#SingleParenting : Tentang Sosok Ayah


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Ada seorang ibu yang pernah bertanya pada saya, "Teh, bagaimana ya caranya supaya saya bisa membesarkan anak-anak saya sendirian? Bapaknya nggak pernah ngurusin, jadi saya pengen biar saya aja yang ngurusin mereka,". Waduh, punten, sepertinya saya bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini. 

Kenapa? Bukannya saya ibu tunggal yang mana membesarkan anak tanpa pasangan? Memang benar, tapi saya memiliki prinsip bahwa sosok ayah adalah harga mati, hal yang mutlak yang dibutuhkan oleh setiap anak. Sesuai fitrahnya, anak membutuhkan sosok ayah dan ibu secara berimbang. Bukan hanya ibu saja, atau ayah saja. 


Saya yakin, hanya anak-anak yang memiliki sosok ayah dan ibu yang akan tumbuh menjadi manusia yang bahagia. Yup, bagi saya, sehebat-hebatnya ibu, tetap saja ada beberapa peran yang hanya bisa dilakukan oleh ayah dan anak-anak sangat membutuhkan sosok itu untuk menunjang tumbuh kembangnya dengan baik.


Kali ini, saya akan mencatat hasil konseling kelompok antara teman-teman Single Moms Indonesia dengan Mbak Fitri Ariyanti, psikolog keluarga dan penulis buku ‘Bukan Emak Biasa’. Semoga bermanfaat! :)


Tentang Sosok Ayah


Semua berawal dari penelitian yang dilakukan ketika Perang Dunia Kedua. Ketika itu, banyak anak kehilangan ayah karena pria-pria dewasa dikirim untuk berperang selama bertahun-tahun. Anak-anak ini kemudian dijadikan objek penelitian, bagaimana dampak ketiadaan sosok ayah untuk anak-anak ini. Seberapa besar dampaknya?

Ternyata hasil penelitian memperlihatkan bahwa anak-anak yang tidak memiliki sosok ayah ini terbagi menjadi dua kategori. Kategori anak-anak yang tumbuh menjadi anak-anak broken home dan kategori anak-anak yang tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang tidak bermasalah. Kesimpulan yang didapatkan dari penelitian tersebut adalah tidak selamanya anak yang tidak memiliki sosok ayah menjadi anak broken home dan ketiadaan figur ayah tidak selalu berhubungan dengan munculnya anak-anak bermasalah.

Figur ayah sendiri dapat dibedakan menjadi dua jenis. Figur seksual dan figur gender. Figur seksual sangat dibutuhkan anak dan tidak tergantikan. Figur ini bertanggung jawab untuk menumbuhkan fitrah seksual pada anak. Memberi pengetahuan dan pengalaman kepada anak seputar seksualitas adalah tugas utama figur ini.

Figur yang kedua adalah figure gender. Fitrahnya, setiap manusia memiliki dua sisi gender, yaitu maskulin dan feminin. Baik pria maupun wanita, masing-masing memiliki kemaskulinan dan kefeminimannya masing-masing. Tidak seperti figur seksual yang tak tergantikan dan harus diwakili oleh sosok pria dewasa, figur gender dapat diwakili oleh ibu. Ibu dapat menunjukkan sisi maskulinitasnya dengan cara mencontohkan anak untuk bertanggung jawab, mencari nafkah, menjadi tulang punggung, membuat keputusan dan lain-lain, untuk memenuhi kebutuhan anak akan sosok maskulin.

Dari kedua figur ini dapat disimpulkan bahwa memang harus ada sosok pria dewasa yang keberadaan fisiknya mampu dirasakan oleh anak dan mampu memenuhi kebutuhan anak atas sosok ayah. Lantas, apa yang harus dilakukan ibu untuk menghadirkan sosok ayah ketika sosok fisiknya tidak mampu dihadirkan secara langsung? Berikut adalah beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk anak-anak kita:
  1. Carilah figur laki-laki dewasa untuk anak kita dan akadkan anak-anak kita pada sosok tersebut. Sosok tersebut bisa diwakiliki oleh saudara laki-laki kita, paman, kakek, atau kerabat yang bersedia diakadkan dengan anak kita. Diakadkan di sini maksudnya adalah bagaimana si anak dan sosok pria tersebut saling tahu sama tahu bahwa si anak bisa mendapatkan perlindungan dari orang tersebut. Karena hakikatnya, sosok ayah adalah sosok pria dewasa yang siap melindungi anak. Sosok ini pun nantinya akan bertanggung jawab untuk menjadi figur seksual dan gender untuk memenuhi kebutuhan anak akan kedua figur tersebut.
  2. Ibu bisa menjadi role model bagi maskulinitas yang bisa ditiru oleh anak-anak kita. 
  3. Yang terpenting adalah adanya rasa pengakuan dan penerimaan bahwa kehidupan kita dan anak-anak tidak ideal. Mungkin kita tidak seperti keluarga lain yang tinggal dalam satu atap dengan anggota keluarga yang lengkap. Tidak ideal, tapi bukan berarti buruk dan tidak bisa bahagia. Ingat bu, ambillah keputusan yang konsekuensi paling mampu ibu jalani. Jangan memilih jalan yang dirasa tidak mampu ibu lewati.

Menjaga Hubungan Ayah dan Anak


Ada banyak orang yang bertanya pada saya bagaimana hubungan Ahza dengan ayahnya. Jawabnya, baik-baik saja. Hehehe..

Alhamdulillah, bulan Agustus yang lalu, Ahza sempat bermain di Bogor, di rumah nenek kakeknya, orang tua ayahnya. Yang namanya sedarah, selama apapun nggak berjumpa ya langsung nempel aja. Nggak ada acara merajuk lama-lama. Syukurlah.

Selama ini saya menjalankan dua prinsip:
  • Jujur. Jujurlah apa adanya pada anak. Jawab pertanyaan anak sesuai dengan umurnya.
  • Berkata yang baik atau diam. Jangan pernah bercerita tentang kejelekan ayahnya, walaupun ada rasa gimanaaa gitu ketika anak membangga-banggakan ayahnya. Stay cool, karena anak itu pintar. Ia tahu siapa yang selalu ada untuknya. Pokoknya happy aja ya, bu.. :)
Ah, sekian dulu ya #SingleParenting kali ini.
Semoga bermanfaat!

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Jujur. Itu hal yang sangat penting. Menjelaskan sesuatu sesuai perkembangan umur anak, akan membuat pola berpikirnya menjadi lebih terarah.

    Kehadiran orangtua yang lengkap memang berpengaruh pada perkembangan kepribadian seorang anak. Namun menjadi single parent bukan berarti akan menjadikan anak yang berkepribadian sosial tidak baik.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional