Medsos dan Peran Peradaban


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola halo!

Hari ini, tahun 2018, ada nggak sih yang belum punya Instagram? Facebook? Hmm, Enin yang umurnya hampir 60 tahun aja punya beberapa akun Instagram lho, gaes! Yang satu untuk keluarga, yang satu untuk stalking online shop, dan yang satu akun khusus foto Ahza. Hahaha.. Seeksis itu..

Saya yakin, minimal Facebook mah pasti punya, ya? Atau minimal WhatsApp, deh? Hehe..

Media sosial (medsos) memang sudah menjadi kebutuhan primer manusia masa kini. Kita butuh medsos untuk bersilaturahim, karena medsos terbukti benar-benar bisa mendekatkan mereka yang jauh. Jarak antar kota, antar pulau, sampai antar benua seperti nggak berarti lagi berkat medsos. Dengan medsos, kita bisa berkomunikasi dengan siapapun dengan sangat sangat mudah.

     Baca juga: Sebulan Tanpa Medsos

Kemudahan dalam berkomunikasi ini pula yang akhirnya membantu kita dalam berjejaring. Teman saya hampir bisa dihitung dengan jari. Sedikiiiit sekali. Teman yang benar-benar sering bertemu langsung lho, ya. Tapi di medsos? Teman saya di Facebook saja 2.000an, sedangkan follower di Instagram sudah mencapai 2.000an juga. Kenal semua kah? Nggak juga. Tapi minimal, kita bisa bertukar pikiran dan saling menginspirasi satu sama lain dengan konten di medsosnya masing-masing.

Eh, sebentar.. Saling menginpirasi? Bisa jadi, kalau kontennya memang positif dan bermanfaat. Kalau isi kontennya seputar curhatan galau dan keluhan? Yaaaa, di-unfollow aja! Beres, hihihi..

Pertanyaannya sekarang adalah: kita masuk tim yang mana?

Tim 'konten medsos inspiratif dan bermanfaat', tim 'konten medsos galau dan curhat', tim 'konten khusus jualan', atau tim 'gado-gado'? Hihi..

Ngobrolin masalah ini, beberapa hari belakangan ini saya dibuat galau dengan statusnya Ust. Harry Santosa, penulis buku Fitrah Based Education, yang buah pikirannya sedikit banyak mempengaruhi cara saya mendidik Kakang. Statusnya seperti ini:


Bagi teman-teman yang belum kenal dengan Ust. Harry, beliau adalah pakar pendidikan berbasis fitrah. Untuk lebih jelasnya, teman-teman bisa membaca tulisan saya tentang resume workshop Fitrah Based Education bersama Ust. Harry di sini.

Sangat penting bagi kita untuk mengetahui peran peradaban kita. Untuk apa sih kita dilahirkan? Untuk apa kita dikirim ke bumi? Misi apa yang diamanahkan Allah pada kita? Karena sesungguhnya Allah menciptakan kita bukan karena Ia 'iseng' dan main-main, tapi pasti punya tujuan. Bayangkan, kalau sehelai daun jatuh saja sudah tertulis, apalagi tujuan kita datang ke dunia.

Jadi, apa peran peradaban kita?

Sekilas, dari status di atas, Ust. Harry seakan menyindir para guru yang berjualan di medsos. Tapi, sebelum kita lanjut nyinyir, lebih baik baca dulu deh kolom komentar di bawahnya:






Nah, setelah membaca beberapa dialog di atas, mudah-mudahan sudah kebayang maksud statusnya apa, ya. Status di atas bukan untuk menyudutkan guru atau penjual di medsos. Bukaaan.. Tapi mempertanyakan, apakah yang selama ini kita lakukan sudah sesuai dengan peran peradaban kita? Atau malah melenceng jauh.

Di antara teman-teman mungkin ada yang langsung berpikir, "Terus kenapa sih? Masalahnya di mana?". Hehe, iya sih, saya paham. Ini mah saya aja mungkin ya yang jadi galau gara-gara status ini.


Buah dari kegalauan saya adalah saya mendapat beberapa pencerahan tentang bagaimana medsos ini dapat kita manfaatkan untuk kehidupan kita, terutama berkaitan dengan peran peradaban kita, yaitu:
  1. Jadikan medsos sebagai media personal branding kita. Ingin dikenal sebagai apa sih kita? Nah, perkenalkan diri kita yang ''itu" dengan sebaik-baiknya di medsos.
  2. Jadikan medsos sebagai media silaturahim. Semakin panjang tali silaturahim yang terjalin, semoga semakin berkah hidup kita. Aamiin..
  3. Jadikan medsos sebagai sarana kita untuk menyebarkan informasi-informasi yang bermanfaat, baik untuk diri kita sendiri maupun orang lain. Informasi ini dapat berupa konten yang benar-benar kita buat sendiri atau membagikan postingan dari orang lain yang kita rasa bermanfaat.
  4. Jadikan medsos sebagai sarana untuk menginspirasi orang lain. Beuh, da aku mah apa atuh, ibu rumah tangga yang sehari-hari ngasuh anak. Bu, di dunia ini nggak ada orang yang biasa-biasa aja. Semua pasti punya tantangannya masing-masing dan siapa tahu cara kita menghadapi tantangan itu, bisa menginspirasi orang lain. Jangan ragu untuk berbagi, karena the more we share, the more we get. Menginspirasi orang lain dari hal-hal yang paliiiiing sederhana sekalipun, seperti kebiasaan baik yang sudah bertahun-tahun kita lakukan. Bagi kita mungkin sepele, tapi ada banyak orang lain di luar sana yang kesulitan untuk melakukan hal itu. Misal: lari pagi. *curhat, karena diriku males banget olahraga, haha..
Lebih keren lagi nih, kalau keempat hal di atas dilakukan beriringan dengan tema peran peradaban kita. Misalnya, peran peradabannya adalah sebagai pegiat literasi. Maka, yang dilakukannya adalah berbagi seputar tips-tips seputar literasi, berbagi kegiatan sehari-hari seputar literasi, berbagi info seputar kegiatan literasi di kotanya, dan lain-lain.

Bagaimana kalau ingin sharing yang lain? Sah-sah aja kok ya, menurut saya. Tapi tetap tonjolkan tema peran peradaban tersebut dan buat lebih dominan dibandingkan dengan status lainnya.

Apakah saya sudah mengamalkan hal-hal yang saya tulis di atas. Hmm, belum sih. Ini semua murni hanya ide-ide yang muncul di kepala saja. Realitanya adalah saya masih lebih sering sharing hal-hal yang jauh dari tema peran peradaban saya. Masih sering sekadar have fun di medsos, tanpa berpikir apakah hal tersebut berfaedah atau enggak.

Tapiii, gara-gara status di atas, saya jadi punya rencana akan meng-update dan meng-upgrade medsos yang saya miliki agar lebih berfaedah dan minim curhatan. Wkwk..

     Baca juga: Sosmed Rasa Nano-Nano

Nah, jadi keidean untuk hijrah medsos. Mengubah medsos yang selama ini gado-gado jadi terpusat ke satu atau dua tema khusus saja. Misalnya seputar literasi dan pemberdayaan perempuan. Tapi, ini dua tema yang beda banget nggak sih? Atau bisa digabung menjadi literasi di dunia perempuan? Haha, kenapa jadi ngarang..

Jadi, ada empat resolusi yang ingin saya terapkan pada medsos saya ke depannya:
  1. Fokus pada satu atau dua tema tertentu yang sesuai dengan passion saya. Selain untuk personal branding, ya biar nikmat aja ngerjainnya. Masa medsos dibikin stres, kan? Wkwk..
  2. Berkomitmen untuk membuat konten yang bermanfaat. Walaupun seminggu sekali, dua minggu sekali, bahkan sebulan sekali, rasanya pengin deh bikin konten yang original dan berfaedah. Terlebih kalau visualnya ciamik. Uhuy.. *masih resolusi, geng.. resolusi mah bebaaas.. wkwkwki 
  3. Mengurangi curhat galau yang bisa menularkan energi negatif ke teman-teman di medsos. Postingan random masih diperbolehkan, karena kita hanyalah manusia biasa yang sangat random. Hihi..
  4. Menjadikan medsos saya bisa bermanfaat bagi diri sendiri dan sebanyak-banyaknya orang.
Keren banget memang resolusinya. Tapi, apakah resolusi ini akan menjadi kenyataan? Kita tunggu saja besok! Atau besoknya lagi.. Hihihihi..

Kenapa sih gini aja dibuat postingan sampai panjang begini? Ya biarlah, biar nggak jadi jerawat, lebih baik jadi postingan di blog. Ya, kan?

Lagipula temanya pas banget dengan tema hari keempat tantangan 30 Hari Menulis-nya Blogger Perempuan Network! Hahaha..

Thank you for being you!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini