Nostalgia bersama Nh. Dini dalam Janda Muda

Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Nostalgia detected!!!
Postingan ini akan mengandung cerita jadul yang mungkin membosankan untuk dibaca, tapi tidak untuk saya. Hehe.. :)

Sapuan jemari saya di deretan buku pada lorong 'Sastra dan Bahasa' terhenti saat melihat nama penulis wanita favorit saya: Nh. Dini. Bagi pembaca sastra, nama beliau bukanlah nama yang asing lagi, ya. Apalagi untuk generasi 90-an seperti saya yang dulunya mungkin tumbuh remaja dengan karya-karya beliau. Atau, malah baru dengar? XD

Saya berkenalan dengan karya-karya sastra Indonesia di lemari-barang-tak-terpakai-tapi-entah-mengapa-tak-kunjung-dibuang di rumah Oma. Di sana saya menemukan dua buah buku sastra Indonesia lama yang saya lupa judulnya. Saking lamanya, salah satu dari buku tersebut masih menggunakan ejaan jadoel jang ditoelis seperti ini. Asli, siwer banget dulu bacanya! Haha..

Ternyata itulah titik awal saya menyukai sastra. Dari sana, saya mencoba mencari buku-buku sastra di perpustakaan sekolah. Saat itu saya duduk di sekitar kelas 1 atau 2 SMP dan Perpustakaan SLTP Negeri 14 Bandung menjadi surga bagi saya. Ternyata, ada banyak koleksi sastra Indonesia di ruang perpustakaan yang bisa dibilang kecil tersebut. Tidak cukup banyak sih, tapi lumayan lah untuk saya yang ketika itu kesulitan untuk mendapatkan bahan bacaan. Hehe..

Di perpustakaan saya bertemu dengan Nh. Dini, Buya Hamka, Idrus, Armijn Pane, Abdoel Moeis dan entah siapa lagi, saya lupa. Dari mulai Padang Ilalang di Belakng Rumahku, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck sampai Salah Asuhan. Ah, kangen sekali ya membaca tulisan-tulisan ini! :)

Tulisan-tulisan favorit saya tentu saja yang dibuat dengan penuh cinta oleh Nh. Dini. Ketika itu, tokoh-tokoh dalam cerita beliau seakan menjadi teman-teman yang betul-betul hadir untuk saya. Maklum, ketika itu di rumah sering sekali terjadi konflik, sehingga buku menjadi tempat pelarian saya agar tetap waras. Hehe..

Selain itu, karena sejak SD saya sangat menggandrungi cerita-cerita sejarah, rasanya membaca cerita-cerita Nh. Dini seperti membaca sejarah dengan cara yang benar-benar menyenangkan! Pokoknya saya suka sekali dengan karya beliau!

Nh. Dini selalu menulis cerita-ceritanya dengan gaya sederhana dan skill beliau dalam mendeskripsikan sesuatu sangat luar biasa! Tokoh yang beliau deskripsikan seakan sedang berdiri, nyata, ada di hadapan kita. Begitupun dengan tempat dan kondisi yang beliau ceritakan seakan sedang dialami dan didatangi langsung oleh kita. Kok bisa begitu, ya? Ingin sekali rasanya bisa menulis seperti beliau.

Lalu, semua koleksi Nh. Dini yang ada di perpustakaan akhirnya sudah saya lahap dan entah bagaimana ceritanya, berakhirlah cerita saya dengan sastra Indonesia. Terganti dengan serial Lupus, Fear Street, komik dan banyak lagi. Terganti dengan hal-hal yang mungkin lebih umum dibaca oleh remaja seumuran saya. 

Sampai akhirnya, saya baru bisa membaca karya beliau ketika saya menjaga Mak Uu di rumah sakit. Hanya sendiri dan rasanya menjadi momen yang spesial yang harus saya rayakan dengan membaca karya yang spesial pula! Setelah memastikan Mak Uu tertidur, saya pun mulai bernostalgia dengan kumpulan cerpen (kumcer) Nh. Dini yang berjudul Janda Muda.

Setiap membaca satu cerita, saya selalu memberikan ruang sebelum beralih ke cerita yang lain. Saya membiarkan ceritanya meresap dan menikmati perasaan yang saya alami setelah membaca cerita tersebut. Bukannya lebay ya, tapi coba deh membaca kumcer ini, dijamin akan hanyut bersama ceritanya.

Cerita Janda Muda ala Nh. Dini


Buku kumcer ini terdiri dari 12 cerita pendek yang terinspirasi dari hasil pengamatan dan pengalaman penulis ketika berada di suatu daerah, ketika berprofesi sebagai pramugari dan saat tinggal di Eropa bersama mantan suami dan anak-anaknya.

Sesuai judulnya, buku ini diawali dengan cerpen berjudul Janda Muda yang menceritakan kisah seorang janda muda yang menurut saya cukup tragis. Bagaimana tidak, sebagai salah satu gadis yang dibanggakan oleh seisi desa, ia menikah dengan seorang pemuda yang -tadinya- dianggap sempurna dan ia kagumi. Namun ternyata, ia harus menanggung kenyataan bahwa sang suami memiliki istri lain di kota dan.... Ah, silahkan baca sendiri dan ikut baper! >.<

Cerpen-cerpen lain yang ada di buku ini adalah:

  1. Pandanaran
  2. Hujan
  3. Sebuah Teluk
  4. Di Langit di Hati
  5. Ke Luar Tanah Air
  6. Perjalanan
  7. Wanita Siam
  8. Di Pondok Salju
  9. Ibu Jeannete
  10. Penanggung Jawab Candi
  11. Kebahagiaan

Ketika kita membaca buku ini, bersiap-siaplah untuk merasakan naik turunnya suasana hati, namun tetap didominasi dengan rasa ngenes. Pada beberapa cerita, kita akan disuguhi perjuangan hidup masyarakat pinggiran kota yang membuat kita bersyukur dengan segala yang kita miliki. Ada pula cerita yang membuat kita sedih, kesal sampai tesenyum tipis.

Cobalah membaca Penanggung Jawab Candi. Di sana, kita akan menemukan cerita yang super bikin kesal! Bagaimana pemimpin yang bodoh menggunakan berbagai cara agar bisa bertahan untuk  memiliki kekuasaannya. Rasanya lucu, tapi saya yakin pasti ada banyak pemimpin seperti ini di sekitar kita. Kritik sosial.

Bagi saya, nilai buku ini adalah 9! :)

Yang mengurangi poin buku ini hanya satu, karena banyak konten dewasa yang sebenarnya sangat wajar ada di sastra-sastra Indonesia. Tapi tetap saja ya, ini mah pendapat pribadi, membuat saya kurang nyaman saat membacanya. Hihi..

Mungkin poin ini pula yang membedakan karya ini dengan buku-bukunya yang menceritakan masa kecil beliau. Seingat saya, buku-buku tersebut aman dibaca oleh anak dan inginnya sih dijadikan buku wajib yang dibaca di sekolah. Setuju?

Terima Kasih, Bu Dini! :)


Hmm, sejak tahun lalu, ketika merumuskan program kerja Rumah Belajar Literasi, saya sudah mencantumkan Nh. Dini sebagai salah satu penulis yang ingin saya ajak berbagi di rumah belajar kami. Namun, mengingat umur ibu yang sudah sepuh, tentunya akan sulit untuk mengundang beliau ke Bandung yang jaraknya lumayan jauh dari domisili beliau di Semarang.

Tapi, saya masih berharap agar suatu saat nanti saya bisa berjumpa beliau untuk sekedar berterima kasih karena telah mewarnai masa remaja awal saya dengan karya-karya beliau yang masih tersimpan di memori terdalam di laci memori saya. Terima kasih untuk menulis cerita-cerita yang bagi saya wajib dibaca oleh semua anak di Indonesia.

sumber: Nannia Mini Library

Terima kasih, Ibu.. :)
Semoga saya punya rezeki untuk membaca karya-karya inspiratif ibu lainnya sekaligus memiliki kemampuan untuk menulis seperti ibu.

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini