Membaca Itu Nikmat!



Assalamualaikum w.w.

“Untuk apa sih ibu-ibu membaca buku dan mengikuti seminar atau workshop? Kan tugasnya hanya mengurus rumah?”

Wahai ibu, pernahkah mendapatkan pertanyaan seperti ini? Saya pernah, ketika mengikuti sebuah kegiatan yang didominasi kaum muda. Ya, saya juga kaum muda sih, kaum muda yang sudah menjadi ibu. Haha..

Jadi, Mbak (mbak-mbak penanya), menjadi ibu bukan berarti kamu akan berhenti belajar. Jika kamu berpikir setelah menjadi ibu lalu kewajibannya untuk menimba ilmu telah selesai, berarti kamu salah besar! Justru perjuangan itu baru dimulai setelah kamu melangsungkan akad nikah.

Menjadi ibu adalah tugas terbesar dan termulia di dunia. Bayangkan, ibu adalah sekolah dan pendididik PERTAMA dan UTAMA bagi anak-anaknya. Sebagai pendidik utama, tentunya ibu harus memiliki ilmu dan perbekalan yang cukup untuk menjadi fasilitator terbaik untuk anak-anaknya. Ibu harus mampu melejitkan potensi anak-anak mereka yang sudah terinstall di dalam jiwa mereka dan menjadikan anak-anak mampu berkontribusi dalam peradaban. Wah, tugas yang berat, ya!

Itu baru tugas dari peran seorang wanita sebagai ibu, belum ketika ia berperan sebagai istri, manajer rumah tangga, direktur keuangan, koki handal, perawat, supir dan lain sebagainya. Masya Allah..

Nah, sudah ketemu kan ALASAN MENGAPA seorang ibu harus terus belajar? :)

Belajar itu bisa dari mana saja. Dari pengalaman orang lain, dari berbagai pakar melalui seminar atau workshop, atau opsi yang termudah dan bisa diakses di manapun dan kapanpun: MEMBACA.

Sungguh banyak referensi tentang pengasuhan yang bisa kita baca untuk menambah kompetensi kita sebagai ibu profesional. Namun, ibu-ibu jaman naw terkendala dengan banyak hal sehingga menghambat aktivitasnya untuk membaca. Katakan saja, ibu terkendala dengan manajemen waktu yang belum ajeg, sehingga sulit menemukan waktu untuk membaca buku. Atau bisa jadi, pada diri si ibu belum tertanam minat baca yang tinggi sehingga masih berpikir bahwa membaca adalah aktivitas yang tidak berfaedah. Waduh!

Alhamdulillah, pada hari Jumat, 30 Maret 2018 kemarin, Rumah Belajar Literasi Ibu Profesional Bandung kembali menyelenggarakan acara bergizi yang kali ini bertajuk “Workshop Membaca Itu Nikmat”. Workshop yang diadakan di Gedung Bandung Creative Hub (BCH) ini dipandu oleh Bapak Adi Wahyu Adji. Beliau adalah trainer sekaligus pemulia buku yang sudah mereview kurang lebih 40 buku dalam 6 bulan terakhir. Masya Allah..


Kali ini saya akan mengikat ilmu yang saya dapatkan pada catatan ini. Bismillah..

Membaca Itu Nikmat?


Iya, nikmat sekali, untuk saya dan mereka yang sudah merasakan manfaat dan kecanduan pada aktivitas ini. Bagi mereka yang belum bisa menikmati, tentu membaca judul workshop ini dengan dahi terlipat, “Nikmat? Hmm..”

Pada bagian pertama, Pak Adji membahas tentang beberapa masalah utama membaca yang sering dialami oleh netizen eh masyarakat kita, yaitu:
  1. Motivasi. Kurangnyanya motivasi dalam membaca dapat menyebabkan kita malas untuk membaca. “Buat apa sih membaca?”. Tipsnya, temukan WHY-nya mengapa kita harus membaca. Ketika WHY-nya sudah kuat, insya Allah kita bisa lebih semangat saat membaca.
  2. Pengetahuan. Bisa jadi, kita merasa sulit untuk membaca karena belum memiliki ilmu tentang membaca buku. Nah, lho! Memangnya membaca itu ada ilmunya? Ternyata ada, lho!
  3. Lingkungan. Nah, ini merupakan tantangan pertama yang harus dihadapi oleh manusia sejak masa kanak-kanak. Ketika terlahir di lingkungan yang ramah buku, maka niscaya ia akan tumbuh menjadi anak yang bersahabat dengan buku. Namun sebaliknya, jika ia tumbuh di rumah yang ‘anti’ pada buku, bisa jadi ia menjadi seseorang yang melihat buku hanya sebagai beban.

Lalu, apa sih makna dari membaca itu? Ternyata membaca itu bukan hanya mengucapkan huruf demi huruf dan kata demi kata, tapi lebih dari itu. Ada beberapa makna membaca, yaitu:
  1. Menyerap informasi. Kita bisa mendapatkan jutaan informasi yang kita butuhkan (atau tidak) ketika membaca koran dan majalah.
  2. Untuk bersenang-senang. Ketika menikmati novel atau biografi tokoh idola, kita akan diliputi perasaan rileks dan senang. Ya, membaca bisa menjadi salah satu media untuk bersenang-senang juga, lho!
  3. Mencari solusi. Nah, ini berhubungan dengan apa yang saya sampaikan di awal. Bagi para ibu, membaca itu bisa menjadi ajang untuk mencari solusi dari masalah-masalah yang dihadapi di rumah. Pengalaman orang lain yang dituangkan pada buku bisa menjadi referensi untuk menyelesaikan permasalahan yang serupa.
  4. Langkah menjadi. Buku-buku yang berjudul “Cara Ampuh …”, “Menjadi … Terkenal”, “5 Langkah Membuat …” adalah jenis buku-buku coaching yang bisa memperkaya pengetahuan kita saat dihadapi kondisi yang sesuai dengan judul buku tersebut.
  5. Mencari makna. Cobalah membaca buku karya Hamka dan di sana kita akan menemukan makna-makna tentang berbagai hal di hidup ini.

Ada yang mau menambahkan makna membaca versi dirinya sendiri?

Bagi saya, membaca itu adalah media untuk mengobati kehausan saya akan ilmu pengetahuan. Karena saya sering ‘haus’, ya berarti harus sering juga membacanya. Dan membaca itu bisa memenuhi kebutuhan saya untuk terus belajar, yang sesuai dengan bakat saya sebagai Learner. Bakatnya masa belajar, sih? Haha.. Iya, gitu sih hasil Talents Mapping saya.. >.<

Kapan lagi coba ada ibu-ibu baca berjamaah? :)

Ah, tapi membaca itu kan untuk orang-orang kutu buku, kuper dan nggak asyik! Eh, kata siapa? Apakah saya terlihat seperti itu? *iya, ceunah, bahaha..

Ada beberapa mindset yang salah dan berbagai mitos tentang membaca yang menjadi faktor penghambat seseorang untuk memulai aktivitas ini. Walaupun hanya mitos, tapi hal-hal ini sangat berpengaruh, lho!

Mitos: Orang yang rajin membaca itu adalah kutu buku, memakai kacamata tebal dan kurang pergaulan.
Fakta: Ya masa orang dibilang kutu? Yang sering main games online juga kacamata lebih tebel, kok. Dan kurang pergaulan? Yakin? :D

Mitos: Membaca adalah aktivitas orang pintar dan luar biasa.
Fakta: Jika kamu berpikir bahwa membaca hanyalah dilakukan oleh orang-orang sekelas Bill Gates, lantas apalah aku yang hanya remahan nastar ini? Hehe.. Justru, orang mau membaca karena merasa belum tahu apa-apa dan berniat mencari tahu dengan membaca. Begitu..

Mitos: Membaca adalah beban.
Fakta: Pada hakikatnya, semua orang terlahir dengan fitrah belajar dan nalar yang sudah dibekali oleh Sang Maha Pemilik Ilmu. Sehingga, ketika ada orang yang tidak suka dengan aktivitas belajar atau membaca, artinya fitrahnya sudah terluka. Tumbuhkan kembali fitrah belajar dan nalar dengan mengubah mindset yang sudah terbangun menahun tentang belajar. Semoga jadi suka belajar, ya! Eh, belajar itu kan SERRUU! :)

Referensi buku tentang membaca milik Pak Adji.
Pengen baca yang How to Read a Book!

Jadi, kenapa saya harus membaca?


Nah, sudah terpanggil untuk membaca? Saya tambahkan lagi yaa alasan mengapa harus membaca, yang disampaikan oleh Pak Adji kemarin, cekidot:

Tokoh besar dekat dengan buku. Sebut saja Bung Hatta yang memiliki 8.000 koleksi buku, Hamka yang walaupun tidak kuliah tapi bisa mendapat gelar Prof. Dr. karena banyak membaca dan menulis, Bill Gates yang membaca tak kurang dari 50 buku per tahun, Oprah Winfrey yang terkenal cerdas karena suka membaca daaaan banyak lagi!

Saya jadi ingat satu hal yang saya sampaikan saat membahas kepemimpinan dengan mahasiswa saya. saya katakan bahwa hal yang pasti ada di ruangan seorang pemimpin hebat adalah lemari buku berisi buku-buku bergizi. Woho, jadi inget pernah ngomong begini sama mahasiswa. Ceritanya mah lagi menularkan semangat membaca. Bahahaha.. *sok iye banget, bu.. >.<

Overload information alias ada banyaaaak sekali buku bagus yang terbit setiap harinya! Jangan sampai karena keterbatasan kita dalam membaca, lantas kita menjadi orang-orang yang dilewatkan oleh buku. Ditikung buku karena kita terlalu lambat. Ayo, percepat cara membaca kita!

Disruption era. Harap dicatat, bahwa profesi kita saat ini sangat mungkin digantikan oleh mesin. Ibu robot? Eh, bisa jadi! Maka, PERUBAHAN adalah KOENTJI! Berubah atau mati! Dan orang-orang inovatif memiliki segudang ide baru yang berasal dari kegemarannya membaca.

Nah, sekarang, ayo berdiri dan berjalan ke arah lemari buku. Pilih satu buku dan mulai membaca! :)

Selain hal-hal mendasar tentang membaca di atas, Pak Adji juga berbagi ilmu tentang metode membaca cepat, gerakan One Week One Book, cara asyik mereview buku dan aplikasi membaca buku jaman naw.

Yang pasti, workshop kemarin berhasil menyuntikkan semangat kepada peserta untuk membaca dan mempercepat laju membaca. Karena kami nggak mau menjadi ibu-ibu yang tertinggal roda zaman. Kami ingin menjadi ibu pembelajar yang adalah inti dari peradaban. Tsah!

Penasaran dengan materi lainnya? Bersambung ke artikel selanjutnya ya, Mak! Insya Allah.. Sekarang mah kerjain dulu PRnya: mulai membaca mulai dari SEKARANG. Baca grup Whatsapp nggak termasuk ya, Mak! Haha, disambit ibu-ibu semua.. >.<

Hatur nuhun, ibu-ibu pembelajar! :)

Salam sayang dari sebuah kamar rumah sakit di Bandung,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak