu, saya berkesempatan untuk menyimak pengalaman Bu Nunik selama mengajar di SD Semesta Hati. SD Semesta Hati ada salah satu sekolah di kawasan Bandung yang merupakan sekolah inklusif yang menerima ABK. Hmm, bagaimana ya pengalaman Bu Nunik? Saya coba catat di sini, ya.. Semoga ada yang bisa kita ambil hikmahnya dan dipraktekkan di rumah! :)

Kata Bu Nunik, pelajaran membaca itu akan menjadi mudah jika dilakukan dengan cara yang menyenangkan.

Cung, siapa yang punya pengalaman traumatis saat belajar membaca? Entah itu dipaksa untuk membaca huruf atau kata, atau malah pernah merasakan belajar membaca sebagai hukuman? 

Yang pasti tidak sedikit di antara kita yang merasa bahwa belajar membaca adalah sebuah pengalaman yang tak menyenangkan. Sadar tak sadar, ternyata dampaknya terbawa hingga kini, ketika kita menjadi orang dewasa yang anti membaca. Mungkin bagi kita, membaca buku adalah kegiatan yang sudah terhenti semenjak kita lulus kuliah beberapa dasawarsa yang lalu. Heuheu..

Nah, tapi, pelajaran membaca ini bisa menjadi mudah jika dilakukan dengan menyenangkan! Sudah tahu dong bagaimana caranya? Yaaa, dengan membacakan nyaring atau read aloud!

Bersama para siswa di Semesta Hati, Bu Nunik seringkali mengadakan membaca buku bersama-sama, yaitu semua siswa dipersilakan membaca nyaring buku cerita pilihannya. Bagi anak yang sudah bisa membaca, pasti akan membaca dengan lantang dan penuh percaya diri. Bagi mereka yang baru bisa membaca, mungkin akan membaca dengan suara yang lebih kecil dan masih hati-hati. Nah, bagi mereka yang belum bisa membaca, jangan salah! Mereka tidak hanya berdiam diri, tapi membaca gambar! Ya, melakukan pembacaan pada gambar pun sebenarnya adalah proses membaca, bukan?

Dengan teknik seperti ini, kepercayaan diri anak-anak yang belum bisa membaca dan baru bisa membaca akan meningkat, karena tidak ada yang disalahkan atau diuji dalam proses membacakan nyaring ini.

Oh, ya! Kunci dari bagaimana membuat pelajaran membaca menjadi mudah adalah: tanpa diajari, tanpa dibantu, dan tanpa diuji. Biarkan anak mengambil keputusan mau dibagaimanakan buku yang sudah mereka pilih. Wow, menurut saya, ini adalah suatu hal yang harus dilakukan semua sekolah untuk mencetak para pembaca seumur hidup! Masya Allah..

Kata Bu Nunik, guru harus peka dengan kebutuhan dan bisa memilih buku yang sesuai dengan siswa.

Selain peka, guru pun harus kreatif, ya. Wajib.

Nah, Bu Nunik mencontohkan dengan sebuah kasus di mana siswa memiliki keterbatasan untuk membaca beberapa huruf. Sebagai ikhtiar untuk membantu siswa belajar membaca, guru bisa memilihkan buku yang menawarkan banyak huruf-huruf tersebut. Misalnya, yaaa, ada anak-anak yang kesulitan membedakan huruf b, d, dan p. Nah, guru bisa memilihkan buku yang memiliki kosa kata dengan huruf-huruf tersebut dan membantu anak menemukan perbedaannya.

Ada juga anak-anak yang kesulitan untuk belajar membaca -ng. Sebagai solusinya, guru bisa menawarkan buku tentang 'kacang polong', di mana 'kacang polong' akan selalu diulang sepanjang buku. Menurut pengalaman Bu Nunik, cara ini akan jauh lebih efektif dibandingkan dengan mengajarkan anak kepada -ng yang abstrak banget, ya?

Dan masih banyak sekali contoh lain yang diberikan oleh Bu Nunik tentang poin ini. Yang jelas, ternyata buku sangat bisa menjadi media pembelajaran yang asyik dan sesuai dengan kebutuhan siswa!

Kata Bu Nunik, buku cerita bisa menjadi media terapi untuk ABK, lho!

Misalnya saja untuk anak yang memiliki ketidakpercayadirian akut, bisa rajin-rajin dipaparkan buku-buku yang mampu meningkatkan percaya diri akan keunikan diri sendiri. Kemarin, Bu Nunik mencontohkannya dengan salah satu cerita dari Mbak Clara Ng yang berjudul Gaya Rambut Pascal. Di buku ini diceritakan seekor singa bernama Pascal yang sedang mencari gaya rambut baru yang akan dipamerkan ketika pawai. Banyak gaya sudah dicoba, tapi ternyata Pascal lebih nyaman dengan gaya rambut normalnya. Hehe..

Anak juga bisa belajar empati dari cerita-cerita yang ada di buku cerita bergambar. Anak belajar memahami perasaan orang lain, belajar menata emosi, serta berinteraksi dengan orang lain. 

Bu Nunik juga bercerita tentang salah satu siswanya yang didiagnosa autistik, yang menjadi lebih terbuka dan bisa berinteraksi dengan lingkungan setelah konsisten dibacakan nyaring. Masya Allah..

Yang menarik, buku juga bisa dijadikan terapi motorik, contohnya ketika anak belajar untuk membuka halaman per halaman buku. Atau bisa juga menggunakan buku touch and feel yang kini mdah ditemui di toko buku .

Kata Bu Nunik, daripada guru datang ke kelas dengan spidol dan materi yang rumit, lebih baik menggunakan buku cerita yang bisa menjadi sangat kontekstual dengan lingkungan sekitar!

Ah, saya sangat memimpikan ada sekolah seperti ini dan ternyata memang ada, ya! Setelah Sekolah Kembang yang saya dengar juga mengusung konsep yang sama -menggunakan buku cerita sebagai media pembelajaran-, ternyata Semesta Hati pun mengusung konsep ini. 

Nah, apa sih maksudnya buku menjadi kontekstual dengan lingkungan sekitar? Ambilah contoh ada sebuah buku tentang petualangan menjaga pohon dari penebang liar. Setelah membacakan nyaring bersama-sama di kelas, guru bisa mengajak anak untuk beraktivitas berdasarkan buku tersebut. Bisa jadi mengajak anak bercerita tentang pohon apa yang paling mereka sukai. Bisa jadi pula guru mengajak anak berkeliling di sekolah dan mendata pohon apa yang mereka temukan. Atau bisa banyak hal yang bisa dilakukan dan sangat erat dengan kehidupan anak sehari-hari.

Kegiatan kali ini dimoderatori oleh Bu Eva Nukman 😘

Foto bersama para guru dan pengajar seusai kelas

Sekilas mungkin nampak tidak ada yang berbeda ya antara perlakuan ABK dengan anak normal? Eits, ada gitu anak normal? Menurut saya semua anak itu punya kebutuhan khusus, lho! Ada anak yang butuh dipeluk setiap hari sesaat setelah bangun tidur agar nyaman. Ada anak yang ingin selalu makan pakai piring yang itu-itu saja. Ada anak yang kurang suka makan ayam dan malah semangat ditawari daun singkong. Daaaan, masih banyak lagi! Ya, kan? Anak-anak kita pun sebenarnya punya kebutuhan khusus, kan?

Tapi, hal pertama yang saya tangkap dari pengalaman Bu Nunik dan guru-guru lain adalah perlu kesabaran yang sangat sangat ekstra dalam memperlakukan ABK di sekolah. Masya Allah, tabarakallh, mudah-mudahan Allah memudahkan langkah kita, para orangtua, dan para guru untuk bersama-sama mendidik anak-anak spesial ini menjadi anak-anak yang bahagia.. :) Aamiin..

Poin kedua yang saya catat adalah ternyata membacakan nyaring sangat sangat bisa menjadi terapi bagi anak dalam menyikap segala masalahnya. Ada anak yang tidak mau berbagi? Bacakan buku tentang indahnya berbagi. Bertemu anak yang malas gosok gigi? Bacakan buku tentang bahaya jika tidak menggosok gigi. Dan banyak lagi.

Dan, saya jadi semakin jatuh cinta dengan buku. Selain sebagai jendela dunia, ternyata buku juga juga punya keistimewaan dalam menjadi pembangun karakter kebaikan pada anak. Masya Allah..

Sekian beberapa catatan saya dari kelas kemarin. Semoga bermanfaat!

Salam literasi!
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini