Ketika Ditinggalkan...


3/30 #SingleParenting #MomLife

Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Tulisan ini dibuat saat Kakang pergi ke Bogor. Yes, melalui tulisan ini, saya sedang berusaha merelease energi negatif (sedih, bray) menjadi sebuah tulisan. Semoga auranya nggak negatif ya, haha..

Ditinggal atau meninggalkan?


Saya tipe orang yang lebih suka meninggalkan daripada ditinggalkan. Duh, gimana, ya.. Ditinggalkan itu rasanya sedih! Nyesek! Nggak suka, deh, pokoknya!

Jadi, ketika harus ada adegan perpisahan, saya memilih peran sebagai yang meninggalkan. Bukannya apa-apa, hanya untuk meminimalisir rasa sakit. Wahaha, ini bahas apa, deh? Lebay pisan..

Nah, ketika ditinggal Kakang, biasanya saya merasa jadi orang yang paling menyedihkan dan malang di seluruh dunia. Sedih.. Baper.. Kepikiran terus.. Tapi malam ini perasaan itu datang hanya sebentar, karena saya tahu bahwa ini adalah yang terbaik untuk semuanya. Jadi, nikmatin aja.. :)

Saya menulis ini untuk mengingatkan saya jika suatu hari saya merasa baper berkepanjangan. Jika saya merasa menjadi orang yang paling menyedihkan dan lupa bersyukur.

Nih, tips menghilangkan rasa baper itu datang langsung dari Allah Swt lewat ayat-ayat cintaNya! Kata Allah, jika kita merasa nggak bersyukur, coba deh lihat ke bawah. Bukan lihat lantai, ya, gais! :p

Coba deh lihat orang-orang yang keadaannya lebih menyedihkan dan sadari bahwa hidup kita itu luaaaar biasaaaa nikmat sekali!

Coba bayangkan anak-anak di Syria yang bersahabat dengan dentuman bom dan bau amis darah. Bayangkan..

Coba bayangkan kaum ibu di Rohingya yang kehilangan anak-anaknya dan terusir dari rumah mereka. Bayangkan..

Coba bayangkan saudara-saudara kita di Palestina yang terjajah di negeri sendiri. Bayangkan..

Nggak kejauhan, bu? Ya sudah, ayo kita lihat yang lebih dekat, ya.. Yang ada di sekitar kita..

Bagi saya, saya cukup membayangkan waktu-waktu berkunjung ke klinik terapi tumbuh kembang di kompleks belakang atau di rumah sakit. Saya dan adik rutin ke sana untuk mengantar anak-anak fisioterapi.

Di sana, hampir semua anak diberi keistimewaan oleh Allah. Sebut saja, down syndrome, cerebral palsy, ADHD dan banyak lagi. Dari yang terlihat normal sampai yang, subhanallah, rasanya teriris hati ini melihat anak-anak tersebut.

Bagi saya, saya cukup membayangkan suasana di klinik tersebut untuk bisa bersyukur. Bersyukur bisa memiliki anak-anak yang sehat dan baik tumbuh kembangnya. Bersyukur bisa memiliki kehidupan yang berkecukupan. Bersyukur bisa membersamai anak-anak. Bersyukur bisa melakukan hal-hal yang sesuai dengan passion saya. Bersyukur masih bisa bersama orang tua. Bersyukur akan milyaran nikmat yang telah Allah berikan.

Apalagi coba alasan untuk merasa menjadi orang yang paling menyedihkan? Nggak ada ya rasanya..

Sekarang mah tugas kita hanya bersabar dan bersyukur.

Saat ini, saya meyakini bahwa ketika Kakang ke Bogor, itu artinya Allah sedang memberikan me time untuk saya. Waktu untuk saya bertafakur akan nikmat yang seringkali lupa disyukuri. Bertafakur tentang apa yang masih belum saya jalani. Hal-hal yang saya janjikan pada Allah, tapi masih sering saya ingkari. Bertafakur, memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan kualitas ibadah saya kepada Allah.

Dan, sepertinya ini waktu bagi saya untuk melakukan hal-hal yang nggak bisa saya lakukan saat ada Kakang. Menulis banyaaaak sekali postingan (malam ini saya bisa menulis 9 judul artikel!) atau menghadiri kajian-kajian Islami! Ah, seru sekali, bukan?

Sekarang mah tugas kita yakin aja sama Allah. Allah pasti sayaaaaang sekali sama kita. Allah pasti nggak akan ngasih sesuatu yang merugikan kita. Gais, pasti ada hikmah di balik peristiwa yang terjadi, yakinlah.. :)

Eh, iya, jadi, tema #SingleParenting kali ini adalah #MomLife. Dan inilah mom life ala saya, berusaha konsisten untuk belajar sabar dan syukur. Karena sabar dan syukur itu belajarnya setiap hari dan ujiannya setiap hari pula! Hehe..

Menjadi ibu adalah cara Allah mendidik saya. Menjadi ibu adalah penempaan diri untuk menjadi manusia yang lebih baik. Setidaknya, itu yang saya rasakan selama empat tahun ini.

And, how about your mom life, mommies?
Semoga selalu menyenangkan, ya! :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Aku berusaha tidak se-baper dulu saat harus merasa kehilangan. Pengertian kehilangan kan relatif ya mbak. Apalagi harus kehilangan orang-orang terkasih (misal seperti saat bapak saya meninggal). Sedihnya lama. Sering nangis sendiri. Butuh waktu bertahun-tahun sampai benar-benar pulih emosi saat harus mengenang beliau.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini