Ketika Dunia Berputar Mengelilingi Kamu


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Fix! Buku Fitrah Based Education (FBE) menjadi buku parenting dan pendidikan anak yang nggak pernah bosan saya baca. Buku tebal ini selalu mudah saya raih, karena dia selalu ada di mana-mana. Kadang di ruang tamu, di ruang televisi, kamar atau di meja makan. Hihi..

Ratusan artikel yang ditulis oleh pakar yang mumpuni di bidangnya membuat kita nggak pernah bosan untuk membaca ulang buku ini. Dan setiap membaca ulang, selalu pula saya mendapatkan ibroh baru dari apa yang baca. Karena anak-anak selalu berkembang, maka nggak salah kalau apa yang tadinya kita pikir, "Ah, ini mah belum saya alami!", menjadi, "Nah, sekarang nih si Kakang lagi begini, nih!". Yups, parenting itu dinamis, nggak gitu-gitu aja! Seru!

Kemarin, saya membaca salah satu artikel yang ditulis oleh Ustaz Aad (Adriano Rusfi) yang berjudul PAU atau SAUD? Artikel ini menyuarakan kegalauan emak-emak seperti saya yang belum menyekolahkan anaknya di usia 4 tahun dan masih memilih mendidiknya di rumah saja.

Di dalam artikel tersebut, Ustaz Aad mengatakan bahwa jika kita ingin menyekolahkan anak balita dengan alasan sosialisasi, maka itu salah. Mengapa? Karena pada fitrahnya, anak usia di bawah 7 tahun bukan masanya untuk sosialisasi tapi individualis.

Intinya, di umur inilah pembentukan konsep diri, belajar kepemilikan, berani berbeda dengan yang lain, menjadi unik dan banyak lagi. Sehingga harapannya, ketika kebutuhannya untuk 'egois' ini terpenuhi, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kokoh, tangguh dan punya keunikan.

Jadi ya, Buibu, Kakek Nenek dan Kakak-kakak semuaaa.. Kalau anak balita nggak mau berbagi, itu bukannya pelit, tapi memang sudah fitrahnya begitu. Sudahlah, jangan berusak fitrah anak dengan memaksa anak untuk berbagi! 

Lalu, bagaimana dong mengajarkan anak untuk berbagi? Masa nggak diajarin? Orangtua macam apa kita?

Nah, cara mengajarkan anak berbagi adalah dengan teladan dan kisah. Dengan teladan, yaitu dengan mencontohkan anak berbagi. Mulai saja dulu dari diri kita, perlihatkan ke anak saat kita memberi santunan pada anak yatim atau kaum duafa. Saat anak melihat, di situlah ia akan merekam di otaknya, "Oooh, jadi begini ya yang namanya berbagi itu!".

Satu lagi, dengan berkisah, mendongeng, read aloud atau apapun itu. Ceritakanlah kisah-kisah tentang berbagi. Sudah teruji lah pokoknya, anak kecil mah suka banget dengan cerita dan dijamin value ceritanya bisa terserap dengan menyenangkan.

Ketika Dunia Berputar Mengelilingi Kamu


Nah, ketika membaca artikel ini, saya kayak ditampar. Hiks. Ustaz Aad juga menjelaskan suatu istilah (saya lupa namanya), yang artinya anak masih merasa bahwa dunia berputar mengelilingi dia. Artinya, semua itu ya tentang dia. Tentang dia yang maunya ini, nggak mau itu, Bubu harus ini, aku ingin itu ini, bla bla bla. Bukannya tentang, "Bubu lagi mau ini dan kamu harus ngerti!". Huhu, saya sering banget begitu. Huhu..

Jadi, bersyukuuuur banget tersesat di artikelnya Ustaz Aad, karena sangat sangat pas dengan yang sedang saya alami sekarang. Setelah membaca artikel ini, serasa diingatkan lagi kalau memang Kakang itu kan memang fitrahnya begitu. Anak kecil kan memang begitu. Masa disuruh ngertiin emaknya. Duh, emak banyak dosa ke anak, nih. >.<

Ada nggak sih Buibu yang begitu juga? Kadang lagi pengin nulis sesuatu ketika Kakang ngajak main. Tapi karena pengiiiin banget, akhirnya maksain nulis, sambil Kakang kesal karena dicuekin. Maafin Bubu ya, Nak. Bubunya masih belajar jadi orangtua yang baik, terima kasih ya sudah jadi anak sabar dan pengertian. Pokoknya Bubu sayang banget sama Kakang.

Selamat belajar ya, Maks! Jangan pernah bosan belajar terus!
Karena, parenting itu dinamis!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini