Biarkan Anak-anak Mengganggu Shalat Kita


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Judulnya kontroversial?
Haha iya sih.
Coba dibaca dulu ya, siapa tahu bermanfaat.. :)

Tadi siang, tepatnya ketika melaksanakan ibadah shalat Dzuhur, ada kejadian yang lumayan bikin mata saya cirambay. Cirambay is berair, alias sedikit nangis. Hihi..

Sejak pagi, saya, Ahza dan Enin nongkrong di bengkel sambil nunggu Ceu Mira diservis. Setelah adzan Dzuhur berkumandang, saya pun langsung mengajak Ahza ke mushala yang letaknya agak di luar bengkel. Mushala ini selokasi dengan tempat istirahat staf. Cukup nyaman tapi tetap saja Ahza berkomentar, "Bu, ayo pergi, ini tempatnya menyeramkan!"

Tapi saya sudah terlanjur wudhu, lagi pula kan memang harus shalat. Jadi, saya meminta Ahza untuk sabar dan menunggu sambil main. Realitanya, baru sampai rakaat kedua, Ahza menarik jilbab saya. Benar-benar mengganggu, subhanallah..


Pilihan saya ada dua: menghardik sampai Ahza takut dan diam atau mencoba berbicara baik-baik. Yang jelas, saya harus shalat, karena wajib. Itu aja sih. Hehehe..

Lalu saya memilih pilihan kedua. Karena.. Ah, buat apa marah-marah..

"Ahza, kenapa?"
"Aku nggak suka di sini.."
"Tapi bubu harus shalat, sayang.."
"Nggak usah.."
"Nggak bisa.. Ahza mau digendong sambil ibu shalat?"
"Iya, mau.."

Waktu bayi, Ahza memang sering saya gendong ketika shalat. Kira-kira sampai umur dua tahun masih begitu.

"Ya udah yuk, bubu gendong.."

Akhirnya saya shalat sambil menggendong Ahza. Itu pun sebenarnya dia masih mengganggu. Ketok-ketok tembok, tarik-tarik jilbab, cekikikan dan lain-lain. Tapi saya mencoba fokus. Dan, mungkin  karena susah fokus, malah ada kilasan datang di pikiran saya.

Kilasan tentang cerita Ust. Harry Santosa ketika ia bercerita tentang bagaimana cucu-cucunya menaiki punggung Nabi ketika beliau sedang menjadi imam shalat. Saking lamanya beliau sujud -karena menunggu cucu-cucunya turun-, para makmum mengira bahwa Rasulullah sudah tiada. Masya Allah..

Dan, tahukah apa yang terjadi di masa depan? Cucu-cucu Nabi tersebut, Hasan dan Husein, dikenal sebagai pribadi yang gemar berlama-lama dalam sujud. Mereka begitu mencintai shalat.

Mengapa? Menurut Ust. Harry, karena sejak dini sudah tertanam dalam benak keduanya bahwa beribadah kepada Allah adalah sesuatu yang indah, jauh dari teror apalagi beban hidup.

Kecintaan pada agama, ibadah, Rasul dan Allah inilah yang sulit untuk ditumbuhkan, bahkan seringkali diabaikan oleh orang tua. Mereka lebih cenderung mengajarkan anak-anak mereka mengaji sedini mungkin, menghapal Al Quran sedini mungkin, shalat sedini mungkin dan banyak lagi. Padahal yang lebih sulit dan fundamental adalah bagaimana menumbuhkan kecintaan anak pada Allah dan RasulNya. Masya Allah..

Ya, saya terbersit kisah ini. Dan, perasaan kesal pun luruh. Saya ikhlas, saya menerima, bahwa saya seorang ibu dari balita yang aktif. Saya seorang ibu dari balita yang aktif, yang membuat ibunya kesulitan untuk shalat dengan khusyu atau sekedar ingin berdzikir setelah shalat. Saya seorang ibu yang untuk memiliki waktu berlama-lama dengan Al Quran pun agak sulit. Saya menerima.. Saya menerima..

Dan, ternyata benar kata orang. Ketika kita sudah menerima keadaan kita, hati pun lebih ringan. Segalanya menjadi lebih mudah.

Tahu apa yang terjadi? Sepertinya Ahza terjangkit rasa bosan dan minta turun dan saya pun bisa beribadah dengan tenang di sisa dua rakaat terakhir. Alhamdulillah..

Allah.. Allah..

Jadikan kami orang tua yang mampu membuat anak-anak kami mengenal Engkau sebagai Allah yang Maha Baik, Maha Indah, Maha Sempurna. Jauhkan kami dari sifat-sifat buruk di hadapan anak-anak kami, karena di mata anak, orang tua adalah cerminan Tuhan. Setidaknya, begitulah yang disampaikan Ust. Harry dalam buku Fitrah based Education.

Jadikanlah anak-anak kami penyejuk jiwa dan mata kami, sholehkan mereka, jadikanlah mereka paham akan peran mereka di bumi dan bisa bermanfaat untuk banyak orang. Aamiin..

Jangan marah, sabar..

Ah, terima kasih ya Allah untuk pelajaran berharganya hari ini..
Terima kasih, Gusti..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Gambar dari: hidayatullah.com

Comments

  1. Semoga anak-anak kita menjadi anak-anak yang cinta Allah dan RasulNya, menjadi anak-anak yang saleh dan salehah. Aamiin ^^

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts