Sedekah vs Asuransi


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Jujur deh, saya jaraaaang banget menulis opini tentang sesuatu, tapi untuk yang satu ini entah mengapa gatel banget ingin berkomentar. Well, lebih tepatnya meluruskan. Kenapa nggak langsung bicara dengan orangnya? Pertama, karena saya nggak kenal-kenal banget. Malu, sis. Hehe.. Kedua, karena rasanya lebih nyaman untuk beropini di blog saya sendiri yang notabene memang wilayah kekuasaan saya. Bebaaas mau nulis apa aja, hehe..

Jadi, mau meluruskan tentang apa, sih? Sebentar, cerita sedikit, ya..

Tadi pagi, ketika saya sedang membaca status Whatsapp, ada status seorang kenalan yang berhasil mencuri fokus saya. Mata saya terpaku dengan status beliau yang menurut saya cukup menohok. Status itu berisi kegelisahan beliau karena bertemu dengan seseorang yang lebih memilih bersedekah dibandingkan memiliki asuransi.

Katanya, apakah mungkin orang-orang yang diberi sedekah akan membayarkan biaya ketika orang tersebut sakit? Katanya, apakah pernah terjadi uang turun begitu saja dari langit? Katanya, mungkin saja ia adalah jawaban dari Allah atas doa-doa mereka. Beliau yakin bahwa ia adalah perpanjangan tangan dari Allah untuk memberi rezeki ketika keluarga mereka tertimpa musibah.

Bagi saya, ini cukup mengganggu dan harus diluruskan. Saya bukan ustazah yaa, tapi izinkan saya berpendapat berdasarkan sedikit pengetahuan yang saya miliki dan beberapa pengalaman pribadi. Bismillah..

Pertama, tentang "apakah mungkin orang-orang yang diberi sedekah akan membayarkan biaya ketika orang tersebut sakit?". Jawabannya: mungkin saja terjadi, walaupun peluangnya kecil. Iya, mungkin saja kan nasib orang yang kita sedekahkan sepuluh tahun yang lalu sudah berbalik 180 derajat dan kini ia menjadi dermawan kaya raya yang siap membantu kita ketika ia mendengar kabar bahwa kita sedang terkena musibah? Mungkin saja, lho. Nggak ada yang nggak mungkin di mata Allah.

Kedua, menjawab pertanyaan "apakah pernah terjadi uang turun begitu saja dari langit?". Hmm, pernah ada berita unik ketika seorang kaya raya membuat hujan uang dengan 'menaburkan' uang dari atas helikopter. Eh, tapi nggak tahu juga ya, beritanya valid atau hoaks sih? Hehe..

Yang jelas, memang benar jika uang nggak mungkin secara ajaib turun dari langit atau tiba-tiba muncul di depan mata kita. Tapiiii.. Yang namanya rezeki itu benar-benar di luar logika. Percaya, kan? Sudah banyak sekali ya kejadian di sekitar kita atau malah sering kita alami, bahwa terkadang, uang itu memang seakan turun dari 'langit'. Dari Allah, melalui berbagai perpanjangan tanganNya. Lewat apaaaa aja, dari yang masuk akal (dari keluarga) sampai tiba-tiba dapat job dadakan dari seseorang yang kenal pun enggak. Pernah, kah?

Dan, saya yakin bahwa rezeki yang tiba-tiba datang itu sebenarnya memang nggak datang secara tiba-tiba. Nggak ada yang kebetulan di muka bumi ini, bukan? Bahkan daun yang jatuh pun sudah diatur olehNya. Nggak mungkin kan rezeki untuk makhluk Allah yang paling sempurna nggak diatur olehNya?

Saya pernah membaca dari bukunya Ippho Santosa yang best seller itu, lho! Lupa judulnya, deh. Hehe.. Intinya, beliau bercerita tentang bagaimana sedekah yang kita lakukan itu PASTI langsung dibalas oleh Allah. PASTI, lho! Kan Allah sendiri yang berjanji:
"Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepadaNyalah kamu dikembalikan." - Q.S. Al Baqarah : 245

Rada panjang nih ceritanya, tapi biarin, ya. Hihi..

Jadi ceritanya, ada seorang pemilik restoran di Palembang (lupa-lupa ingat, nggak apa, ya) yang bersedekah pada hari Senin. Catat ya, hari Senin. Nah, beberapa hari kemudian, tepatnya hari Kamis, ia mendapatkan telepon dari sebuah perusahaan besar di Jakarta yang memesan paket catering dengan porsi yang cukup besar. Wah, pokoknya sorak sorai bergembira banget nih si ibu.

Pertanyaannya: katanya langsung dibalas, kok baru hari Kamis sih balasannya 'sampai'?

Nah, lanjut lagi..

Ternyata, di hari Senin pagi, sebuah perusahaan ternama di Jakarta sedang menyelenggarakan raker dan memutuskan untuk mengadakan kunjungan ke Palembang. Lalu, mereka membentuk kepanitiaan yang memiliki tugas masing-masing: transportasi, konsumsi, akomodasi, dll. Singkat cerita, seksi konsumsi ini mencari restoran di Palembang yang bisa menyediakan catering sesuai dengan anggaran perusahaan dan terpilihlah restoran si ibu. 

Ini terjadi hari Senin. Catat ya, hari Senin.

Lantas, setelah melalui proses permintaan persetujuan atasan, di-acc deh si restoran ini pada hari Kamis pagi dan si seksi konsumsi pun menghubungi si ibu.

Nah, jadi jelas ya, ternyata sedekah si ibu di hari Senin langsung TUNTAS DIBALAS saat itu juga! Keren, kan? Masya Allah..

Apakah ini kisah nyata? Atau fiktif belaka? Terlepas dari nyata atau fiktif, tapi bagi saya kisah ini cukup masuk akal mengingat banyak sekali kejadian ajaib yang memang kadang nggak masuk akal kita tapi benar-benar terjadi. Semua karena kehendak Allah Swt.

Jadiiii, ternyata benar ya, hadis Nabi yang menyatakan:
"Beramallah kamu sekalian, karena beramal (berbuat kebaikan/ibadah) akan mengubah sesuatu yang buruk yang telah ditentukan-Nya padamu" (HR. Bukhori dan Muslim).
“Bersegeralah bersedekah, karena bala tidak pernah mendahului sedekah.” (HR. Thabrani).
“Sesungguhnya sedekah dan silaturahim itu dapat menambah umur dan menolak ketentuan buruk yang tidak disukai dan ingin dijauhi.” (HR. Abu Ya’la Alhambali).

Pernah nggak sih mengalami kondisi di mana semua anggota keluarga bergantian jatuh sakit, tapi hanya kita yang segar bugar nggak ketularan sedikit pun? Atau mungkin kita pernah mengalami  hampir keserimpet kendaraan di jalan raya? Pernah nggak sih berpikir bahwa semua kejadian itu bukan kebetulan, tapi memang bentuk rezeki dari Allah? Rezeki sehat, rezeki keselamatan, rezeki waktu luang, rezeki kesempatan, dan buanyaaak lagi! Masya Allah..

Dan itu semua karena apa? Karena sedekah kita. Karena sedekah kita sedang menolong kita. Ih, pengin nangis nggak, sih? :(

Jadi, jika ada yang berpendapat bahwa lebih baik sedekah dibandingkan asuransi, bisa dikatakan ya memang sedekah itu lebih terjamin daripada asuransi paling baik sekalipun. Kenapa? Karena Allah langsung yang jamin! Ada gitu penjamin yang lebih hebat dari Allah?

Empat tahun menjanda, empat tahun ini pula saya dan Kakang diberi banyaaaak sekali rezeki, terutama rezeki berupa kesehatan. Sakitnya kita nggak pernah macam-macam, paling mentok flu parah sampai nggak bisa tidur malam. Tapi 2-3 hari insya Allah sembuh.

Semoga Allah menjauhkan saya dari sifat riya, tapi boleh ya cerita sesuatu? Sepanjang sejarah Kakang sakit, kemarin-kemarin ini dia terserang penyakit kulit yang terdiagnosa alergi. Lumayan parah sih dan yang pasti obatnya mahal banget buat saya, sampai kurang lebih Rp. 600.000-an. Hiks..

Tapi, qadarullah, beberapa hari dari mengeluarkan uang untuk berobat, eeeh tiba-tiba saya dapat rezeki berupa uang sejumlah kurang lebih sama dengan yang saya keluarkan untuk berobat. Tiba-tiba, lho, karena saya nggak nyangka akan dapat rezeki dari jalan itu. Maka, nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan? Beneran, deh, uang itu memang bisa turun dari 'langit'!

Nah, poin terakhir, dan nggak akan panjang-panjang. Adalah tentang pernyataan kenalan saya itu tentang "mungkin saja ia adalah jawaban dari Allah atas doa-doa mereka. Engkau yakin bahwa ia adalah perpanjangan tangan dari Allah untuk memberi rezeki ketika keluarga mereka tertimpa musibah."

Hmm.. Begini ya, sependek yang saya tahu, asuransi itu adalah salah satu produk keuangan yang memiliki unsur riba. Dan, tahu sendiri ya kalau riba itu ngeRI BAnget bukan kepalang! Ada banyak ayat Alquran atau hadis Nabi tentang riba dan semuanya nyeremin. Yang paling saya ingat adalah: dosa riba yang paling ringan adalah seperti berzina dengan ibu sendiri. Naudzubillahimindzalik!

Kan ada asuransi syariah? Saya pernah mendengar kajian ini di radio MQ FM, yaitu tentang tabarru' atau dana kebajikan untuk saling tolong menolong. Intinya mah, para peserta tabarru' ini menyetorkan uang di mana uang tersebut nantinya akan digunakan untuk menolong peserta yang tertimpa musibah.

Nah, tapi, sependek pengetahuan saya, akad tabarru' ini sifatnya sukarela dan tidak mengharapkan kompensasi apapun alias non profit. Pertanyaannya, ada nggak sih perusahaan asuransi yang benar-benar memiliki konsep ini? Wallahua'lam..

Intinyaaa, kalau asuransi itu ngeRI BAnget, mungkin nggak sih Allah memberikan saran untuk berasuransi? Silahkan dijawab sendiri.. :)

Maaf yaa, kalau tulisan saya ini menyinggung perasaan teman-teman. Hiks.. Beneran da, soalnya saya mau berbagi aja tentang apa yang sudah saya alami selama 4 tahun ini. Alhamdulillah, saya percaya Allah penjamin terbaik dan memang selama ini Allah selalu menjamin kami semua.

Apakah saya jadi nggak pernah ikut asuransi? Ikut, dong. Tapi asuransinya dalam bentuk lain, langsung 'nitip' sama yang punya hidup. Insya Allah nanti akan dikembalikan ketika sudah butuh banget dan tepat pada waktunya karena bukankah pertolongan Allah itu amat dekat?

Tulisan ini dibuat untuk catatan saja, bukan untuk menasehati apalagi menyakiti perasaan sidang pembaca yang terhormat. Salam damai ya, kan mau Ramadhan. Hehe.. :)

Semoga bermanfaat, ya. Kalau ada yang salah, pasti asalnya dari saya.

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak