Mengoles Selai Sendiri


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Dan terjadi lagi.. Saya lasut (kalah dalam Bahasa Sunda). Baru hari kelima dan saya lasut. Lasut posting karena ngelonin Ahza sampai ikut tidur. Hahaha..

Tapi, nggak apa-apa. Kelas Bunsay ini bukan tentang berkompetisi menjadi yang terbaik di antara ibu yang lainnya. Tujuan saya adalah berkompetisi dengan diri sendiri. Tentang bagaimana menjadi ibu yang lebih baik dibandingkan dengan hari kemarin. Tsah.. Padahal mah tetep aja KZL sih, kok bisa lasut. Hahaha..

Jadi, kemarin malam saya mau bercerita tentang salah satu skill yang sudah dikuasai Ahza selama beberapa bulan belakangan ini. Skill itu adalah mengoles selai sendiri. Tepuk tangan dulu dong untuk Ahza. Yeyeye..


Awalnya, ketika kami menginap di rumah Om Alvin, Ahza minta dibuatkan roti isi Nutella. Tapi sepertinya saat itu saya sedang riweuh. Riweuh karena apa, saya sudah lupa. Yang pasti, waktu itu saya meminta Ahza untuk bersabar dan menunggu saya untuk mengerjakan sesuatu yang lebih urgent.

Tapi, eh, kok tiba-tiba dia duduk manis di sebelah saya sambil memakan roti. Padahal kan rotinya ada di meja dapur yang tinggi dan bagaimana cara aja mengoles selainya? Siapa yang membantu Ahza?

Ketika saya lihat, selai di rotinya memang minimalis. Agak sembarangan diolesnya, yaa khas olesan anak batita. Berantakan gitu lah ya.. >.<

Setelah rotinya habis, Ahza bilang kalau dia mau membuat roti lagi. "Oke," kata saya. Tak lama setelah Ahza keluar dari kamar, saya pun mengikutinya ke dapur. Dan yang saya lihat adalah Ahza menaiki bangku kecil di dapur dan meraih bungkus roti. Kemudian dia membuka tutup selai Nutella dan menggunakan pisau roti untuk mengoles selai ke roti.

Ketika itu, pilihan saya ada dua: berteriak panik sambil melarang Ahza menggunakan pisau atau membiarkannya dan menasehati di waktu yang lebih tepat. Karena saya penasaran, yang waktu itu saya lakukan hanyalah mengobservasi dan mengawasi Ahza. Ya walaupun pisaunya memang pisau kecil untuk roti, tetap saja saya dag-dig-dug, takut Ahza kenapa-kenapa.

Ternyata, setelah kejadian itu, Ahza menjadi lebih percaya diri untuk membuat roti sendiri. Saya pun berkata pada Ahza, "Ahza boleh mengoles selain sendiri, tapi pakai sendok aja, ya?". Kenapa pakai sendok? Karena nggak selamanya saya bisa mengawasi Ahza. Akan ada saat-saatnya saya nggak di rumah dan nggak bisa mengawasi Ahza menggunakan pisau atau barang-barang lainnya. Cari aman saja sih. Hehe..

Kesimpulannya, untuk menumbuhkan kemandirian pada anak memang dibutuhkan ketega(s)an. Namun, yang tak kalah penting, orang tua juga memerlukan kelegowoan hati untuk membiarkan anak mencoba sendiri. Ketika anak belajar makan sendiri atau ketika melakukan potty training, orang tua dihadapkan pada tantangan yang begitu besar untuk bersabar. 

Sepertinya berbagai jenis omelan sudah siap meluncur di ujung lidah. Apalagi ketika melihat lantai kotor karena makanan atau pipis. Duh, berjuta rasanya. Tapi orang tua harus tegar dan sabar, karena inilah tahap yang harus dilewati untuk melatih kemandirian anak.

Begitu anak merasa, "Yes, i can do it by myself!", percaya diri anak pun akan meningkat. Ya, kemandirian memang berbanding lurus dengan percaya diri. Jadi, nggak ada salahnya ya belajar bersabar untuk lebih banyak manfaat yang akan kita dapatkan. Insya Allah..

Semangat!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah

#Hari6
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Comments

Popular Posts

Institut Ibu Profesional