Komunikasi dengan Anak? Gampaaang!


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola halo!

Hai, Buibu! Yuk, ngobrolin tentang pengasuhan di rumah! :)

Sesungguhnya, judul di atas adalah doa saya, agar komunikasi dengan Kakang berjalan mudah, luwes, dan produktif. Aamiin..

Bicara tentang pengasuhan, apa sih yang biasanya menjadi pencetus 'perang dunia ketiga' di rumah? Hmm, masing-masing kita pasti punya ceritanya masing-masing, ya? Nah, kalau pencetus 'perang' antara saya dan Kakang mah sebenarnya nggak jauh-jauh ini dari ini:
  • Kakang ngambek karena nggak bisa mendapatkan apa yang dia mau.
  • Saya ngambek karena Kakang susah banget disuruh mandi.
  • Kakang tantrum karena dibatasi nonton Youtube.
  • Saya marah ketika Kakang bilang mau tidur, ternyata sejam di kasur malah ngajak keluar kamar lagi.
Yaah, gitu aja sih, muter-muter. Tapi anehnya, kok setiap hari berulang terus. Apa sih yang salah?

Kenapa sih Kakang ngambek kalau nggak dikasih es krim? Padahal kan lagi batuk..
Kenapa sih saya harus ngamberk kalau Kakang susah diajak mandi? Tapi kaaan cuman mandi, kok dibikin ribet banget sih, Kang?
Kenapa sih Kakang harus tantrum ketika alarm berbunyi tanda waktu Youtube-an sudah habis? Kan sudah Bubu kasih waktu? Kok masih ngambek?
Kenapa sih saya kudu marah lebay ketika Kakang nggak jadi tidur? Yaaah, soalnya kan saya yang jadi ngantuk kalau tidur-tiduran di kasur.

Hadeuuuh.. Ada yang mengalami masalah yang sama dengan saya? -___-

Ketika galaaau sekali memikirkan bagaimana solusi untuk segala permasalahan di atas, saya mendapat info tentang Seminar Komunikasi Orangtua dan Anak di Era Digital. Pematerinya juga keren banget! Ada Ibu Judiestiaty Johnny a.k.a. Ibu Isye yang merupakan praktisi di bidang konselor parenting. Beliau sudah berkecimpung di dunia parenting sejak 20 tahun yang lalu. Wah, pasti ilmunya banyaaak sekali, yaa.. Belum lagi beliau juga aktif membantu Polri untuk kasus-kasus penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan LGBT. Masya Allah..


Pembicara kedua adalah Teh Thasya Sugito, ibu homeschooler yang juga Manager Training & Consultant di Ibu Profesional Bandung. Teh Sya mah nggak usah diragukan lagi, ya.. Perjalanannya dalam menjadi ibu homeschooler sangat-sangat menginspirasi saya yang masih maju mundur dalam pengasuhan.

Sepulangnya dari seminar ini, saya seperti mendapat hidayah. Alhamdulillah.. Ada banyaaak sekali pencerahan yang saya dapatkan, mulai dari ilmu tentang fisik kita, yang sudah ter-install sejak lahir, sampai teknik komunikasi produktif dengan anak.

Yang unik, ada satu tip kece yang saya langsung praktikkan di rumah dan terbukti berhasil! Setelah mempraktikkan tip ini, frekuensi ngomel dan marah saya jadi berkurang drastis dan efeknya jadi lebih bahagia dan tenang. Hihi.. 

Mau tahu apa yang saya dapatkan selama seminar dan apa tip kece yang berhasil bikin saya jarang marah? Yuk, bareng-bareng baca basmallah dan baca sampai akhir, yaa. Insya Allah bermanfaat, baik bagi diri saya sendiri (untuk mengikat ilmu), maupun bagi teman-teman yang belum berkesempatan hadir di seminar kemarin.

Bismillahirrahmaanirrahiim..

Pahami Dulu: Aku dan Kamu Berbeda


Hal pertama dan utama yang harus kita sadari dalam melakukan pengasuhan adalah: aku dan kamu berbeda. Siapa sih 'aku dan kamu' di sini? Aku dan kamu, Dece dan teman-teman pembaca, pasti berbeda. Aku dan kamu, istri dan suami, jelas berbeda, dibesarkan oleh dua keluarga yang berbeda dengan latar belakang masing-masing. Aku dan kamu, ibu dan anak, pasti berbeda, yang satu sudah hidup selama minimal 20 tahun, yang satu mungkin baru menginjakkan langkah pertamanya kemarin sore. Jelas, ya, kalau aku dan kamu berbeda?

Apa sih yang menjadi pembeda antara aku dan kamu yang harus dipahami? Ada tiga hal yang harus dipahami oleh kita, sebagai istri dan ibu:
  1. Perbedaan gender
  2. Perbedaan watak/karakteristik
  3. Minat/passion
Sebelum membahas ketiga hal tersebut, Bu Isye menjelaskan terlebih dahulu tentang tiga bagian dari tubuh kita, yaitu mind (jiwa), body (raga), dan soul (sukma). Yang paling terlihat dan terasa dari ketiga bagian ini adalah body (raga). Raga terdiri dari dua, yaitu tubuh seluler dan bioplasmik. Tubuh bioplasmik terdiri dari energi atau yang biasa kita kenal sebagai aura. Tubuh ini akan lebih baik ketika kita berbuat kebaikan.

Jenis raga yang lainnya adalah tubuh seluler dengan pusat perintah di otak. Bagaimana cara kerja otak kita? Yuk, kenalan lebih dekat dengan otak! Kata Bu Isye, semakin kita memahami tubuh kita, semakin kita mengenal penciptanya, yaitu Allah Swt.

Otak adalah komputer paling luar biasa di dunia ini, namun sayangnya kita tidak dibekali buku petunjuk untuk mengoperasikannya. Bahkan, orang sejenius Albert Eisntein pun kabarnya hanya menggunakan sebagian keciiiiiil sekali dari otaknya. Kebayang ya, betapa dahsyatnya otak kita!

Sebagai ibu, pasti kita sering mengikuti seminar-seminar, talkshow, workshop atau kuliah-kuliah online di WhatsApp atau Telegram, ya? Sayangnya, kita hanya semangat saat acara-acara tersebut berlangsung. Semangat menyimak pemateri, semangat mencatat, semangat bertanya, tapi sampai rumah, tetap saja marah-marah sama anak. Duuuh, kenapa, ya?

Ketika kita belajar namun tidak menerapkan ilmu yang kita dapatkan, hal tersebut adalah contoh dari aktivitas menyia-nyiakan otak. Padahal, dengan mempraktekkan ilmu yang kita miliki, artinya kita menstimulus otak kita untuk saling bersambungan dan menjadikan ilmu tersebut 'menempel' di kepala dan tingkah laku kita.

Anatomi Otak
Sumber: www.siswamaster.com

Dari gambar di atas, yuk temukan lobus frontalis dan lobus parietalis! Sudah ketemu? Lobus frontalis adalah tempat di mana ilmu disimpan, sedangkan lobus parietalis adalah tempat di mana semua watak dan program awal dari Allah tersimpan.

Ilmu-ilmu yang kita dapatkan ada di frontalis, namun akan tercermin dalam tingkah laku kita ketika sudah berpindah ke parietalis. Bagaimana caranya? Praktekkan, amalkan!

Bagi saya pribadi, saya mulai mengurangi seminar-seminar atau kegiatan lain yang sudah pernah, sejenis dengan yang ilmunya pernah saya dapatkan. Tujuannya, selain agar tidak terjadi 'tsunami' informasi, juga memecut diri saya sendiri agar terlebih dahulu mengamalkan ilmu yang sudah saya miliki sebelum menambah yang baru. Saya nggak mau keblinger. Ternyata benar juga, memang harus kerja keras banget ya agar ilmu yang kita dapat bisa 'tembus' ke parietalis dan menjadi bagian dari perilaku kita sehari-hari.

Ilustrasi peran otak kanan dan otak kiri
Sumber: www.cartoonaday.com

Selain anatomi otak, kita juga tentu tahu tentang otak kanan dan otak kiri yang memiliki perannya masing-masing. Otak kiri lebih ke logika, sedangkan otak kanan imajinasi. Yang paling baik yang mana? Tentu saja dua-duanya baik, namun yang paling dahsyat adalah ketika kita mengoptimalkan penggunaan otak kanan dan kiri secara seimbang.

Perbedaan Gender


Yuk, kita masuk ke masalah perbedaan gender. Apa sih gender itu? Yang pasti, gender itu lebih dari sekadar perbedaan alat kelamin, tapi juga tentang karakteristik, cara pandang, sifat, dan banyak lagi.

Kenapa sih tingkat perceraian di Indonesia itu tinggi sekali? Menurut www.era.id, pada tahun 2017 ada 357.000 pasangang yang bercerai. Angka yang sangat fantastis! Apa penyebabnya?

Salah satu penyebab utamanya adalah ketidaktahuan tentang ilmu perbedaan gender. Kita tidak memahami bahwa wanita dan pria adalah dua entitas yang sangat berbeda. Jika seorang istri tidak paham akan ini, bisa-bisa bawaannya selalu stres dan nggak bahagia. Duh, siapa yang mau? Coba, yuuuk kita belajar lagi!

Secara fisiologis, selain memiliki alat kelamin yang berbeda, ternyata pria dan wanita juga memiliki anatomi sistem limbik yang berbeda, lho! Yuk, refresh pelajaran Biologi semasa kuliah lewat gambar ini!

Sistem Limbik
Sumber: www.eventzero.org

Lihat bagian yang berwarna biru? Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Dr. Rober Groski, ahli Neurologi dari Universitas California, Los Angeles, bagian berwarna biru yang bernama corpus collosum ini berbeda ketebalannya pada otak pria dan wanita. Pada wanita ketebalannya 30% lebih besar dibandingkan pria. Apa pengaruhnya? Ternyata, hal ini berpengaruh pada kemampuan wanita dalam mengerjakan berbagai pekerjaan yang tidak saling berhubungan dalam satu waktu alias multitasking. Betul, nggak, Buibu?

Sedangkan pria? Mereka hanya bisa mengerjakan satu pekerjaan dalam satu waktu.

Efeknya, saat suami sedang asyik menonton bola di TV, dia seakan 'tuli' dan tidak mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya. Hasilnya? Tentu saja 'perang dunia'! Nah, Buibu, ternyata ini nggak sepenuhnya salah Bapak, lho! Memang sudah dari sananya mereka diciptakan untuk hanya bisa fokus pada satu pekerjaan. Jadi, tipsnya adalah ketika akan berbicara, colek dulu si Bapak sampai ngeh, lalu baru deh bicara!

Ini baru satu perbedaan, lho! Dan masih ada sederet perbedaan lainnya. Buanyaaak buangeeeet! Ini salah satu ilustrasinya:

Salah satu perbedaan: cara berpikir pria lebih sederhana
Sumber: www.funinvesntors.com

Atau bagaimana wanita suka menonton satu acara TV, sedangkan pria hobi mengubah saluran TV. Bagaimana wanita parkir mobil dengan rempong, sedangkan pria lebih luwes. Bagaimana wanita yang jika curhat hanya ingin disimak, sedangkan pria selalu ingin member solusi. Daaaan masih banyak banget perbedaan lainnya!

Sederhana, receh, nggak kelihatan penting, tapi bila ilmunya tidak dipahami, BOOM! Jadilah 'perang dunia'. Pernah mengalami? Hehehe..

Selain dengan pasangan, ilmu perbedaan gender ini juga terjadi pada anak-anak kita. Contohnya, anak laki-laki yang tidak suka menatap mata secara langsung saat kita mengajak ngobrol. Apakah dia pembangkang? Oh, tidak, memang pria tidak suka kontak mata secara langsung. Atau contoh lainnya, anak perempuan yang sangat sensitif melihat ibunya menangis. Dan banyak lagi.

Dengan memahami ilmu ini, kita akan lebih memahami anak-anak kita. Dengan memahami anak, semoga tingkat stres dan marah-marah saat pengasuhan bisa diturunkan ke level paling bawah, ya. Insya Allah..

Watak


Sayang sekali waktu yang tersedia tidak cukup untuk memaparkan semua materi yang Bu Isye telah siapkan. Bu Isye itu pembicara yang asyik banget! Waktu dua jam rasanya nggak cukup untuk membahas hal-hal seru seputar perbedaan aku dan kamu ini! Perlu waktu minimal seharian, deh! Hehehe..

Singkatnya, dalam bagian watak ini Bu Isye menjawab pertanyaan sederhana: jika di dalam ruangan ini akan diselenggarakan sebuah pentas sandiwara, peran apakah yang akan kita ambil?
  1. Sutradara
  2. Penulis skenario
  3. Artis
  4. Penonton
Sudah dapat jawabannya? Boleh sambil dipraktekkan juga sambil baca, hehe.. Setelah terjawab, ada sisa tiga peran lagi, ya? Nah, pilihlah satu dari tiga peran tersebut yang paling mungkin kita lakukan. Sudah?

Dan inilah hasilnya:
  1. Sutradara mewakili watak koleris
  2. Penulis skenario mewakili watak melankolis
  3. Artis mewakili watak sanguinis
  4. Penonton mewakili watak plegmatis
Yup, keempat watak ini dipopulerkan oleh Florence Littauer melalui bukunya yang fenomenal: Personality Plus. Saya sendiri sudah mencoba mengisi kuesioner dalam buku ini ketika kuliah dan sampai hari ini hasilnya masih tetap: Sanguinis Melankolis. Hihi..

Berikut adalah sedikit penjelasan tentang keempat watak tersebut:

Empat bakat dalam Personality Plus
Sumber: Pinterest

Kelihatan nggak, ya? Kecil banget, ya. Hihi.. Teman-teman bisa mencari referensi lainnya di Google atau membaca langsung bukunya, yaa..

Intinya seperti ini:
  1. Koleris: tujuan utamanya adalah kekuatan, kekuasaan.
  2. Melankolis: tujuan utamanya adalah kesempurnaan.
  3. Sanguinis: tujuan utamanya adalah populer dan bahagia.
  4. Plegmatis: tujuan utamanya adalah damai.
Lantas, apa sih manfaatnya mengenal watak anak dan kita sendiri?
  1. Kita jadi tahu tentang diri kita sendiri (dan anak kita).
  2. Tahu mengapa kita beraksi seperti yang kita lakukan.
  3. Tahu kekuatan dan kelemahan kita dan bagaimana meningkatkan dan mengatasinya.
  4. Tahu cara menyesuaikan diri dengan suami dan anak-anak kita.
Bermanfaat sekali, bukan?

Minat/Passion


Perbedaan ketiga yang dibahas Bu Isye, namun sangat sangat singkat, adalah tentang passion. Kita harus memahami bahwa passion setiap orang itu berbeda-beda, termasuk anak-anak kita. Karena berbeda, kita tidak memiliki hak untuk memaksa mereka untuk menyukai apa yang kita berikan. Misalnya, memaksa anak les berenang padahal ia sangat suka bermain bola.

Dan, hal yang harus diingat orangtua adalah tidak semua tentang kecerdasan kognitif. Anak pintar itu tidak melulu anak yang jago matematika. Semua anak itu cerdas dengan kecerdasannya masing-masing!

Hal lain yang harus diingat adalah agar kit menanamkan pada anak agar mereka belajar yang baik supaya bahagia, bukan supaya mendapatkan banyak uang. Jika bahagia, insya Allah hidup tenteram damai. Beda halnya dengan banyak uang. Berapa banyak mereka yang kaya raya tujuh generasi tapi hidupnya nggak damai? Buanyaaak sekali. Bahagia lebih penting daripada banyak uang. Betul? :D

Bu Isye yang sangat energik! :)

Setelah sesi dari Bu Isye, peserta dipersilahkan untuk coffee break sebelum beranjak ke materi yang sangat penting, yaitu komunikasi efektif dengan anak.

Nah, saya juga mau break menulis dulu, karena nggak terasa menulis artikel ini sudah hampir 2,5 jam, lho! Seru! Hihi.. Tapi, istirahat dulu, ya!

Masih menunggu tip yang bikin saya jadi sabaran? Kalau iya, tunggu lanjutan artikel ini, ya.. Orang sabar disayang Tuhan.. Hehe..

Salam sayang, 
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini