Perpustakaan Kota Bandung untuk Kita Semua


Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..

Hola Halo!

Salah satu hal yang bisa membuat Kakang bahagia adalah berkunjung ke perpustakaan.  Kemarin, atmosfer kebahagiaan sudah mulai terasa ketika Kakang bangun tidur dan mulai saya sounding tentang aktivitas hari ini. Rencananya, saya akan mengajak Kakang ke Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota (Dispusipkot) Bandung atau yang biasa kami sebut sebagai Perpus Kota

Pagi itu, saya memberi tahu Kakang bahwa kami akan berangkat pakai angkota dan mungkin pulang menggunakan Gojek, kami akan bekal makanan supaya nggak usah jajan, memberi tahu Kakang bahwa nanti saya akan mengurus sesuatu sehingga Kakang harus bermain sendirian dan juga mengajaknya membuat kartu perpustakaan agar bisa meminjam buku (selama ini pakai kartu saya). 

Sounding kayak gini penting banget, apalagi kalau saya pergi sendiri. Saya harus memastikan Kakang tahu kami mau pergi ke mana, sejauh apa, pakai apa, nanti makan apa, di mana, ngapain aja daaan seterusnya. Ribet? Nggak juga, sih. Lebih ribet lagi kalau anaknya cranky, tantrum dan rewel di perjalanan atau di tempat tujuan. Saya sih males ribet, wahaha..

Membuat Kartu Anggota Perpustakaan


Singkat cerita, akhirnya kami pergi naik Gojek. Haha, gagal hemat. Pukul 09.00 kami sudah tiba di Perpus Kota dan suasana masih sepi, bahkan di Ruang Baca Anak belum ada pengunjung satupun. Hal pertama yang kami lakukan adalah mendaftarkan Kakang dan membuat Kartu Anggota Perpustakaan.

Untuk anak, syaratnya sangat mudah yaitu membawa fotokopi kartu keluarga. Setelah itu, anak akan difoto dan setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, jadi deh! Iyaaa, gampil banget, ya! Saya sampai terharu!


Berdasarkan pengalaman saya tahun kemarin, untuk dewasa, syaratnya adalah membawa fotokopi KTP, mengisi formulir pendaftaran dan berfoto. Cukup mudah, ya?

Setelah memiliki kartu anggota, kita dapat meminjam buku sebanyak maksimal dua buku selama satu minggu. Ternyata ada peraturan baru, karena sebelumnya anggota bisa meminjam selama dua minggu. Waktu yang sangat singkat ini tentunya lumayan jadi tantangan bagi anggota yang rumahnya berdomisili cukup jauh dari Perpus Kota, ya. Hehe..

Ruang Baca Anak dan Koleksi Bukunya yang Seru


Ada beberapa ruang baca anak yang sering kami datangi di Bandung: Ruang Baca Anak di Dispusipda Jawa Barat (di Jalan Kawaluyaan), Pustakalan dan di sini, Perpus Kota (Jalan Seram nomor 2). Selain itu, kami juga pernah berkunjung ke Perpustakaan Elmuloka yang asyiiik banget!


Ruang Baca Perpus Kota termasuk ruang baca favorit karena beberapa hal:
  1. Ada dua ruangan, sehingga anak memiliki pilihan untuk bermain di mana.
  2. Koleksinya baru dan beragam.
  3. Ada banyak mainan: balok kayu, duplo KW (wahaha), aneka permainan edukatif, boneka, ayunan dan perosotan.
  4. Desain interior yang ramah anak dan sangat menyenangkan (ada banyak meja kursi seukuran anak).
Keempat hal ini cukup banget untuk membuat Kakang betah sampai akhirnya ruang baca ditutup karena pegawai harus istirahat makan siang. Hehe..



Koleksi buku anak di sini lumayan beragam dan yang penting: KEKINIAN. Ada banyak buku anak yang baru (atau terlihat baru) dan sangat bermanfaat untuk sesi read aloud atau untuk menambah wawasan anak tentang berbagai hal. Jujur, saya terharu banget Perpus Kota punya koleksi ciamik kayak gini. Dan, bisa diakses gratis oleh semua orang. Hmm, awalnya saya pikir seperti itu. Tapi..

Perpus Kota, untuk Siapa?


Setelah Shalat Dzuhur, kami memesan Gojek ke rumah Madel. Karena perpustakaan berada di tengah kota, tentu tak sulit menemukan driver karena kami hanya menunggu sebentar sebelum menemukan Bapak Driver.

Di jalan, saya sempat bercakap-cakap dengan Bapak Driver. Percakapannya seperti ini:

Bapak Driver (BD): Bu, tadi itu perpustakaan umum atau apa, ya?
Saya (S): Iya, Pak. Perpustakaan Kota Bandung.
BD: Untuk masyarakat umum?
S: Iya, Pak. Untuk semua orang. Ini anak saya, 4 tahun, sudah jadi anggota perpustakaan.
BD: Oh, ada syarat umurnya, Bu?
S: Nggak ada sih, Pak. Kalau sudah dewasa bisa bawa KTP untuk pendaftaran. Nah, anak kecil kayak anak saya bisa pakai fotokopi Kartu Keluarga (KK) aja, Pak.
BD: Wah, anak-anak juga bisa, ya.
S: Iya, Pak, ruang baca anaknya bagus banget, Pak. Ada mainan dan bukunya betah. Makanya anak saya baru mau pulang.
BD: Oh, iya, ya? Pantesan dari tadi Adeknya bersenandung.
(((bersenandung)))
S: Hahaha, iya, Pak. Lagi senang dia habis main.
BD: Dari luar saya kira bukan perpustakaan umum, Bu. Habisnya sepi banget. Nggak ada rame-rame.
S: Iya, Pak. Di dalamnya juga sepi sih, Pak.
BD: Saya kita kantor aja.
S: Hmm, jadi orang nggak tahu itu perpus ya, Pak? Segan juga ya Pak kalau mau masuk?
BD: Lah iya, Bu. Saya juga takut mau masuk perpus kayak gitu. Soalnya nggak kelihatan itu perpus.
*saya mulai berpikir*
*sampai akhirnya jalan masuk ke rumah Madel kelewat karena saya malaweung*
BD: Bukunya hanya bisa dibaca di sana ya, Bu?
S: Oh, enggak, Pak. Bukunya bisa dipinjam kok. Ini saya sama anak saya juga pinjam buku.
BD: Gratis ya, Bu?
S: Iya, Pak. Koleksinya juga baru-baru, bagus-bagus. Ayo, Pak! Ajakin keluarganya ke perpustakaan! Hehe..
BD: Iya, ya. Nanti saya mau ajak anak saya. Duh, ini anak muda zaman sekarang susah banget (disuruh baca), Bu!
S: Iya, Pak. Udah ada gadget ya, Pak. Susah..
BD: Anak saya susah sekali (disuruh baca). Katanya, pelajaran di sekolah sudah cukup. Padahal kan pengetahuan umum itu nggak ada di buku pelajaran.
S: Pengetahuan umum adanya di buku ya, Pak? Jadi harus banyak membaca.
BD: Betul, Bu.

Lalu, sampailah kami di rumah Madel. Perbincangan yang singkat itu malah membuat saya kepikiran. Duh, Perpus Kota itu untuk siapa, ya? Memang iya sih, dilihat dari penampilannya memang nggak merakyat. Begini tampak depan dari Perpus Kota:

Penampakan depan Perpus Kota
Sumber: lendyagasshi.com

Bagi orang awam, pastinya segan untuk masuk ke sana. Pun kami. Kami memutuskan untuk masuk setelah membaca tulisan 'Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Bandung' dan membaca postingan salah satu pengunjung Perpus Kota. Waktu itu, Perpus Kota baru saja dibuka dan pindah dari tempatnya yang lama.

Waktu itu, ruang baca anak sangatlah sederhana dengan koleksi yang apa adanya. Tapi, berkat banyak donatur, kini ruang baca anak sudah sangat luar biasa dan seharusnya bisa bermanfaat bagi anak-anak di Kota Bandung.

Oke, jadi masalah pertama adalah 'penampakan' perpustakaan yang kurang ramah masyarakat. Solusinya mungkin staf perpustakaan bisa memasang baliho menarik yang mengajak masyarakat yang lewat untuk berkunjung. Ya, pokoknya yang mengundang masyarakat dan pastinya harus eye catching. Kalau KPU saja bisa membuat baliho-baliho menarik saat Pilkada kemarin, saya rasa Perpus Kota pun pasti bisa membuat hal yang sama, bahkan lebih baik. Awareness dalam ilmu marketing adalah hal pertama yang harus dilakukan untuk menarik perhatian pelanggan. Bikin orang ngeh, itu sih.

Lalu, masukan lainnya adalah mengoptimalkan penggunaan mobil perpustakaan yang dimiliki Perpus Kota. Jika kita melihat di tempat parkir bawah, terdapat beberapa mobil perpustakaan yang berisi banyak koleksi buku. Alangkah bermanfaatnya jika mobil tersebut diletakkan di halaman perpustakaan untuk mengundang masyakarat membaca. Hmm, terus saya malah kepikiran agar bagaimana caranya mengundang anak-anak ke perpustakaan. Pasang balon udara, baliho lucu, badut-badut, pokoknya yang bikin anak-anak senang, deh! Hehehe..

Ketika mengikuti Workshop Aktualisasi Literasi Keluarga di Gedung Sate beberapa pekan yang lalu, saya mengetahui bahwa pemerintah provinsi memiliki program-program kece untuk menumbukan minat baca masyakarat. Namun, sepertinya program-program ini tidak sampai ke tangan masyarakat. Program seperti Bunda Literasi, Keluarga Literat dan lain-lain malah baru saya dengar di acara tersebut. Hmm, ini apa saya yang kurang update atau bagaimana, ya? Harapannya sih, program-program literasi memang benar-benar membumi dan bisa dirasakan oleh masyarat banyak. Aamiin..

Hal yang kini bisa kita lakukan adalah menumbuhkan minat literasi masyarakat mulai dari diri kita sendiri, mulai dari keluarga kita. 
  • Kurang-kurangi bermedsos, perbanyak membaca. 
  • Kurangi jalan-jalan ke mall, persering kunjungan ke perpustakaan, taman baca atau museum. 
  • Adakan budget khusus untuk belanja buku. 
  • Sharing buku yang sedang atau telah dibaca di medsos.
Ya, hal-hal sederhana yang mungkin impactnya kecil, namun yang penting real. Betul?

Jadi, Perpus Kota Bandung untuk siapa? Yaa, untuk kita semua, dong! Mari, mari, berkunjung ke perpustakaan! :)

Hehe, sekian curhat saya kali ini. Semoga ada faedahnya.

Salam literasi,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini