Ketika Anak Suka Berteriak


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Semalam jadi malam kelabu untuk saya. Gara-garanya, Ahza nangis heboh di Metro. Kebetulan sedang ada Mak Uu, Wale, Om Aji, Om Alvin dan Teteh (ARTnya Bunda) di sana.

Nangisnya sepele sih, karena saya nggak mau bantu Ahza mengambil roti di atas microwave. Alasannya, karena Ahza menyuruh saya sambil teriak dan nangis. Oh, nggak bisa gitu sayangku..

"Kakang, bilang baik-baik ya, kang.. Ibu tunggu sampai nangisnya selesai, setelah itu ibu bantuin ambil roti," ujar saya pelan-pelan. Tapi ya gitu deh, drama ini berlangsung lama. Sekitar sejam lah. Haha..

Dan, orang-orang di Metro yang baru tahu gaya pengasuhan saya, syok. Semua berusaha membantu Ahza, tapi saya bilang, "Nggak usah ya, karena saya lagi ngajarin Ahza.".


Akhirnya saya dianggap menyiksa anak. Wkwk.. Oke, mulai baper. Nah, kalau sudah begini, harus ingat-ingat kisah Luqmanul Hakim, anaknya dan seekor keledai. Masih ingat kisah ini, kan? Ibrohnya adalah, 
bagaimanapun kita bertindak, baik, buruk, memanjakan anak, tegas pada anak dan banyak lagi, akan selalu mendapat komentar dari orang lain. Komentar ini datang dari orang-orang yang hanya melihat suatu kejadian dari sudut pandang mereka. Mereka nggak tahu apa yang kita alami atau apa sebenarnya tujuan kita melakukan hal itu.

Jadi, walaupun baper maksimal karena nggak ada yang ngebelain, tapi saya berusaha konsisten. Menunggu Ahza tenang, menunggu Ahza bisa berkata baik-baik. 

Akhirnya Ahza capek. Iya lah, kan dia anak manusia, bukan anak Superman yang nggak bisa capek. Hehe.. Setelah capek, mulai agak tenang. Setelah tenang, akhirnya saya bilang, "Makasih ya, sudah mau berhenti nangis. Bubu bikinin roti ya?"

Setelah dibikin, apa yang terjadi? Jeng, jeng, rotinya dianggurin dan asyik main lego. Hahaha. Padahal udah bikin orang serumah kebat-kebit dengerin doi nangis. Wkwk..

Menangani Kebiasaan Berteriak


Kenapa sih bilang baik-baik itu penting? Kenapa sih harus segitunya menunggu anak tenang baru dibantu? Sederhana aja sih, supaya terbentuk konsep di dalam dirinya bahwa meminta bantuan kepada orang lain itu harus dengan cara baik-baik. Poin selanjutnya, berteriak dan menangis ketika berbicara dengan orang lain bukanlah pilihan cara berkomunikasi yang bisa dilakukan. Lalu, anak juga harus paham bahwa orang lain tidak diteriaki dan orang lain tidak akan mengerti apa maksud anak ketika ia berkomunikasi dengan cara menangis.

Setuju nggak, bu?

Lalu, bagaimana cara menangani kebiasaan teriak-teriak ini? Yuk, kita coba cara-cara di bawah ini. Mudah-mudahan kita bisa menghilangkan kebiasaan buruk pada anak ini ya, bu..

  1. Introspeksi diri. Yup, saya masih yakin, kalau anak balita itu nggak punya maksud untuk membuat kesal orang-orang di sekitarnya. Apa yang ia lakukan adalah manifestasi dari apa yang ia rasakan. Introspeksi diri, mungkin saja ia berteriak karena mengalami sesuatu, frustasi karena dicuekin, lapar, baru bangun tidur atau malah meniru orang-orang di sekitarnya yang suka berteriak-teriak.
  2. Jangan marah. Sabar, bu. Jangan terpancing dengan teriakan si kecil. Ingat, kita orang dewasa dan mereka anak kecil. Sebagai orang dewasa, tanggapilah secara dewasa juga dan..
  3. Balas dengan perkataan yang lemah lembut. Jawab teriakan dengan nyantai. Lama-lama pasti mereka berpikir, "Yah, kok ibu nyantai sih, padahal aku udah teriak-teriak. Ya udah lah, aku juga nyantai juga,". Hihi..
  4. Tunggu sampai anak tenang. Sabar, bu. Lagi-lagi, memang jadi ibu itu kudu sabar! Tunggu sampai anak tenang dan bisa berkomunikasi dengan cara baik-baik. Setelah itu, baru ibu bisa membantu anak atau melakukan sesuatu sesuai kebutuhan anak.
  5. Mengalihkan perhatian anak. Well, kalau ke Ahza mah nggak pernah berhasil sih. Dia anaknya keukeuh dan pantang menyerah. Ketika satu tujuan belum tercapai, sangat mustahil untuk mengalihkan perhatian Ahza, kecuali ada fenomena yang WOW banget, seperti tiba-tiba ada mainan yang dia pengenin banget di depan matanya. Hahaha..
  6. Menerima. Ini resep self healing yang paling ampuh dalam setiap keadaan. Menerima dengan ikhlas memang benar-benar membantu kita untuk mengontrol perasaan dan menyipta kondisi kondusif untuk mengasuh.
Semoga kita selalu istiqomah untuk mengasuh anak ya, bu. Semoga suatu saat mereka menjadi manusia-manusia baik yang bertanggung jawab.

Mudah-mudahan si kecil nggak teriak-teriak lagi. Dan emaknya nggak gampang baper. Hahaha..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

#Hari7
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Comments

Popular Posts

Institut Ibu Profesional