Ibu, Perannya dan Apa yang Terpenting untuk Ibu


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Dulu, saya pikir menjadi ibu berarti mengubur dalam-dalam impian. Misalnya, untuk saya yang hobi banget belajar, saya harus mengubur dalam-dalam impian saya untuk bersekolah setinggi-tingginya, bekerja di ranah publik atau bermanfaat untuk banyak orang. Ah, sudahlah, selesai sudah semuanya, pikir saya waktu itu.

Ternyata oh ternyata, banyaaak sekali yang bisa kita eksplorasi dari peran seorang ibu. Kurikulum program studi apapun di seluruh dunia pasti nggak ada yang bisa mengalahkan kompleksitas, kelengkapan dan kemenakjuban kurikulum yang harus dipelajari untuk menjadi seorang ibu profesional.

Ya, untuk seseorang yang hobi belajar seperti saya, ternyata menjadi ibu itu membuka banyaaak sekali kesempatan untuk belajar. Banyak sekali hal-hal yang bisa dipelajari, mulai dari kehamilan, melahirkan, menyusui, cara merawat bayi baru lahir, merawat batita dan balita (bayangkan, setiap anak bertambah umur, berbeda pula cara perawatannya), mengasuh anak, mendidik anak dan wooow ada banyak banyak banyak sekali 'mata kuliah' lainnya.

Itu dari sudut pandang pengasuhan ya, belum lagi jika kita melihat dari sudut pandang ibu itu sendiri. Akan ada kurikulum khusus tentang bagaimana menjadi ibu yang bahagia, bagaimana menjaga kewarasan, bagaimana menjadi istri sholehah, dan bagaimana-bagaimana yang lain. Masya Allah, kompleks sekali bukan?

Saya sukaaa sekali mempelajari hal-hal baru dan percayalah, untuk orang-orang seperti saya, menjadi ibu berarti akan mempelajari hal-hal baru hampir setiap saat. 
Setiap anak menangis, alarm ibu akan menyala dan berkata, "Wah, akan dapat pelajaran apa lagi ya kali ini?". Setiap anak memeluk dan tertawa, alarm ibu akan menyala dan berkata, "Kali ini aku mendapat pemahaman baru bahwa anak ini suka sekali diperlakukan seperti ini,". Dan masih banyak lagi.

Jika dalam perkuliahan formal kita membutuhkan dosen atau bahkan profesor sebagai dosen dan tutor, berbeda halnya dengan perkuliahan seorang ibu. Kurikulum dan semua 'mata kuliah' bisa dipelajari dari hampir semua orang bahkan dari seorang anak sekalipun. Kita bisa belajar dari pengalaman orang tua kita saat mengasuh kita semua, kita bisa belajar dari pengalaman keluarga, tetangga, saudara sampai teman di komunitas. Ya, karena setiap orang itu unik, begitu pun dengan masalah yang dihadapi sekaligus solusi yang dilakukan. Nah, ini dia yang membuat kita kaya, karena kita bisa belajar dari banyak orang tentang banyak hal. Seruuu sekali!

Hari ini, saya mendapatkan banyaaaak sekali masukan positif. Mendapat banyak sekali booster luar biasa dari orang-orang luar biasa dan di-support oleh komunitas luar biasa! Saya catat di sini supaya ilmunya terikat ke hati dan pikiran, sekaligus bermanfaat untuk sidang pembaca yang berbahagia, ya! Mari kita mulai, bismillah..

Yang Terpenting adalah..


Sabtu, 9 Desember 2017 menjadi hari spesial untuk komunitas #ODOPfor99Days terutama untuk para kontributor buku 33 Kisah Me Time. Yuhuuu, hari ini kami me-launching buku Me Time Story (nama bekennya) di Auditorium Perpustakaan Jalan Seram Bandung. Tempat favorit untuk buku spesial kami!

Teh Shanty menyampaikan sambutan. Proud of yout, teh! :)

Diriku entah lagi apa. Wkwkw..

Setelah saya sedikiiiit sekali sharing tentang bagaimana menghindari depresi dengan me time produktif, Teh Elma melanjutkan dengan sharing tentang bagaimana mengenal me sebelum me time. Sebagai informasi, kedua materi ini pernah disampaikan secara online melalui Kuliah Whatsapp. Tapi, tahu nggak? Rasanya itu bedaaaa banget. Feel-nya benar-benar dapat! Keren!

Seperti biasa, Teh Elma mengedukasi kami semua tentang pentingnya mengenal diri sendiri, karena hal ini benar-benar memengaruhi cara kita menjalani kehidupan. Mengenal diri sendiri akan membantu kita menemukan peran kehidupan dan peran inilah yang nantinya akan menciptakan kebahagiaan hakiki di hidup kita. Memangnya ibu punya peran apa sih? Ibu mah ya gitu aja, beres-beres rumah aja, kan? Mari kita simak quotes yang disampaikan oleh Teh Elma,
"A mother is she eho can take the place of all others, but whose place no one else can take.."

Bayangkan! Ibu itu bisa berperan sebagai apapun, lho! Hebat, ya! Peran ibu sangatlah penting, jadi jangan remehkan peran kita sebagai ibu. Jadi ibu itu nggak hanya 'cuma'.

Teh Elma yang sungguh inspiratif

Oke, mari kita berlanjut ke bagian yang membuat saya cirambay (mata basah). Di sesi tanya jawab, Kak Ika (istri Kak Fadli) bercerita tentang bagaimana kehamilannya yang dirasakan sebagai hambatan untuknya bekerja dan mencapai target-target di hidupnya. Bagaimana kekhawatiran dan kegelisahannya setelah menjadi istri dan resign kemudian merasa powerless dan useless.

Cerita Kak Ika dijawab dengan pemaparan yang sangat indah dari Teh Elma. Dimulai dari bagaimana istimewanya ketika kita dilahirkan sebagai wanita. Wanita adalah pembuka jalan ke surga bagi sang ayah, saudara laki-laki, suami dan anak laki-laki. Maka, terlahir menjadi wanita saja sudah sangat mulia, apalagi menjadi ibu. Whuaa..

Lalu, menjadi ibu adalah kondisi puncak perempuan, baik dari segi fisik, perasaan, pikiran, potensi diri dan saatnya wanita menjadi bentuk terbaiknya dalam segala hal. Nah, untuk peran sepenting ini, apakah ada peran-peran lain yang bisa menggantikan?

Teh Elma pun bercerita tentang bagaimana ia melewatkan kesempatan untuk kuliah S2 di Jepang, menjadi staf bergengsi di ITB dan posisi menjanjikan di perusahaan. Pun saya, saya juga pernah (dan saya yakin, banyak wanita pun pernah) merasakan hal yang sama dengan Kak Ika. Tahun lalu sampai pertengahan tahun ini, saya masih keukeuh sumeureukeuh untuk melanjutkan studi saya ke S3. Lalu, saya berpikir, kok kayaknya jalannya buntu, ya? Ah, tapi pasti bisa! Itu pikiran saya sampai beberapa bulan yang lalu.

Tapi saya terus berpikir, terutama tentang motif utama saya melanjutkan studi. Untuk apa sih jadi doktor? Apa sih yang nggak bisa saya lakukan sekarang selagi gelar saya masih dua? Apa sih yang bisa saya lakukan ketika sudah menjadi doktor? Apa sih tujuan hidup saya? Akankah saya lebih bermanfaat ketika saya menjadi doktor? Sampai ke pertanyaan paling penting dan sebenarnya mendasar: apa yang akan Ahza dapatkan ketika saya menjadi doktor?

Lho kenapa Ahza? Setelah saya membaca buku Fitrah Based Education (yang benar-benar mengubah cara pandang saya terhadap visi misi kehidupan), saya yakin bahwa peran terpenting saya di muka bumi ini adalah menjadi fasilitator untuk Ahza. Bagaimana menjadi ibu yang baik untuk Ahza. Itulah peran utama saya sekarang sampai nanti.

Karena itu, saya kembali berpikir tentang jawaban pertanyaan tersebut. Dan akhirnya sampai pada titik, "Iya, ya, kenapa harus jadi doktor? Ada banyaaaak sekali hal dan kontribusi yang bisa saya lakukan tanpa status doktor. Ada banyaaaak sekali ilmu yang bisa didapat di luar kurikulum perdoktoran (ingat, kurikulum ibu itu jauh lebih kompleks!). Dan yang terpenting, menjadi doktor yang hebat dan bermanfaat untuk orang banyak belum tentu mengantarkan saya menjadi ibu dan fasilitator terbaik untuk Ahza. Deg!"

Jadi, yang terpenting untuk saya sekarang adalah bagaimana menjadi ibu yang bahagia dan waras, sehingga bisa mengasuh anak yang bahagia juga. Happy moms raise happy kids, right

Ketika ada yang menanyakan, "Apa sih hal yang terpenting dalam hidup kamu sekarang?" kepada saya, saya akan senang hari menjawab, "Hal terpenting untuk saya adalah menjadi ibu dan fasilitator terbaik untuk Ahza. Dan saya akan senang sekali jika ada seseorang, komunitas atau sesuatu yang bisa memfasilitasi saya untuk menjadi ibu profesional untuk anak saya." :)

Jadilah ibu dalam bentuk terbaiknya karena, "Sebenarnya kita itu sedang menabung trauma atau kenangan manis dengan anak-anak sih?", kata Teh Elma yang langsung menohok tajam ke jantung saya.. T_T

Kak Fadli (Kelas Inspirasi Lombok 4) dan istri

Para kontributor yang hadir (nggak lengkap euy!)

Berfoto bersama seluruh peserta

Stop Menyakiti Anak!


Setelah cirambay di Perpustakaan, saya langsung berpindah 'kerjaan' ke Hotel Serela Merdeka. Eh, iya lho, karena hari ini ada dua event yang sedang digarap oleh Make It Happen Organizer. Lumayan bikin ngos-ngosan, tapi hepi! :)

Di hotel, Mbak Vidya seakan melanjutkan apa yang telah saya dapatkan di Perpustakaan. Duh, kok bisa pas banget ya?

"Kita semua punya potensi untuk menyakiti anak. Ketika kita sudah tahu bahwa itu sadar, please stop! Jika kita tidak bisa berhenti menyakiti anak, pasti ada yang salah dengan kita. Cari akar masalahnya dan selesaikanlah! Lalu, bagaimana jika kita terlanjur menyakiti anak? Hentikan saat ini juga dan tumpuk memori buruk dengan memori-memori baik."

Berfoto bersama seluruh peserta Workshop Montessori

Ya  ampuuun, berasa banyaaak banget salah sama Ahza selama 3,5 tahun ini. Kira-kira Ahza mau nggak ya maafin ibu? Mudah-mudahan masih mau ya, Kang. Huhuhu..

Ah, rasanya masih banyak sekali yang ingin saya tulis. Tapi, apa daya, sepertinya energi saya harus di-charge dulu setelah seharian bekerja. Nanti kita lanjut lagi ya.. Insya Allah..

Semoga catatan ini bermanfaat!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Komentar

  1. Halo mba. Salut dengan ibu2 yang tak pernah berhenti belajar karena itu memberikan contoh yang baik ke anak juga ya mba. Aku juga terbersit ide seperti mba. Kenapa harus sampai doktor, walau sudah ditawarin juga. Mungkin belum saatnya bagiku mba

    BalasHapus
  2. 2 ilmu luar biasa dalam 1 hari. Seneng ya.

    BalasHapus
  3. Teh dece..keren...seneng banget berada digroup odop bisa kenalan sama teman2 yang menginspirasi.

    BalasHapus
  4. Teh deceee, kemarin itu meet up singkat tapi ngena banget. Kita sama-sama berjuang dengan cara masing-masing yang istimewa. Barakallah teteeh. Sukses yaa Make It Happen-nya :)

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah kita diberi jalan untuk saling berintrospeksi. Barakallahu fii umrik Teh Dece

    BalasHapus
  6. Luar biasa semangatnya, yuk ah aku jadi belajar lagi.

    BalasHapus

Posting Komentar

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Postingan populer dari blog ini

Cara Mudah Menambah Followers Onlineshop di Instagram

Bermain di Kid's Land Paris Van Java Mall Bandung

Haid saat Ramadhan? Yuk Lakukan 10 Amalan ini