Dua Jam untuk Selamanya


"Masih jam 2 nih, kemana lagi dong kita? Acaranya baru dimulai jam 5, kan?"
"Ya udah langsung ke arah Lembang aja. Kan ke arah sana suka macet. Gimana?"
"Macet sih, tapi kan nggak 3 jam juga macetnya,"
"Biarin lah, biar bisa foto-foto dulu,"
"Eh, Bosscha kan deket rumahnya Yanti. Yanti baru lahiran, kan?"
"Iya, sih. Ke sana aja, yuk? Silaturahim.."
"Tapi kita udah 3 tahun nggak ketemu. Enak nggak, ya?"
"Ya dienak-enakin aja, sekalian nyekar ke kuburan Papa Nono dan Papa Yoyo,"
"Ya udah aku DM Yanti dulu, ya,"

Berdasarkan hasil diskusi tiga emak -saya, Madel (adik saya) dan Mama- akhirnya saya langsung  mengarahkan mobil ke Lembang. Walaupun jaraknya nggak terlalu jauh dari Bandung, tapi jalanan ke arah Lembang selalu diwarnai dengan kemacetan. Tak kenal hari, tak kenal jam.

Sejam kemudian kami sudah sampai di Jalan Peneropong Bintang, Lembang. Hari itu kami berencana untuk mengunjungi Observatorium Bosscha bersama keluarga lainnya. Karena hari itu ada satu agenda yang dibatalkan, jadilah kami bisa berangkat lebih awal ke Lembang. Kesempatan ini akhirnya kami gunakan untuk mengunjungi saudara sepupu kami, Yanti, yang baru saja melahirkan. Kebetulan, rumah orangtuanya memang tetanggaan dengan Bosscha, hanya berjarak kurang lebih 2 km.

Mendekati rumah Yanti, jalan menjadi semakin kecil dan curam, hanya bisa dilewati satu mobil saja. Kampung Areng, di mana Yanti tinggal, berdiri di perbukitan yang dibatasi dengan jurang di kanan kirinya. Agak ngeri-ngeri sedap berkendara di sini. Tapi, seingat saya, di dasar jurang terdapat kebun mawar yang indaaah sekali. Walaupun dari atas terlihat seram, tapi ada keindahan tersembunyi di bawah sana.

"Eh, DMnya udah dibalas?"
"Udah. Katanya lagi di rumah,"
"Tapi udah 3 tahun, ya? Jangan-jangan udah lupa sama kita?"
"Ya masa sih?"
"Ya nggak mungkin sih,"

Ya, nggak mungkin sih kalau Yanti lupa dengan kami. Secara sejak bayi merah, saya, Madel dan Yanti selalu bermain bersama. Karena usia kami bertiga hanya berbeda 1-2 tahun, sedangkan saudara yang lain berjarak umur yang cukup jauh, jadilah kami bertiga lebih sering bersama dibandingkan dengan saudara yang lain.

Ada banyak sekali kenangan masa kecil kami bersama Yanti. Menginap bersama, berpetualang ke ladang-ladang dan jurang (semacam di Petualangan Sherina), nonton film dan cerita-cerita hantu, berbagi cerita sampai membuat video klip bertema ''lagu nasional Indonesia' ala Trio Kwek Kwek #Generasi90an.

Tiga tahun terakhir, ada ''badai' yang menerpa keluarga besar saya dari pihak Papa. ''Badai' ini menyebabkan kami tak lagi utuh dan bertemu seperti biasanya. Sudah dua kali Lebaran terlewati tanpa berkumpul bersama. Sebenarnya kami kangen sekali berkumpul bersama keluarga besar, tapi apa daya, rasa egois dari masing-masing pihak yang tak masuk akal dan logika mempersulit segala macam proses rekonsiliasi. Akhirnya kami memilih untuk menjalani hidup masing-masing. Prinsip saya, yang terpenting adalah tetap memanjatkan doa terbaik untuk keluarga besar kami di setiap shalat. Insya Allah akan tetap sampai pada mereka semua, aamiin..

Akhirnya kami sampai di depan gerbang rumah Yanti. Digembok..

"Coba turun! Minta kuncinya ke dalam!"
"Okeh.."
"Eh.. Temenin atuh, malu, ih!"
"Kenapa malu?"
"Iya kan udah lama nggak ketemu!"
"Ya ampun biasa aja kali!"
"Ih, cepetan temenin!"
"Ya udah, sini Mama temenin!"

Repot memang jadi wanita. Bertemu saudara sendiri aja deg-degannya udah kayak mau ketemuan sama presiden. Hmm..

"Assalamu'alaikum.."
"Wa'alaikumussalam. Eeeh, Dessy, Tante Yetti.."
"Yantiiii.. Apa kabar?"
"Alhamdulillah, ya gini aja, haha. Eh, gerbangnya dikunci, ya? Sebentar ya, Yanti ambil dulu di dapur,"

Setelah memarkirkan mobil, kami pun masuk ke dalam. Tak ada yang banyak berubah dari rumah ini. Masih dikelilingi kebun, balong (kolam ikan), kandang kuda (yang sekarang berubah fungsi menjadi kandang kambing) dan halaman berumput yang sangat luas untuk anak-anak gulang-guling sepuasnya. 

Satu-satunya yang berubah adalah kehadiran dua makhluk lucu, putra-putri dari Yanti. Ada Cinta yang umurnya 2,5 tahun dan Exel yang baru saja lahir beberapa minggu yang lalu. Rasanya seperti tak percaya, kami yang dulunya selalu dianggap bocah-bocah ingusan sekarang sudah tumbuh menjadi ibu. Tiga orang ibu.

Kerinduan karena bertahun tak berjumpa akhirnya terbayar juga. Selain kangen dengan Yanti dan Oma Ami, saya juga kangeeen sekali dengan suasana di rumah itu. Betapa tidak, sejak kecil saya dan keluarga terbiasa menghabiskan waktu liburan kami di sana. Bahkan kami pun pernah merayakan Lebaran di sana. Rumah di Lembang adalah salah satu tempat yang memorable untuk saya dan Madel.

Kurang lebih dua jam kami lewati dengan bertukar kabar, bercerita tentang masa-masa yang terlewati selama tiga tahun nggak bertemu, berdoa di kuburan orangtua kami, menikmati angin dingin khas Lembang dan akhirnya berfoto bersama.

"Mam, tolong fotoin kita, ya?"
"Ahza, sini Ahza, foto dulu!"
"Aku mau cepat-cepat ke peneropong bintang, Bu! Ayo, cepat!"
"Iyaa, nanti dulu. Ini foto dulu sama dedek bayi. Yuk!"
"Maaa, neneeen..!"

Akhirnya, cekrek..

Momen terbaik di 2018

Ada orang bijak yang berkata bahwa kadang momen terbaik adalah momen yang tidak kita rencanakan sama sekali. Dan pernyataan ini seringkali terjadi di hidup saya. Sejak mulai takdir masuk SMP dan kampus yang nggak pernah saya rencanakan, liburan-liburan seru yang dilakukan dadakan macam tahu bulat atau membeli buku ketika tak sengaja berkunjung ke toko buku. Ehem, itu mah antara unplanned atau lapar mata, ya. Haha..

Pun yang terjadi hari itu, momen terbaik di 2018 terjadi tanpa rencana apapun. Benar-benar dadakan, bahkan bisa dibilang awalnya hanya untuk 'mengisi waktu' dan berakhir dengan penuh kesan.

Yang masih benar-benar saya rasakan setiap melihat foto ini adalah betapa kami telah tumbuh menjadi tiga orang wanita dewasa, menjadi seorang ibu. Rasanya kok lucu banget. Tiga penyanyi video klipnya Papa Yoyo bertransformasi menjadi ibu-ibu. Haha..

Selain itu, ada rasa bahagia campur haru ketika melihat foto ini, karena akhirnya kami bisa bertemu kembali setelah lamaaa sekali nggak bertatap muka. Alhamdulillah, terima kasih ya Allah..

Sore itu, satu tali silaturahim yang sempat terputus selama tiga tahun akhirnya tersambung kembali. Semoga tak hanya sampai di penghujung sore itu, tapi sampai nanti. Dua jam untuk selamanya. Aamiin..

Smartphone Impian di 2018

Sebagai seorang ibu yang memiliki balita, rasanya ada banyaaaak sekali momen berharga yang terlalu sayang jika tidak diabadikan melalui kamera smartphone. Rasanya ingin cekrek cekrek setiap saat. Momen pertama Levi berjalan, momen Kakang dan Levi bermain di taman, momen pertama kalinya Kakang naik flying fox, termasuk momen tak terduga seperti yang kami alami kemarin bersama Yanti.

Sayangnya, smartphone yang kini saya gunakan memiliki memori yang terbatas, sehingga saya harus memindahkan foto-foto ke laptop secara berkala, minimal tiga bulan sekali. Lewat dari itu, siap-siap deh smartphone jadi lemooot karena memorinya terlalu penuh. Repot? Iya, banget! XD

Selain memori terbatas, hambatan yang benar-benar sering terjadi ketika mengambil gambar dengan smartphone ini adalah gambarnya yang kurang greget. Seperti foto di atas, rasanya kurang cling  gimanaa gitu. Butuh banyak edit cahaya supaya wajah kami terlihat jelas. Agak sedih ya kalau momen terbaik nggak bisa diabadikan dengan cantik! Huhu..

Jadi, saya punya kriteria penting untuk smartphone impian di 2018 ini. Nggak muluk-muluk sih, yang penting ada empat kriteria ini saja:

Kriteria smartphone impian di 2018

1. Storage besar

Hal pertama dan terpenting dalam rangka #2018GantiSmartphone. Dengan storage yang besar, saya nggak perlu terlalu lama berpikir saat akan memotret anak-anak, "Masih cukup nggak ya memorinya?". Lebih serunya lagi, saya nggak perlu lagi mengalami smartphone lemot karena storagenya kepenuhan. Yeaay!

2. Kamera mumpuni dan mudah dioperasikan

Poin selanjutnya yang wajib dimiliki oleh smarphone impian saya di 2018 adalah memiliki kamera mumpuni dan yang pasti mudah dioperasikan oleh emak-emak. Kamera yang mumpuni akan menghasilkan hasil yang baik, apalagi jika kameranya dilengkapi dengan fitur pencahayaan otomatis yang akan sangat membantu ketika saya mengambil foto di dalam rumah yang agak temaram. Nggak ada lagi deh foto gelap-gelapan seperti foto di atas. Haha..

Walaupun canggih, tapi kamera harus mudah dioperasikan. Jangan sampai karena ribet, momen spesial anak-anak malah terlewati. Sedih kan, ya?

3. Desain cantik

Sudah lamaaa sekali saya bermimpi memiliki smartphone dengan desain yang cantik. Duluuu sekali, sekitar enam tahun yang lalu, saya pernah memiliki handphone flip -buka tutup- yang sangat cantik karena berwarna pink muda. Ah, gemas! Nah, berhubung warna favorit saya adalah ungu tua, sepertinya lucu juga kalau punya smartphone cantik berwarna ungu tua. Hihi..

4. Hemat energi

Naaah, poin ini juga penting banget karena saya sering kelupaan mengisi baterai smartphone. Alhasil, saat pulang kerja tak jarang saya kehabisan baterai smartphone dan nggak bisa memesan ojek online. Rasanya kok kesyel banget. Hehe..

Kalau ada smartphone kece dan hemat energi, pasti bakalan keren banget! Selain itu, smartphone hemat energi juga penting banget untuk para gamers agar bisa ngegame dengan lancar jaya! 

Pertanyaannya, ada nggak sih smartphone kece yang memiliki empat kriteria ini? Ada, dong! Yuk, kenalan dengan Huawei Nova 3i!


Huawei Nova 3i adalah smartphone keluaran terbaru dari Huawei. Smartphone ini memiliki empat kriteria smartphone impian saya, lho! Selain keempat kriteria ini, Huawei Nova 3i juga berbadan besar, cocok untuk saya yang lebih menyukai smartphone besar. Rasanya lebih aman aja pegangnya, hehe.. Oh ya, Huawei Nova 3i juga memiliki varian warna Iris Purple! Passs sekali dengan warna kesukaan saya! Yeaah!

Bicara tentang kualitas kamera mah nggak usah dibahas lagi, ya. Beberapa review dari produk ini mengatakan bahwa Huawei Nova 3i pantas dijajal karena kameranya yang diperkuat dengan AI. Canggih!

Storage smartphone ini juga bikin bahagia, yaitu 128 GB yang merupakan terbesar di smartphone mid-end saat ini. No more kehabisan memori deh, ya!

Dan yang terakhir, Huawei Nova 3i juga dilengkapi dengan GPU Turbo untuk kemampuan gaming. Lengkap sudah! Ah, nggak salah pilih deh, memang Huawei Nova 3i jadi juara di kelasnya!

Jadiiii, dengan Huawei Nova 3i ini kita bisa mengabadikan setiap momen berharga dengan hasil yang mantul! Mantap betul! Hehe..

Doakan semoga saya dapat rezeki untuk memiliki smartphone cantik ini, ya! Aamiin.. :)

Akhirnya, terima kasih sudah membaca! Yuk, sharing juga, apa sih momen terbaikmu di 2018?


Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini