'Tamparan-tamparan' Sehat dari dr. Puti Rita Liswari


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

"Sudah beres berobatnya, Bu?"
"Sudah, bu.. Alhamdulillah.. Hari ini saya kebagian nomor 100 lebih, lumayan ngantri dua jam. Hehehe.."
"Wah, lama ya, Bu? Terus gimana kata dokternya?"
"Ya itu dia, Bu.. Ini teh dokter kedua yang saya datangi. Dokter pertama bilang, saya teh nggak kenapa-kenapa, makanya saya cari dokter lagi. Tapi tadi, saya juga dibilangin nggak kenapa-kenapa. Bingung saya, Bu. Kenapa saya sakit kayak gini tapi dibilangnya nggak kenapa-kenapa, malah obatnya aja mahal banget, hampir 500 ribu,"
"Kok bisa gitu ya, Bu?"

Pernah mendengar kasus seperti ini? Saya sering. Dan percakapan yang saya (curi) dengar ketika di musala sebuah rumah sakit di Arcamanik Bandung pun bukan percakapan pertama yang membahas hal ini.

Duluuuu sekali, saya juga sempat masuk rumah sakit dengan kondisi yang cukup memprihatinkan. Saya sih merasa sehat-sehat, tapi ibu dan adik saya keukeuh membawa saya ke rumah sakit karena katanya, itu tadi, memprihatinkan. Heuheu..

Setelah rawat inap, bahkan sampai menjalani CT-Scan dan EKG, saya dinyatakan baik-baik saja. Ibu saya sampai kebingungan dan sang dokter malah mendiagnosa kalau saya pura-pura sakit. Ya kali..


Hampir sepuluh tahun kemudian, tepatnya belakangan ini, baru saya tahu bahwa apa yang saya derita saat itu bukan penyakit fisik, tapi psikis. Psikis saya terluka sehingga menimbulkan gangguan fisik yang biasa disebut psikosomatis.

Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Gangguan psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran memengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau diperparah.
- alodokter.com

Percakapan pada awal tulisan ini mengingatkan saya pada seminar yang saya ikuti pada hari Sabtu, 10 Maret 2018 yang lalu. Baru beberapa hari, masih hangat, sehingga wajib dicatat di blog kesayangan, hehe..

Seminar dan sekaligus launching  RBB Self Healing Ibu Profesional Bandung ini bertajuk "Manajemen Kesehatan di Lingkungan Keluarga : Menyeimbangkan Kesehatan Fisik, Mental dan Spiritual untuk Keharmonisan Keluarga". Seminar ini nggak main-main karena menghadirkan pakar pengobatan holistik yang juga direktur Integrated Health Center, dr. Puti Rita Liswari, M.Sc, M.Kes. Masya Allah, w o w.. :)


Seakan menjadi jawaban dari kegelisahan pada percakapan di atas (dan mungkin juga yang kita rasakan), dr. Puti menjelaskan bahwa penyakit bisa disebabkan oleh faktor medis dan nonmedis. Menariknya, 75-90% pasien yang berkunjung ke dokter mengidap penyakit yang disebabkan oleh stres atau faktor nonmedis (Paul Rosch, M.D. dalam penelitian American Institute of Stress).

Nah, jangan-jangan kita itu sebenarnya stres dan akhirnya.. sakit!

Dalam seminar yang berlangsung selama tiga jam ini ada beberapa 'tamparan' yang saya terima dari dr. Puti. Saya seakan dibangunkan keras-keras dan dihadapkan pada kenyataan bahwa ternyata diri kita mengambil bagian besar terhadap kesehatan hati, pikiran dan raga.  Mungkin selama ini yang membuat kita sakit adalah diri kita sendiri. Dan ternyata, selama ini sakit adalah cara Allah mengajak kita berdialog, caraNya untuk mengajak kita untuk kembali padaNya.

Mau ikut 'ditampar' juga? Yuk baca daftar hal-hal yang membuat saya 'tertampar' saat mengikuti seminar kemarin:

#1 Hindari Perasaan dan Pikiran Negatif!


dr. Puti bercerita bahwa kebanyakan pasien kanker yang datang ke kliniknya adalah penderita kanker payudara. Biasanya, payudara yang menderita kanker adalah payudara bagian kiri di mana berdekatan dengan lokasi jantung.

Ternyata, jantung bukan hanya organ vital dengan peran yang maha penting bagi tubuh kita, tapi juga menjadi organ yang mendapatkan dampak negatif jika kita memendam kesedihan. Waduh, siapa yang suka baper berkepanjangan atau memendam kesedihan? Hati-hati, ah!


Selain kesedihan, ada banyak faktor lain yang memengaruhi organ tubuh kita, sebut saja kemarahan, perasaan gelisah, memiliki standar tinggi terhadap segala sesuatu, perfeksionis, mau menang sendiri, egois dan banyak lagi. Ya, ternyata, faktor pikiran ini bisa memengaruhi kesehatan kita 50 kali lebih banyak dibandingkan faktor lainnya.

Sebagai contoh, dr. Puti memberikan perbandingan antara Ibu A yang kesulitan makan karena tidak punya uang dan Ibu B yang bisa makan cukup tetapi memiliki banyak pikiran negatif (masalah, cemas, dll). Kira-kira, ibu manakah yang asam lambungnya lebih tinggi? Ya, ternyata Ibu B memiliki asam lambung lebih banyak dibandingkan Ibu A. Pernah dengar kan kalau sakit maag itu biasanya sering dialami oleh orang-orang yang sedang banyak pikiran?

#2 Penyakit adalah Cara Allah Berdialog dengan Kita


Apakah kita memiliki penyakit yang bisa dibilang berat? Dan apakah penyakit ini sudah lama berdiam di tubuh kita? Hmm, apakah pernah terpikir bahwa mungkin ini adalah cara Allah berdialog dengan kita?

Mungkin Allah kangen dengan kita, mungkin Allah rindu doa-doa kita di penghujung malam, mungkin Allah sudah lama tidak mendengar kita meminta padaNya. Mungkin..

"Kebanyakan penderita penyakit berat sulit untuk sembuh jika memang tidak memiliki keinginan dan berjuang untuk kembali pada Allah," kata dr. Puti. Eits, kembali pada Allah itu bukan berarti meninggal dunia ya, tapi kembali pada apa yang diperintahkanNya dan menjauhi apa yang dilarangNya.


Saya jadi teringat pada buku tentang riba yang saya baca bulan Januari lalu. Ternyata, tanpa kita sadari, riba yang selama ini ada dalam kehidupan kita memiliki andil besar pada kesehatan kita, dan ternyata, salah satu bahaya riba adalah penyakit yang sulit sembuh dari raga kita. Na'udzubillahimindzalik..

Jadi, ketika kita menderita sakit dan tak kunjung sembuh, yuk sama-sama kita introspeksi diri! Kira-kira, apa ya yang telah (atau masih) kita lakukan, yang Allah nggak sukai dan Allah ingin kita bertobat? Yuk, sama-sama istigfar dulu, astaghfirullahaladzim..


#3 By Design, Gigi Manusia Itu Lebih Mendekati Hewan Herbivora


Nih, coba bandingkan, lebih mirip mana gigi kita dengan kambing? Beruang atau singa?

Sumber: https://medium.com/@kanthalaraghu

Setuju kan kalau gigi kita lebih mirip dengan hewan herbivora? Dan, sunggu, tiada satupun yang diciptakan Allah tanpa ada pelajaran di dalamnya. Menilik bentuk gigi kita, yang by design, lebih mirip dengan hewan herbivora, berarti seharusnya makanan yang dominan kita konsumsi adalah???

Apakah:
a. Daging
b. Kacang-kacangan
c. Sayur dan buah-buahan
d. Sagala rupa

Ya, silahkan dijawab.. Hehe.. :)

Fakta yang baru saya tahu (ketahuan pas Biologi nggak pernah dengerin, wakwaw), ternyata fungsi sayur dan buah-buahan bukan hanya menyemarakkan meja makan saja, tapi memiliki fungsi yang luar biasa penting. Buah dan sayur adalah sumber enzim yang bermanfaat untuk memecah makanan.

Supaya apa sih makanan dipecah? Makanan dipecah agar lebih banyak makanan yang disimpan daripada dikeluarkan oleh tubuh. Sayang kan, sudah makan sesuai Pedoman Gizi Seimbang tapi manfaatnya nggak terasa karena kurang makan buah dan sayur?

Menurut dr. Puti, agar optimal, kita wajib mengonsumsi 3 kali buah dan 3 kali sayur setiap harinya. Ingat, ya, buah dan sayur yang mentah ya.. :)

#4 Kita Kehausan


Pada salah satu sesi, dr. Puti menyebutkan sebuah judul buku yang sangat menarik, "You're Not Sick, You're Thirsty!" karya F. Batmanghelidj berikut ini:

Sumber: amazon.com

Menarik, ya? Jadi pengen baca, deh!

Seperti yang tersurat pada judul buku tersebut, seringkali, kita itu sebenarnya bukan sakit, melainkan kehausan. Tubuh yang setiap harinya membutuhkan 2,3 liter seringkali tidak mendapatkan haknya.

Meminum 2 liter air atau 8 gelas air per hari seharusnya kita lakukan untuk menjaga kesehatan sel-sel tubuh kita. Namun, rasanya kita sering lalai untuk minum air putih, ya? Malah lebih rajin minum kopi atau teh. Nah, 2 liter ini tidak termasuk kopi dan teh, ya..

Jadi, yuk mulai menjadikan minum 2 liter sebagai kebiasaan baik setiap hari! :)

#5 Hormon Adrenalin adalah Hormon yang Paling Beracun setelah Bisa Kobra


Satu lagi fakta mengezutkan yang baru saya tahu: hormon adrenalin adalah hormon yang paling beracun setelah bisa ular kobra. Coba, serem kaaan!

Ada satu quotes dari dr. Puti yang 'nampar' banget!

"Kita pasti tidak mau kalau disuruh minum racun. Padahal sepertinya kita sering meracuni diri kita sendiri (dengan hormon adrenalin tersebut)."
- dr. Puti Rita Liswari, M.Sc, M.Kes

Hormon adrenalin itu bukannya yang dihasilkan saat nonton film horor atau naik roller coaster itu, kah? Yup, betul. Tapi, ketika kita nonton horor atau naik roller coaster, hormon adrenalin tidak dominan diproduksi karena kita masih merasakan kesenangan saat melakukan kegiatan-kegiatan tersebut.

Coba bayangkan ketika menghadapi macet di jalan, dimarahi bos, menghadapi anak tantrum, kerjaan domestik yang nggak beres-beres, mertua yang cerewet (ups!), dan banyak lagi. Seneng, nggak? Hmm, kayaknya nggak ada senang-senangnya, ya? Dan saat itulah hormon adrenalin diproduksi secara masif dan merugikan.

Sumber: http://jusnoni.net

Jadi, begini kira-kira ceritanya. Hormon adrenalin yang berlebihan akan memicu timbulnya robekan pada pembuluh darah kita. Kemudian, robekan tersebut akan ditambal oleh lemak. Ketika terjadi banyak robekan dan banyak timbunan lemak, maka akan terjadilah penyumbatan pembuluh darah, which is, sangat berbahaya untuk kesehatan kita.

Laluuu, ternyata berprasangka negatif itu bisa mengencerkan darah yang berdampak tidak baik bagi metabolisme tubuh kita. Wow, ternyata sebegitunya ya dampak pikiran nggak sehat itu! Yuk, ah, sama-sama memanage pikiran dan hati supaya nggak gampang stres!

#6 Damaikan Diri Sendiri sebelum Mendamaikan Anak-anak Kita


Ah, sejujurnya, ini bagian favorit dari seminar dr. Puti, yaitu saat beliau menyisipkan sharing seputar parenting di setiap sesinya. Dan ternyata, anak dr. Puti adalah teman SMA saya yang keren banget. Saya mah berasa remahan nastar lah kalau lihat timeline medsosnya. Wkwk.. :p

Ketika salah seorang peserta seminar diperiksa denyut nadinya, dr. Puti berkata bahwa sang ibu memiliki gangguan kecemasan dan ketegangan yang berefek negatif pada anak. Rasa tegang yang sering dialami ibu tersebut ternyata berpengaruh terhadap pengasuhan beliau pada anak-anaknya. Saran dari dr. Puti adalah mendamaikan diri sendiri sebelum mendamaikan anak-anak kita.

Masya Allah..

Iya, sih, ini mah bener banget, ya.. Sering banget kejadian, ketika kita (ibu) sedang ada masalah atau sibuk fokus memikirkan suatu hal, biasanya si anak kayak sengaja berbuat sesuatu yang nyebelin. Hehe.. Padahal, bukan anaknya nyebelin, tapi energi kita yang membuat si anak jadi berbuat sesuatu yang menurut kita nyebelin.

Ya, energi itu menular. Bertemu orang baru yang punya energi negatif saja biasanya kita langsung bisa merasakan dan merasa nggak nyaman dekat-dekat dengan orang tersebut. Apalagi energi antara ibu dan anak, wow, ternyata kuat banget, saudara-saudara! Sangat berpengaruh.

Bagaimana cara mendamaikan diri sendiri? Kemarin, dr. Puti memberikan tiga tips untuk mendamaikan hati. Bisa banget lho kita praktekkan setiap hari, wajib malah!

  1. Tilawah Alquran setiap hari. 
  2. Baca terjemahan Alquran setiap hari.
  3. Berzikir sepanjang waktu. Setiap hari, kita bisa menggunakan tiga Asmaul Husna secara bergantian. Berzikirlah ketika kita melakukan aktivitas apapun. Berzikir membuat pikiran kita menjauhi hal-hal yang seharusnya tidak kita pikirkan dan fokus pada Sang Pencipta.
Untuk nomor 1 dan 2, jangan lupa doanya, ya. Sebelum tilawah dan membaca terjemahan, jangan lupa berdoa agar Allah berkenan menyingkapkan kebenaran Alquran pada kita. Berdoa agar Allah berkenan memasukkan cahaya Alquran pada hati-hati kita.


Karena, Alquran itu gelombang yang menyembuhkan. Dan nggak setiap orang diberikan hidayah untuk mendapatkan cahaya Alquran tersebut.

Saya pernah menulis cerita-cerita ajaib saya bersama Alquran. Walaupun menurut beberapa orang mungkin sepele, tapi pengalaman saya sudah cukup membuktikan bahwa Alquran itu sungguh ajaib dan mengobati. Masya Allah...

     Baca juga: Cerita Ajaib bersama Alquran

#7 Tiada Iman tanpa Sabar dan Syukur


Tamparan terakhir dan yang paling menohok adalah ini: tiada iman tanpa sabar dan syukur.

Yang membedakan muslim dan mukmin adalah imannya. Mukmin, memiliki iman dan insya Allah masuk surga, sedangkan muslim kapan-kapan masuk surga. Begitu penjelasan dr. Puti.

Ya, iman adalah pembeda.

Dan, tiada iman tanpa sabar dan syukur. Ah, harus dibold. SABAR DAN SYUKUR. Dua kata ini selalu ada pada setiap sesi edukasi self healing yang pernah saya ikuti. Apapun metodenya, semua berkiblat pada dua hal yang sama: sabar dan syukur.

Kita tidak akan pernah mendamaikan diri kita tanpa sabar dan syukur. Kita tidak akan pernah move on dari masa lalu kita, sekelam apapun, tanpa sabar dan syukur. Ya, sabar dan syukur adalah kunci untuk menuju hidup yang lebih baik.

PR banget untuk saya, karena saya merasa bahwa saya masih belum menjadi ibu penyabar. Masih suka marah-marah, masih suka aral. Masih banyaaak sekali tugas saya untuk belajar meningkatkan kesabaran saya dan rasa syukur saya.

Oh, iya, saya juga ingin menyimpan catatan saya terkait hal ini yang sempat saya unggah di Facebook, ya.. :)


"Tiada iman tanpa sabar dan syukur.." adalah salah satu 'tamparan' keras yang saya terima saat seminar kesehatan bersama dr. Puti, hari Sabtu yang lalu.

Kalimat ini terus menerus terngiang di kepala, sampai saat ini. Apakah selama ini saya hanya mengaku-aku beriman, tanpa mengaplikasikan sabar dan syukur? :(

Selama ini saya selalu mengeluh, "Saya bukan ibu yang sabar," dan beragumen, "Ah, sabar itu kan ada batasnya. Mungkin batas bawah saya memang terlalu rendah", membela diri.

Padahal sabar itu salah satu unsur iman. Iman yang kelak membedakan muslim dan mukmin. Iman yang kelak menentukan surga atau neraka. Iman, nikmat terbesar yang Allah karuniakan pada saya.

Jangan-jangan, selama ini saya hanya mengaku-aku beriman, padahal masih sering absen bersyukur. Begitu banyak nikmat yang Ia berikan, tapi masih saja saya sering mengeluh, "Kenapa sih hidup gini-gini banget!". Duh, rasanya jadi gemas dengan diri sendiri.. :(

Lalu, subuh ini, saya 'tertampar' lagi dengan Fadhilah Ayat QS Al-Qasas:77. Lah kok bisa pas gini?

Rasulullah bersabda, "Namun, siapa yang melihat dunia kepada orang yang berada di bawahnya dan melihat agama kepada orang yang berada di atasnya, Allah akan mencatatnya sebagai hamba yang sabar dan bersyukur."

Dikasih tahu langsung lho step by stepnya. Ternyata benar ya, Allah itu selalu memberi tanda-tanda, tergantung kita sadar kah dengan tanda-tanda Allah itu? Atau kita terlalu sombong untuk menyadari bahwa kita sedang 'diajak ngobrol' olehNya?

Semoga.. semoga.. Allah mengizinkan saya untuk belajar sabar dan syukur. Semoga Allah nggak bosan melihat saya terjatuh ketika saya belajar. Dan semoga Allah tidak memanggil saya, ketika sabar dan syukur itu ada jauh dari hati saya.. :(

Sahabat, ingatkan saya jika saya mulai nggak sabaran dan lupa bersyukur, ya? Terima kasih, sahabat.. Selamat berjuang menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik dari kemarin..

Nah, itu tadi tujuh 'tamparan' yang saya dapatkan di seminar "Manajemen Kesehatan di Lingkungan Keluarga : Menyeimbangkan Kesehatan Fisik, Mental dan Spiritual untuk Keharmonisan Keluarga" bersama dr. Puti Rita Liswari, M.Sc, M.Kes. Terima kasih ya, dok, untuk 'tamparan-tamparan'nya. Semoga ilmunya barokah dan menjadi berkah bagi banyak orang.. :)

Jadi pengen ke klinik dr. Puti di Jalan Terusan Cisokan, deh! :)

Apakah ada di antara poin di atas yang juga membuat pembaca merasa 'tertampar'? Sharing, yuk!

Peserta seminar yang baru 'tertampar'. Hehe.. :)

Hatur nuhun yaaa para Teteh panitia dari RBB Self Healing dan RB Sehat Bugar.
Acaranya keren sekali!

Terima kasih sudah membaca postingan panjang ini, hehe.. :)
Yuk berkunjung ke tulisan lainnya tentang kesehatan di sini.. :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Ibu.. aku mah nangiis.. berasa disadarin lagi..ini Cara Allah sayang sama aku ya bu.. yg dulu muter2 nyari ini kenapa... Ya Allah..hamba kembali.. izinkanlah..

    Makasih liputannya bu..

    BalasHapus
  2. Dulu, saya pernah patah hati sehabis bertengkar dengan Ibu.. rasanya sakit banget, anehnya sakit itu sampai ke dada. "Idih, ini sakit hati kok beneran ke dada', pikir saya waktu itu. Akhirnya saya berkesimpulan kalau gangguan psikis saya bisa aja nanti ke fisik. Alhamdulillah, saya pecinta sayur dan buah-buahan. Kalau lagi esmosi, mending makan buah.

    BalasHapus
  3. Teteh.. makasih ya sharingnya.. dari kemarin2 nunggu2 yg mau sharing seminar ini karena qodarullah liza ga bisa dtg.. dan qodarullah jg tiba2 pengen nge klik tulisan tth..yang ternyata isinya passs banget sm yg liza butuhin...
    Jazakillah khair teh dece... ♥

    BalasHapus
  4. Teh DeCe, ikut share link bloh tulisannya yaa, bermanfaat banget, bacanya pun jadi ikut merasakan "tamparan-tamparan", nuhun Teh :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak