Ya Allah, Kenapa Aku Diuji (Sebuah Ulasan Buku)


Assalamualaikum w.w.

Qadarullah, tahun 2018 ini diawali dengan banyaaak sekali nikmat ujian dari Allah. Alhamdulillah 'ala kulli hal.. Mau diceritain di blog, tapi lagi males curhat. Hehe..

Tapiii, Allah itu memang keren banget ya. SkenarioNya memang maha indah.

Sejak awal bulan, saya sudah digerakkan untuk membaca buku tentang Rasulullah. Buku ini membahas tentang bagaimana cara mendidik ala Rasul. Insya Allah, mudah-mudahan dimudahkan untuk bikin resumenya ya..


Setelah buku tersebut tamat dibaca, lalu Allah ngasih hadiah lagi berupa kajian dari guru favorit saya, Ustadz Nouman Ali Khan, melalui videonya yang berjudul 'Hikmah Pengasuhan Nabi Yakub di Surat Yusuf'. Linknya ada di sini ya..

Laluuu, Allah Maha Baik karena memberi saya rezeki untuk berguru langsung pada Pak Aad (Adriano Rusfi) di kelas Bunda dan Femininitas. Materinya luaaaar biasa sekali untuk saya yang benar-benar fakir ilmu. Ih, keren banget!

Alhamdulillah, saya 'dibekali' Allah beberapa ilmu ini sebelum akhirnya datanglah beberapa nikmat ujian itu. Alhasil, saya nggak ngedrop banget seperti yang sudah-sudah. Malah agak nyantai aja menjalaninya, karena mungkin sudah tau sedikit ilmunya ya. Mudah-mudahan..

Tapi kan ya, yang namanya perempuan, si makhluk perasa, senyantai-nyantainya dan seselow apapun, pasti lah ya kepikiran. Karena saya bertekad untuk nggak menyerah dengan ujian yang datang, saya harus lebih kuat! Dan saat itulah saya baru sadar, "Ah, kayaknya ada yang rindu dengan saya. Ada yang rindu mendengar saya berdoa sambil menangis. Ada yang rindu dengan shalat sunnah saya. Ada yang rindu dengan amalan-amalan saya.."

Ya, siapa lagi yang sangat merindukan sapaan saya kalau bukan Sang Maha Baik, Allah Swt. Duh, Gusti, maafkan kami yang seringkali lalai menghadap padaMu dan baru kembali ketika masalah datang ya Allah.. :(


Demi menguatkan diri, akhirnya saya berniat untuk membaca buku-buku Islami di rak buku yang ternyata selama ini masih banyak yang belum dibaca. Huhu..

Buku pertama yang saya tamatkan adalah buku yang berjudul 'Ya Allah, Kenapa Aku Diuji'. Ternyata, buku ini bundle alias 2 in 1 alias ada dua pembahasan yang ditulis oleh dua orang yang berbeda dalam satu buku. Oia, ini buku Madel, jadi memang baru tau juga ternyata bukunya keren.

Bagian pertama ditulis oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Berdasarkan Om Wiki, Ibnu Qayyim adalah ahli fiqh terbaik pada zamannya. Bahkan, di sini dituliskan bahwa penguasaan beliau terhadap ilmu tafsir tiada bandingannya dan selalu mencari sumber dari orang-orang yang mengaji langsung pada Rasulullah Saw.

Rahasia di Balik Ujian dan Cobaan Hidup


Pada bagian pertama ini, Ibnu Qayyim banyak berpesan dan meluruskan tentang prasangka sebagian besar manusia tentang ujian yang diberikan Allah. Yang menarik, beliau juga membahas pertanyaan yang mungkin sering kita ucapkan: mengapa orang-orang baik selalu kalah dan yang zolim selalu memiliki hidup yang lebih baik?

Nah, di sini Ibnu Qayyim menjelaskan dengan sederhana tentang dunia yang hanya sementara dan akhirat lah tempat sebenar-benarnya untuk berpulang. Jangan terlalu berfokus pada bagaimana kondisi kita di dunia, karena itu semua hanyalah sementara.

Justru, umat Muslim seharusnya bahagia jika diberikan ujian oleh Allah karena itu adalah bentuk kasih sayang Allah pada kita. Dengan ujian-ujian tersebut, kita seakan 'dibersihkan' dari apa-apa yang mengotori kita dan selamat ketika di akhirat. Sedangkan, para kaum munafik, akan terlihat bahagia dan mendapatkan dunia, padahal sesungguhnya mereka akan merugi di akhirat. Semoga kita terhindar dari yang demikian ya.. Na'udzubillahimindzalik..

30 Rahasia Hidup Lebih Tenteram dan Bahagia


Bagian kedua buku ini ditulis oleh Dr. Aidh Al-Qarni, penulis buku fenomenal 'La Tahzan'. Pada bagian ini, Dr. Al-Qarni seakan memberikan tips dan triks agar hidup kita tenang dan bahagia. Tips yang sesungguhnya sederhana dan aplikatif banget.

Kamus Bahagia-nya Dr. Al-Qarni ini saya kutip di sini juga ya supaya nempel di kepala saya:
  1. Renungkan dan bersyukurlah!
  2. Yang lalu biarlah berlalu
  3. Harimu adalah hari saat ini
  4. Lupakan masa depan sebelum ia datang
  5. Cara cerdas menghadapi kritik pedas
  6. Jangan berharap terima kasih dari orang
  7. Berbuat baik kepada orang membuat hidup anda lapang
  8. Isi waktu dengan bekerja
  9. Jangan latah
  10. Menerima takdir dan ketentuan
  11. Bersama kesulitan ada kemudahan
  12. Buatlah minuman manis dari limun yang kecut
  13. Dia mendengar doa anda
  14. Buatlah rumahmu terasa lapang
  15. Menantikan ganti dari Allah
  16. Iman adalah kehidupan
  17. Ambil madunya, jangan rusak sarangnya
  18. Dengan berzikir hati menjadi tenang
  19. Tidak dengki terhadap orang yang diberi karunia oleh Allah
  20. Hadapilah hidup sebagaimana adanya
  21. Hibur diri dengan mereka yang mendapat musibah
  22. Jagalah shalat
  23. Cukuplah Allah bagi kita
  24. Katakan, "Berjalanlah di muka bumi!"
  25. Bersabarlah!
  26. Jangan meletakkan bola bumi di atas kepala
  27. Jangan hancurkan diri karena hal sepele
  28. Terimalah jatah yang Allah berikan untuk anda, anda pasti menjadi orang paling kaya
  29. Ingatkan dirimu dengan surga seluas langit dan bumi
  30. Demikianlah kami jadikan kalian sebagai umat pertengahan
Membaca tulisan Dr. Al Qarni ini benar-benar menyenangkaaaan sekali. Membacanya seperti dinasehati nenek. Dinasehari tanpa menggurui. Enaaak banget bacanya. Bahasanya pun sederhana. Ah, suka banget!

Yang pasti, setelah membaca Kamus Bahagia ini, ternyata untuk hidup tenang dan bahagia itu nggak usah ribet ya.. Yang bikin ribet hidup ini kan ternyata ya kita-kita juga. Haha..

Kesan-kesan


Awalnya, sempat ragu juga mau baca buku ini, karena judulnya nelangsa banget, takut kebawa baper. Hehe.. Tapi akhirnya memutuskan untuk membaca karena ternyata penulisnya adalah ahli fiqh dan ada tulisan 'National Bestseller' (penting!). Memberanikan untuk baca, walaupun sebenarnya ngeri kalau bahasanya sulit dicerna.

Ketika proses membaca, saya sangaaaat menikmati prosesnya. Nggak butuh waktu lama untuk membaca buku setebal 186 halaman ini, cukup dua hari saja. Karena bahasanya enak dicerna dan pembahasannya sangat menarik, buku ini menjadi buku yang sangat menyenangkan untuk dibaca. Masya Allah.

Setelah selesai membaca, yang saya rasakan adalah, subhaanallah, ternyata selama ini pandangan saya tentang ujian itu salah ya. Ternyata cara pandangnya harus diluruskan lagi, ternyata saya belum tahu ini itu, ternyata saya fakir banget ilmunya. Huhu..

Dan bahagia banget setelah baca buku ini, karena berasa dipeluk oleh kekuatan tak terlihat dan benar-benar dikuatkan. Yang paling penting, karena apa yang ada di buku ini benar-benar aplikatif dan nggak jauh dari kehidupan nyata.

Oia, berhubung saya nggak sempet dan malas mengabadikan cover bukunya, jadi saya ambil dari sini aja ya.. Ini dia.. 

Nelangsa banget kan judulnya. Wkwk..
Alhamdulillah, awal tahun dimulai dengan buku-buku yang luar biasa!
Semoga bermanfaat!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Kayanya aku kudu baca ini juga teh, 2018 ini akupun udah ketemu cobaan huhu

    BalasHapus
  2. Tulisan Al Qarni memang selalu bikin hangat di hati ya. Saya suka La Tahzan.

    Anyway soal ujian. Menurutku ujian perlu biar naik tingkat. Masa kita mau di level yang sama terus. Hidup ini isinya sebenarnya ujian semua. Hanya banyak yang membatasi ujian hanya pada hal tertentu saja. Padahal susah dan senang, itu semua kan ujian.

    Mudah-mudahan kita sukses dengan setiap ujian kita dan dapat nilai yang bagus.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini