Mengapa Harus Repot-repot Belajar Menjadi Ibu?



Bismillah..

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Hola halo!

Hari Minggu, 20 Januari 2019 kemarin adalah hari yang istimewa bagi saya dan teman-teman Ibu Profesional Bandung. Kemarin, kami melaksanakan wisuda akbar untuk Kelas Matrikulasi batch 6 dan Kelas Bunda Sayang batch 2 dan 3. Alhamdulillah..

Lalu mungkin banyak yang bertanya-tanya, "Seriusan ada kelas belajar untuk ibu-ibu? Ada wisudanya juga? Segitunya banget kah?".

Iya, SEGITUNYA BANGET KAMI BELAJAR MENJADI SEORANG IBU
Maaf, capslock jebol, haha..

Kalau untuk lulus sarjana butuh waktu kurang lebih 4 tahun, master 2 tahun, dan doktor mungkin lebih dari 4 tahun, berapa banyak waktu yang kita luangkan untuk belajar menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kita dan istri sholehah untuk suami kita?

Ah, jadi ibu itu kan alami! Nggak usah belajar juga pasti bisa!

Yup, betul! Menjadi ibu itu adalah fitrahnya wanita. Dari zaman nenek buyut, nenek, sampai ibu kita pun bisa lancar-lancar aja mengasuh dan mendidik kita tanpa belajar. Ya, toh?

Tapi, sadar nggak sih, Mak, kalau hari ini kita hidup di akhir zaman, di mana segala sesuatu berubah dengan sangat cepat. Belum lagi adanya Revolusi Industri 4.0 yang sebentar lagi akan kita lalui -tapi hawa-hawanya sudah sangat terasa- yang akan berdampak pada anak-anak kita. Seberapa kuatkah anak-anak kita bisa menghadapi perkembangan zaman yang begitu hebohnya ini? Apa bekal yang sudah kita berikan?

Kita harus paham bahwa saat ini kita sedang mempersiapkan anak-anak kita untuk lepas dari kita. Anak-anak ini bukanlah milik kita dan umur yang mereka lalui dengan kita jauuuuuh lebih sedikit dibandingkan ketika nanti mereka hidup dengan dunianya. Misalnya nih, katakanlah rata-rata umur manusia adalah 63 tahun. Berapa lama sih kita tinggal di rumah bareng orang tua? 17 tahun? 20? 25? Dan berapa lama sih anak-anak kita tergantung banget dengan kita? Lah, Kakang yang baru mau 5 tahun aja sudah lebih memilih main dengan teman-teman kompleks dibandingkan dengan Bubunya. Sad, wkwk..

Nah, kebersamaan yang sangat singkat ini, apakah yakin akan dilewatkan begitu saja atau dengan cara yang gitu-gitu aja? Yakinkah kita tidak mau memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita di masa kecil mereka?

Iya sih, saya mau jadi ibu terbaik untuk mereka. Tapi, bagaimana caranya?

Dan tahu nggak sih, Mak, kalau seriiiiiing banget kita merasa galau ketika mengasuh dan mendidik anak hanya karena KITA NGGAK TAHU ILMUNYA. Misalnya, saat anak demam, kita panik harus ngapain. Padahal, kalau tahu demam itu ternyata baik untuk tubuh, kita nggak bakal panik dan bisa melakukan hal-hal yang bisa membantu anak nyaman tanpa drama berlebih. Atau misalnya dalam hal menyusui, berapa banyak ibu yang akhirnya beralih ke susu formula hanya karena nggak tahu kalau ASInya pasti cukup untuk anak-anak mereka? Dan masiiiih banyak lagi.

Saya pribadi pun mengalami hal-hal di atas. Ya, ingin jadi ibu yang baik, tapi merasa belum tahu ilmunya. Dan saya harus belajar!

Alhamdulillah, saya menemukan sebuah institusi yang memfasilitasi ibu untuk belajar, yaitu Institut Ibu Profesional (IIP). Sebenarnya sebelum mengikuti kelas IIP, saya merasa sedikit terintimidasi juga dengan istilah 'ibu profesional' yang kesannya waaaahhh banget. Kayaknya saya jauuuuh banget dari hal itu dan kayaknya juga nggak mungkin bakalan bisa jadi ibu profesional.

Tapi, hey, kembali lagi ke kesadaran bahwa menjadi ibu adalah fitrah setiap perempuan, maka menjadi ibu adalah kewajiban utama bagi perempuan. Kita boleh jadi punya pendidikan formal sampai S3, prestasi selangit, posisi karier gemilang, tapi tugas utama kita yang paling awal akan dihisab nanti adalah peran kita sebagai ibu. Ngapain aja selama jadi ibu? Aaah, setiap membayangkan ini, saya sungguh sedih karena merasa belum bisa menjadi ibu yang baik untuk Kakang. Nanti bisa jawab apa, ya? :(

Sebagai profesional lainnya, seorang ibu juga harus memiliki kompetensi dan keahlian untuk melaksanakan tugasnya ini. Keahlian ini tentunya bisa dipelajari di mana saja, tapi saya memilih untuk bersama ibu-ibu lainnya, berjamaah, untuk belajar bersama di IIP. Mengapa harus berjamaah? Karena, berhijrah sendirian itu berat, sedangkan berjamaah juga bisa membantu konsistensi kita saat belajar.

Yup, saya akan berhijrah dari ibu yang gitu-gitu aja menuju ibu kebanggaan keluarga. Bismillah..

Dimulai dari niatan itu, hari ini sudah kurang lebih 1,5 tahun saya menjalani pembelajaran di Kelas Matrikulasi dan berlanjut ke Kelas Bunda Sayang. Lalu, apa saja yang dipelajari di kelas-kelas ini? 

Banyak. Heuheu..

Kalau kurikulum sekolah formal itu beragam dan banyak, kurikulum menjadi ibu itu beragam dan banyaknya tak terbatas. Plus, pengaplikasiannya SEUMUR HIDUP.

Sebagai bayangan, saya akan sedikit menjelaskan tentang apa yang saya pelajari selama Matrikulasi dan Bunda Sayang, yaa.. Hihi..

Di Kelas Matrikulasi, kita akan diajak untuk menyelami diri sendiri. Ya, sebelum berhijrah dari mengasuh anak yang baik ke yang lebih baik, kita diajak untuk terlebih dahulu memperbaiki diri sendiri. 

FOR THINGS TO CHANGE, I MUST CHANGE FIRST.

Adalah salah satu value IIP yang terejawantahkan dengan baik di Matrikulasi. Saya sangat suka dengan value ini karena begitu apa adanya. Kita nggak akan pernah bisa mengubah orang lain sesuai dengan kemauan kita, tapi kita bisa mengubah diri sendiri dan menginspirasi lingkungan kita.

Mengubah kebiasaan suami yang sudah dari lahir nempel dengan beliau? Ah, susahnyaaa bukan main. Mission impossible. Wkwkwk.. Mengubah kebiasaan orang tua kita yang umurnya jauh lebih tua dari kita dan sudah mendarah daging? Lebih impossible lagi.

Yang paling masuk akal adalah mengubah diri sendiri dulu. Ingin suami sholeh, jadilah sholehah dulu. Ingin suami penyabar, jadilah penyabar. Pun dengan anak-anak. Ingin anak-anak yang tidak berteriak-teriak, ya emaknya pun jangan teriak-teriaklah di depan anak. Huhu, self toyor banget nih. Hiks..

Bagi saya, Matrikulasi itu kereeeen sekali. Testimoni saya tentang program ini bisa dibaca di Aliran Rasa Matrikulasi IIP batch 4.

Lalu, setelah lulus Matrikulasi saya pun ketagihan belajar. Yhaaa, gimana, yaa.. NHW (Nice Homework) atau tugas-tugas yang diberikan begitu menantang dan aplikatif. Kalau di kampus, tugas yang diberikan mungkin bermanfaat untuk pekerjaan kita suatu saat nanti. Di kelas IIP, tugas yang diberikan sangat bermanfaat untuk HIDUP kita, setiap hari, setiap waktu. Makanya, saya ngebela-belain banget untuk belajar di IIP, karena manfaatnya memang bukan temporer, tapi terasa setiap saat. Masya Allah..

Kelas selanjutnya yang saya ikuti adalah Kelas Bunda Sayang atau biasa disingkat Bunsay. Di kelas ini terdapat 12 materi tentang bagaimana mendidik anak dengan menyenangkan. Pada setiap materi, terdapat tantangan yang harus dilakukan selama minimal 10 hari. Ah, luar biasa sekali pokoknya!


Kelas ini dikelola dengan sangat serius! Bahkan, ketika lulus, saya mendapat Kartu Hasil Studi (KHS) seperti kuliah di kampus. Hihi.. Dan yaaa poin saya nggak 100, karena ada satu level yang tidak saya tamatkan. Kenapa, ya? Kayaknya waktu itu lagi sibuk (atau sok sibuk?). Hmm..

Kelas Bunsay berlangsung cukup lama, yaitu kurang lebih satu tahun. Lamaaaa bangeeet sih buat saya. Tapi sangat sangat saya rekomendasikan! Seriusan..

Alhamdulillah, lulus.. 😘

Wisuda Akbar


Setelah lulus, akan ada apresiasi berupa wisuda dalam bentuk online dan offline. Wisuda online dilaksanakan via aplikasi Telegram dan diikuti oleh wisudawati dari seluruh dunia. Sedangkan wisuda offline dilaksanakan di masing-masing regional.

Di Bandung, kami melaksanakan wisuda akbar, yaitu wisuda yang menggabungkan 3 kelas besar: Matrikulasi batch 6 dan Bunsay batch 2 dan 3. Pesertanya? Buanyaaak, ada sekitar 300 peserta kurang sedikit. Heheh..

Wisuda akbar kali ini mengambil tempat di Ruang Orchid 1 dan 2, Hotel Grand Tjokro, Bandung. Selain wisuda, kegiatan ini juga menghadirkan hal-hal spesial lainnya, yaitu Seminar Personal Excellence yang dibawakan oleh Cikgu Okina Fitriani -yang didatangkan langsung dari Malaysia- dan keynote speaker oleh Ibu Walikota Bandung, Ummi Siti Muntamah. Masya Allah..

Rasanya bangga sekali wisuda kali ini bisa dihadiri oleh dua perempuan inspiratif. Cikgu Okina dengan Enlightening Parentingnya dan Ummi Siti dengan ketujuh anak penghafal Al-Qur'an. Saya bangga punya walikota yang keren sekali. Masya Allah..

Saya dan Kakang bersama teman-teman Kelas Bunsay batch 3 Bandung 1

Bersama teman-teman Panitia Wisuda Akbar

Di wisuda ini, saya mengambil bagian menjadi panitia, tepatnya menjadi Seksi Acara. Di acara wisuda kemarin, tugas saya adalah menjadi operator screen dan sound. Karena ini adalah pengalaman pertama saya mengemban tugas seperti ini, rasanya campur aduk, takut, deg-degan, sekaligus senang. Apalagi ketika Kakang nggak mau dititipkan di Kids Corner dan lebih memilih bersama saya di ruangan. Waaah, subhanallah, seru sekali ternyata. Hahaha..

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah, rasanya bangga dan senang sekali bisa menjadi wisudawati Bunsay. Bangga dengan diri sendiri karena ternyata bisa mengikuti dan melakukan berbagai tantangan yang ditugaskan. Senaaaang sekali, alhamdulillah.

Catatan penting bagi diri saya sendiri adalah ketika saya pernah begitu sibuk belajar untuk hal-hal yang bersifat temporer dan duniawi sekali, saya pun harus berpikir bahwa ada saatnya saya belajar untuk hal-hal yang bersifat permanen, sekaligus tugas utama dari Sang Pencipta: menjadi seorang ibu. Kalau belajar di sekolah formal saja ingin IPK 4 tanpa cacat, mengapa saat belajar menjadi ibu selalu berleha-leha dan nggak serius??

Insya Allah, jika Allah berkenan, di kelas selanjutnya saya ingin lebih serius lagi belajar dan mengaplikasikan apa yang saya dapat. Aamiin..

Wisuda kali ini bukanlah akhir, tapi awal untuk lebih konsisten dan istiqomah untuk menjadi ibu yang baik. Jalannya masih panjaaaang sekali, jadi pastikan kalau semangatnya tetap terjaga!

Salam emak-emak,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Berhijrah sendirian itu berat, biar Dilan saja (yang ngajak Milea buat hijrah 😂)


    Mantap kali, bujeeeeerr.
    Syudah lama ku tak mampir ke syiniiii. Makin membahana aja (Naonna? Guluduhna? 🙈)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini