Mewujudkan Keluarga Literat: Sebuah Catatan dari Workshop Aktualisasi Literasi Keluarga


Assalamualaikum w.w.

Minat baca akan melahirkan kegemaran membaca. Lalu, kegemaran membaca nantinya akan menjadi sebuah kebiasaan yang berkembang menjadi kebutuhan untuk membaca. Dari kebutuhan itulah lahir sebuah budaya membaca,” tutur Bapak Dr. Ir. H. M. Taufiq Budi Santoso, M.Soc., Sc., Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, saat membuka acara Workshop Aktualisasi Literasi Keluarga di Aula Barat Gedung Sate pada hari Kamis, 12 Juli 2018 yang lalu.

Kemampuan membaca, lanjutnya, adalah kemampuan yang tidak begitu saja dimiliki manusia sejak lahir tapi harus ditumbuhkan dan dibina secara berkelanjutan. Titik awal dalam menumbuhkan kemampuan ini dilaksanakan di dalam rumah yaitu dari keluarga. Keluarga sebagai unit terkecil dari masyarakat harus mampu memberikan sumber informasi yang baik dan terpercaya melalui perpustakaan keluarga atau memanfaatkan fasilitas perpustakaan pemerintah.


Selaras dengan apa yang disampaikan oleh Pak Taufiq, Ibu Dra. Sri Sumekar, M.Si yang merupakan Kepala Pusat Pengembangan Koleksi dan Pengolahan Bahan Pustakan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) juga menyampaikan bahwa orangtua adalah faktor pertama dan utama untuk menumbuhkan minat baca. Orangtua sudah seharusnya menjadi teladan pertama anak yaitu menjadi role model yang memiliki kebiasaan membaca.

“Kemajuan suatu bangsa terlihat dari bagaimana apresiasi masyarakatnya terhadap buku. Dan kualitas suatu bangsa dapat terlihat dari bagaimana budaya membaca di negara tersebut,” tambahnya lagi.

Baru pembukaan, namun sudah ada banyak hal yang berputar di kepala saya. Tentang angka-angka yang para pejabat tinggi perpustakaan di negeri ini jabarkan, tepatnya tentang bagaimana kondisi kemampuan literasi masyarakat kita di antara negara-negara lain di dunia. Tentang betapa saya diingatkan bahwa orangtua memang memegang peranan super penting dalam menumbuhkan minat membaca. 

Hal ini membuat saya agak miris mengingat sebagian besar orangtua di negeri ini masih menyerahkan tugas tersebut pada guru di sekolah saat si anak sudah berusia minimal 4 tahun. Bahkan, mungkin tak banyak yang tahu bahwa minat baca lebih penting daripada kemampuan membaca.

Apa gunanya bisa membaca jika tidak senang membaca atau bahkan tak tahu apa gunanya membaca? Saat ini, membaca tak lebih dari penggugur kewajiban dan belum menjadi sebuah kebutuhan bagi masyarakat kita.

Hari Kamis kemarin, saya berkesempatan mewakili Institut Ibu Profesional untuk memenuhi undangan dari Dispusipda Jawa Barat dalam acara Workshop Aktualisasi Literasi Keluarga. Selain workshop, acara yang memiliki tema ‘Membangun Keluarga Literat melalui Pemberdayaan Perpustakaan Keluarga’ ini juga berisi pengumuman pemenang-pemenang lomba yang diadakan oleh Dispusipda Jabar, seperti Pustakawan Terbaik, Perpustakaan Terbaik tingkat Kota dan Kabupaten, Perpustakaan Terbaik tingkat Desa serta Perpustakaan Terbaik tingkat SMA. Saya turut berbangga karena pemenang Pustakawan Terbaik adalah Ibu Rika dari Perpustakaan Telkom University tercinta. Hehe..

Pemenang Pustakawan Terbaik Jawa Barat 2018

Hal yang menarik lagi dari acara ini adalah kehadiran keynote speaker yang tak lain dan tak bukan adalah Ibu Dr. Hj. Netty Prasetyani Heryawan, M.Si., mantan istri Gubernur Jawa Barat, yang merupakan Bunda Literasi Jawa Barat. Ini adalah kali pertama saya bertemu secara langsung dengan beliau dan menyaksikan beliau berinteraksi. Ada dua hal yang membuat saya kagum dengan beliau: cara beliau menyampaikan materi dengan cerdas dan asyik serta merdunya suara beliau saat menyanyikan dua buah lagu ciptaannya. 

Bu Netty saat menyampaikan materi

Dalam kesempatan ini, Bu Netty menyampaikan hal yang selaras dengan apa yang disampaikan sebelumnya oleh Pak Taufik dan Bu Sri. 

Literasi, ujar Bu Netty, adalah kemampuan untuk mengumpulkan dan mengolah informasi sehingga bisa menjadi solusi dari berbagai masalah yang kita hadapi. Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa literasi adalah kemampuan yang seharusnya dimiliki oleh semua manusia untuk hidup yang lebih baik.

“Literasi, untuk hidup yang lebih baik!”

Titik awal kemampuan literasi dimulai dari membaca. 
IQRA!
BACALAH!

Perintah pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad Saw. melalui perantara Malaikat Jibril adalah membaca. Allah tak menyebutkan kita harus membaca sesuatu yang spesifik, misalnya bacalah buku, bacalah koran, bacalah majalah atau yang lainnya. Namun, Allah menjelaskan metode apa yang digunakan yaitu, “Bacalah dengan nama Tuhanmu!”.

Artinya, membaca memiliki cakupan yang sangat luas. Membaca petunjuk Allah melalui alam raya atau mungkin pada zaman ini membaca dari berbagai sumber yang tersedia, seperti internet, video di Youtube, artikel yang bertebaran di dunia maya dan lain sebagainya. Intinya, jadikanlah kemampuan literasi untuk memilah dan memilih yang baik dan buruk untuk hidup yang lebih baik.

Sampai sini, saya menyimpulkan bahwa kemampuan literasi adalah kemampuan dasar dan utama yang harus dimiliki manusia. Betapa tidak, hampir seluruh hidup manusia dihabiskan untuk memutuskan sesuatu dan hal tersebut sangat membutuhkan kemampuan untuk mengumpulkan dan mengolah informasi dengan baik. Jadi, setuju kan jika membaca itu alami? Semua orang harus membaca. Titik.

Kemudian, Bu Netty menjelaskan tentang sebuah artikel yang pernah dibacanya yang berjudul ‘Sinyal Bahaya Peradaban’ yang sayangnya tak dapat saya lampirkan di sini karena tak bisa saya temukan di Google. Artikel tersebut membahas peringkat Indonesia di penelitian PISA (Programme for International Student Assessment) pada tahun 2014 yang menyatakan bahwa peringkat kemampuan literasi anak Indonesia menempati posisi 34 dari 34 negara. Innalillahi wainna ilaihi rojiun..

Yang menyedihkan, anak-anak yang mewakili penelitian tersebut adalah siswa-siswi di Jakarta yang notabene adalah pusat peradaban di negara ini. Soal yang diberikan pun nampak ‘mudah’ yaitu membaca pesan dari kalimat sederhana. Lalu, apa kabar kemampuan literasi di anak-anak ujung Papua? NTT? Pelosok Sulawesi? Subhanallah, sediiiih sekali..

Lalu, apa hubungannya dengan judul ‘Sinyal Bahaya Peradaban’ tersebut? Anak-anak yang dinilai tadi, adalah anak-anak yang kelak akan menggantikan para pemimpin yang kini memimpin bangsa ini. Apa jadinya jika negeri ini dipimpin oleh orang-orang yang tidak bisa mengambil keputusan secara tepat karena tidak memiliki kemampuan literasi yang baik? Apa jadinya peradaban di masa depan? 

Tak bisa dipungkiri bahwa walaupun bangsa Indonesia adalah bangsa yang super duper indah dan kaya, namun jika kualitas sumber daya manusianya tak mumpuni, maka Indonesia bak mobil balap super canggih yang dikendarai oleh pengendara yang tak mengerti bagaimana mengendarai mobil balap. Begitu kira-kira perumpaman yang dibuat oleh Pak Rhenald Kasali.

Masih berdasarkan Pak Rhenald, jika Indonesia tidak mau tertinggal pada dunia yang semakin kompetitif ini, maka sumber daya manusianya harus memiliki setidaknya tiga hal:

  1. Kecepatan dalam memutuskan sesuatu
  2. Inovasi
  3. Regenerasi 

Kini, mari kita tengok poin nomor tiga: regenerasi.

Setidaknya, kini di rumah-rumah kita terdapat minimal tiga generasi yang berbeda, yaitu Generasi Y, Generasi Z dan Generasi Alfa. Jangan salah, ketiga generasi ini memiliki tiga karakteristik yang sangat berbeda yang jika dipaksakan akan membuat keadaan keluarga menjadi tak menentu.

Jadi, jangan heran jika kita kesulitan dalam menetapkan aturan, misalnya, tentang literasi keluarga. Kesepakatan-kesepatakan dalam keluarga akan sulit terbentuk jika orangtua tidak mampu memahami bagaimana karakteristik seluruh anggota keluarga berdasarkan generasi mereka.

Berdasarkan permasalahan di atas, Bu Netty menyampaikan dua tips yang dapat kita coba dalam membangun kemampuan keluarga dari dalam rumah, yaitu:

  1. Kenali karakteristik diri sendiri, pasangan dan anak-anak
  2. Tetapkan apa yang menjadi visi keluarga, misalnya ‘Keluarga harus dibangun dari ilmu pengetahuan, sehingga apapun kesepakatan yang dibuat harus berdasarkan sumber terpercaya’ 

Terakhir, menyikapi perkembangan teknologi yang kini bertumbuh dengan sangat cepat, Bu Netty mengatakan bahwa kita harus mengontrol penggunaan gawai pada anak-anak kita, sehingga jangan sampai terjadi ‘the silence take over’, yaitu kondisi di mana anak-anak kita diam-diam di-take over oleh teknologi. Lebih asyik berduaan bersama gawai, lebih nyaman di depan gawai dan seterusnya. 

Bagi saya, kemajuan teknologi tetap memiliki manfaat yang besar dalam hidup dan sebagai salah satu media pembelajaran bagi anak. Namun, sepakat dengan Bu Netty, pengawasan orangtua tetap dibutuhkan terutama untuk anak di bawah 17 tahun. Jangan sampai deh ada kejadian yang tak kita harapkan hanya karena si kotak seukuran genggaman tangan itu! Yuk, lindungi anak-anak kita dari kecanduan gawai dan kepung anak-anak dengan buku!


Setelah keynote speaker, acara dilanjutkan dengan acara inti yaitu workshop. Sayangnya, walaupun bertajuk acara inti, sebenarnya workshop ini memiliki waktu yang sangat singkat dibandingkan keseluruhan acara, sehingga sebagian besar pembicara tidak bisa menyampaikan materi yang telah disiapkannya secara optimal. 


Pada workshop ini terdapat empat penampilan yang dibawakan oleh empat narasumber yang kompeten di bidangnya. Penampilan pertama adalah mengenai performa Bunda Literasi di Kabupaten Pangandaran. Menurut saya, program Bunda Literasi ini sangat bagus apalagi jika lebih membumi ke masyarakat, karena jujur saja saya pun baru mendengar tentang istilah ini kemarin.

Materi selanjutnya dibawakan oleh Ibu Dr. Hj. Nenny Kencanawati, M.Si. yang merupakan Pembina Dewan Perpustakaan Jawa Barat. Pada kesempatan kali ini, Ibu Nenny memaparkan materi tentang Perpustakaan Keluarga Menjamin Hak-hak Anak untuk Menjadi Masyarakat Literat. Bu Nenny berpesan agar para ibu bisa menjadi bunda-bunda literasi di keluarganya masing-masing dan mampu mengalihkan perhatian anak dari gawai.

Selanjutnya, materi tentang Dongeng dibawakan oleh Ibu Cenita dan diakhiri dengan kisah sukses keluarga Pak Yadi yang bertajuk ‘Kebiasaan Orangtua Pengaruhi Kebiasaan Literasi Anak-anaknya’ oleh Ibu Megah Waliyanah. Keluarga Pak Yadi adalah pemenang Keluarga Literasi di Kabupaten Kuningan yang sangat menginspirasi karena mampu membiasakan kebiasaan baik di dalam rumah sehingga anak-anak di dalam keluarga ini menjadi anak-anak yang cinta membaca.a: 


Bagi saya, informasi-informasi yang saya dapatkan selama acara ini menjadi catatan penting bagi saya dalam mengemban amanat Ketua Rumah Belajar (RB) Literasi Ibu Profesional Bandung. Selepas workshop, saya memiliki harapan bahwa semoga RB Literasi bukan hanya menjadi rumah belajar yang memfasilitasi passion literasi anggota Ibu Profesional Bandung tetapi menjadi jalan untuk menumbuhkan kecintaan literasi pada keluarga.

Tak usah menunggu program pemerintah yang benar-benar nyata dalam memberdayakan perpustakaan keluarga, namun sesungguhnya aksi sebenarnya dimulai dari diri kita sendiri, dari para orangtua

Sudah siapkah kita menjadi orangtua literat? Orangtua yang menjadikan membaca sebagai sebuah kegemaran, kebiasaan, kebutuhan dan bahkan budaya? Sudah siapkah kita menjadi role model terbaik bagi anak?

Mari mulai beraksi sekarang juga! Fasilitasi anak dengan buku-buku dan batasi interaksinya dengan gawai. Anggarkan dana belanja untuk membeli buku. Tak usah mahal, yang bekas pun jadi. Tak ada anggaran? Tenang saja, sekarang perpustakaan-perpustakaan milik negara sudah tertata cantik dan mudah diakses untuk memudahkan seluruh masyarakat dalam membaca buku.

Yuk, membaca! Untuk hidup yang lebih baik!

Salam literasi dari kami: Teh Echy, saya dan Teh Fitri :)

Salam literasi,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini