Ketika Mereka Memutuskan untuk Bercerai



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola Halo!

Dalam beberapa bulan ini, ada dua teman yang berkonsultasi tentang teman dan saudara mereka yang memutuskan untuk bercerai. Bercerai, adalah perkara yang sulit diputuskan dan tentunya ada alasan kuat di balik kalimat, “Aku mau bercerai...”.

Bercerai bukan sebatas ‘aku berpisah dengan kamu’. Bukan pula sebatas ‘sekarang aku bebas dari hal-hal yang tidak aku sukai dari kamu’. Bercerai lebih dari itu, karena bercerai bisa diartikan sebagai suatu bentuk kematian dari sebuah hubungan. Sebagaimana ketika kematian datang, akan ada perasaan tidak nyaman dan konflik batin yang disebabkan oleh berubahnya sesuatu yang sudah sangat familiar menjadi sesuatu yang sangat baru dan asing bagi kita. Dari awalnya bangun berdua, kini sendiri. Dari awalnya ada yang bisa dimintai bantuan mengganti galon air mineral, kini harus mencari bantuan ke tetangga. Dari hal-hal sederhana hingga yang terkompleks: mengubah semua rencana, impian dan harapan yang selama bertahun-tahun kita bangun dan percayai dengan seseorang yang kita cintai.

Di atas itu semua, di mata Allah, perceraian adalah hal yang halal untuk dilakukan namun dibenci oleh Allah. Subhanallah, Allah sangat benci dengan perceraian, karena hal itu berarti pemutusan ikatan suci yang sudah terjalin ketika akad. Di dalam Islam, hanya ada tiga perjanjian kokoh yang sangat suci yang disebut sebagai mitsaqan ghalizha, yaitu perjanjian antara Allah dengan para nabiNya, perjanjian Allah dengan Bani Israel dan ketika terjadi ijab qabul pada prosesi akad nikah. Menikah, ternyata adalah suatu prosesi maha suci yang langsung dihadiri oleh para malaikat dan dinaungi oleh kasih sayang Allah.


Oleh karena itu, ketika seseorang memutuskan untuk bercerai, pasti ada alasan kuat yang mendasarinya. Dan, bagaimana reaksi kita ketika mendengar keputusan tersebut keluar dari mulut orang-orang yang kita sayangi? Sebutlah saudara kandung atau sahabat dekat?

Yang pertama dan utama yang harus kita sadari adalah bahwa kita adalah orang yang berada di luar lingkaran pernikahan mereka. Kita tidak memiliki hal apapun untuk mengintervensi keputusan yang mereka buat. Adapun yang paling berhak dalam mengintervensi (memberikan masukan dan memediasi kedua belah pihak) adalah saksi nikah.

Saksi nikah adalah mereka yang ketika akad nikah berperan sebagai saksi dan menjadi penentu sah atau tidaknya akad yang dilaksanakan. Ternyata, tugas dan peran saksi nikah lebih dari sekedar saksi saja. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama pernikahan, termasuk keputusan untuk bercerai, saksi nikah mempunyai andil dalam mengintervensi keputusan tersebut. Saksi nikah adalah yang paling berhak mendengar cerita dari sudut pandang kedua belah pihak, sehingga diharapkan dapat memberikan masukan yang objektif. Saksi nikah juga berkewajiban untuk memediasi dan mengusahakan perdamaian antara suami dan istri hingga dicapai keputusan yang benar-benar terbaik untuk semua pihak.

Kembali lagi pada kita. Karena kita tidak memiliki hal apapun untuk mengintervensi, maka yang dapat kita lakukan adalah menjadi pendengar terbaik bagi mereka. Mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi dan memeluk mereka ketika mereka tak mampu menahan air mata kepedihan. Sebenarnya, mereka hanya butuh bercerita dan didengarkan, karena mungkin selama tahun-tahun pernikahan yang mereka jalani, mereka tidak pernah punya kesempatan untuk bicara dan didengarkan. Maka, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah menjadi pendengar setia untuk mereka.


Kedua, jika memungkinkan, galilah alasan mereka untuk bercerai. Bukan bermaksud kepo, tapi seringkali keinginan untuk bercerai sebenarnya didasari oleh alasan-alasan yang masih bisa diperbaiki oleh kedua pihak. Hal yang sering terjadi adalah kesalahan dalam faktor komunikasi. Contoh sederhananya mungkin sering kita jumpai, yaitu ketika suami istri sudah jarang bertemu, jarang ngobrol, jarang mengklarifikasi sesuatu dan sudah tidak memiliki quality time berdua. Jika diibaratkan, pasangan yang berada dalam fase ini seperti menimbun beban di atas jembatan rapuh. Mungkin awalnya tidak terlihat berbahaya dan semua seperti baik-baik saja, tapi lama kelamaan jembatan rapuh tersebut bisa hancur karena beban yang terus-menerus diletakkan di atasnya. Seperti itulah hubungan suami istri yang tidak dilandasi dengan komunikasi yang baik. Komunikasi, menurut hemat saya, adalah kunci dari sebuah hubungan yang baik. Termasuk di dalamnya hubungan antara suami istri atau orangtua dengan anak-anaknya.

Lalu, apa alasan terkuat bagi seseorang untuk bercerai? Tentunya masing-masing orang akan berbeda, karena setiap orang punya pandangannya sendiri terhadap suat hal. Namun, berdasarkan pengalaman saya, teman-teman dan beberapa referensi yang saya temukan, berikut ini adalah beberapa alasan terkuat bagi seseorang untuk memutuskan bercerai:
  1. Terjadi kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Saat ini, masyarakat masih salah kaprah tentang KDRT dan menganggap bahwa KDRT hanyalah berupa kekerasan fisik semata. Sebenarnya, KDRT bisa dimaknai secara luas. Bahkan menurut UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT, hal-hal yang termasuk KDRT adalah kekerasan terbuka (seperti kekerasan fisik), kekerasan tertutup (seperti kekerasan emosional dan verbal), seksual dan ekonomi. Jadi, ketika suami tidak menafkahi istri berbulan-bulan dan bahkan hilang dari radar, suami tersebut bisa dikatakan telah melakukan KDRT dari aspek ekonomi. Begitupun ketika suami memaksa istri untuk berhubungan badan padahal istri sedang memiliki uzur, seperti haid, nifas, nyeri pada bagian kelamin, dll. Ketika ini terjadi, sang suami bisa dikatakan telah melakukan kekerasan seksual pada istri. Pemerkosaan yang dilakukan suami pada istri adalah hal yang sudah jamak terjadi belakangan ini, bahkan tak jarang mengakibatkan kematian pada istri. Tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri dengan membuka situs-situs berita online.
  2. Berbohong dan selingkuh. Kedua hal ini adalah habit, kebiasaan. Disebut habit atau kebiasaan karena kedua hal ini dilakukan seseorang secara otomatis tanpa berpikir. Orang yang terbiasa berbohong akan berbohong dalam hal apapun, bahkan untuk hal remeh sekalipun. Begitupun dengan selingkuh yang merupakah habit yang sulit untuk dihilangkan. Sekali berselingkuh, niscaya akan ada kali kedua, ketiga dan keempat. Bukan bermaksud su’udzon dan pesimis kepada mereka yang berselingkuh, tapi banyak sekali pengalaman yang membuktikan hal tersebut. Walaupun tidak sampai berselingkuh, mereka yang memiliki habit ini akan sulit untuk menundukkan syahwatnya di depan lawan jenis. Maka, jika memang kedua hal ini menjadi alasan seseorang untuk bercerai, percayalah bahwa mereka sudah melalui dan memiliki banyak bukti untuk memutuskan bahwa berpisah adalah hal terbaik untuk mereka berdua.
  3. Berjudi dan masalah ekonomi lainnya. Berjudi dekat sekali dengan risiko memiliki hutang nan melilit. Dan memiliki hutang berarti hidup penuh tekanan dan ancaman. Ketika seseorang sudah memiliki masalah ini, mereka cenderung berjudi untuk menutupi hutang yang mereka miliki. Alih-alih menutupi hutang, yang ada mereka kalah dalam perjudian dan memiliki hutang yang jauh lebih besar lagi, begitu seterusnya. Nampaknya bisa diterima dengan akal sehat jika seseorang yang memiliki pasangan yang gemar berjudi cepat atau lambat akan merasa lelah, tertekan dan memutuskan untuk bercerai.
  4. Adiksi pada obat-obatan terlarang dan alkohol. Tak perlu penjelasan panjang lebar tentang alasan yang satu ini. Dari sudut pandang agama, obat-obatan terlarang dan alkohol adalah dua hal yang dilarang dan harus dijauhi oleh setiap Muslim. Bahkan, dalam sebuah hikayat disebutkan bahwa seorang alim yang mencoba meminum alkohol bisa dengan instan berubah menjadi pemerkosa sekaligus pembunuh. Dua benda keji ini bisa mempengaruhi pengonsumsinya untuk melakukan hal-hal di luar moralitas manusia. Kejamnya lagi, orang-orang yang berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang dan alkohol melakukan perbuatan-perbuatan keji tersebut di bawah kesadarannya dan ketika sadar ia tidak akan ingat akan apa yang dilakukannya. Hal inilah yang membuat seseorang mengalami penderitaan berkali lipat ketika memiliki pasangan yang kecanduan obat-obatan dan alkohol: kerugian ekonomi, penyiksaan fisik dan emosional yang berakhir dengan terganggunya jiwa dan pikiran korban.
Setidaknya empat alasan tersebut yang bisa menjadi dasar kuat bagi seseorang untuk bercerai dari pasangannya. Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah tidak ada kesempatan bagi pelaku keempat hal ini untuk berubah? Setiap manusia terlahir dengan fitrah-fitrah kebaikan dan memiliki potensi untuk berubah ke arah yang lebih baik. Dan perubahan adalah satu-satunya hal di muka bumi yang pasti terjadi. Yang tidak dapat dipastikan adalah berapa lama seseorang tersebut akan menyadari kesalahannya dan berubah menjadi pribadi yang lebih baik? Tidak ada yang bisa menjamin berapa cepat atau berapa lama waktu yang dibutuhkan. Sebagai Muslim, kita percaya bahwa hidayah pun tidak dapat dipaksakan datangnya. Manusia harus berikhtiar dalam menjemput hidayah dan memerlukan waktu untuk menyadari hal ini. Namun, Allah adalah Maha Pemilik Rencana Terbaik yang pasti sudah membuat jalan cerita bagi kita. Mungkin saja Allah menakdirkan seseorang bertobat dalam waktu sekejap mata, misalnya karena peristiwa besar di hidup seseorang. Wallahua’lam.


Sebagai sahabat atau saudara terdekat, kita bisa mencoba menggali alasan-alasan tersebut dan membantu mereka untuk berpikir logis. Mereka yang sedang berada dalam keadaan tertekan biasanya tidak bisa berpikir dengan logis dan cenderung memutuskan sesuatu dengan emosi. Maka, saat inilah kita berperan sebagai fasilitator bagi mereka. Gali pendapat mereka tentang apakah pasangan mereka bisa berubah dari kondisi yang sekarang menuju ke arah yang lebih baik, atau apakah kondisi tersebut sudah berlangsung bertahun lamanya dan sangat sulit untuk dikendalikan. Ajak mereka berpikir tentang bagaimana kondisi di masa depan ketika mereka sudah bercerai, apakah kondisi mereka akan lebih baik dari hari ini, apakah bercerai adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri pada Allah. Rangkul mereka, ajak mereka berdiskusi. Dan tetap ingat, di sini kita hanya menjadi fasilitator saja, tidak perlu menceramahi apalagi menghakimi.

Ketiga, tawarkan bantuan kepada mereka sesuai dengan kapasitas yang kita miliki. Mereka yang memutuskan untuk bercerai sudah pasti membutuhkan banyak pertolongan dari orang-orang di sekitarnya. Entah berupa perlindungan hukum, bantuan psikologis, tempat bernaung sampai bantuan materi. Mereka adalah orang-orang yang sedang mengalami fase baru di dalam kehidupan dan memerlukan banyak bantuan untuk menjalaninya.

Hal yang bisa kita lakukan selanjutnya adalah menawarkan bantuan untuk mereka. Setelah mendengarkan cerita mereka dan berdiskusi, tentunya kita akan menarik kesimpulan tentang apa yang mereka butuhkan. Misalnya saja, ketika mereka bercerita tentang kekerasan fisik yang kerap dilakukan oleh pasangan mereka, bantuan yang bisa kita lakukan adalah memberi perlindungan, melaporkan ke pihak berwajib (tentunya dengan segala risiko yang ada), memberi dukungan psikis (mengantarkannya ke terapi/psikolog jika dibutuhkan) atau memberi tempat bernaung untuk berlindung dari pasangannya.

Yang perlu dicatat adalah kita tetap harus menghargai saudara atau teman kita tersebut dengan meminta izin kepada mereka ketika hendak menawarkan bantuan. “Apakah saya boleh membantu kamu?”, “Apakah saya boleh meringankan beban kamu?” dan hal-hal semacam ini. Walaupun tampak tak penting, hal ini sebaiknya dilakukan untuk menjaga harga diri mereka, menjaga izzah mereka. Karena dengan memutuskan untuk bercerai, mereka sedang berada di pintu gerbang dunia di mana status janda masih menjadi stigma di masyakarat. Mereka sedang bersiap untuk menghadapi dunia yang akan menatap mereka dengan pandangan sinis dan merendahkan. Maka, apalagi yang dibutuhkan selain kepercayaan diri yang kuat dan penghargaan yang tinggi pada diri mereka sendiri? Di tahap awal ini, saatnya kita benar-benar menjadi penguat bagi mereka, menjaga agar kepercayaan diri dan penghargaan terhadap diri mereka tetap terjaga.


Setidaknya ketiga hal ini yang bisa kita lakukan untuk mereka yang menceritakan keputusan perceraian mereka kepada kita. Penuturan mereka kepada kita adalah tanda bahwa mereka mempercayakan kisah mereka pada kita. Tentunya sebuah tanggung jawab besar bagi kita untuk dapat menjadi seseorang yang amanah dan bisa mendukung mereka dalam melalui hari-hari terkelam di kehidupan mereka. Jaga terus semangat dan harapan mereka akan hidup ini. Karena apapun masalah yang mereka dan kita hadapi, asalkan masih ada harapan-harapan baik akan hidup, maka semuanya akan terlewati dan semuanya akan baik-baik saja.

Ah iya, ketiga hal di atas tentu saja bukan pedoman wajib yang harus dilakukan oleh setiap orang. Namun setidaknya, ketika saya berada di posisi mereka yang meninggalkan dan digugat cerai, hal-hal inilah yang saya harapkan untuk dilakukan oleh orang-orang terdekat di hidup saya. Tentu tak menjadi masalah jika ada perbedaan pendapat, karena setiap orang punya cara dan sudut pandang masing-masing dalam menyikapi isu ini.

Peluk erat untuk semua ibu-ibu hebat..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Aku selalu suka tulisan mba, mudah di cerna dan tepat sasaran sesuai keinginan yang baca. Stay strong para wanita hebat

    BalasHapus
  2. Teteeeeeeeh....aku mau curhat...nanti kujapri ya teh say

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini