Berkenalan dengan KonMari, Sebuah Seni Merapikan Rumah dari Jepang



Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Hola Halo!

Siapa yang suka beberes rumah tapi rumahnya nggak beres-beres? Hayuk, ngacung!

Tentunya banyak alasan mengapa rumah kita tak kunjung rapi. Jawaban yang 'emak-emak banget' mungkin karena di rumah ada anak kecil yang sangat aktif bergerak dan bermain. Betul, nggak?

Rumah berantakan akan berdampak pada pikiran dan emosi penghuninya. Coba deh kalau rumah kita seperti gambar ini, pastinya lebih gampang aral dan emosi, kan? Belum lagi pikiran mumet karena melihat semua yang berantakan. Hehe..

Selain itu, ada beberapa alasan lain yang disebut-sebut sebagai penyebab rumah berantakan:
  • Kelebihan barang. Punya koleksi panci yang nggak pernah dipakai masak, punya koleksi gelas dan piring dari luar negeri yang hanya dipakai pajangan, punya koleksi gamis, tas, sepatu sampai berlemari-lemari. Atau punya mobil tiga padahal hanya punya garasi berkapasitas satu mobil?
  • Nggak punya tempat untuk menyimpan barang. Alhasil, di atas lemari pakaian kemudian menumpuklah aneka kardus ini itu atau di atas buku yang berjejer rapi tersimpanlah aneka harta karun: koin, pulpen, kunci motor. Ahaha..
  • Anggota keluarga terbiasa tidak mengembalikan barang ke tempatnya.
  • Terlalu banyak pekerjaan, sehingga kita sudah kelelahan dan kehabisan energi untuk beberes.
  • Suka menunda-nunda beberes. "Ah, nanti aja lah hari Minggu!", eh, ternyata hari Minggu ada kondangan sampai malam.
  • daaaan ada 1001 alasan lain, hihi..
Selain beberapa alasan di atas, ada juga nih kebiasaan beberes kita yang tanpa disadari sudah turun temurun dari generasi ke generasi. Akhirnya, kebiasaan ini menjadi budaya dan tradisi yang sulit diubah. Padahal cara beberes yang populer ini akan menghambat usaha kita untuk memiliki rumah yang rapi dan nyaman, lho!

Apa saja cara beberes yang sering dilakukan namun ternyata salah?
  • Beberes dicicil setiap hari dan dilakukan per lokasi. Misalnya, setiap hari Senin beberes dapur, Selasa beberes ruang keluarga, Rabu beberes ruang tamu, Kamis beberes kulkas dan seterusnya.
  • Kita biasanya hanya merapikan barang tanpa mengurangi barang. Barang tetap ada seubreg-ubreg tanpa memiliki tempat penyimpanan.
  • Beberes hanya sekedar bersih dan rapi saja.
  • Kita beberes tanpa terlebih dahulu mengubah mindset, gaya hidup dan kebiasaan.
Untuk poin terakhir, kita bahas sedikit, ya! Mengubah mindset sangat penting untuk menuntaskan beberes kita dalam merealisasikan rumah yang nyaman. Yuk, kita mulai dengan pertanyaan Mengapa Harus Beberes?
  • Karena ada clutter di dalam rumah kita. Clutter adalah segala sesuatu yang membuat kita nggak nyaman, yang membuat kita setiap hari Minggu memutuskan untuk keluar rumah karena malas berada di rumah. Bisa jadi pakaian menumpuk, kardus yang menghalangi jalan dan banyak lagi.
  • Karena rumah kita adalah living space bukan storage! Beda kan, ya? Walaupun salah satu fungsi rumah adalah tempat kita untuk menyimpan benda-benda berharga, namun fungsi sesungguhnya adalah untuk tempat tinggal dan menjadi tempat pulang ternyaman untuk kita semua.
  • Karena kita ingin menciptakan rumah yang nyaman, rumah yang bikin kita betah dan ingin cepat-cepat pulang setelah seharian beraktivitas.
  • Poin terakhir namun terpenting adalah: karena setiap benda ada hisabnya.
Astaghfirullahal'adzim.. Betapa banyak pakaian yang kita simpan padahal nggak pernah dipakai, ada banyak tas yang menumpuk demi alasan mengoleksi, ada banyak buku yang berdebu tak pernah dibuka dengan alasan siapa tahu nanti butuh, dan banyaaaak sekali barang-barang yang teronggok di sudut rumah kita yang mungkin akan jauh lebih bermanfaat jika disedekahkan kepada mereka yang membutuhkan...

Tertohok.. Itulah yang saya rasakan ketika Mas Aang Hudaya menjelaskan tentang hal ini di Mini Workshop Seni Merapikan Rumah: Metode KonMari, hari Minggu, 12 Agustus 2018 kemarin di Hotel Sofia Bandung.

Boro-boro bersedekah, yang ada malah kita menambah barang hampir setiap minggu. Pergi ke mall, beli buku. Pergi ke luar kota, beli kenang-kenangan. Pergi ke rumah saudara, dapat lungsuran ini itu. Makin banyak, banyak, banyak, makin penuh rumah kita, tak kunjung rapi rumah kita. Makin banyak menumpuk barang, lupa bersedekah.

Jadi, aku kudu piye? Harus bagaimana dong, Mak?

Karena merasa galau itulah, maka saya merasa sangat bersyukur bisa berkesempatan untuk mendapatkan ilmu baru tentang Metode KonMari. Metode ini saya rasa pas banget untuk kaum urban yang tingkat konsumerismenya tinggi. Doyan belanja, doyan jajan barang-barang yang sebenarnya nggak butuh-butuh amat.

Dan yang paling saya suka dengan metode ini adalah karena filosofinya sangat terkait dengan salah satu akhlak terpuji dalam Islam: zuhud. Zuhud, sederhananya, adalah menjauhkan diri dari kemewahan dunia dan hidup dengan sederhana, secukupnya. Tidak kekurangan, tidak berlebih-lebihan, tapi berkecukupan.

Mbak Marie Kondo
Sumber: konmari.com

Metode KonMari ini digagas oleh seorang wanita berkewarganegaraan Jepang bernama Marie Kondo. Marie Kondo lahir pada tahun 1985 yang berarti hanya terpaut tiga tahun lebih tua dengan saya.. *info kurang penting :D

Menariknya, Marie Kondo sudah menggandrungi dunia beberes sejak lima tahun. Ia suka sekali membaca majalah home decor  dan mempraktekkan tips beberes rumah yang ada di dalam majalah-majalah tersebut. Malah, ia seringkali dimusuhi kakak-kakaknya, saking rajinnya Marie membereskan rumah. Hehe..

Lalu, apa dan bagaimana sih Metode KonMari itu?

Metode KonMari adalah metode beberes yang memiliki dua aktivitas inti:

DECLUTTERING dan ORGANIZING

Decluttering adalah aktivitas memilih dan memilah barang-barang yang masih berguna bagi kita dan spark joy. Dalam decluttering, barang dikategorikan menjadi lima, yaitu:
  • Pakaian
  • Buku
  • Dokumen
  • Komono (seluruh benda selain ketiga kategori di atas)
  • Benda kenangan

Kategori di atas sekaligus menjadi urutan ketika kita memilih dan memilah barang. Lalu, bagaimana dengan barang-barang yang sudah tidak usefull dan spark joy? Nah, barang-barang tersebut dapat kita sedekahkan kepada mereka yang dirasa membutuhkan dan berikan oleh kita sendiri, ya..

Organizing adalah mengatur barang-barang yang sudah lolos tahap decluttering. Barang-barang ini nantinya diatur dan disimpan sedemikian rupa dengan menggunakan metode yang diciptakan oleh Marie Kondo. Sebagai gambaran, berikut adalah beberapa gambar yang memperlihatkan bagaimana cara melipat dan menyimpan pakaian ala KonMari:

Cara melipat kaos dengan KonMari
Sumber: makespace.com

Melipat kaos sampai bisa diberdirikan
Sumber: justgirlandherblog.com

Mengatur kaos kaki di lemari dengan KonMari
Sumber: kiercouture.com

Ilustrasi lemari dengan KonMari
Sumber: Pinterest

Lalu, apa sih manfaat yang akan kita dapatkan setelah melakukan hal-hal di atas?
  • Bebas dari kondisi berantakan tiada henti.
  • Dengan menata ulang rumah secara menyeluruh, gaya hidup dan perspektif kita mengalami transformasi besar-besaran.
  • Kehidupan yang sebenar-benarnya baru dimulai setelah tuntas (membereskan) rumah. Dari beberapa testimoni yang saya baca di buku Marie Kondo dan dari teman-teman komunitas, setelah melakukan beberes ala KonMari ada yang menemukan passionnya, ada yang resign dan bekerja sesuai minat, ada yang rumah tangganya semakin harmonis bahkan ada pula yang sembuh dari penyakit tahunannya! Masya Allah.. The power of keindahan..
Karena sesungguhnya benar kata Nabi, "Kebersihan adalah sebagian dari iman.."

Kalau keadaannya rapi begini, dijamin deh ide menulis pun lancar!

Dalam menggunakan metode ini, ada enam prinsip dasar KonMari yang harus terlebih dahulu dipahami dan dipraktikkan:
  1. Komitmen diri sendiri. Nanti, ketika mulai melakukan decluttering, percayalah bahwa akan ada banyak hambatan yang berasal dari dalam diri sendiri. Mulai dari merasa sayang banget sama barang yang akan dipensiunkan, sampai merasa nggak enak dengan orang lain jika barang yang akan diseleksi adalah hadiah dari seseorang. Kuncinya memang komitmen diri sendiri, berkomitmen bahwa kita pasti bisa mewujudkan impian gaya hidup ideal.
  2. Mimpikan gaya hidup ideal. Visi itu jelas penting ketika kita melakukan sesuatu. Mimpikan gaya hidup ideal versi keluarga kita. Nilai yang keluarga kita anut pasti berbeda dengan keluarga yang lain, maka dalam menentukan gaya hidup ideal nggak usah ikut-ikutan orang lain. Apa sih gaya hidup ideal versi keluarga kita? Misalnya, punya satu mobil, ruang keluarga sekaligus ruang baca sekaligus tempat aktivitas utama anak-anak, kebun hidroponik di depan rumah, dll. Jadikan mimpi itu pemantik semangat kita saat beberes rumah! Semangat!
  3. Awali dengan mengurangi barang. Dari dua aktivitas utama KonMari, aktivitas pertama yang harus kita lakukan adalah mengurangi barang, decluttering yang dilanjut dengan organizing. Prinsipnya, akan percuma kita merapikan barang-barang sebelum kita memiliki ruang yang cukup untuk menyimpan barang-barang kita. Jadi, mari mulai decluttering!
  4. Beberes per kategori, bukan per lokasi.
  5. Ikuti urutan kategori barang.
  6. Spark Joy sebagai parameter utama. Inti dari Metode KonMari adalah mewujudkan hidup yang lebih berkualitas dan bahagia dengan menyingkirkan segala sesuatu yang membuat kita tidak nyaman dan tidak kita butuhkan. Maka, yang terpenting dari beberes ala KonMari adalah spark joy, pilihlah hanya barang yang membuat kita bahagia dan merasa semangat saat menggunakannya.
Semakin penasaran dengan metode beberes ini? Ulala, maka sudah saatnya kamu mencari lebih banyak dengan membaca buku-buku dan artikelnya, menonton videonya di Youtube atau bergabung dengan Komunitas KonMari Indonesia yang memiliki kelas-kelas intensif Metode KoMari.

Bagi saya pribadi, dengan metode ini, saya bisa melihat aktivitas beberes dari sudut pandang lain yang lebih bermakna. Beberes bukan saja menata rumah agar terlihat rapi, namun juga menata diri. Lebih jauh lagi, membuang segala hal yang membuat kita tidak nyaman, termasuk masa lalu dan kenangan buruk, menikmati masa kini dengan bahagia dan mempersiapkan masa depan yang lebih gemilang.

Selain itu, metode ini juga akan melatih kita untuk berpikir lebih positif. Salah satu contohnya adalah pada saat decluttering, kita harus memfokuskan pada barang-barang yang akan kita simpan, yang masih usefull dan spark joy, bukannya fokus pada barang yang akan kita singkirkan. Dan, istilah untuk barang-barang yang tak terpakai adalah bukan 'barang yang akan dibuang' tapi 'barang yang akan dipensiunkan untuk disedekahkan'. Istilah-istilah ini akan membentuk pola pikir positif sepanjang kita beberes dan nantinya akan berimbas pada hidup yang (semoga) akan semakin positif.

Yup, saya merasa sangat beruntung bisa menghabiskan hari Minggu yang lalu dengan mengisi gelas saya di Mini Workshop Seni Merapikan Rumah : Metode KonMari yang digagas oleh Bubu Wiwik (@wikowiku) ini. Walaupun singkat, namun ada banyak insight yang saya dapat, bahkan lebih dari sekadar ilmu tentang beberes! :)

Semoga, tulisan pendek ini bisa menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, ilmu yang langsung bisa diamalkan di rumah dan memperlancar niat kita untuk mewujudkan hunian yang membahagiakan penghuninya. Aamiin.. :)

Selamat mempelajari dan mempraktikkan KonMari!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
Presentasi Mas Aang Hudaya di Mini Workshop Seni Merapikan Rumah : Metode KonMari
https://rumaysho.com/12200-waktu-muda-yang-sia-sia.html

Komentar

  1. Nuhun yeh dace, saya jadi ingin mencoba menpraktikanya.

    BalasHapus
  2. Ini harus saya baca sampai direalisasikan nih beres - beres rumah nyahehhe, nuhun yaaa

    BalasHapus
  3. makasi ibuuu lengkap ulasannya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini