Lima Tips #SingleParenting ala Ibu Jerapah



1/30 #SingleParenting : #ParentingAdvice

Assalamualaikum w.w.

Apalah aku yang masih abal-abal ini ngasih #ParentingAdvice ? Wakwaw >.<

Tapi, karena hari pertama tantangan 30 Hari Menulis Cerita#SingleParenting kali ini bertema #ParentingAdvice, ya sudahlah, mari kita coba menulis tentang ini ya..

Sebagai informasi, dalam hitungan beberapa bulan ke depan, empat tahun sudah saya menjalankan peran sebagai ibu tunggal. Empat tahun yang sarat makna dan ilmu. Empat tahun penuh anugerah yang Masya Allah benar-benar dibanjiri berbagai nikmat oleh Allah. Pokoknya, kalau nggak bersyukur mah keterlaluan banget aja lah saya..

Dari empat tahun melakoni #SingleParenting, tidak lantas menjadikan saya lebih berpengalaman daripada teman-teman lain. Malah rasanya kok masih jalan di tempat aja ya? Ada sih pergerakan, tapi saya sendiri ngerasanya belum puas dengan apa yang saya lakukan sampai hari ini.

Dari empat tahun melakoni #SingleParenting, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran yang mudah-mudahan bisa jadi insight bagi para ibu yang baru memulai perjalanan menjadi ibu tunggal. Tenang, Bu, menjadi ibu tunggal itu ternyata tidak semenyeramkan apa yang kita bayangkan. Malah, ada beberapa hal yang membuat kita akan bersyukur menjadi ibu tunggal, seriusan. Hehe..

Nah, langsung aja yaa. Kalau, kalau yaa, kalau saya yang masih abal-abal ini bisa memberikan beberapa #ParentingAdvice untuk teman-teman seperjuangan, ada beberapa tips yang bisa dicoba agar perjalanan #SingleParenting-nya berjalan dengan asyik dan menyenangkan. Bismillah, mudah-mudahan nggak ngaco ya. wahaha..

#1 Bangun Support System yang Benar-benar Mendukungmu


Yes! Tips nomor satu dan benar-benar penting dalam menjalani #SingleParenting adalah membangun support system yang benar-benar mendukung. Mengapa kita butuh support system? Karena kita terlahir sebagai wanita yang secara fitrah memang memiliki beberapa kekurangan dan tidak bisa melakukan apa-apa yang seharusnya dilakukan oleh pria.

Tanpa bermaksud memandang wanita sebelah mata, tapi kita bukanlah super women yang bisa melakukan ini itu sendirian. Apalagi ketika kita sedang dalam fase awal perceraian yang sangat menguras energi dan perasaan, dijamin kita tidak bisa melakukan aktivitas secara paripurna, termasuk ketika mengasuh anak.

Kesedihan yang kita rasakan hanya akan berlangsung sementara, Bu, cepat atau lambat pasti berakhir. Tapi, masa kanak-kanak milik si kecil akan terkenang selamanya. Akankah kita mengorbankan anak-anak kita karena rasa gengsi tidak mau ditolong oleh siapapun? Ya, pilihan itu ada di tangan kita dan saya yakin semua ibu pasti menginginkan yang terbaik bagi anak-anaknya.

Support system dapat berbentuk apapun, keluarga dekat, keluarga besar, teman-teman, sahabat, komunitas atau bentuk organisasi lainnya. Bagi saya, support system adalah salah satu aspek yang membuat saya bisa bertahan dan tetap waras sampai saat ini. Keluarga telah menjadi bala bantuan yang benar-benar mendukung keputusan apapun yang saya ambil dan ikut terlibat aktif dalam pengasuhan anak saya.

Jadi, #SingleParenting bukan berarti mengasuh seorang diri tapi sebagai ibu tunggal didukung oleh pasukan-pasukan yang selalu siap sedia mendukung dan mem-back up kita jika terjadi hal-hal yang tidak memungkinkan kita untuk melakukan pengasuhan secara langsung. Hal-hal ini di antaranya adalah ketika ibu harus beraktivitas di luar rumah tanpa membawa si kecil atau ketika ibu berada dalam kondisi kejiwaan yang labil yang berpotensi dapat membahayakan si kecil.

Bagi saya, my support system is my hero!

#2 Belajar Memaafkan Diri Sendiri


Ternyata, hal yang paling sulit dilakukan adalah memaafkan diri sendiri. Dan para ibu tunggal pasti pernah merasakan bagaimana rasa sakitnya menyalahkan diri sendiri atas semua yang terjadi pada dirinya dan anak-anaknya. Rasanya, kita semua pernah merasa menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas apa yang terjadi. Kita pernah merasakan menjadi karakter antagonis yang menghancurkan perasaan banyak orang. Perih, tapi itulah kenyataannya.

Faktanya, perasaan-perasaan inilah yang membunuh kita sedikit demi sedikit. Perasaan-perasaan ini menggerogoti diri kita sampai tak bersisa. Perasaan-perasaan ini membuat kita lelah dan pada akhirnya sampailah kita pada titik di mana kita tidak sanggup lagi untuk menghadapi dunia.

Hal yang bisa kita lakukan untuk kembali bangkit adalah meyakini akan takdir Allah dan belajar untuk memaafkan diri sendiri. Meyakini takdir Allah akan membantu kita untuk melepaskan rasa khawatir dan gelisah karena hal-hal yang kita lalui saat ini. Seperti yang telah Allah sampaikan di dalam Al Quran, bahwa selembar daun yang jatuh pun adalah kuasaNya, takdirNya, apalagi kehidupan kita sebagai manusia yang sangat kompleks. Semua telah diatur olehNya, semua sudah menjadi takdirNya, maka mari belajar untuk lebih mengenalNya, lebih mengenal takdirNya.

Tak kalah penting, mari belajar untuk memaafkan diri sendiri, hal yang mungkin tak pernah terpikirkan untuk dilakukan.

#3 Jujur adalah Modal Utama


Poin selanjutnya adalah jujur. Jujur kepada semua pihak, termasuk kepada diri sendiri. Jujur benar-benar modal utama yang kita butuhkan untuk menjalani #SingleParenting.

Jujur kepada diri sendiri tentang perasaan yang kita alami akan membantu kita memahami apa yang sedang kita butuhkan. Jujur kepada diri sendiri pun berarti kita mengakui akan apa yang kita rasakan dan mencoba untuk menerima diri kita apa adanya. Hal ini, walaupun sederhana, adalah terapi self healing yang baik bagi kesehatan jiwa kita.

Jujur kepada anak-anak kita adalah bekal terbaik dalam pengasuhan. Jujur tentang segala hal. Jujur untuk menjawab segala pertanyaan yang terlontar dari mulut kecilnya. Jujur dengan catatan disesuaikan dengan kemampuan anak dalam memahami sesuatu. Sebagai contoh, pemahaman anak usia 4 tahun tentu akan jauh berbeda dibandingkan kakaknya yang berusia 10 tahun. Maka, kita harus pintar-pintar mengolah kata agar mampu dipahami oleh si kecil dengan jujur dan apa adanya.

Jujur kepada orang-orang terdekat tentang apa yang kita rasakan. Jujurlah tentang beban-beban kita, tentang apa yang menjadi masalah kita, tentang bagaimana perasaan kita dan tentang apa yang kita butuhkan. Jujurlah tentang bagaimana kita membutuhkan mereka dan bantuan apa yang kita harapkan dapat dilakukan oleh mereka. Mengaku bahwa kita membutuhkan orang lain bukan berarti kita lemah! Justru pengakuan tersebut termasuk pengakuan yang sulit dilakukan oleh seorang ibu tunggal, percayalah!

#4 Lakukan Apa yang Kamu Cintai


Jika saat bersama pasangan ada banyak pagar-pagar yang membatasi diri kita dengan hal-hal yang kita cintai, maka kini saatnya melakukan apa yang menjadi passion dan minat kita. Temukan bakat kita dan lakukanlah aktivitas-aktivitas yang menjadi bakat kita.

Melakukan apa yang kita cintai akan menjadikan kita sangat bahagia. Apalagi jika ternyata, hal-hal yang kita lakukan bisa bermanfaat bagi orang lain! Wah, dijamin kebahagiaan itu akan sangat berlipat ganda. Mengapa? Karena ternyata, cara mudah untuk berbahagia adalah dengan membahagiakan orang lain sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

Sangatlah penting untuk menjadi bahagia, bahkan bagi saya, bahagia adalah energi yang membuat saya selalu bersemangat dan berarti. Sangatlah penting untuk menjadi ibu yang bahagia, karena hanya ibu yang bahagia yang bisa menciptakan anak-anak yang bahagia.

#5 Jangan Berhenti Belajar


Poin terakhir adalah jangan berhenti belajar! Manusia akan ‘mati’ jika sudah tidak ada semangat lagi untuk belajar. Belajar apa? Belajar apa saja, belajar kehidupan.

Belajar bukan hanya tentang duduk di bangku lembaga formal atau informal. Setiap detik dalam hidup kita, setiap kita menghirup napas, adalah saat kita belajar.

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dalam hidup ini, bahkan dari hal seremeh apapun. Sungguh rugi orang-orang yang tidak bisa mengambil pelajaran dari apa-apa yang terjadi di alam, begitu kutipan ayat Al Quran yang saya ingat. Hal ini berarti, semua hal yang terjadi, sekecil apapun, adalah hadiah dari Allah agar kita mampu mengambil pelajaran darinya.

Jadi, mulai saat ini, kejadian apapun yang menimpa kita, sedih atau bahagia, pastikan jika kita selalu bisa mengambil pelajaran dari kejadian tersebut. Jangan sampai menjadi orang yang merugi, yang ketika sesuatu terjadi, kita hanya menganggapnya angin lalu tanpa apapun yang bisa diambil manfaatnya.

Bahkan, bukankah ditinggalkan oleh seseorang yang amat kita cintai adalah pertanda bahwa orang tersebut bukanlah yang terbaik bagi kita? Bukankah itu adalah jawaban dari doa yang selama ini selalu kita panjatkan, “Ya Allah berikanlah yang terbaik bagi kami dengan seizinMu..”?

Alhamdulillah, setidaknya lima hal ini yang bisa saya tuliskan, walaupun sebenarnya daftarnya itu puanjaaaang sekali! Hihi..

Intinya, hayuk jadi ibu yang bahagia, walaupun kebahagiaan itu nggak ujug-ujug kita rasakan tapi berproses. Yuk jadi ibu yang bahagia, karena ada tubuh-tubuh kecil yang selalu merindukan energi cinta dari sang ibu. Energi yang hanya bisa diberikan ketika ibu merasakan kebahagiaan. Senyum dulu, yuk! J

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak