Amalan Bisa Hangus Gara-Gara Status?


Assalamualaikum w.w.

Hari ketiga Ramadhan kami putuskan untuk mengunjungi dan menjaga Mak Uu di rumah Mang Into. Cukup berjalan kaki selama 10 menit dan sampailah kami ke sana. Maklum, rumahnya masih satu kompleks, bahkan satu masjid. Hoho..

Berhubung hari Sabtu dan semua anak di sana sedang libur, jadi lumayan deh bisa me time sebentarn karena Kakang bisa main dengan kakak-kakak sepupunya. Alhamdulillah.. Daaan, me time favorit kalau ke sana adalah.. baca buku! Hehe.. :)

Kebetulan koleksi buku agama Ayah (Mang Into) lumayan bagus-bagus, sampai-sampai saya rutin meminjam buku sebulan sekali. Nah, kali ini saya menemukan buku dengan judul yang sangat menyentil: Amalan Hangus Gara-Gara Status. Buku ini ditulis oleh tim @Nashihatku dan digambar oleh Aobi Adja.

Buku ini mengingatkan saya pada buku-buku terbitan Billionaire Storenya Kang Dewa, yaitu hard cover, font tulisan berukuran besar dan penuh ilustrasi. Tambahannya, buku ini ditampilkan dengan full color! Masya Allah, bagus banget! Sangat kreatif! Sukaaa! :)

Kembali ke judul, bagi saya judul buku sangat sangat menyentil sebagai aktivis media sosial (medsos). Duh, kok aktivis medsos, sih? Hmm.. Nggak seaktivis itu sih, tapi setidaknya dulu saya selalu menyempatkan untuk posting sekali sehari di Instagram atau Facebook yang kalau sekarang dipikir-pikir kok ya rajin banget, ya? Hmm..

Judul buku ini membuat saya berpikir, "Selama ini saya sudah melakukan apa ya di medsos? Apakah saya sudah melakukan sesuatu  dilarang agama saya, seperti riya atau ujub? Apakah saya sudah menyia-nyiakan waktu dengan bermedsos?". Saya pikir buku ini mengangkat tema yang benar-benar lekat di keseharian kita, di mana medsos sudah seperti dunia nyata bahkan tak jarang lebih ramai dari pada di dunia nyata.

Amalan Hangus Gara-Gara Status


Saya dibuat tertohok sejak halaman keenam buku ini. Kok ya jangan-jangan selama ini saya sering pamer secara nggak sengaja di medsos? Atau sengaja tapi nggak sadar? Duh, benar-benar tertohok, deh!


Sebenarnya, untuk apa sih kita posting di medsos? Apakah sudah menambah tabungan pahala untuk hari akhir kelak? Atau malah menggugurkan amalan yang sudah dilakukan?

Masuk ke bagian pengantar, saya semakin nyesek aja, karena bagian ini mengangkat fenomena status-status yang kini marak beredar di medsos yang ternyata berpotensi pamer, ujub, sombong, riya dan lain sebagainya seperti ini:
"Alhamdulillah, akhirnya puasa sunnahku tidak batal."
"Orang ganteng itu selalu Jumatan. Ini lagi dengerin khutbah Jumat. Inspiratif, lho!"
"Alhamdulillah, hari Jumat ini sudah berbagi nasi kepada orang-orang di kota saya."
dll, dsb.

Oh, ya, status-status ini tentunya ditambah foto diri atau selfie saat melakukan aktivitas tersebut. Duh, jadi ngerasa gimanaaaa gitu nggak, sih? :(

Buku ini dibagi menjadi sembilan bagian yang sangat bergizi:

1. Kalau beramal tak boleh riya. 
2. Tulus beramal.
3. Amal saleh, narsis & selfie.
4. Inilah kenapa medsos bikin amalan hangus.
5. Tips agar Allah nge-like statusmu.
6. Jadilah muslimah bijaksana.
7. Bijaksana menggunakan medsos.
8. Hidup indah dengan medsos.
9. Kumpulan hadis untuk status berpahala.

Buku, kita diingatkan untuk meninggalkan kebiasaan pamer kebaikan melalui status di medsos jika dibagikan dengan alasan pamer, agar dihormati atau bahkan hanya untuk eksistensi. Ibadah sebaiknya tidak diumbar di medsos, melainkan cukup antara kita dan Allah saja yang tahu. 

Bagian yang paling mengerikan adalah jangan sampai status-status kita berpotensi menjadi riya, karena riya adalah jenis syirik ringan. Ingat, beribadah itu tujuannya hanyalah kepada Allah, bukan kepada teman atau follower kita. Astaghfirullahaladzim.

Lalu, tim @Nashihatku juga mengingatkan bahwa amalan itu harus tulus, benar dan ikhlas karena Allah. Ingat! Ingat! Jangan sampai apa yang kita lakukan di medsos bisa membuat semua amalan kita menjadi hangus dan sia-sia. Kita harus ingat bahwa dengan menceritakan kebaikan akan mengurangi ketulusan dan keikhlasan kita tatkala melakukan amal saleh dan ibadah.

Nah, ada beberapa hal yang sebaiknya kita lakukan di medsos:

  1. Agar amal tak hangus, tak perlu update status saat beribadah.
  2. Hilangkan pikiran untuk menginginkan like, love, komen dan follower karena ibadah kita.
  3. Jangan pamer kebaikan di medsos hanya untuk memuaskan diri sendiri dan follower.
  4. Tak boleh mengungkit kebaikan kita kepada orang lain di medsos.
  5. Kebaikan yang kita lakukan harus dilupakan, karena dengannya kita tidak menjadi orang yang selalu menghitung kebaikan lalu menagih balasan kepada orang yang pernah kita bantu.
Ayo, bersihkan niat kita!

Kemudian, narsis itu berarti mencintai diri sendiri melebihi segala sesuatu. Saking seramnya sifat ini, ada yang namanya Narcissistic Personality Disorder (NPD) yang sangat sangat mengerikan!

Nah, sehubungan dengan amal saleh, orang narsis akan menggunakan medsos untuk menunjukkan ke seluruh dunia bahwa ia saleh dengan mengunggah foto ketika salat, membaca Alquran, sedekah, dll. Tanpa disadari hal itu bisa membuat amalan kita sia-sia belaka.


Ada beberapa hal yang membuat keikhlasan kita hilang:
  • Riya: beribadah dengan tujuan dilihat manusia.
  • Sum'ah: amalan yang dilakukan agar didengar dan dilihat orang lain.
  • Ujub: narsis, rasa bangga terhadap diri sendiri karena memiliki kelebihan.
Rasulullah Saw. bersabda, 
"Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil."
Para sahabat bertanya,
"Apakah syirik yang paling kecil itu, ya Rasulullah?"
Beliau menjawab,
"Riya! Allah berfirman pada Hari Kiamat ketika memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-perbuatannya, 'Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka, nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu."
(HR Ahmad)

Lalu, selain efek buruk medsos, buku ini juga berupaya untuk mengangkat manfaat medsos untuk kehidupan kita, terutama bagi muslimah. Semua pasti sudah khatam ya tentang manfaat medsos bagi kita. Mulai dari jualan online, mencari informasi, aktualisasi diri (yang positif tentunya) sampai menebarkan ayat-ayat Allah, kisah/cerita dalam Alquran, hadis dan banyak lagi. Intinya, sebenarnya medsos ini bisa banget lho menjadi alat kita menabung pahala untuk 'nanti'.

Jadi, sekarang mah tinggal kitanya nih, bagaimana kita bisa bijak menggunakan medsos untuk kebaikan dan menghindari pamer amal saleh.

Eh, sedikit nambahin, ya! Selain temanya yang oke banget, tampilan kece, ilustrasi yang menggemaskan dan konten yang menohok, ada satu poin plus lagi nih untuk buku ini, yaitu: hampir bebas typo!!! Yeaaa, aman banget buat mata saya, wkwk..

Bukunya bagus sekali! Suka sekali! Barakallah untuk para penulis.. :)

Resolusiku


Habis baca buku ini, saya jadi berniat untuk mengevaluasi lagi apa sih tujuan saya bermedsos, apa tujuan posting sesuatu dan apakah medsos sudah membuat saya menjadi lebih dekat pada Allah?

Tapiii, nanti ya evaluasi, setelah Ramadhan. Haha, kan lagi puasa medsos, he..

Semoga, semoga, semoga.. Kita dijauhkan dari kesia-siaan waktu ketika bermedsos. Semoga kita bisa bijaksana dalam bermedsos dan yang paling penting semoga kita bisa menggunakan medsos untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, fastabiqul khairat.

Komentar

  1. macam2 banget karakter manusia di dunia sosmed, ada yg baperan, ada yg laperan (eh ini mah aku yah hahaha), ada yg nyinyiran juga dsb dsb kadang ngeliatnya capek terutama yg suka nyetatus ngeluh ato marah2, kadang suka ada yg bikin nyengir juga, aku mah woles aja

    semoga kita ((kita)) selalu nyetatus yg baik2 dan bisa menyebarkan good vibes ya ;)

    btw aku salfok sama cover bukunya yg kiyut banget :) judulnya pun bikin penasaran, klo lagi ke tobuk aku cari ah bukunya

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini