Aku Bisa!


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Yeyeyelalala..
Alhamdulillah, akhirnya hidayah datang juga. Hidayah apa? Hidayah untuk mengisi blog ini dengan sesuatu yang bermanfaat. Nggak usah berpikir kejauhan, cukup sharing apa-apa yang saya pikirkan dan alami pun sebenarnya sudah sangat bermanfaat untuk kesehatan jiwa raga. Hehe..

Sebenarnya, sebulan belakangan ini saya sedang mengikuti kelas lanjutan dari Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP), yaitu Kelas Bunda Sayang atau biasa disingkat Kelas Bunsay. Kelas ini punya beberapa level, kalau nggak salah 12 level, dan saya sedang meniti tangga pertama di level 2. Semangat!


Motivasinya apa? Ya, karena saya yakin, seperti profesional lainnya, seorang ibu juga harus menempa dirinya dengan berbagai ilmu dan ujian sebelum menjadi ibu yang benar-benar profesional. Ibu profesional itu seperti apa sih? Mungkin banyak sekali definisi tentang ibu profesional, tapi menurut saya, ibu profesional adalah ibu yang bisa menjadi rumah bagi keluarganya. Menjadi tempat pulang yang menawarkan pelukan hangat setiap kali dibutuhkan. Satu lagi, ibu profesional adalah ibu yang mampu menjadi fasilitator terbaik untuk anak-anaknya dalam proses pencarian peran peradaban. Wuih, berat ya! Memang, itulah pentingnya menempa diri, seperti mengikuti Kelas Bunsay IIP ini.

Pada level 2, saya akan hijrah ke blog ini, setelah sebelumnya memposting di Tumblr. Alasannya, supaya blog ini nggak lumutan aja sih. Kasian, hehe.. 

Setelah materi level 1 yang sangat berfaedah, yaitu mengenai "Komunikasi Produktif", pada level 2 ini Kelas Bunsay menawarkan materi "Melatih Kemandirian Anak". Materinya cocok banget untuk saya yang memang punya tujuan untuk melatih kemandirian Ahza sejak dini. Bukan raja tega, tapi ratu tegas. Haha, bedanya apa? >.<

Selama minimal sepuluh hari ke depan, saya akan memainkan Tantangan 10 Hari "Melatih Kemandirian Anak" dengan mendokumentasikan proses yang saya lakukan terkait dengan kemandirian anak. Nah, kemandirian dalam hal apa sih yang akan saya latihkan pada Ahza? Nggak usah muluk-muluk, nggak usah berpikir jauh, saya memulai dari hal-hal yang sering kami jumpai sehari-hari saja.

Hal-hal yang akan saya latihkan adalah:
  • Menyimpan mainan pada tempatnya sebelum mengambil yang baru.
  • Menyimpan baju kotor di mesin cuci.
  • Menyimpan alat makan bekas pakai di tempat cuci piring.
  • Membereskan buku setelah dibaca.
Untuk usia Ahza yang 3,5 tahun ini, saya pikir keempat hal ini saja sudah cukup berat ya. Jadi, mari kita eksekusi dengan niat baik dan kesabaran ekstra tinggi. Hihihi..

Strateginya apa? Untuk strategi, saya setuju banget dengan apa yang disampaikan pada materi Kelas Bunsay ini. Ada tiga hal yang diperlukan ketika orang tua melatih kemandirian anak, yaitu:
  • Konsistensi
  • Motivasi
  • Teladan
Yang paling mudah tentu saja motivasi. Motivasi harus jelas, misalnya, saya ingin Ahza mandiri sejak kecil agar kelak bisa menjadi pria yang benar-benar dewasa, bukan pria dewasa yang kekanak-kanakan. Nah, yang agak lumayan sulit (tapi harus bisa dilakukan) adalah konsistensi dan teladan. Konsistensi terkait dengan tega(s) dan komunikasi. Hal ini tentu saja harus dilatih. Teladan? Whoa, ini dia yang perlu perjuangan.

Anak itu seperti spons, menyerap apa-apa yang ada di sekitarnya. Pun anak, mereka sangat cepat menyerap apa yang saya katakan dan lakukan. Aduh, padahal saya merasa belum menjadi pribadi yang baik, masa mau menuntut Ahza jadi anak yang sempurna? Harusnya kan memperbaiki diri dulu, kan? Nah, ini PR saya. Bismillah..

Pada minggu pertama ini, saya akan memulai latihan 'menyimpan mainan pada tempatnya sebelum mengambil yang baru' yang sebenarnya paling saya takuti. Haha.. Tapi, kita nggak pernah tahu sebelum mencoba, kan?

Jadi, ayo semangat! :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

#Hari1
#Tantangan10Hari
#Level2
#KuliahBunSayIIP
#MelatihKemandirian

Comments

Popular Posts

Institut Ibu Profesional