Raise Your Child Raise Yourself with Fitrah Based Education



Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Apa peranmu untuk peradaban? Apa manfaat yang sudah kamu berikan? Apa yang sudah kamu lakukan?

Tiga pertanyaan yang mudah diucapkan, namun sangat berat dijawab. Jujur, saya pribadi masih gamang dengan apa peran saya yang sebenarnya di hidup ini. Galau. Haha.. Kalau kata Ust. Harry Santosa, fitrah bakat saya nggak berkembang dengan baik, jadilah di umur yang menuju kepala tiga ini masih digalaukan dengan hal-hal semacam ini. Hkhk.. -___-"

Tentunya, saya nggak mau hal yang sama terulang kepada Kakang. Saya berharap agar Kakang bisa melakukan apa yang disukainya sedini mungkin. Saya ingin Kakang menemukan potensi dirinya seawall mungkin. Agar lebih bahagia dan yang pasti bermanfaat untuk dirinya sendiri dan umat. Aamiin..

Konsep pendidikan yang mengakomodir harapan saya ini adalah Fitrah Based Education (FBE). Tentunya saya mengatakan hal ini setelah mencari tahu konsep dan metode lainnya, membandingkan dan akhirnya memilih yang terbaik.

Perkenalan saya dengan FBE kira-kira terjadi setahun yang lalu melalui status-status Ust. Harry dan beberapa teman yang sudah berkegiatan berbasis FBE. Karena penasaran dengan konsep FBE yang menggunakan fitrah sebagai dasar pendidikannya, akhirnya saya memberanikan diri untuk PO buku FBE via Teh Riani.

Bagi saya, harga bukunya mahal sekali, bahkan mungkin buku termahal yang saya punya, yaitu sekitar Rp. 290.000 atau Rp. 300.000. Saya agak lupa, ya.. Padahal, uang segitu bisa untuk berapa kali makan, bisa untuk ngemodalin dagangan dan lain sebagainya. Tapi karena penasaran, jadilah bismillah. Hehe..

Akhirnya, Ramadhan tahun kemarin, selain fokus pada agenda Ramadhan, saya membuat proyek kecil-kecil. Proyek tersebut adalah mengkhatamkan buku FBE yang tuebaaaal dan berbentuk persegi panjang. Isinya? Daging semua! Masya Allah..

Ketika membaca buku ini, berulang kali saya berpikir, “Ooooh, jadi ini penyebabnya..”, “Oooooh, jadi begini, ya..”, “Wah, iya banget, nih!”, “Hmmm, iya juga, ya..”.

Tulisan-tulisan di buku ini menjadi jawaban dari serentetan pertanyaan yang selalu saya simpan seumur hidup saya. Ada banyak hal yang baru saya ketahui jawabannya dan ternyata selama ini jawabannya dekat, ada di Alquran dan Hadits, hanya tinggal sayanya saja mau mencari atau tidak. Alhamdulillah, dipertemukan dengan konsep FBE ini.

Ternyata, saya baru menyadari ada banyak fitrah saya yang terluka, ada banyak fitrah saya yang terlukai. Dan cara menyembuhkannya adalah dengan belajar bersama Kakang, dengan mengasuh Kakang dengan cinta dan ketulusan. Raise your child, raise yourself..

Qadarullah, setelah setahun berlalu dan seiring dengan usaha saya dalam mendidik Kakang dengan konsep ini, saya melihat flyer Workshop FBE di Bandung. Waaaah! Karena selama ini saya selalu ngiler melihat iklan workshop ini di luar kota, maka bismillah, saya langsung mendaftar dengan biaya pendaftaran yang bagi saya fantastis juga. Hihi.. Setelah dipikir-pikir, apa ya yang enggak buat anak? J

Dan, setelah mengikuti workshop selama seharian, Alhamdulillah, saya rasanya semakin mantap untuk mendidik Kakang dengan fitrahnya. Ada beberapa hal dari FBE yang membuat saya terpesona, terutama karena semua didasarkan dengan fitrah anak yang memang sudah Allah karuniakan sejak di alam janin.

Mungkin tidak semua bisa saya ceritakan pada artikel ini, tapi semoga artikel ini bisa mengikat hal-hal yang saya garis bawahi selama workshop dan pengalaman setahun belakangan. Dan tentunya, semoga bermanfaat bagi sidang pembaca. Eish, bahasanya berat! Bahaha..

Bismillah..

Workshop Fitrah Based Education bersama Ust. Harry Santosa


“Anak itu akan semakin hebat saat ia semakin mendekati fitrah, bukan ketika ia semakin diisi.”
“Pernahkan berpikir mengapa siswa-siswi SMA favorit selalu memenuhi bimbel ketika menjelang ujian nasional?”
“Mengapa pemuda-pemuda hebat seperti Muhammad Al Fatih, Hasan Albana dan tokoh pemuda Islam lainnya, tidak muncul lagi pada zaman ini?”
“Islam itu hanya mengenal pra-aqil baligh dan aqil baligh. Tidak ada istilah remaja!”
“Anak tidak terlahir seperti kertas kosong, tapi sudah ter-install fitrah.”
“Kenakalan adalah potensi yang belum kelihatan buahnya.”
“Sibuklah dengan cahaya anak, sehingga gelapnya pun hilang.”

Workshop Fitrah Based Education (FBE) yang saya ikuti pada Sabtu, 24 Maret 2018, merupakan salah satu acara yang berhasil membuat saya berkali-kali merinding. Merinding takjub, merinding ngeri, merinding kesal (dengan diri sendiri) dan merinding saking bersemangat.

Ust. Harry Santosa di akhir workshop.

Kali pertama saya merinding adalah ketika Ustadz Harry Santosa (narasumber workshop, integrator pemikiran pendidikan, perancang FBE sekaligus penulis buku Fitrah Based Education) memaparkan nama-nama pemuda Islam yang bermanfaat bagi umat di zamannya. Begitu banyak daftar nama tersebut, begitu muda umur mereka dan begitu besar peran mereka pada peradaban sukses membuat saya merinding dan berpikir, “Masya Allah, saya sudah mau kepala tiga kok belum punya karya apa-apa, ya? Kemana saja?” dan berpikir kapan Islam bisa bangkit lagi di tangan pemuda-pemuda hebat. Bergetar hati saya, merinding..

Pemuda hari ini adalah remaja-remaja semacam selebgram yang mewarnai peradaban dengan caranya yang tidak mendidik. Hey, tapi tunggu sebentar! Ternyata, dalam Islam tidak dikenal adanya istilah remaja, namun hanya ada fase pra-aqil baligh dan  aqil baligh. Bahkan, semua ulama sepakat bahwa pada umur 15 tahun, anak seharusnya sudah aqil baligh, sudah menanggung dosanya sendiri dan mampu menghidupi dirinya sendiri. Seharusnya, ya. Idealnya.

Lalu, bagaimana sih menumbuhkembangkan anak-anak yang ketika berumur 15 tahun sudah siap menghadapi dunia? Rasanya nggak kepikiran sama sekali oleh saya, sampai akhirnya saya bertemu dengan konsep FBE.

Betapa tidak indah? Ketika saya sedang galau-galaunya mencari metode dalam mendidik Kakang di rumah, kemudian saya dipertemukan oleh Allah dengan konsep ini. Konsep yang mendasarkan segalanya pada Alquran dan Hadits. Masya Allah, indaaah sekali.

Karena katanya, when in doubt, open Alquran. Alquran itu obat segala macam penyakit dan jawaban segala macam masalah. Dan, Alhamdulillah, saya menemukan jawaban dari kegalauan saya melalui FBE.

Sebagai Muslim, tentunya tidak ada panduan lain yang paling terang cahayanya selain kalam Allah Swt. Dan FBE memenuhi kriteria ini karena mendasarkan pendidikan anak dengan fitrahnnya. “Ikuti saja fitrah anak!” sederhananya begitu.

Tidak seperti konsep pendidikan lain yang berfokus pada materi ajar atau perlengkapan (yang kadang super mahal), FBE mendasarkan pendidikan pada fitrah anak. Jadi, untuk menyusun kurikulum, kegiatan dan lain-lain, kita sebagai orangtua harus menyesuaikan dengan fitrah anak.

Pada FBE, anak menjadi fokus perhatian. Tepatnya, kekuatan-kekuatan anak yang menjadi perhatian orangtua. Bagaimana dengan kekurangannya? Jika diibaratkan kekurangan anak adalah kegelapan dan kekuatan anak adalah cahaya, maka fokus saja pada cahayanya. Ketika kita melakukan hal itu, niscaya cahaya itu akan melebar. Dan ketika cahaya memenuhi, maka tidak akan ada tempat bagi kegelapan, dan hilanglah kegelapan itu. Masya Allah..

Apa Tugas Kita sebagai Orangtua?


Mari kita renungi dua pertanyaan ini:
“Apa maksud penciptaan kita?”
“Apa tugas kita di dunia?”

Dan simak juga jawaban dari pertanyaan di atas:
“Allah menciptakan kita untuk beribadah.”
“Tugas kita adalah alasan kehadiran kita di dunia. Misi hidup. Tentunya berbeda pada setiap orang:
Manfaat apa yang kita berikan?
Aktivitas apa yang kita lakukan?”

Dari pertanyaan dan jawaban di atas, lantas apa tugas kita sebagai orangtua? Ternyata tak lain dan tak bukan adalah untuk menumbuhkan fitrah anak agar kelak ia dapat berkontribusi pada peradaban.

Karena ternyata, manusia itu tidak terlahir kosong, tapi sudah terinstall fitrah. Maka fitrah inilah yang menjadi potensi peradaban.

Eh, ngomong-ngomong, kita sendiri sebagai orangtua, apakah sudah tahu dan paham tentang tugas kita di dunia? Sudah berbuat apa untuk peradaban ini?

Tentang Fitrah

Ada tiga pendapat tentang fitrah yang sering diperbincangkan oleh para ulama, yaitu:
1. Fitrah itu netral. Anak terlahir seperti kertas kosong.
2. Fitrah itu ada yang baik dan buruk.
3. Fitrah itu baik. Tidak ada yang namanya dosa turunan dan semua anak terlahir dengan fitrah yang sudah terinstall dalam jiwanya. Konsep inilah yang digunakan dalam FBE.

Dalam framework FBE, terdapat delapan jenis fitrah yang digunakan, yaitu:
1. Fitrah keimanan.
2. Fitrah bakat dan kepemimpinan. 
3. Fitrah belajar dan bernalar.
4. Fitrah seksualitas dan cinta.
5. Fitrah estetika dan bahasa.
6. Fitrah individualitas dan sosialitas.
7. Fitrah jasmani.
8. Fitrah perkembangan.

Kedelapan fitrah ini harus berjalan bersamaan sehingga kelak anak bisa mengambil peran besar terhadap peradaban.

Sumber: Buku FBE

Dan uniknya, fitrah-fitrah ini diklasifikasikan lagi berdasarkan kategori umur, yaitu 0-6 tahun, 7-10 tahun, 11-14 tahun dan di atas 15 tahun. Sebagai contoh, mari kita lihat bagaimana cara menumbuhkan fitrah keimanan pada masing-masing kategori umur:
1. 0-6 tahun: bangunlah imaji-imaji positif tentang Allah, Rasulullah, agamanya, surga dan lain-lain melalui inspirasi, kisah teladan dan teladan dari ayah dan bunda. Pada rentang umur ini, anak belum memiliki kewajiban apapun. Semua dilakukan secara fun oleh anak.
2. 7-10 tahun: pada 7 tahun, anak mulai diperintahkan untuk shalat. Pada rentang umur ini adalah tahap penyadaran potensi dengan berkegiatan sebanyak mungkin di alam dan lingkungan yang lebih luas.
3. 11-14 tahun: anak masuk ke dalam fase pengujian. Di sini anak dimagangkan atau mulai merantau.
4. Di atas 15 tahun adalah tahap penyempurnaan fitrah sebagai peran peradaban.

Aliran Rasa


Sepanjang perjalanan pulang, sambil memegangi Kakang yang tertidur, saya sibuk memikirkan apa-apa saja yang baru masuk ke kepala saya. Bekal-bekal bergizi untuk saya dan Kakang untuk mendidik diri kami bersama-sama.

Jika Ust. Harry berkata, “Raise your child, raise yourself,” saya pun menyetujui hal ini. Saya merasakan betul saya bertransformasi kea rah yang lebih baik seiring dengan tumbuh kembang Kakang. Rasanya, bukan hanya Kakang yang belajar, tapi malah saya yang jauh lebih banyak belajar dari Kakang, terutama dalam bab sabar dan syukur.

Kemudian, saya juga sangat sepakat dengan konsep “Learning through living”, karena sebagai ibu pemalas yang jaraaaang sekali membuat mainan DIY untuk Kakang, saya merasakan betul pengaplikasian konsep ini. Walaupun belum ada kurikulum super canggih atau lesson plan yang apik, rasanya setiap hari kami selalu belajar hal yang baru.

Hal-hal ini berasal dari pertanyaan yang tiba-tiba terbersit di kepala Kakang atau lebih banyak datang ketika ia melihat fenomena alam dan makhluk hidup di sekitarnya. Tanpa rencana, namun selalu Allah memberikan jalan untuk kami belajar. Apapun itu.

Framework operasional pendidikan berbasis fitrah dan akhlaq
Sumber: buku FBE (sekolahpermata.com)

Sebagai contoh, saya tidak pernah berniat untuk membahas kematian dengan cukup mendalam pada  Kakang. Tapi, apa yang ia lihat ketika kami mengunjungi Museum Geologi ternyata telah memicu berbagai pertanyaan tentang kematian. Dan saya (dengan memutar otak) harus mencari penjelasan yang dapat diterima Kakang. Jujur, namun sesuai dengan umur Kakang. Itu saja bekalnya.

Kemudian, kami juga pernah mempelajari peta dunia secara tidak sengaja karena kami menemukan printable tentang mobil pemadam kebakaran di seluruh dunia. Karena iseng, akhirnya saya menyetak peta dunia ukuran tiga kali kertas A4 dan kami pun menempelkan gambar mobil sesuai negara asalnya. Masya Allah, sungguh kenangan yang tak terlupakan bagi kami, karena dari hal yang sangat Kakang sukai (mobil pemadam), Kakang sampai bisa mengetahui di mana Cina, Amerika, Jepang, Korea, Rusia dan banyak lagi. Terlebih, ia jadi tahu di mana letak Indonesia dan betapa keciiiiiil sekali kita di dunia ini dan betapa besaaaaar Allah yang menciptakan semuanya. Masya Allah..

Sejauh ini, bagi saya, FBE inilah yang kemudian cocok untuk diterapkan pada kehidupan dan kemampuan kami. Ya, tentunya semua orangtua menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya dan masing-masing orangtua pasti memiliki pilihannya masing-masing. Dan, inilah pilihan saya. FBE bisa memfasilitasi cara belajar kami yang sama-sama sulit mengikuti rencana dan FBE bisa mengakomodir kebutuhan untuk belajar di alam.

Terlebih lagi, di atas semua itu, hal yang paliiiing saya sukai dari FBE adalah karena FBE mendasari segala halnya dari Alquran dan Hadits yang tentunya adalah petunjuk hidup dari kita semua. Dijamin kebenarannya dan dijamin yang terbaik.

Ah, semoga saja saya bisa mengaplikasikan ilmu yang saya dapatkan dari workshop hari ini. Karena, apalah artinya ilmu jika tanpa dipraktekkan, bukan? Harapannya, semoga saya (dan kelak pasangan hidup saya) bisa menjadi orangtua yang bisa memfasilitasi anak untuk menemukan fitrah dan peran peradabannya. Semoga kelak Islam akan bangkit lagi di tangan pemuda-pemuda kita, Insya Allah..

Semangaaaatttt! J

Bapak Ibu pembelajar :)


Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak