Lima Catatan tentang Pemaafan dari Workshop Forgiveness Therapy


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Saya selalu percaya jika meminta maaf itu sulit, tapi memaafkan itu jauh lebih sulit. Tahu dari mana? Dari pengalaman, ehem..

Memaafkan itu membutuhkan energi yang jauh lebih besar dari meminta maaf. Dan, yang banyak terjadi adalah lisan yang memaafkan, tapi hati masih dongkol. Pernah merasakan seperti ini?

Nah, kalau kasusnya seperti ini, sebenarnya siapa sih yang rugi? Orang yang menyakiti kita mungkin sudah lega karena ucapan, "Iya, kamu saya maafkan.", sudah meluncur dari mulut kita. Tapi bagaimana dengan kita yang sebenarnya masih dongkol? Kesal! Marah! Nyesek! Bahkan mungkin ada yang sampai mendendam.

Kalau sudah begini, bukankah sama artinya kita menyiksa diri kita sendiri dengan perasaan kesal kita pada orang tersebut? Teruuus menerus menyimpan perasaan sampai akhirnya jiwa kita terganggu. Nggak usah jauh-jauh membayangkan pasien rumah sakit jiwa yang sudah jelas-jelas didiagnosa sakit, tapi coba deh, apakah kita insomnia, nafsu makan terganggu, gampang marah, mudah galau, tidak suka bertemu orang lain, merasa diri kita tidak berharga atau pernah terpikir untuk mengakhiri hidup? Kalau kita mengalami satu saja ciri-ciri di atas, bisa jadi jiwa kita sedang sakit karena ada perasaan buruk yang terus menerus kita pendam. Entah sedih, marah, dendam, yang pasti semua itu bisa merusak hati kita. 

Memaafkan itu sulit, tapi bukankah Nabi Muhammad Saw. mencontohkan kita untuk selalu memaafkan? Kisah yang paling saya ingat tentang sifat Nabi ini adalah ketika Nabi memberi makan seorang Yahudi buta di sudut pasar yang sering meneriakkan cemoohan pada Nabi. Masya Allah, pemaaf sekali, bukan?

Tapi, kita bukan Nabi yang kayaknya nggak mungkin banget bisa sebegitu baiknya dengan seseorang yang telah menyakiti kita. Eh, ada sih banyak orang yang bisa, tapi saya mah nggak. Hehe.. Walaupun demikian, ternyata ada hal-hal yang baru saya ketahui tentang pemaafan yang insya Allah bisa membuat saya bisa lebih kuat menghadapi hidup dan belajar memaafkan.

Sumber: FB Teh Diah Mahmudah

Nah, ini dia lima catatan tentang pemaafan yang saya dapatkan dari Workshop Forgiveness Therapy bersama Pak Asep Haerul Gani pada 20 Mei 2018 yang lalu:

1. Pemaafan Hanya Bisa Dilakukan oleh Mereka yang KUAT

Jadi, orang terkuat itu ternyata bukanlah Nyonya Meneer yang telah berdiri sejak tahun 1919. Haha, garing! Orang terkuat itu bukanlah orang yang punya otot besar atau tenaga kuda, tapi mereka yang bisa marah tapi memilih untuk nggak marah. Seperti hadis berikut ini:

“Bukanlah orang kuat (yang sebenarnya) dengan (selalu mengalahkan lawannya dalam) pergulatan (perkelahian), tetapi tidak lain orang kuat (yang sebenarnya) adalah yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah"
HR. Al Bukhari

Sebenarnya bisa saja ia marah, tapi ia memutuskan untuk memaafkan. Dan nggak main-main lho, langsung dibalas oleh surgaNya Allah. Masya Allah..

Allah juga berfirman, “Mereka itulah orang-orang yang dibalas dengan kedudukan-kedudukan tinggi (di surga) dengan sebab kesabaran mereka.”
QS. Al Furqaan [25] : 75

Jadi, mari kita jadi bagian dari orang-orang pemaaf yang membebaskan diri kita dari belenggu perasaan marah atau dendam. Atau malah memaafkan diri sendiri karena merasa pernah melakukan sesuatu yang bagi kita benar-benar mengecewakan.

2. Langkah Pertama: Cintai Diri Sendiri

Bagi saya, poin ini adalah poin yang sangaaaat menohok, karena saya adalah tipe orang yang selalu mengutamakan kepentingan orang lain walaupun saya sendiri harus menderita. Kadang, saya selalu mengorbankan diri saya sendiri agar orang lain di sekitar saya bahagia. Hal ini saya lakukan dengan harapan bisa ikut berbahagia ketika kita membahagiakan orang lain.

Memang, ketika membantu orang lain ada perasaan bahagia yang kita rasakan. Tapi ternyata hal tersebut belum mampu menyembuhkan hati kita.

Alhamdulillah, pada workshop ini Pak Asep mengingatkan kami untuk mulai menyayangi diri sendiri. Jangan berpikir bahwa kita egois, karena pada akhirnya, menyayangi diri sendiri adalah untuk memenuhi 'tangki' kasih sayang kita sehingga bisa meluap dan akhirnya menyayangi orang lain.

Intinya mah, kita nggak mungkin bisa jadi seseorang yang penyayang kalau menyayangi diri sendiri saja belum bisa. Duh, kok jleb banget, ya! >.<

Dari sini saya berjanji untuk bisa mulai memprioritaskan diri saya sendiri dan memastikan bahwa saya bahagia sebelum saya berjuang untuk membahagiakan orang lain. Semoga para pembaca pun bisa kembali memeluk dan menyayangi dirinya masing-masing, ya. Kita belajar bahagia dan menjadi pribadi yang penyayang.

3. Pemaafan Itu Bukan Seperti Ini

Ternyata ada banyak sekali salah kaprah tentang pemaafan. Psst, saya pun ternyata termasuk dari orang-orang yang selama ini salah paham tentang makna pemaafan. Bahkan, dari penjelasan Pak Asep saya baru sadar bahwa sebenarnya saya belum memaafkan seseorang yang saya pikir sudah saya maafkan dari dahulu kala. Hmm..

Apa saja sih salah kaprah tentang pemaafan ini? Nah, yuk kita simak supaya kita bisa lebih paham dan lebih mudah dalam memaafkan!

Pemaafan itu TIDAK SAMA DENGAN...

⤫⤫ Seimbangnya timbangan

Contoh: "Dulu kamu mencuri uang saya sebanyak Rp. 1 M, maka, saya akan memaafkan kamu jika kamu mengembalikan uang saya dengan jumlah yang sama."
Pemikiran seperti ini belum bisa dikatakan pemaafan.

⤫⤫ Memaklumi

Contoh: "Ah, saya mah sudah maklum dengan ibu mertua saya. Dia mah orangnya memang begitu, semua serba salah di mata dia.."
Nah, memaafkan orang lain dengan alasan memaklumi suatu sifat atau kondisi pun ternyata belum berarti kita memaafkan dengan tulus, lho!

⤫⤫ Mengalah

⤫⤫ Menjadi kecewa

⤫⤫ Melupakan

Contoh: Kita merasa sudah memaafkan seseorang karena kita tidak mau mengingat-ingat lagi tentang apa yang ia sudah lakukan pada kita.

Ternyata, oh, ternyata... Ketika kita tidak mau mengingat suatu peristiwa buruk karena takut ada perasaan nggak enak yang mungkin akan kita alami ketika mengingatnya, hal ini adalah pertanda bahwa kita belum memaafkan peristiwa tersebut.

Malah, ketika kita bisa melupakan peristiwa yang begitu menyakitkan dalam hidup kita, bisa jadi peristiwa tersebut menjadi trauma bagi kita. 

Jadi, bagaimana ciri kita sudah memaafkan? Cirinya adalah kita bisa mengingat hal yang paling menyakitkan sekalipun tanpa merasakan benci, marah, dendam atau perasaan tidak memberdayakan lainnya.

⤫⤫ Membiarkan, membebaskan

⤫⤫ Pembenaran

⤫⤫ Pemusatan pada diri

⤫⤫ Pengampunan

Contoh: Seorang ibu yang mengalami KDRT melaporkan sang suami pada polisi sehingga si suami dibui selama beberapa tahun. Setelah itu, si istri pun menggugat cerai suami ke Pengadilan Agama. Tapi, apa yang terjadi? Ternyata ibu tersebut selalu menjenguk dan mengirim makanan untuk si suami walaupun sudah bercerai.

Artinya: Ibu tersebut memaafkan suaminya, tetapi TIDAK MENGAMPUNI, karena tidak menarik aduan KDRT pada polisi. Jadi, bisa dipahami, ternyata kita harus memaafkan, tapi tidak harus mengampuni (apalagi kalau menyalahi aturan hukum).

⤫⤫ Perdamaian

Kira-kira sama ya dengan contoh di bagian pengampunan.

Nah, dari penjelasan Pak Asep ini, saya baru tahu ternyata saya belum memaafkan karena takut disalahartikan dengan pengampunan dan menganggap benar perilaku seseorang terhadap saya dan korban lainnya. Padahal, ternyata pemaafan itu berbeda dengan pengampunan, apalagi menghalalkan sesuatu yang salah di mata hukum dan agama. Noted banget nih untuk saya. 

4. Jangan Mau Terus Menerus menjadi Objek (Penderita)

Di Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional, saya belajar bahwa 'i'm responsible for my communication result' dan ternyata begitu pun dengan perasaan dan kebahagiaan saya.

Saya bertanggung jawab terhadap perasaan saya.

Orang boleh berbuat apapun pada kita, tapi semua kembali lagi pada kita, apakah kita memutuskan untuk memasukkan perbuatan orang tersebut ke dalam hati kita atau kita memutuskan untuk bersikap netral.

Kita bertanggung jawa atas kebahagiaan kita, karena 'tidak ada yang bisa membuat kita menderita kecuali kita mengizinkannya'. Tuh, kan, semua kembali lagi pada kita. Apakah kita bisa menjadi SUBJEK dalam hidup kita, bukan sebagai OBJEK, apalagi objek penderita, duh!

Dalam bagian ini, Pak Asep menceritakan berbagai pengalamannya bertemu dengan orang-orang 'aneh'. Yang marah-marah lah, unjuk kekuatan lah dan banyak lagi. Yang membuat saya kagum adalah bagaimana cara Pak Asep bereaksi dan beliau memutuskan untuk tetap tenang dan netral. Ditambah lagi, beliau selalu bisa melihat bagian lucu dari kelakuan orang-orang tersebut. 

Wah, saya harus banyak berlatih menjadi subjek nih, supaya bisa keren seperti Pak Asep.

Saya tuliskan salah satu contohnya di sini, ya.

Bayangkan ketika kita sedang asyik mengantri di H**erm*rt pada awal bulan. Oh, pasti antriannya panjang, ya? Nah, ketika sedang mengantri, tiba-tiba ada ibu-ibu heboh bin riweuh memotong antrian dan tiba-tiba sudah berdiri di depan kita.

Ketika kita memutuskan menjadi objek, kita akan merasa marah dengan kelakukan si ibu dan ada beberapa kemungkinan yang akan kita lakukan:
  • Diam saja, pasrah, malas berkonflik. Reaksi ini disebut komunikasi pasif.
  • Marah, nyinyir, bahkan meneriaki si ibu dengan heboh. Reaksi ini disebut dengan komunikasi agresif.
  • Diam-diam mengambil dan memindahkan barang-barang belanjaan si ibu ketika sedang dihitung oleh kasir. Harapannya, di rumah nanti si ibu akan bertanya-tanya ke mana barang belanjaannya pergi. Reaksi ini disebut dengan komunikasi agresif pasif.
Apakah ketiga bentuk komunikasi ini menyelesaikan masalah? Tentu tidak. Apakah membuat hati kita tenang? Hmm, sepertinya nggak juga, ya. Yang ada malah jadi kepikiran dan ngedumel sehari semalam. >.<

Sebaliknya, ketika kita memutuskan menjadi subjek, maka kita merasa biasa-biasa saja alias netral dengan kelakuan si ibu dan memutuskan untuk melakukan komunikasi asertif dengan berkata baik-baik sambil tersenyum manis, "Bu, punten, kami sudah mengantri dari tadi. Alangkah baiknya jika Ibu juga memulai antrian dari belakang". Atau perkataan sejenis lainnya.

Nah, bisa kah kita menjadi subjek? Pasti bisa dan harus bisa! Memangnya mau selalu jadi objek penderita? Selalu baper dan capek hati? Kalau saya mah nggak mau.. Hehe..

5. Obat Hati adalah Berbuat Kebaikan

Ada sebuah cerita dari Pak Asep yang sangat menyentuh saya, yaitu cerita beliau ketika memberikan hadiah kepada bapaknya. Memberikan hadiah kepada orang tua memang hal yang biasa, tapi menjadi tidak biasa ketika orang tua lah yang menjadi alasan Pak Asep dibully oleh masyarakat sekitar sejak masuk SD hingga 11 tahun. Di usia ke 11 ini, beliau mendapat tantangan dari calon guru di pesantren yang bersedia mengajarkan Pak Asep Ilmu Alat jika beliau bisa memenuhi syarat yang ia berikan. Syaratnya tak lain tak bukan adalah memberi hadiah kepada sang bapak. Subhanallah..

Setelah berjuang mencari uang sendiri, berbelanja barang-barang mahal untuk sang bapak dan berjalan melewati lima kampung untuk bertemu bapaknya, akhirnya Pak Asep pun berhasil memenuhi syarat sang guru dan diterima jadi muridnya. Namun, ada hal lain yang lebih istimewa yang Pak Asep alami, yaitu bagaimana perasaan benci, marah dan dendam menguap begitu saja setelah Pak Asep melakukan kebaikan pada sang Bapak.

Pak Asep menyimpulkan bahwa pengobat kebencian atau kemarahan justru adalah dengan berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti kita. Bisakah kita melakukannya? Jika Baginda Nabi, bahkan Pak Asep, bisa, seharusnya kita pun bisa, ya? :)

Tiga Hal yang Saya Dapatkan dari Workshop Forgiveness Therapy


Selain kelima pesan di atas, sebenarnya masih banyaaaak sekali catatan dari workshop kemarin. Bayangkan saja, kami belajar tentang pemaafan dari jam 8 pagi hingga berbuka. Masya Allah, pastinya ada banyak sekali insight yang saya dapatkan. Bagi para pembaca yang masih penasaran dengan workshop ini, silahkan langsung hunting jadwalnya Pak Asep, ya, siapa tahu ada workshop terdekat di kota kakak-kakak sekalian. Hihi..

Sedikit testimoni dari saya, yaa..

Setelah mengikuti workshop ini ada tiga hal penting yang saya dapatkan dan insya Allah sangat bermanfaat untuk bekal saya menjadi manusia yang lebih baik:
  1. Berusaha mendefinisikan peristiwa buruk yang kita alami dengan sedetail mungkin adalah hal yang sangat penting. Melalui latihan-latihan dari Pak Asep, saya belajar membuat life line tentang peristiwa buruk yang pernah saya alami dan tingkat ketidaknyamannnya bagi saya. Kemudian, saya belajar mendefinisikan peristiwa tersebut dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mengandung 5W1H: siapa yang berbuat, siapa yang dirugikan, bagaimana, apa efeknya dan lain sebagainya. Dari sana sangat terasa bahwa ketika kita lebih memahami peristiwa tersebut, semakin legowo pula kita memaafkan si penzalim yang ada di peristiwa tersebut. 
  2. Saya berjanji untuk menjadi subjek dalam hidup saya dan meninggalkan predikat objek. Saya harus menjadi bahagia untuk bisa menjadi orang yang membahagiakan orang lain. Maka, saya berjanji mulai saat ini untuk lebih sering 'memeluk' dan menyayangi diri saya sendiri serta memosisikan diri saya sebagai subjek yang bertanggung jawab pada perasaan dan hidup saya sendiri.
  3. Saya akan berusaha tidak menjadi pencerita kisah getir (PKG) atau menjadi 'tempat sampah' bagi PKG. Siapa sih PKG itu? Mereka adalah orang-orang yang senang curhat mengenai hal-hal buruk yang menimpa dirinya untuk menciptakan perasaan berharga dan membahagiakan diri sendiri. Padahal, curhat kita itu memiliki energi negatif yang akan berpindah ke orang yang kita curhati, sehingga secara nggak langsung, kita sudah menulari orang lain dengan energi negatif yang kita miliki. Jadiiii, daripada curhat verbal, lebih baik curhat via tulisan saja, atau dengan mengadu pada Sang Pemilik Dunia, Allah Swt.
Nah, sekian sedikiiit sekali catatan dari Workshop Forgiveness Therapy bersama Pak Asep Haerul Gani. Selain materi dan latihan selama workshop, saya juga mendapat banyak sekali rezeki selama workshop, yaitu bertemu dengan ibu-ibu nan hebat yang selalu mengajarkan saya hal-hal baru. Hatur nuhun sudah berbagi inspirasi dengan saya. Semoga kita menjadi pribadi-pribadi baru yang lebih pemaaf..


Catatan: terima kasih untuk Teh Elma dan Bu Naomi untuk kesempatannya. Barakallah.. :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Buuu makasih tulisannya.. bermanfaat 😘 ijin share ya..

    BalasHapus
  2. Terima kasih artikelnya, sangat bermanfaat untuk intropeksi diri

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini