Karena Ruh Nggak Pernah Salah Gaul



4/30 #SingleParenting #MomFriends

Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Memang benar kata orang bijak,
"Kita tidak akan mampu mengetahui betapa berharganya sesuatu sebelum sesuatu itu menghilang.."

Setuju, nggak? Aku sih, yes!

Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menjalani toxic relationship ala Film Posesif. Eh, udah pada nonton, belum? Nonton, deh! Supaya tahu kalau pengasuhan kita itu sangat berpengaruh pada bagaimana anak-anak kita kelak membangun hubungan dengan orang lain.

Seperti Yudhis yang protektif banget sama Lala, sampai-sampai cemburu banget dengan sahabat Lala sejak SD hanya karena dia laki-laki. Yudhis nggak mau terima alasan apapun, pokoknya cemburu. Lala nggak boleh dekat dengan teman laki-lakinya itu.

Nah, kebetulan saya pun pernah berada di kondisi yang sama, bahkan mungkin lebih toxic, ya.. Waktu itu, saya dilarang berhubungan dengan semua teman kuliah, laki-laki dan perempuan. Bahkan, teman rasa keluarga yang benar-benar dekat pun sampai saya unfriend dari Facebook hanya demi 'dia'. Cailah, pakai tanda kutip. Hihi..

Waktu mengalami isolasi sosial itu, rasanya hidup hampa banget, ya. Nggak ada teman ngobrol, nggak ada teman untuk sekadar say Hi! dan lain sebagainya. Yaa walaupun ada suami, tapi kan beda ya, kita tetap butuh teman, kan, Bu? *cari suara :p

Di masa-masa itu, saya baru tahu sebegitu pentingnya arti teman. Teman adalah orang di luar lingkaran keluarga yang sangat dekat dengan kita. Terkadang, ketika kita nggak punya rumah untuk pulang, ada teman yang bisa diandalkan. Ada teman-teman yang siap memeluk dan memberi perlindungan.

Dan ternyata, teman-teman saya pun merasakan hal yang sama. Mereka kehilangan saya. "Anak hilang," ucap mereka memberi label pada saya. Hal ini saya rasakan betul saat akhirnya saya kembali bertemu dan berkomunikasi dengan mereka. Ah, aku sayaaang sekali teman-teman saya.. :)

Fase Awal #SingleParenting


Pada fase awal perjalanan #SingleParenting, saya menjadi sosok yang sangaaat tertutup. Boro-boro ke teman, ke keluarga pun saya sangat tertutup. Rasanya ingin saya telan rasa ini sendirian. Tapi, kan, kita nggak sekuat itu, ya?

Pada masa-masa itu, saya mencoba membuka lembaran kehidupan yang benar-benar baru. Mencoba dunia baru, yaitu jualan online dan berteman dengan banyak orang baru. Ya, teman online juga, ya. Hehe..

Dari komunitas jualan online saya mendapatkan banyaaak sekali kenalan baru. Dan hampir semuanya perempuan. Dan sampai saat ini pun memang saya masih membatasi diri untuk berkomunikasi dengan kaum Adam. Hehe..

Rasanya hidup jadi berwarna dengan teman baru. Teman yang nggak akan bertanya, "Bagaimana kabar suami?", "Kerja di mana sekarang?", "Sibuk ngapain?". Pertanyaan-pertanyaan sederhana yang jika ditanyakan pada saya pada saat itu, rasanya tajam sekali seperti pisau belati. Hehe..

Kemudian, ketika memutuskan untuk kembali ke bangku kuliah, saya mendapat beberapa teman baru. Hanya beberapa, karena waktu itu kelas kami hanya terdiri dari 9 orang mahasiswa, termasuk saya. Namun, karena hanya sedikit, kami pun menjalin persahabatan seperti kepompong. Nggak deng, nggak sedekat itu juga. Hehe..

Tapi, saya sangat membatasi diri dalam bercerita. Saya nggak pernah cerita tentang kondisi rumah tangga saya dan masalah yang saya hadapi. Jujur, sebagai orang yang gemar sekali bercerita, rasanya tahun ini menjadi tahun-tahun yang berat karena ada banyak hal yang harus saya 'rem' untuk diceritakan pada teman-teman sekelas.

Bukan karena saya malu dengan status saya, tapi saya tidak ingin dikasihani. Saya benci mendapatkan tatapan iba. Dan waktu itu saya belum siap untuk menjelaskan apapun tentang mantan saya. Kalau sekarang? Waaah, sekarang mah sudah baik, sehat, alhamdulillah, luar biasa! Hehe.. Masya Allah.. :)

Teman-teman kuliah ini sangat baik pada saya dan Kakang. Sewaktu mereka mengadakan fieldtrip ke Thailand, mereka membawakan beberapa oleh-oleh untuk saya. Dan mereka nggak pernah protes jika saya selalu absen nongkrong di kafe, karena saya harus cepat-cepat pulang untuk menyusui anak saya. Lalu, jika Kakang ikut ke kampus, mereka pun sangat welcome pada Kakang, siap dititipi jika saya harus mengurus ini itu.

Tuh, kan, punya teman itu rasanya hangaaat. Bahagiaaa sekali :)

Hello, again!


Akhirnya setelah sekitar setahun sampai dua tahun menghilang, saya kembali memberanikan diri speak up di media sosial. Tujuan awalnya mah promosi jualan saya tentunya. Hehe..

Tapi kemudian, saya juga senang membagikan tulisan-tulisan saya dan dari situlah saya kembali berkomunikasi dengan teman-teman lama. Rasanya? Kayak Nano-nano, ya, sulit dikatakan, tapi pastinya grogi. Hehe..

"Nggak usah malu, kan kita nggak merugikan orang lain," itu yang selalu saya pikirkan ketika saya maluuu sekali untuk membalas sapaan teman-teman SMP, SMA atau kuliah. Hehe.. :)

Nyatanya, makin ke sini saya semakin luwes untuk menjalin komunikasi dengan orang lain termasuk teman-teman lama. Mungkin kelihatannya saya santai ya, tapi di dalam hati mah rasanya maluuuu dan grogiiii banget kalau bertemu teman. Bahkan, waktu awal-awal mah sempat bertanya-tanya juga, "Nanti mereka nanya yang aneh-aneh nggak, ya?". Hehe..

Qadarullah, teman-teman saya baiiik semua. Mereka mengerti akan apa yang saya alami, dan sangat jarang yang bertanya blak-blakan tentang hal itu. Di mata saya, mereka bisa menerima saya apa adanya. Alhamdulillah..


My Community, My Super Friends!


Nah, di akhir 2016 saya memiliki niatan untuk 'nyemplung' ke dunia volunteer. Kenapa? Karena saya merasa, saya bahagia banget setelah berbuat sesuatu untuk orang lain. Dan saya perlu merasa bahagia untuk menjaga kewarasan saat pengasuhan.

Maka, saya memutuskan untuk berpartisipasi dalam Kelas Inspirasi dan Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI). Daaaaan, nggak disangka.. Dari komunitas positif, ada banyak teman-teman super!

Super baik,
Super keren,
Super inspiratif,
Super mendukung,
Pokoknya super!

Dari teman-teman komunitas, saya mendapatkan energi positif yang begitu besar. Setiap berkegiatan, saya seperti dicharge oleh mesin charger raksasa bernama volunteering. Rasanya sangat bahagia berkumpul dengan orang-orang baik untuk melakukan kebaikan! :)

Oh iya, saya juga banyak mendapat support dari teman-teman komunitas menulis, seperti komunitas blogger dan #ODOPfor99Days. Energi positif mereka juga menular banget pada kebiasaan menulis saya. Wah, semoga selalu barokah ya!

Menjelang akhir tahun, saya didapuk menjadi ketua dari salah satu rumah belajar di Ibu Profesional Bandung, sebut saja RB Literasi Bandung. Hehe.. Daaaan, luar biasa yaaa.. Rasanya Allah baik banget sama saya, saya dianugerahi teman-teman yang begitu banyak dan memiliki minat yang sama..

Seperti judul artikel ini, "Karena Ruh Nggak Pernah Salah Gaul", yang disampaikan oleh Ust. Adriano Rusfi, rasanya kita selalu dipertemukan Allah dengan teman-teman yang satu frekuensi. Yang memiliki minat yang sama, kesenangan yang sama, semangat yang sama, sekufu. Bener, nggak, ya?

Bagi saya, teman adalah salah satu support system dalam perjalanan #SingleParenting yang benar-benar memberikan pasokan energi saat saya sudah kepayahan dalam segala kekurangan yang saya miliki. Teman itu bisa menjadi keluarga di luar rumah yang selalu bisa menjadi penyemangat saat kita down.

I love my friends, dan saya harap, Kakang juga nanti bisa punya teman-teman yang selalu mendukung dan punya pertemanan sehat! :)

Terima kasih untuk teman-temanku..
Terima kasih atas inspirasi dan energinya..
Semoga kita bisa berteman sampai di surgaNya kelak ya..

Please, jangan lupa panggil aku kalau nanti sampai ke surga duluan! :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Catatan: tadinya mau upload banyak foto, tapi males nyarinya. Hahahahahahah...

Komentar

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak