Kue untuk Kakang


Gemuruh di ujung sana sesekali terdengar saat kami sedang sibuk dengan aktivitas masing-masing, aku membereskan perlengkapan menyusui anak kucing, sedangkan Kakang dan Alvin (om kecilnya Kakang) asyik bermain di ruang keluarga. Tiba-tiba kami dikejutkan dengan suara pintu pagar terbuka, dan sontak saja kami berebut berlarian ke depan untuk melihat ada siapa di sana. Iya, kami memang sering berlebihan jika ada orang berkunjung, berharap ada paket yang datang. Hehe..

“Assalamu’alaikum,” kata seorang ibu paruh baya sambil membawa kotak terbungkus plastik. “Wa’alaikumussalam,” jawabku sambil menyangka bahwa ibu tersebut hendak mengantarkan besek untuk keluarga kami.

 “Ini rumah Mamanya Ahza, ya?” tanyanya. “Eh, iya, Bu. Ada apa, ya?” jawabku kaget. Dari penampakannya, ibu ini bukan tetangga di sekitar sini, lalu mengapa ia kenal Ahza ya?

“Ini pesanan kuenya. Langsung dimasukkan ke kulkas saja ya, Bu!” katanya lagi sambil tersenyum ramah. “Oh iya, terima kasih ya, Bu,” jawab saya seadanya, masih terkaget. “Saya pamit dulu, assalamu’alaikum..” ujarnya sambil pergi berlalu. “Wa’alaikumussalam,” membalas salam si ibu.
Waduh, kue apa ya, ini?

“Wah, Ahza ulang tahun, ya? Happy birthday to youuuu, happy birthday to youuuu..” tanya Alvin dilanjutkan dengan menyanyikan lagu ulang tahun. “Oh, iya, Bu? Ini kue buat aku, ya, Bu?” tanya Kakang penasaran. “Ehm, iya, Kang. Kita taruh dulu di kulkas, ya? Besok baru dibuka, ya,” kataku sambil memasukkan kue ke kulkas.

Setelah Kakang dan Alvin melanjutkan permainan yang tertunda, aku pun terduduk sambil mengingat-ingat. Kuenya dari siapa ya? Ooh, iya, aku mulai ingat. Tadi pagi, Enin bilang mau menyimpan nomor pembuat kue langganan Bundanya Alvin. Kata Enin, beliau mau memesan kue ulang tahun untuk Ahza. Dan sore ini, ternyata kuenya sudah datang ketika Enin sedang keluar kota.

Masya Allah, aku langsung terkulai lemas. Aku, ibu yang melahirkan Kakang, begitu cuek menyambut hari ulang tahun Kakang. Sebaliknya, setiap tahun, Enin, Engking dan Madel yang biasanya begitu sibuk mempersiapkan acara ulang tahun Ahza. 

Ulang tahun pertama, Enin mengundang semua keluarga besar dari pihak nenekku untuk datang ke rumah dan merayakan ulang tahun Kakang dengan memotong tumpeng. Saat itu, acara ulang tahun Kakang sangat meriah karena ada banyak sekali yang datang. Aku hanya bisa berdoa agar mereka yang sudah mengusahakan acara ini dan mereka yang menyempatkan hadir selalu diberikan yang terbaik oleh Allah Swt.

Jauh-jauh hari sebelum Enin merencakan pesta ulang tahun Kakang yang kedua, aku mengomunikasikan niatanku untuk tidak membiasakan Kakang merayakan ulang tahun dengan berlebihan. Karena pada prinsipnya, perayaan ulang tahun bukanlah kebiasaan yang datang dari agama kami dan memang aku ingin lebih menekankan pada Kakang bahwa yang penting bukanlah perayaannya, tapi sudah seberapa banyak manfaat yang kita berikan untuk orang lain. Menghitung amalan yang menjadi bekal nanti di akhirat. Lebay? Biarin ah, yang penting nggak dosa, hehe..

Namun, karena cinta nenek, kakek dan tante mengalahkan segalanya, di malam hari ulang tahun Kakang yang kedua, mereka mengajak kami jalan-jalan dan berakhir di Harvest. Lalu, mereka pun memesan kue untuk Ahza. “Kasian, masa ulang tahun nggak ada kuenya?” kata Enin membela diri. “Iya, kan kue aja mah nggak apa-apa,” tambah adikku membela Enin. Hmm, aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil bersyukur karena ada banyak yang sayang dengan Kakang.

Di ulang tahun ketiga, lagi-lagi kusampaikan pesan yang sama kepada keluargaku dan lagi-lagi gagal. Walaupun tidak mengundang keluarga besar, tapi Enin dan Engking sengaja membuat nasi kuning dengan segala lauk pauknya dan membuat makan siang perayaan ulang tahun Kakang. Walaupun hanya keluarga inti, tapi rasanya hati ini begitu hangat karena sekali lagi menyadari bahwa Kakang punya banyak orang yang peduli dan sayang sekali dengannya. Alhamdulillah..

Maafkan ibu ya, Nak. Maafkan ibu yang mengajarkan kesederhanaan di usiamu yang masih sangat dini. Ketika teman-teman sebayamu merayakan ulang tahunnya dengan berbagai macam goodie bag untuk teman-temannya, Kakang hanya merayakan ulang tahun dengan sederhana, itu pun bukan ibu yang mengadakannya. Ketika teman-teman sebayamu merayakan ulang tahunnya dengan pesta meriah di gerai makanan cepat saji, Kakang harus puas dengan makanan rumah yang dibuat Enin dengan penuh cinta. Maafkan ibu ya, Nak.

Walaupun penuh kesederhanaan, ibu berharap agar Kakang tahu bahwa hal ini tidak sekalipun mengurangi rasa sayang ibu untuk Kakang. Ibu juga berharap, Kakang selalu tahu bahwa ada banyak orang yang selalu sayang dan mendukung apa yang Kakang lakukan sampai dewasa nanti. Akan selalu ada ibu, Enin, Engking, Madel dan keluarga lainnya yang selalu berjalan bersama Kakang.

Kakang, selamat ulang tahun, ya! Semoga sisa umur Kakang dilalui dengan penuh kebermanfaatan untuk banyak orang dan bisa menjalani hidup dengan melakukan hal-hal yang sesuai bakat Kakang. Barakallah, ya, Nak! :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini