Tempat Makan Favorit (Ketika Tinggal) di Jakarta


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola halo!

Wah, wah! Setelah dua tahun yang lalu memutuskan untuk konsisten menulis selama 90 hari non stop berkat #ODOPfor90days, kali ini saya tertantang untuk menulis setiap hari berkat #BPN30daysChallenge! Luar biasa! Sudah tujuh hari dan belum bolong sehari pun! Horeee!!! Jiahaha..

Hari ini, tema challengenya adalah '5 Warung Makan/Resto Favorit beserta Reviewnya'. Sebagai orang rumahan yang jarang banget makan di luar, tema hari ini benar-benar membuat saya bingung. Hmm, mau cerita tentang apa, ya?

Sejak menjadi ibu dan pindah ke Bandung, rasa-rasanya jarang sekali saya jajan di luar. Selain karena Kakang cinta banget sama masakan rumah, kami juga perlu menghemat pengeluaran, karena hemat pangkal kaya. Hihi..

Jadi, saya ingin sedikit bernostalgia dengan bercerita tentang '5 Tempat Makan Favorit Selama Tinggal di Jakarta'. Beberapa tahun yang lalu, saya sempat tinggal di Ibu Kota selama kurang lebih dua tahun. Ketika tinggal dan bekerja di sana, sebagai anak kos pastinya sering makan malam di luar. Apalagi ada ritual ibu-ibu setiap hari Jumat di kantor, yaitu makan siang di luar dan pulang melebihi jam istirahat. Wah, nggak bener banget memang. Haha..

Disclaimer: semua cerita dan ulasan di postingan ini pastinya akan sangat tidak update, karena saya sudah lima tahun tidak mengunjungi tempat-tempat ini. Ya, namanya juga nostalgia, kaaan.. >.<

Apa saja tempat makan favorit saya di Jakarta? Yuk, cari tahu! Siapa tahu bisa keidean buat nyoba makan di sana! 

1. Ayam Bakar Megaria, Cikini

Lokasinya ada di Kompleks Bioskop Metropole XXI, Jalan Pangeran Diponegoro No. 21, Menteng, Jakarta Pusat. Lengkap amat, Bu? Iya, soalnya sambil nyontek dari Google. Ahaha.. Barangkali ada yang mau nge-Gojek ke sana, ya kan?

Jadi, setelah makan di sini, kita bisa langsung cuss nonton bioskop, atau sebaliknya. Sayangnya, saya belum pernah melakukan dua hal tersebut secara bersamaan. Kalau ke sini biasanya ya makan saja, atau nonton saja. Hehe..

Gedung Bioskop Metropole XXI
Sumber dari sini

Menunya, gan!
Sumber dari sini



Ini dia penampakannya! Ayam bakar dan sambal! Dan es teler di kejauhan!
Sumber dari sini

Penampakan rumah makannya. Apakah masih seperti ini?
Sumber dari sini

Ayam Bakar Megaria ini buat saya spesial dan memorable banget. Kenapa? Karenaaa..
  • Makanannya lumayan enak. Ayam bakarnya enak, sambalnya enak, es telernyanya juga enak. Wajib dicoba! Insya Allah, datang ke sini nggak menyesal, walaupun selalu penuh.
  • Saya selalu makan di sini dengan orang-orang terdekat (di masa itu). Biasanya makan ke sini sama Mbak Sima, Mbak Fian, dan geng Admin Operation lainnya. Lalu pernah makan malam-malam habis lembur sama Mas Rudy dan setelah itu nebeng pulang. Wkwk.. Pernah juga sama Mas Rizal, habis lembur juga. Terus, pernah ngajak Mama makan di sini juga waktu doi main ke Jakarta. Sama siapa lagi, ya? Sama si ehem ehem? Hmm, saya nggak ingat. Haha..
Dua alasan itu sudah cukup bagi saya untuk selalu menyimpan Ayam Bakar Megaria di dalam memori saya. Bakalan nggak pernah lupa kalau di sini pernah ada kenangan-kenangan manis bersama sahabat-sahabat kesayangan.. :)


2. Ice Cream Baltic, Senen

Naaaah, ini tujuan utama saya kalau lagi gaje hari Minggu di kosan. Nggak betah di kamar, tapi bingung mau ke mana. Akhirnya, Baltic selalu jadi tujuan utama. Untuk apaaa? Untuk makan es krim! Yeaaay!

Lokasinya ada di sekitar Pasar Senen. Menurut Google, alamatnya ada di Jalan Kramat Raya No. 12, Senen. Bangunannya kecil dan jadul. Nyempil. Pokoknya kudu tekun menelusuri setiap gedung yang ada di perempatan jalan besar itu. Patokannya? Tentu saja saya sudah lupa lagi, tapi kalau nggak salah mah di dekat Kwitang. Pakai Maps aja ya, biar aman, sip!

Tampilan dalam toko
Sumber dari sini

Ya ampun, dulu inget banget setiap ke sini bingung mau makan rasa apa, karena ingin semua, ahaha
Sumber dari sini

Macam-macam produk Baltic
Sumber dari sini

Ternyata sekarang Rp. 6.000, ya! Bisa pesan di web-nya juga, lho!
Klik http://icecream-baltic.com

Konon, Baltic ini adalah salah satu es krim legendaris di Indonesia, selain Ragusa di dekat Istiqlal. Keduanya sama-sama menggunakan bahan-bahan alami yang rasanya 'Indonesia banget'. Tapi, beda dengan Ragusa -yang kalau ke sana siap-siap dompet kosong-, Baltic sangatlah bersahabat dengan anak kos seperti saya (ketika itu).

Harga es krim cupnya dibanderol Rp. 6.000 (terbaru). Seingat saya, dulu kayaknya jauh lebih murah deh. Dengan harga di zaman 2013an, sekali duduk saya bisa menghabiskan 3-4 cup dengan berbagai rasa. Rasanya enak! Tapi ya jangan dibandingkan dengan es krim Walls yang rasanya susu banget, ya! Hehe..

Kalau ada orang-orang yang anti makan sendirian di ruang publik, saya bukan termasuk di antaranya. Saya mah makan sama teman, hayuk! Makan sendiri juga, hayuk! Dan nggak pernah takut dibilang aneh, karena memang sudah aneh. Wkwkwk.. Pun setiap mengunjungi Baltic, saya selalu pergi ke sana sendirian. Duduk di pojokan. Makan es krim. Asyik! :D

3. Pancious, Grand Indonesia

Serius nanya, masih ada nggak sih Pancious ini di Indonesia? Karena, cabang Pancious di Mall Paris Van Java, Bandung, sudah tutup lama sekali. Apakah masih ada cabangnya di Jakarta?

Nah, waktu saya tinggal di Jakarta, Pancious ini jadi salah satu tempat makan favorit emak-emak di kantor. Apalagi kalau ditraktir, semakinlah favorit. Wkwk..

Saya paling suka makan pancake di sini, karena memang menu andalannya ya pancake ini. Selain pancake, ada menu-menu lain, seperti spaghetti, risotto, dan banyak lagi. Kalau mau kenyang, makan pancake di sini juga dijamin kenyang! Porsinya gede! Pasti puas!

Selain enak, Pancious di Grand Indonesia ini memorable karena selalu dikunjungi dengan sahabat-sahabat kesayangan. Daaaan, saya pernah ngerasain blind date di sini. Ya Allah, Gusti.. Ngakak.. >.<

Jadi ceritanya begini, karena -mungkin- kasihan melihat saya yang kelamaan jomblo, Mbak Yeni (teman satu divisi di kantor) ingin memperkenalkan saya dengan temannya. Temannya ini bekerja di Pertamina, dan konon sudah mapan. Saya sebenarnya nggak suka sih dikenal-kenalin gini, tapi karena yang ngajak Mbak Yeni, which is sudah kenal banget, ya sudahlah..

Lagipula saya merasa aman, karena nanti ditemani Mbak Yeni dan suaminya (kalau nggak salah). Duh, kok saya lupa ingatan gini, ya. Haha..

Singkat cerita, terjadilah pertemuan itu, di Pancious GI. Taraaa.. Ternyata mas-masnya buaeeek buangeeeet. Agak kalem, agak heboh, ya begitulah seingat saya. Begitu ngobrol saya langsung tahu bahwa beliau...

Bukan tipe saya. Hihi..

Ya, soalnya baik banget gituuuu.. Wkwk.. Terus, entah bagaimana ceritanya, saya jadi tahu kalau beliau sedang mengidap penyakit yang lumayan kronis, dan saya jadi kasihan dan nggak tega. Gimana ya, jadi bingung..

Ketika esoknya saya jujur mengatakan perasaan saya tentang si Mas tersebut kepada Mbak Yeni,  untunglah beliau paham. Dan sepertinya si mas-masnya juga biasa aja sama saya. Jadi, blind date pertama dan terakhir di hidup saya berakhir dengan sebuah kegagalan. Bahaha..

Tapi gara-gara itu, Pancious jadi punya kenangan spesial di hati saya. Hihi.. :)

4. Bebek Ireng Suroboyo, Sabang

Warung makan poin 4 ini hanya bisa kami kunjungi, jika:
  • Ada yang nraktir.
  • Baru gajian.
  • Baru dapat bonus tiga bulanan.
  • Lagi stres dan butuh pelampiasan.
Pelampiasan apa? Pelampiasan karena sambalnya PEDAS BANGET!!! Dan harganya lumayan mihil. Kombinasi kepedasan dan kemahalan ini selalu berhasil membuat kami lari dari kenyataan dan agak menghilangkan stres akibat pekerjaan. Wkwkwk..

Dulu, waktu kantor kami masih di MH. Thamrin, warung Bebek Ireng ini dekaaat sekali. Jalan sedikit sampai. Di sana, saya, Mbak Sima, Mas Rudy dan Mas Cuy akan kepedasan, keringatan, dan kehebohan menyantap bebek goreng ini. Huhah.. Tapi bahagia..

Nah, ketika kantor kami pindah ke Imam Bonjol, kami masih bisa membeli menu ini dengan menitip ke Kang Eman atau Kang Asep, para OB yang baik dan budiman, ketika mereka pergi ke kantor pusat. Pokoknya, jarak dan waktu tidak akan memisahkan kami dari Bebek Ireng ekstra pedas! >.<

Eh, di Bandung juga ada, dong! Jadi nggak spesial lagi kalau sudah ada di Bandung mah! Wkwk...


5. McDonald's, Sarinah

Terakhir, McDonald's Sarinah.

Ah, biasa banget, yaaa.. McD.. Palingan makannya ya itu-itu lagi kan, gaes? Iya, sih..

Tapi, McD Sarinah ini paling sering dikunjungi karena dekaaaat banget dari kosan. Jarang banget makan berat di sini, paling banter ya makan kentang goreng dicelupin ke es krim. Mantul!

Momen paling berkesan di sini adalah nonton final AFF. Masih ingat nggak sih drama Indonesia lawan Malaysia? Yang sempat laser-laseran, yang sempat hina-hinaan. Wkwk.. Yang saya ingat, waktu itu orang se-Indonesia Raya mendadak kompak banget membela negaranya lewat pertandingan AFF ini.

Naaaah, walaupun Indonesia waktu itu kalah, tapi tetap BANGGA banget sama Indonesia! Dan waktu itu saya nontonnya di McD Sarinah. Nobar bersama puluhan (atau ratusan?) orang lain yang sama sekali nggak saya kenal, tapi semangatnya sama! Seru! Merinding! Keren!


Oh ya, McD Sarinah ini juga terkenal sebagai tempat kencannya para kaum LGBT. Jadi, jangan heran kalau ke sana terus nemu yang aneh-aneh, atau banyak sesama jenis malam-malam hang out bareng. Ah, ya sudahlaaah.. Ngeraai.. *info tak berfaedah tapi penting

Nah, itu dia 5 tempat makan favorit saya selama hidup di Jakarta.
Biasa banget, nggak ada yang spesial. Tapi buat saya, semua tempat itu akan selalu ada di memori saya sebagai tempat-tempat yang selalu bisa menghadirkan kenangan manis. Semanis kamuuuu, wahai es krim Baltic. Wkwk..

Ada yang jadi favoritmu juga nggak, gaes?

Salam kuliner,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini