Menulis untuk Berdaya



Tanpa saya sadari, hidup saya tak pernah jauh-jauh dari aktivitas menulis. Seingat saya, sejak SD saya suka sekali menulis. Sekitar kelas 3 atau 4 SD, saya sudah menjadi writerpreneur dengan menjual cerpen saya pada teman-teman. Lumayan, satu cerita dibanderol Rp100,00 yang kalau dikumpulkan bisa dipakai untuk membeli pensil refill nan imut atau semangkuk bakso. Hehe..

Di SMP, saya berjodoh dengan seorang guru Bahasa Indonesia yang metode pengajarannya tak pernah saya lupakan sampai saat ini, sungguh-sungguh berkesan. Di kelas 2 SMP, beliau meminta kami untuk menulis jurnal harian yang wajib ditulis setiap hari dan akan dikumpulkan setiap mata pelajaran beliau. Mau tak mau kami harus rajin menulis.

Saya yang sejak SD sudah memiliki diary pun rasanya tidak dibikin susah oleh tugas ini. Yang ada malah senang, karena kegiatan favorit saya terfasilitasi. Selain itu, beliau juga meminta kami membaca sebanyak-banyak buku dan membuat resumenya di buku khusus. Kedua buku ini, buku jurnal harian dan buku resume, menjadi buku yang spesial bagi saya karena keduanya mewakili aktivitas yang benar-benar saya cintai: membaca dan menulis.

Di SMA, entah bagaimana passion saya terkubur dalam-dalam. Entahlah, bagi saya, masa-masa SMA termasuk masa terkelam di hidup saya karena perceraian Mama Papa dan banyak drama di dalamnya. Beruntungnya saya, karena tergabung di ekstrakulikuler Keluarga Paduan Angkung (KPA) 3 yang membuat hidup saya lebih berwarna dan memberikan banyak sekali pengalaman hidup. Puncaknya adalah ketika saya bersama 24 teman yang lain menjadi Duta Budaya untuk memperkenalkan angklung ke 6 negara dan 10 kota di Eropa. Pengalaman ini adalah salah satu pengalaman baik yang telah membentuk diri saya saat ini. Masya Allah.

Tahun pertama kuliah adalah menjadi tonggak awal kembalinya saya ke dunia tulis menulis. Tidak, tidak sampai sejauh menjadi penulis keren, tapi hanya sekadar memiliki blog. Blog pertama yang saya miliki adalah Tumblr. Mengapa? Karena sahabat-sahabat SMA saya menggunakan Tumblr untuk membagikan aktivitas dan pikiran mereka di sana. Karena dulu saya merasa sendiri (merantau ke Bogor), jadilah kegiatan menulis blog ini menjadi pelarian bagi saya untuk ‘bertemu’ dengan orang-orang yang bisa membuat saya nyaman.

Kemudian, tanpa saya sadari saya masuk ke dunia di mana tulis menulis menjadi modal untuk bertahan, yaitu masuk ke jurusan yang ‘sosial banget’. Tahun kedua perkuliahan saya diterima di Departemen Agribisnis yang merupakan jurusan terfavorit di seantero IPB. Alasan memilih jurusan ini hanya satu, karena saya bingung mau masuk mana lagi. Ya sudah, coba yang terbaik saja dan alhamdulillah lolos.

Ya, dulu hidup saya ya begitu. Nggak punya keinginan sendiri, bingung sekali tentang apa yang dimau oleh diri sendiri. Singkatnya, nggak memahami tentang diri sendiri. Belakang baru saya tahu, ternyata hal ini terjadi karena fitrah bakat saya tidak tumbuh dengan baik.

Nah, di Agribisnis ini sebagian besar tugas mingguan adalah berupa pembuatan makalah sesuai tema yang akan dibahas. Jika bagi mahasiswa lain penugasan ini menjadi beban, beda halnya dengan saya. Saya sangat menikmati pembuatan makalah, dimulai dari membuat kerangka penulisan, mencari sumber sampai proses penulisannya. Saat itu saya belum sadar mungkin menulis adalah passion saya.

Sampai ketika menulis skripsi, jujur saja, saya sangat menikmati proses menulisnya. Begitupun ketika menulis tesis. Entah mengapa membuat beratus-ratus lembar tulisan, walaupun sebenarnya bikin pusing, adalah suatu hal yang sangat menyenangkan bagi saya. Apakah mungkin ini passion saya?

Memasuki fase kehidupan selanjutnya adalah ketika saya bercerai dan memasuki kehidupan baru sebagai orang tua tunggal. Saat itu saya mencoba suatu hal yang baru, yaitu berjualan online. Karena memang hobi belajar, maka saat ini saya menekuni berbagai macam strategi penjualan, sampai akhirnya saya bertemu dengan Mbak Isah yang memperkenalkan saya pada pembuatan artikel SEO.

Dari sinilah saya melakukan reuni besar-besaran dengan blog. Ketika mulai menjalin hubungan dengan mantan suami hingga akhirnya bercerai, akses menulis sangat sangat terbatas, bahkan semua blog saya dihapus. Maka, ketika bisa kembali menulis, saya seperti tertampar akan realitas bahwa SAYA SUKA MENULIS! Memang benar kata orang, kita baru merasa sesuatu itu ada dan berharga ketika sesuatu itu direnggut dari kehidupan kita.

Lalu, saya dipertemukan dengan Mbak Fenny yang dari beliaulah saya mengetahui langkah awal memonetize blog. Oh, ternyata menulis itu bisa dijadikan ladang penghasilan juga, ya! Kok saya baru tahu, ya?

Bermula dari tugas menulis artikel untuk Kelas SEO, saya memulai menulis tips dan informasi seputar menyusui. Mengapa menyusui? Karena saya menemukan keajaiban dari kegiatan menyusui ini. Hadiah dari Allah yang punya andil besar terhadap kondisi saya saat ini. Menyusui, saat itu, telah menyelamatkan saya dan anak saya, terutama diri saya sendiri.

Lalu, saya memberanikan diri untuk membuat blog lain dan membeli domain ibujerapah.com. Dari sana saya mulai menulis hal-hal yang saya sukai dan lekat dengan kehidupan sehari-hari. Jujur saja, saya belum berani menulis sesuatu yang tidak akrab dengan saya. Menulis itu pakai hati dan rasanya hati saya tidak bisa ikut menulis ketika saya memaksa menulis sesuatu yang asing.

Qadarullah, ternyata Allah membuka jalan rezeki dari blog saya. Berbekal rajin menulis hal-hal yang saya sukai dan mengikuti komunitas blogger, ternyata Allah memberikan berbagai macam rezeki untuk saya melalui blog. Rezeki jejaring, pertemanan, ilmu, barang, uang sampai jalan-jalan gratis. Alhamdulillah..

Rasanya nggak pernah percaya kalau saya bisa mendapatkan begitu banyak hal dari menulis di blog. Blog saya pun saya kelola sesuai kemampuan saya, tidak seperti blogger lain yang memiliki 101 cara agar blognya keren.

Tapi, ada usaha ada hasil. Karena usaha saya begitu-begitu saja, yang saya dapat pun mungkin juga terlihat segitu-segitu saja. Namun, rezeki itu nggak selalu dalam bentuk uang, tapi ada banyak sekali bentuknya. Lebih dari uang, ternyata tulisan-tulisan yang saya buat dengan hati bisa sampai pula di hati para pembaca. Tulisan saya menemukan jodohnya.

Alhamdulilllah, Allah memberikan jalan saya untuk berdakwah melalui tulisan. Ada beberapa tulisan saya yang, masya Allah, bisa menyentuh hati perempuan-perempuan lain sekaligus menguatkan semangat mereka. Tak jarang di antara mereka yang akhirnya mengirim pesan dan berbagi cerita dengan saya, saling menguatkan. Saya pun semakin merasa beruntung karena ternyata ada banyak sekali perempuan di luar sana yang memiliki nasib yang lebih menyedihkan dibandingkan dengan apa yang saya alami.

Ketika kita melihat ke bawah, kita akan tersadar bahwa kita sedang berada di tempat yang lebih tinggi dan semakin bersyukur.

Tak pernah ada niat sedikitpun untuk dikasihani oleh pembaca dengan menulis pengalaman pribadi saya. Niat saya adalah untuk menyuarakan apa yang jarang disuarakan oleh korban kekerasan seksual dan KDRT serta menguatkan para korban dan survivor. Dan jangan salah, butuh waktu bulanan untuk bisa memberanikan diri menulis satu artikel tentang ini. Ada proses panjang sampai akhirnya saya bertekad untuk mulai bicara dan menguatkan perempuan lainnya.

Dari sana saya tersadar, bahwa ternyata Allah sudah membekali saya dengan perangkat bernama kemampuan menulis. Dengan menulis, saya bisa menyuarakan apa yang saya rasakan, bisa berbagi apa yang saya ketahui bahkan bisa berusaha mengubah stigma negatif tentang sesuatu (misalnya status janda).

Perempuan, siapapun, di manapun, bisa menulis. Tak peduli apa status kita, jabatan kita, pekerjaan kita, pendidikan  kita, kita bisa menulis. Kita semua bisa menulis. Kita semua adalah penulis. Menulislah untuk berbagi. Niatkan agar tulisan kita bisa menjadi penguat bagi perempuan lain. Bisa menjadi tabungan pahala untuk Hari Akhir nanti.

Kita, perempuan, harus saling menguatkan, karena kita begitu berharga. Dan kalau bukan kita yang saling menguatkan, lalu siapa lagi yang akan mengerti apa yang kita rasakan?

Dengan menulis, perempuan bisa merasa berdaya. Perempuan bisa merasa dirinya ADA. Dengan menulis, kita bisa membuktikan pada seluruh dunia bahwa suara perempuan pun layak didengar dan bermakna.

Setiap kita memiliki pengalaman hidup masing-masing dan pengalaman itulah yang sangat berharga. Setiap hari, masing-masing kita memiliki petualangan seru bersama keluarga, teman dan kerabat. Dan yakinlah bahwa petualangan kita akan menjadi inspirasi bagi perempuan-perempuan lain.

Tidak usah ragu ketika kamu merasa tulisanmu buruk. Teruslah menulis, karena seburuk apapun tulisanmu, tulisan itu pasti memiliki rasa. Rasa yang keluar bersama hatimu yang ikut menulis.

Dan yang harus kita tahu, tidak semua tulisan wajib kita publikasikan. Menulislah untuk kesehatan jiwamu. Menulislah untuk kebahagiaanmu. Jangan terlalu fokus pada apa yang orang lain pikirkan jika kamu menulis A, B, C atau D. Menulislah, menulislah. Dan buang atau bakar kertasmu jika kamu merasa nyaman dengan itu. Tak semua buah pikirmu harus menjadi konsumsi publik. Menulislah, menulislah untuk bahagia.

Perempuan, siapapun kita, di manapun kita berada, menulislah untuk memberdayakan dirimu sendiri. Perempuan yang berdaya akan memiliki jiwa-jiwa yang kuat. Dan keluarga kita membutuhkan sosok perempuan berjiwa kuat untuk menjadi istri saleha dan ibu pendidik. Suamimu membutuhkan pelukan yang bisa menguatkannya saat badai menerpa dan anak-anakmu memerlukan tempat pulang setelah mereka diperjalankan ke seluruh penjuru semesta.

Perempuan, jadilah berdaya. Berdirilah di atas kakimu sendiri karena dengan itu kita bisa memiliki kepercayaan diri untuk bersuara.

Perempuan, yakinlah, ketika kita berdaya, kita akan menjadi manusia kuat yang bisa menguatkan orang lain. Kita bisa menjadi istri dan ibu yang kuat dan bisa menjadi rumah bagi keluarga kita.

Menulislah, menulislah untuk berdaya. Maka kelak, ketika kau memutuskan untuk kembali ke rumah untuk mengurus rumah tanggamu, kau akan menemukan bahwa menulis adalah senjatamu untuk berdaya. Menulis bisa menjadi alatmu untuk senantiasa berdiri di kakimu sendiri.

Perempuan, angkat penamu dan mari mulai menulis. Menulis apapun, mulailah dari hal-hal yang paling kau senangi.

Salam literasi,
Salam penuh cinta,
Dece
Si Ibu Jerapah

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini