Memperkenalkan Palestina pada Anak melalui Aksi Damai 115


Assalamualaikum w.w.

Rasulullah Saw. pernah bersabda bahwa kita, umat Muslim, harus berkunjung ke Palestina dan bagi yang tidak mampu, kita bisa bersedekah untuk minyak yang menerangi Baitul Maqdis. Lalu, jika itu pun tidak mampu kita lakukan, apa lagi yang bisa kita perbuat untuk Al Aqsa?

Eh, sebentar, kenapa sih Palestina begitu spesial sampai harus dibela kemerdekaannya? 

Bagi saya, rasa penasaran ini muncul sejak menjadi mahasiswa tingkat 3. Saat itu, dunia diramaikan dengan aksi pembantaian yang dilakukan Israel di Jalur Gaza, Palestina. Dari sanalah saya penasaran, memangnya ada apa sih di sana? Dan mengapa kita umat Muslim harus riweuh mengurusi saudara yang sedang berjuang di sana?

Pencarian saya saat itu berkisar di internet: Wikipedia dan berbagai artikel tentang Palestina. Dan masya Allah, ternyata artikel-artikel tersebut cukup membuka mata saya bahwa kita sebagai umat Muslim memang berkewajiban untuk membela saudara-saudara di Palestina, terutama kemerdekaan Baitul Maqdis.

Ketika itu, saya bersama Agista, sahabat saya di perkuliahan, ikut turun ke jalan untuk mengikuti aksi damai memperjuangkan kebebasan Palestina. Pergi berjihad ke Palestina belum mampu saya lakukan dan mengirimkan bantuan pun masih sulit. Lalu, apa aksi nyata yang bisa saya lakukan saat itu? Mendukung Palestina dengan mengikuti aksi damai di Jakarta menjadi pilihan saya.

Dari sana saya menjadi teringat akan hadits Rasulullah Saw.:
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim).

Saudara-saudara di Palestina adalah bagian tubuh kita yang sedang terluka, maka ketika Israel melakukan genosida pada mereka, kepedihan mereka menjadi kepedihan kita juga. Memang sudah sepantasnya umat Muslim di Indonesia, yang merupakan terbesar di dunia, mendukung kebebasan rakyat Palestina.

Lalu, pencarian saya tentang Palestina masih berlanjut sampai sekarang. Hal ini terjadi karena masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab, seperti: memangnya dulu Palestina itu seperti apa? apa keistimewaannya di mata Allah? apa kedudukan Palestina di mata umat Muslim?

Jadi, ketika Teh Thasya mengumumkan bahwa Ust. Khalid Basalamah akan menerbitkan sebuah buku tentang Palestina, saya tak berpikir dua kali untuk menjadi resellernya. Buku itu akhirnya terbit. Buku berjudul Palestina yang Terlupakan ini, walaupun cukup tipis, namun bisa menjawab berbagai pertanyaan saya. Masya Allah..


Iya, kita memang melupakan Palestina. Bagaimana bisa Palestina yang begitu istimewa bisa dilupakan oleh umat Muslim? Bagaimana bisa generasi sekarang masih berkomentar, "Ngapain ngurusin negara orang?". Subhanallah, sedihnyaaa..

Ada banyak hal yang baru saya ketahui dari buku tersebut. Beberapa hal yang cukup membuat hati berdegup kencang dan air mata meleleh adalah:
  • Allah menyebut Al Aqsa dalam sabdaNya dan Masjid Al Aqsa adalah satu dari tiga masjid yang wajib dikunjungi oleh umat Muslim.
  • Baitul Maqdis adalah tempat di mana Nabi Muhammad Saw. bertolak ke langit di malam Isra' Mi'raj.
  • Rasulullah Saw. mengatakan bahwa sampai saatnya tiba nanti, di Negeri Syam (termasuk Palestina) akan selalu terjadi peperangan dan akan selalu ada pasukan Muslim yang berperang melawan kejahatan tersebut. Inilah salah satu keistimewaan Palestina: tanahnya disuburkan dengan darah para mujahid.
  • Kelak, Nabi Isa akan turun di sini dan membunuh Dajjal. Saat itu dunia sudah menuju ke hari akhir.
  • Dan yang paling bikin merinding, nantinya manusia akan dibangkitkan di Negeri Syam. Bayangkan! Kelak kita akan dibangkitkan di sana, maka apakah kita masih menganggap remeh negeri ini?
Ada banyak hadis di mana Rasulullah Saw. memerintahkan umatnya untuk memperjuangkan Palestina dengan mengunjunginya, shalat di Baitul Maqdis, berjaga-jaga di batas medan perang, merawat masjidnya atau sekadar bergotong-royong untuk menyediakan minyak yang meneranginya. Jadi, apa yang bisa kita lakukan saat ini?

Menumbukan Kecintaan Anak Usia Dini pada Palestina


Ada banyak hal tentang agama ini yang bisa kenalkan pada anak usia dini, yaitu anak-anak yang masih di bawah 7 tahun. Kita bisa mengenalkan tentang tauhid, rukun Islam, rukun iman, mengenalkannya pada cerita-cerita di Alquran: cerita nabi, rasul atau fabel. Dan masih banyaaak sekali yang bisa dieksplorasi.

Beberapa minggu belakangan, dunia lagi-lagi dibuat resah oleh kebijakan yang dibuat oleh Donald Trump. Tanggal 14 Mei 2018, ia berencana untuk memindahkan Kedubes AS ke Al Quds sebagai tanda bahwa ia mendukung adanya negara Israel dengan ibu kota di Al Quds. Astaghfirullah..

Maka, kaum Muslim di Indonesia beramai-ramai akan melakukan aksi damai pada tanggal 11 Mei 2018 yang bertajuk #AksiBelaPalestina dan #AksiBelaAlQuds.

Sumber: Berita Santri

Sesuai dengan prinsip pendidikan saya pada Ahza yang berpedoman pada 'Learning through living', maka saya rasa momen ini bisa menjadi saat yang tepat untuk memperkenalkan kepada Kakang tentang Palestina dan segala kondisinya. Ya tentunya disesuaikan dengan umurnya yang masih 4 tahun, ya..

Saya pun mengajak Kakang ke Jakarta untuk mengikuti aksi. Dan, waw! Ia bersemangat sekali! Tentunya bukan karena akan mengikuti aksi (karena belum mengerti, hehe), tapi karena kami akan menggunakan moda transportasi kereta api. Hore, naik kereta!! :)

Malam sebelum keberangkatan ke Jakarta, saya menyiapkan Kakang terlebih dahulu. Pengenalan tentang Palestina saya mulai dengan mengajak ngobrol Kakang mengenai 'apa sih yang akan kita lakukan besok di Jakarta?'. Saya berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sesederhana mungkin. Tentang kita yang memiliki saudara seiman di Palestina. Tentang apa sih Palestina itu dan di mana letaknya. Dan tentang Palestina yang kini dijajah oleh Israel. 

Saat sampai di topik penjajahan, saya kaitkan tentang bagaimana rasanya jika mainan Kakang diambil paksa oleh orang lain. Dari situ saya asosiasikan perasaannya dengan perasaan mereka yang dijajah. Negara mereka diambil, rumah-rumah mereka diambil, sekolah diambil dan seterusnya.

Lalu, kami pun membuat bendera Palestina dan Indonesia dengan menyetak bendera dan menempelkannya di tusuk sate. Wah, anak-anak mah pasti super senang ya dibuatkan bendera. Hehe..

Sambil menunggu printer menyetak bendera, kami pun menonton video Maher Zein tentang Palestina. Saya sempat deg-degan tentang keamanaan videonya untuk dilihat Kakang. Ternyata videonya animasi dan tentang anak-anak di sana yang sekolah dan tempat tinggalnya dibom. Sedih sekali..


Setelah itu, saya pun menidurkan Kakang lebih awal agar besok ia bisa fit mengikuti berbagai aktivitas. Dan saya pun mulai membenahi barang-barang yang akan dibawa keesokan harinya.

#Aksi115


Keesokan harinya, pukul 03.30 kami sudah berada di dalam Go-Car untuk menuju ke Stasiun Bandung. Kami tiba pukul 4 lebih dan ternyata keretanya ngaret cukup lama. Hmm..

Kakang sangat excited di stasiun: melihat sejumlah kereta dan keriuhan di stasiun. Setelah kereta datang, kami langsung duduk di kursi kami dan kereta pun berangkat. Seperti perjalanan lainnya, belum 15 menit Kakang sudah merasa lapar. Hehe, untung saja tadi Enin sempat jajan snack. Tak berapa lama, ia kembali tertidur dan baru terbangun di Purwakarta.

Perjalanan di kereta menjadi sangat menyenangkan karena Kakang sibuk melihat apa yang ada di luar jendela. Ada berbagai pemandangan, mulai dari hutan di Purwakarta, sawah di Karawang, pabrik-pabrik di Cikarang dan jalan raya di Bekasi. Dan sampailah kami di Stasiun Gambir.

Setelah turun, kami sempat mengambil uang cash secukupnya dan membeli roti untuk sarapan kemudian langsung berjalan menuju Monas. Untungnya, Gambir dan Monas itu bersebelahan sehingga kami tidak begitu lelah menuju ke sana. Hehe..

Singkat cerita, saya sangat bersyukur bisa membawa Kakang dan Enin (ya, Enin juga ikut karena sudah sejak tahun lalu ia sangat ingin mengikuti aksi serupa di Jakarta) ke aksi ini. Di sana, kami mendapatkan pengalaman rohani yang mungkin tidak bisa kami dapatkan jika kami tidak hadir di sana.

Di Monas, kami bertemu ribuan orang (atau jutaan?) yang rela berpanas-panasan demi mengikuti aksi. Tua muda tumpah ruah di sana. Dan rasanya, bila bukan karena niat baik, malas banget nggak sih panas-panasan di Monas? Pastinya niat baik telah membuat Allah memberikan kekuatan ekstra pada orang-orang ini untuk bertahan di Monas sampai bakda Salat Jumat. Masya Allah..

Kakang sendiri asyik memutari Monas. Berlarian ke sana kemari. Ikut serta dalam euphoria kebaikan, insya Allah. Di sana ia juga bertemu dengan teman-teman seumuran dan menukarkan benderanya dengan jeli. Hehe.. Kami juga mendapatkan kue, permen sampai minum gratis dari para peserta lainnya. Masya Allah, tabarakallah..

Tujuan akhir saya selaras dengan hadis Nabi yang sudah sampaikan di atas, yaitu agar Kakang ngeh bahwa ada saudara seimannya yang sedang bersedih hati di sana, yang sedang berjuang untuk memerdekakan tanah yang begitu berarti untuk umat Islam. Dan karena saudara kita sedang sedih, maka saudara-saudaranya yang lain akan berusaha sekeras mungkin untuk mendukungnya, untuk menghiburnya. Dan inilah yang sedang kami lakukan bersama ribuan saudara lain: memberikan dukungan pada saudara-saudara di Palestina dan berdoa bersama agar kekejaman Zionis dapat segera berakhir.

Oh ya, ada beberapa peristiwa yang cukup menggetarkan hati dan membuat air mata turun:
  • Panitia yang membuka stand berbagi sarapan dan minuman gratis.
  • Para peserta yang saling berbagi dengan peserta lainnya.
  • Rumput yang bersih dari injakan.
  • Monas yang hampir bersih dari sampah yang dibuang sembarangan oleh peserta.
  • Semangat para peserta sampai siang.
  • Shaf Salat Jumat yang begitu rapi padahal hanya dikomandoi dengan sederhana. Kadang saya berpikir, kok bisa, ya? Tapi itulah keajaiban agama kita, masya Allah..
Ah, semoga.. Apa yang kami lakukan tanggal 11 Mei kemarin mendapatkan pahala dari Allah Swt. dan kami dihitung sebagai umat yang ikut memperjuangkan kemerdekaan Palestina. Dan semoga, mulai tumbuh di jiwa Kakang kecintaan pada agama Islam dan ghirah untuk memperjuangkan yang seharusnya memang diperjuangkan.


Dan yang pasti, semoga ini jadi awal yang baik untuk memperkenalkan Kakang pada Palestina, sehingga kelak ia memiliki tekad untuk menjadi salah satu pejuang pembebas Al Aqsa. Aamiin.. :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini