Makan Sendiri dan Kemampuan Menulis


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Ada beberapa ilmu dan fakta seputar pengasuhan dan pendidikan anak yang baru saya tahu ketika mengikuti Workshop Teknik Pengajaran Baca Tulis dengan Metode Montessori. Selain bagaimana teknik pengajaran baca tulis yang ternyata bisa begitu mengasyikkan, Mbak Vidya banyak menyisipkan tips dan triks bagaimana menyiapkan anak untuk membaca dan menulis.


Sharpen The Saw


Masih ingat Habit 7 dari Tujuh Kebiasaan Efektifnya Pak Stephen Covey? Yup, Sharpen The Saw. Pada habit ini, dijelaskan bahwa persiapan memerlukan waktu yang lebih panjang daripada aksi. Waktu yang panjang ini digunakan untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik, sehingga ketika waktunya tiba, kita bisa melakukan aksi dengan lebih efektif dan tepat sasaran.

Begitupun dengan kegiatan membaca dan menulis. Ternyata, kebiasaan parents jaman now yang ingin putra-putrinya bisa baca tulis sedini dan secepat mungkin adalah salah besar! Selain menyiksa anak, cara ini juga dinilai nggak efektif. Boro-boro menikmati, yang ada anak malah membenci baca tulis. Waduh!

Pada artikel kali ini, saya hanya akan membahas tentang kegiatan menulisnya saja ya. Mengapa? Ya, biar nyambung aja sama judulnya. Wkwkwk.. Apalah :P

Aktivitas Pramenulis


Jadi, seperti yang telah disampaikan di atas, mari kita asah gergaji! Gergaji di sini berarti menyiapkan si kecil untuk kegitan menulis. Aktivitas ini disebut dengan aktivitas pramenulis. Tipsnya adalah membuat si kecil asyik dan akrab dengan aktivitas-aktivitas ini dan niscaya akan lebih mudah bagi si kecil untuk belajar menulis 'beneran'.

Aktivitas pramenulis tersebut adalah:
  1. Mengeksplorasi alat tulis. Artinya, kalau di rumah ada tempat pensil atau sepaket pensil warna dan si kecil pengennya ngeberantakiiiin terus, berbahagialah, bu! Karena ternyata, inilah tahap awal dari aktivitas pramenulis. Bagaimana si kecil akan suka menulis, jika medianya saja tak mereka kenali. Biarkan mereka mengetahui bahwa pensil itu sulit dipatahkan, biarkan mereka mengetahui tekstur dan rasa dari serat-serat kayu pensil atau bagaimana tangan menjadi hitam ketika terkena pulpen dan seterusnya. Biarkan si kecil mengeksplorasi alat tulis dan mencoba berbagai macam jenis media menulis. Tak kenal maka tak sayang, kan, bu? :)
  2. Mencorat-coret secara acak. Nah, kalau sudah tahu bagaimana menggunakan alat tulis, si kecil mulai masuk ke fase ini. Pada fase ini, mereka mulai membuat coretan-coretan acak. Entah itu hanya titik kecil, atau coretan besar di dinding kamar, bahkan membuat ujreg-ujregan di kertas sampai bolong. Wkwkwk..
  3. Mencorat-coret menyerupai benda/huruf/angka. Pada fase ini, biasanya orang tua mulai GR (gede rasa). "Wah, anakku sudah bisa membuat huruf i" - padahal mah nggak sengaja. Atau, posting hasil coretan anak di medsos dan diberi caption, "Akhirnya anakku sudah bisa menggambar Mamanya". Padahal mah, entah maksudnya gambar apa. Hihi..
  4. Menggambar atau menulis benda/huruf/angka. Di fase ini, kreativitas dan kerendahan hati para orang tua untuk menanggapi hasil karya anak. Kata Mbak Vidya, pada fase ini jangan pernah menilai hasil karya anak dalam bentuk apapun, baik memuji berlebihan atau mengejek. Misal: jangan berkata, "Iiiih, bagus banget ya gambar jerapahnya! Anak pintar". Padahal itu gambar ibu. Dan ini terjadi pada Mbak Vidya. Lalu, apa dong yang bisa kita lakukan? Observasilah gambar atau tulisan anak dengan pertanyaan seperti, "Kakak pintar, apakah ibu boleh tahu, gambar apakah itu?", "Oh, gambar gajah, ya? Kalau gajah yang ada di kebun binatang kan ada telinganya, ya? Di gambar kakak, telinganya mana, ya? Dan seterusnya..". Gitu, bu.. Hihihihi..
  5. Menggambar obyek yang lebih kompleks. Setelah bisa mencorat-coret, akhirnya si khaecil akan bisa menggambar anggota keluarga inti yang sedang makan di restoran. Hore!
  6. Menulis nama sendiri. Nah, ketika si kecil sudah memasuki fase ini, selamat, bu! Artinya si kecil sudah siap berpetualang lebih jauh di dunia tulis menulis. Hehehe..
Lalu, mari kita munduuuur lagi ke belakang. Sebelum melakukan aktivitas pramenulis, ada hal-hal yang ternyata yang masih harus kita persiapkan, yaitu langkah pertama dari segala-galanya! Siapkan otot menulisnya!

Yup, otot apa saja yang harus dikuatkan? Ada dua hal, yaitu otot tiga jari dan pergelangan tangan. Ketika sudah kuat, anak akan lebih siap untuk melakukan aktivitas menulis. Pernah dengar anak yang mogok menulis di SD? Bisa jadi alasannya adalah karena otot-otot tangannya memang belum siap untuk menulis. Ah, kadang-kadang orang dewasa terlalu tegaan ya dengan si kecil. Huhu..

Menguatkan Otot


Ada beberapa kegiatan yang bisa dilakukan untuk menguatkan otot menulis anak:
  1. Meronce
  2. Menuang
  3. Meremas-remas spons
  4. Makan sendiri
  5. Mencuci piring
Wah, ternyata nggak sulit ya, bu? Malahan, aktivitas-aktivitas di poin 4 dan 5 memungkinkan untuk dilakukan setiap hari. Yuhuuuu, mari membiarkan anak makan sendiri! Hehehe..

Di usianya ke-3,5 tahun, Ahza masih sering disuapi. Sebenarnya bukan berarti Ahza nggak bisa makan sendiri, tapi agak malas makan sendiri. Siapa yang membuat malas? Orang tua di sekitarnya. Ya, demi alasan "supaya rumah nggak kotor", akhirnya kita menyuapi anak.

Duh, padahal ya, saya masih ingat betul, ketika Ahza masih 1,5 tahun, ia sudah bisa makan sendiri di Hokben. Saya ingaaat betul, karena sangat memorable untuk saya. Saya bangga banget waktu itu, karena ternyata, Ahza bisa makan sendiri. Di meja sebelah, ada anak seumuran SD yang masih disuapi oleh ibunya. Bangga bukan kepalang, kan?

Eh, sekarang? Malah disuapi terus. Zonk.. T_T

Jadi, setelah mengetahui bahwa makan sendiri itu sangat bermanfaat, saya akan kembali membudayakan makan sendiri pada Ahza. Pastinya harus mulai dari awal lagi, tapi bismillah, pasti kita bisa ya, kang! :)

Nah, bu, mulai hari ini, yuk kita biasakan si kecil makan sendiri yuk?

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak