Lima Fakta Ini Membuktikan bahwa Millenials (Masih) Mau Membaca


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola Halo!

Millenials Mau Baca! adalah judul talkshow yang diadakan oleh Open Library Telkom University dalam rangkaian kegiatan Literacy Event 2018. Judul ini menggelitik saya, karena sependek pengetahuan saya, kaum millenials atau mereka yang sering disebut Generasi Y ini dikenal sebagai kaum yang sudah jarang membaca.

Dan ternyata, setelah mengikuti talkshow ini, hal tersebut terbantahkan..

Sebelum berlanjut ke isi talkshow, saya ingin sedikit mencatat tentang siapa sih yang dimaksud dengan millenials ini? Saya kutip definisi ini dari Wikipedia, yaa..

Milenial (juga dikenal sebagai Generasi Y) adalah kelompok demografi setelah Generasi X (Gen-X). Tidak ada batas waktu yang pasti untuk awal dan akhir dari kelompok ini.  Para ahli dan peneliti biasanya menggunakan awal 1980-an sebagai awal kelahiran kelompok ini dan pertengahan tahun 1990-an hingga awal 2000-an sebagai akhir kelahiran. Milenial pada umumnya adalah anak-anak dari generasi Baby Boomers dan Gen-X yang tua. Milenial kadang-kadang disebut sebagai "Echo Boomers" karena adanya 'booming' (peningkatan besar) tingkat kelahiran di tahun 1980-an dan 1990-an. Untungnya di abad ke 20 tren menuju keluarga yang lebih kecil di negara-negara maju terus berkembang, sehingga dampak relatif dari "baby boom echo" umumnya tidak sebesar dari  masa  ledakan populasi paskah Perang Dunia II.

Baiklah, berarti saya dan sebagian besar pembaca blog ini juga millenials, ya? Sepakat? Hehe..

Kita lanjut ke isi talkshow, yuk!


Talkshow yang diadakan di Gedung Damar, Telkom University Bandung ini menghadirkan dua narasumber yang sangat kompeten dan berpengalaman di bidangnya. Narasumber yang pertama adalah Bu Sofie Dewayani, PhD. Beliau adalah pegiat literasi, penulis buku anak dan founder dari Litara Foundation. Buku-buku yang diterbitkan oleh Litara itu bagus-baguuuus sekali, nggak kalah dengan buku-buku anak terbitan luar negeri. Dan ternyata, Litara juga berhasil mendapatkan beberapa penghargaan, bahkan pada awal Oktober nanti, Bu Sofie akan berangkat ke Frankfurt untuk mengikuti pameran buku di sana. Waaah, bangga, ya!

Narasumber yang kedua adalah Bu Nurul Qomariah Pramisti. Bu Nurul adalah redaktur eksekutif dari tirto.id. Siapa sih yang belum pernah membaca tirto.id? Dua hal yang saya suka dari artikel-artikel di tirto.id adalah infografisnya yang ciamik dan artikelnya yang penuh data. Dan cerita Bu Nurul tentang tirto.id membuat saya semakin suka dengan portal berita yang satu ini. Keren!

Seperti judul artikel ini, selepas menyimak penuturan dari Bu Sofie dan Bu Nurul, saya bisa menyimpulkan bahwa ternyata ada lima fakta yang membuktikan bahwa millenials, yang selama ini dianggap sudah mulai jauh dari kegiatan membaca, ternyata masih mau membaca. Bahkan, tak hanya membaca, ternyata mereka pun betah berlama-lama membaca dengan S&K alias pada syarat dan ketentuan tertentu.

Yuk, kita simak lima fakta yang membuktikan bahwa millenials (masih) mau membaca berikut ini!

1. Pameran Buku yang Selalu Penuh dengan Pengunjung

Siapa yang nggak pernah tergiur dengan godaan Big Bad Wolf (BBW) yang datang dua tahun sekali? Bagi yang berdomisili di luar Jabodetabek dan Surabaya, jasa titip (jastip) BBW menjadi jasa yang paling diincar sebelum pameran buku akbar ini digelar.


Saya sendiri masih belum berjodoh dengan BBW, hanya sempat menggunakan jastip seorang teman untuk membeli buku anak untuk Ahza. Tapi, membaca berita tentang BBW saja sudah terbayang penuh sesaknya ICE BSD dengan para pengunjung, hampir 24 jam, selama pameran berlangsung. Whoaa!

Fakta ini membuktikan bahwa millenials masih memiliki anggaran yang cukup besar untuk berbelanja buku, karena tak jarang ada banyak pengunjung yang berbelanja sampai berjuta-juta untuk mengisi home librarynya. Bahkan, seorang teman tak juga mampu menghabiskan buku hasil 'jajan' di BBW karena khilaf memilih begitu banyak buku.

Apakah buku-buku di BBW menarik? Kabarnya, iya, sangat. Lalu, apa bedanya dengan toko buku? Yang membedakan adalah BBW menghadirkan buku impor dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan buku lokal dan fakta menunjukkan bahwa buku impor memiliki tampilan yang lebih menarik daripada buku lokal. Sebut saja, cover, ilustrasi, colorful, bahkan lebih ringan dibandingkan buku lokal. Belum lagi genre dan temanya yang jauh lebih beragam dibandingkan buku lokal.

Ternyata, millenials mau membaca jika buku-bukunya memiliki tampilan menarik dan lebih mendekati kebutuhan pembaca, ya!

2. Menjamurnya Penulis dan Pembaca di Wattpad

Pernah menemukan kalimat 'Telah Dibaca Jutaan Kali di Wattpad' pada salah satu buku best seller di toko buku? Wattpad itu apa, ya? Wattpad, Bu, bukan WhatsApp. Belum pernah dengar tentang Wattpad? Saya pun sering dengar tanpa pernah menginstall. Maaf, kurang update, hehe.. Menurut Wikipedia, Wattpad adalah:

Layanan situs web dan aplikasi telepon pintar asal Toronto, Kanada, yang memungkinkan penggunanya untuk membaca ataupun mengirimkan karya dalam bentuk artikel, cerita pendek, novel, puisi, atau sejenisnya. Wattpad diluncurkan pada tahun 2006 oleh Allen Lau dan Ivan Yuen. Sebagian besar pengguna Wattpad berasal dari Amerika Serikat; kemudian diikuti oleh Britania Raya, Kanada, Filipina, Australia, Rusia, Uni Emirat Arab, dan negara lainnya.

Nah, Wattpad adalah salah satu bentuk realisasi Revolusi Industri 4.0 dalam dunia penulisan, di mana kita -pengguna- bisa berperan sebagai penikmat dan penulis di aplikasi Wattpad. Sama halnya dengan AirBnB, GoJek dan lain-lain. Dengan adanya Wattpad, siapa saja bisa menghasilkan karya, bahkan tak jarang penerbit yang kini membuat kategori khusus karya-karya di Wattpad.


Yang menarik, saat ini di Indonesia sedang terjadi 'demam' Wattpad. Dari gadis remaja hingga ibu-ibu gemar sekali membaca cerita-cerita yang diterbitkan di Wattpad. Jadi, bisa disimpulkan bahwa kaum millenials mau membaca, asalkan kontennya menarik dan mudah diakses seperti Wattpad.

3. Buku Cetak Masih Menjadi Jagoan dalam Membaca untuk Kesenangan

"Pelajar di Amerika membaca buku lebih banyak untuk relaksasi," ujar Bu Sofie. Yang dimaksud dengan buku di sini adalah buku dalam bentuk cetak, sedangkan relaksasi menunjukkan bahwa kegiatan membaca yang dilakukan berdasarkan motif intrinsik yang berasal dari diri sendiri.

Bu Sofie Dewayani, PhD
Sumber: Instagram @openlibrary.telu

Sederhananya begini, ketika membutuhkan informasi update atau hal-hal yang menyangkut kecepatan dan ketepatan data, para pelajar lebih memilih untuk mencari informasi dengan internet. Entah dalam bentuk berita, e-book, e-journal dan lain-lain. Namun, ketika tujuannya adalah untuk bersenang-senang, maka pelajar masih memilih buku cetak, seperti novel. Alasannya adalah karena buku cetak lebih nyaman untuk dibaca.

Setuju?

Iya, juga sih, ya. Rasanya memang kurang pas jika membaca novel di iPusnas, padahal gratis. Hehe..

4. Teknologi Membantu Kita dalam Membaca

Fakta lain yang disampaikan oleh Bu Sofie adalah teknologi sangat membantu kaum millenials untuk membaca lebih banyak buku daripada Generasi Baby Boomer. Ketika generasi orangtua kita kesulitan dalam mengakses buku, kita dengan mudah dan gratis bisa meminjam di aplikasi perpustakaan di manapun dan kapanpun dengan menggunakan jempol kita. Berbekal gadget, kini kita bisa membaca jutaan buku dengan sangaaat mudah!


Nah, fakta ini juga membantah bahwa kaum millenials tidak suka membaca! Millenials juga suka membaca, namun dalam bentuk yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Bahkan, untuk buku anak kini terdapat aplikasi tak berbayar yang menyajikan banyaaak sekali buku anak berkualitas baik untuk dibaca ketika bahan bacaan cetak tidak memungkinkan. 

5. Millenials Betah Berlama-lama Membaca Artikel Panjang

Nah, fakta selanjutnya datang dari Bu Nurul yang memulai presentasinya dengan menayangkan video pendek tentang betapa asyik dan bebasnya suasana kerja di tirto.id.  Kebebasan ini sangat berpengaruh pada keleluasaan dan kreativitas penulis dalam menghasilkan artikel-artikel segar khas tirto.id yang dikenal sebagai jurnalisme presisi.

Bu Nurul, Redaktur Eksekutif tirto.id
Sumber: Instagram @openlibrary.telu

Yang menarik dari tirto.id adalah walaupun artikel yang diterbitkan relatif panjang dan detail, ternyata artikel-artikel ini mampu membuat betah pengunjung yang dibuktikan dari waktu membaca pengunjung dalam satu halaman yang berkisar tujuh menit. Tujuh menit adalah waktu yang lama untuk dihabiskan dalam satu halaman website. Blog ini saja paling tidak hanya memiliki waktu kunjungan sekitar 1-2 menit. Hihi..

Hal menarik lainnya adalah ternyata pembaca terbanyak tirto.id adalah pembaca dengan rentang umur 25-34 tahun alias para millenials. Jadiiii, hal ini membuktikan bahwa kaum millenials juga mau berlama-lama membaca, asalkan apa yang dibaca memiliki kekuatan visual dan menarik.

Berbicara konten, setidaknya ada empat ciri khas dari artikel yang dihadirkan oleh tirto.id, yaitu:
  1. Mengajak pembaca untuk berpikir kritis.
  2. Memberikan penjelasan alternatif dibandingkan dengan berita-berita lain yang disuguhkan oleh portal berita lainnya.
  3. Narasi tulisan yang baik.
  4. Visual yang menarik.
Bagi millenials, visual menjadi sangat penting, bahkan sebagai daya tarik untuk memancing pembaca dari Instagram. Ketika postingan di Instagram bisa menarik calon pembaca, maka pembaca akan diarahkan pada artikel lengkap di website.

Bukan hanya portal berita, bahkan buku cetak pun sebenarnya harus memiliki kekuatan visual yang bisa menarik para pembaca dengan karakteristik visual agar lebih nyaman membaca. Dalam kesempatan ini, Bu Sofie juga bercerita tentang fenomena mamah-mamah muda yang lebih senang memilihkan buku anak dengan banyak teks daripada banyak ilustrasi. Para mamah tersebut berprinspi bahwa, "Supaya nggak rugi, membeli buku harus yang banyak teksnya!". Padahal, untuk memperkenalkan anak pada media cetak dan menumbuhkan minat baca anak, orangtua seharusnya menyajikan beraneka bacaan yang sarat ilustrasi agar anak tertarik untuk menyimak dan membaca. Wah, catatan penting bagi para ibu, ya..

Ada satu lagi catatan penting dari Bu Nurul, yaitu para penulis di tirto.id diwajibkan untuk membaca satu buku setiap minggunya. Wajib, lho! Keren, ya? Alasannya, semakin banyak membaca, semakin banyak sumber informasi dan literatur yang dimiliki, maka akan semakin netral pula cara kita dalam menyajikan sebuah berita. Ooh, ternyata itu rahasianya!


Membaca Media Cetak atau Digital?


Pertanyaan selanjutnya adalah, ketika kita sudah memasuki di mana teknologi digital sudah berkembang sedemikian rupa, apakah kita tetap akan keukeuh membaca media cetak?

"Teks digital dan cetak sebaiknya tidak dibenturkan, tapi diseleksi agar dapat mendukung proses berkarya," ujar Bu Sofie. Masing-masing media memiliki keunggulannya masing-masing, sebut saja media digital yang bisa menyajikan informasi dengan sangat cepat, bahkan hitungan milidetik, dan memampukan kita untuk mengakses jutaan sumber bacaan dengan gratis. Media cetak, seperti buku, pada sisi lainnya, memiliki keunggulan dapat diingat lebih lama oleh otak, karena otak memiliki mekanisme untuk merekam posisi suatu teks di dalam buku yang mana tidak berfungsi ketika berhadapan dengan media digital.

Selain itu, saya pribadi sampai saat ini masih jauh lebih puas ketika membaca buku daripada e-book. Nah, bagaimana dengan pembaca?

Jadi, itu dia lima fakta yang membuktikan bahwa kaum millenials (masih) mau membaca! Tantangan ke depannya adalah bagaimana menyajikan buku atau bahan bacaan yang lebih menarik dan kekinian sesuai dengan perkembangan zaman. Dan yang pasti, membaca sebagai proses pembelajaran sangat diperlukan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0 yang mengharuskan SDM memiliki kemampuan belajar dengan cepat agar mampu bersaing.

Sumber: Instagram @openlibrary.telu

Yuk, membaca lagi! Membaca apa kita hari ini? :)

Salam literasi,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Waaaah teh Dece, makasiiih banget catatannya :))). Aaah iyaya ternyata generasi kita gak malas2 banget untuk membaca... Semoga generasi2 selanjutnya pun begitu ^-^

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini