Bincang Buku Saatnya Bercerita!


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola Halo!

Apa yang terbayang di benak Anda ketika mendengar istilah 'literasi dini'?

Pertanyaan inilah yang dilontarkan para penulis di bagian pertama buku Saatnya Bercerita. Para penulis tersebut adalah Ibu Sofie Dewayani dan Ibu Roosie Setiawan, yang tak lain adalah para rockstar dari literasi dini di Indonesia.

Lantas, apa jawabannya?

Jika kita menjawab bahwa literasi dini adalah tentang mengajarkan baca-tulis-hitung pada balita, maka cara pandang kita tentang literasi masih sangat sempit sekali. Tahukah kamu bahwa kegiatan literasi sama alaminya dengan bernapas? Literasi ada di mana saja, kapan saja, dan bisa dilakukan oleh siapa saja, termasuk kepada anak-anak kita yang berusia di bawah 5 tahun.

Berbicara tentang anak di bawah tahun, berarti kita sedang berbicara tentang sebuah generasi yang disebut-sebut sebagai generasi terpintar dan tercanggih di antara generasi lainnya. Ya, mereka adalah Generasi Alfa, yaitu anak-anak yang lahir di atas tahun 2010.

Yang menjadi istimewa adalah Generasi Alfa ini seakan lahir 'sepaket' dengan kemampuan mereka mengoperasikan gawai sejak dini. Lihat saja, bayi 3 bulan pun kini sudah ngeh dengan gawai, bahkan tak jarang kita menemukan batita yang sudah mahir mengoperasi gawai tanpa bantuan orang dewasa. Mau tak mau, Generasi Alfa memang lahir ketika dunia sedang fase peralihan pada Revolusi Industri 4.0, dan kelak mereka tumbuh di mana teknologi-teknologi yang kini hanya bisa kita saksikan di film Mission Impossible sudah menjadi sangat possible.

Lantas, bagaimana membekali Generasi Alfa, anak-anak kita, agar mereka mampu bertahan di tengah 'badai tsunami' informasi dan teknologi kelak?

Salah satu jawabannya adalah dengan mengenalkan literasi sejak dini pada mereka melalui cinta kasih kedua orang tua. Bagaimana caranya?

Untuk menjawab hal tersebut, Bu Sofie dan Bu Roosie sudah menuliskan 'primbon' yang wajib dimiliki oleh seluruh orang tua, pengajar, dan mereka yang memiliki kepedulian terhadap generasi penerus bangsa. 'Primbon' ini berupa buku biru bercover imut berjudul Saatnya Bercerita.

Hari Jumat, 14 Desember 2018 yang lalu, saya diamanahi menjadi MC sekaligus moderator untuk acara Bincang dan Peluncuran Buku 'Saatnya Bercerita' yang diselenggarakan oleh Pustakalana di Goethe Institute, Bandung. Tentu saja saya sangat senang karena bisa menimba ilmu lebih banyak dari dua srikandi literasi dini di Indonesia.

Pengenalan Goethe Institute oleh Mbak Vita

Pengenalan Pustakalana oleh Kak Chica

Pada acara bincang-bincang ini, tentunya ada banyak sekali pertanyaan dari peserta (dan juga saya) yang sangat menarik untuk disimak jawabannya. Seperti biasa, jika tak ditulis di blog, kemungkinan besar ilmu ingin akan cepat menguap dari kepala saya. Jadi, saya coba catat beberapa tanya jawab dari bincang-bincang kemarin, ya.. 

Oh iya, sebelumnya saya akan memperkenalkan dua orang narasumber pada acara ini, yaitu Bu Sofie dan Bu Roosie. Yaa, walaupun saya yakin pasti para pembaca sudah kenal dengan ibu-ibu keren ini, ya?


Bu Sofie Dewayani adalah ketua Yayasan Litara yang berfokus untuk menerbitkan buku anak bergambar dan mendampingi penumbuhan minat baca di sekolah. Buku-buku terbitan Litara bukan buku anak sembarangan, karena sudah terjamin kualitasnya! Saya sangat menyukai buku-buku Litara karena sarat dengan kearifan lokal yang kini mulai jarang ditemui pada buku-buku anak bergambar. 


Pernah membaca buku Read Aloud Handbook-nya Jim Trelease versi Bahasa Indonesia? Nah, Bu Roosie Setiawan adalah penggagas dari penerjemahan buku tersebut. Menurut Bu Roosie, buku inilah yang diperlukan oleh Indonesia. Pendiri dari Komunitas Reading Bugs Indonesia ini kini aktif melanglang buana untuk menyebarkan virus read aloud. Keren!

Nah, yuk kita masuk ke bagian tanya jawab! :)

Bagaimana tanggapan ibu tentang TK yang kini mengajarkan calistung terlalu dini pada anak-anak?


Sebenarnya ada kontradiksi antara peraturan dari Kemendikbud. Di satu sisi, anak-anak tidak boleh diajari calistung pada usianya yang masih dini, tapi di lain sisi ada banyak sekolah yang melakukan tes calistung sebagai syarat masuk.

Tidak ada korelasi antara umur anak ketika pertama kali bisa membaca dengan kecerdasan anak. Jadi, tidak usah khawatir jika anak-anak kita belum bisa membaca, tapi khawatirlah jika mereka bisa membaca tanpa memahami apa yang mereka baca.

Seharusnya, read aloud juga harus dilakukan di sekolah-sekolah. Bahkan, guru harus menjadi 'iklan'nya minat baca, karena sosok guru sangat digugu dan ditiru oleh murid-muridnya. Lihat saja, anak-anak pasti lebih nurut kepada guru daripada ibunya, kan? Hihi..

Bu, apa yang dimaksud dengan 'bercerita' yang ada di buku ini? Bagaimana bentuknya?


Yang dimaksud dengan 'bercerita' adalah bercerita secara terstruktur. Bentuk dan aktivitasnya bisa macam-macam, seperti:
  1. Menanyakan kepada anak tentang apa yang paling berkesan selama sehari ini.
  2. Memilah foto-foto dan bercerita tentang siapa yang ada di foto-foto tersebut.
  3. Memasak dan mengajak anak berdiskusi tentang proses memasak.
  4. Mendongeng.
  5. Membacakan nyaring.
  6. dan lain-lain
Ada banyak sekali kegiatan bercerita yang bisa dilakukan baik di rumah maupun di sekolah. Kegiatan bercerita ini adalah aktivitas sosial yang memerlukan lebih dari satu orang untuk melakukannya. Kegiatan ini juga bisa mempererat bonding karena dilakukan dengan intim antara anak dan orang tuanya.

Bagaimana cara membatasi bacaan anak dan mengarahkannya pada bacaan yang lebih berkualitas?


Hal pertama yang harus kita ketahui, bahwasanya buku adalah cermin dari pembaca. Misalnya, pada sebuah seri buku anak, penerbit sengaja mencantumkan umur penulis dengan harapan bahwa para pembaca cilik akan merasa, "Wah, penulisnya seumuran dengan aku! Pasti ceritanya aku banget, nih!".

Maka, walaupun kualitas buku tersebut tidak sesuai dengan standar kualitas orang tua, jangan memaksa untuk melarang anak membaca, kecuali buku tersebut benar-benar tidak layak dibaca karena kontennya tidak baik. Dalam hal ini, orang tua bisa memberikan alternatif lain yang memiliki tema sejenis dengan buku yang sedang digemari anak namun lebih berkualitas.

Bagaimana cara menghadapi orang tua yang menolak untuk membaca buku anak?


Penolakan dari orang tua bisa disebabkan karena mereka tidak ingin keluar dari zona nyaman mereka. Sejak sebelum membaca, ada rasa pesimis yang timbul di benak mereka, "Bukunya tentang apa? Nanti anak saya tanya macam-macam nggak, ya? Nanti anak saya minta dibuatkan seperti yang ada di buku nggak, ya?".

Terkadang, orang tua memilihkan buku untuk anak sesuai dengan kebutuhan orang tua, bukan anak. Misalnya, orang tua cenderung memilihkan buku yang sangat sarat dengan kata-kata bijak dan kolom pernuh nasihat, padahal jika kita saja tidak suka dinasihati apalagi anak, kan? :)

Saya bekerja sebagai guru TK di mana latar belakang orang tuanya adalah maksimal lulusan SMA. Para orang tua ingin agar anaknya pintar membaca, tanpa pernah membacakan buku atau menyediakan bahan bacaan di rumah. Bagaimana ya untuk memotivasi orang tua agar bisa melakukan kegiatan literasi di rumah?


Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan menyediakan perpustakaan sekolah dengan koleksi yang menarik dan mengedukasi orang tua tentang apa manfaat yang bisa mereka rasakan jika anak-anak mereka memiliki minat terhadap buku.

Apakah benar read aloud bisa menjadi terapi untuk permasalahan speech delay pada balita?

Secara medis kami tidak tahu secara pasti, tapi banyak yang sudah membuktikan bahwa read aloud bisa membantu anak-anak untuk berbicara lebih lancar. Biasanya, speech delay disebabkan oleh dua hal, yaitu kurangnya interaksi dan terkontaminasi bahasa asing dengan tidak natural. 

Kurangnya interaksi bisa diselesaikan dengan memperbanyak berbicara dengan anak dan read aloud. Hal ini bisa memperkaya kosa kata anak dan melatih organ bicaranya. Oh ya, dan batasi juga gawai untuk balita.

Untuk terkontaminasi bahasa asing dengan tidak natural artinya anak terpapar bahasa asing dari gawai, buku bilingual atau media lainnya, bukan diajarkan dengan natural oleh orang tuanya. Hal ini bisa menyebabkan anak bingung bahasa dan sulit mengekspresikan apa yang ia inginkan.

Speech delay bisa menyebabkan hilangnya waktu dan biaya. Anak yang seharusnya sudah bisa mengungkapkan apa yang ia mau, masih sering tantrum karena bingung untuk berkomunikasi. Selain itu, ahli terapi speech delay pun masih terbatas sehingga bisa menghabiskan biaya yang tidak sedikit.

Bagaimana pendapat Ibu tentang maraknya aplikasi read aloud pada gawai? Kini orang tua bisa menggunakan aplikasi tersebut untuk membacakan nyaring pada anaknya. Dan apakah buku fisik tetap berperan dalam perkembangan zaman?


Pada dasarnya aplikasi-aplikasi tersebut adalah baik, terutama bagi keluarga yang kekurangan stok bahan bacaan yang layak untuk anak. Aplikasi tersebut bisa menjadi sumber bacaan yang baik bagi keluarga.

Namun, tentunya ada yang tidak tergantikan dari kegiatan read aloud oleh orang tua dan anak, yaitu suara dan cinta kasih dari orang tua. Sebenarnya, target dari read aloud adalah agar orang tua dan guru membacakan buku untuk anak, sehingga bermanfaat untuk menguatkan bonding, sebagai manfaat psikologis. Selain itu, diharapkan juga agar orang tua mampu menjadi guru utama dan terbaik dalam perjalanan membaca anak-anaknya.

Mengenai buku fisik, "Teks digital dan cetak sebaiknya tidak dibenturkan, tapi diseleksi agar dapat mendukung proses berkarya," ujar Bu Sofie. Masing-masing media memiliki keunggulannya masing-masing, sebut saja media digital yang bisa menyajikan informasi dengan sangat cepat, bahkan hitungan milidetik, dan memampukan kita untuk mengakses jutaan sumber bacaan dengan gratis. Media cetak, seperti buku, pada sisi lainnya, memiliki keunggulan dapat diingat lebih lama oleh otak, karena otak memiliki mekanisme untuk merekam posisi suatu teks di dalam buku yang mana tidak berfungsi ketika berhadapan dengan media digital.

Bu, apakah anak laki-laki dan perempuan memiliki kecenderungan minat baca yang berbeda? Karena ada banyak rekan saya yang berpendapat bahwa anak laki-laki itu susah sekali dibacakan buku. Mereka lebih senang bermain sepeda, games, dan lain-lain. 

Sebenarnya, semua orang memiliki peluang yang sama untuk memiliki minat baca yang baik. Orang tua bisa mencoba menawarkan anak buku-buku yang sesuai dengan minat anak. Misalnya, anak perempuan suka putri-putrian, DIY, dan lain-lain, sedangkan anak laki-laki memiliki minat alat transportasi, alam, dan lain-lain.

Mulailah dari apa yang mereka sukai.

Anak saya memiliki sensory processing disorder yang menyebabkan dia lebih suka mendengar daripada membaca atau menulis. Auditorynya oke, tapi untuk visualnya lambat sekali. Bagaimana ya Bu agar ia suka membaca?


Sebenarnya dengan membacakan buku untuk anak sudah sangat baik, apalagi anak tersebut memiliki minat terhadap sesuatu (anak penanya memiliki minat terhadap alam semesta dan energi). Mulailah dari sana dan disesuaikan bentuknya sesuai umurnya. Misal, pilihlah buku yang memiliki banyak gambar-gambar yang menarik. Hal ini bisa memancing anak untuk mau memegang buku dan membacanya.

Sebagai penutup, menurut Ibu, apa bekal yang bisa kita berikan pada anak-anak kita, sang Generasi Alfa, agar mampu bertahan dalam zaman yang terus berputar dengan cepatnya ini, Bu?

Mari kita berangkat dari ruang yang telah hilang selama bertahun-tahun lamanya dari rumah dan sekolah kita saat ini, yaitu bercerita. Dengan bercerita, kita sedang membangun ikatan emosional yang kuat dengan anak. Dan anak-anak yang memiliki ikatan ini, akan memiliki kepercayaan diri yang kuat untuk bisa survive menghadapi perkembangan zaman.

Jadi, ayo bercerita!

Nah, ternyata bercerita itu bukan hanya menyenangkan untuk dilakukan, tapi juga memiliki 1001 manfaat untuk orang tua dan anak. Masya Allah..

Bagi teman-teman yang penasaran ingin mengetahui lebih lengkap tentang metode bercerita terstruktur untuk bayi 0 bulan sampai 5 tahun, yuk langsung saja baca buku  Saatnya Bercerita terbitan Penerbit Kanisius ini. Bukunya sangat enak dibaca dan bisa dibaca hanya dalam beberapa kali duduk. Isinya sangat padat, lengkap, dan inspiratif bagi orang tua untuk mulai bercerita.


Semoga saya diberikan rezeki untuk mendapatkan ilmu-ilmu baru lagi seputar literasi. Semakin banyak tahu, semakin merasa diri ini belum tahu apa-apa. Semangat belajar!

Duh, grogi sekali ada di antara dua idola.. :)

Salam literasi!
-Si Ibu Jerapah-

Sumber gambar: Tim dokumentasi Pustakalana

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Tiga Nasihat Ini Dijamin Bikin Baper Pergi! Bye Bye Baper!