Kenalan dengan Marah dan Penyebabnya, Yuk!


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Hari Minggu, 8 Oktober 2017 yang lalu menjadi hari spesial untuk Ahza dan saya. Spesial untuk Ahza karena hari itu adalah kali pertama dia nge-camp ceria dengan ayahnya. Dan untuk saya, hari itu jadi spesial karena bertemu dengan Bubu Wiwik. Ahay..

Jadi ya, saya tuh ngefans banget sama Bubu. Bubu itu ibu yang sabaaar, kreatiiiifff, pinteeeer banget. Udah gitu, aktif pula di komunitas dan sering jadi pembicara di mana-mana. Dan, yang paling bikin saya sayang sama Bubu, karena Bubu itu care banget orangnya. Maklum, jarang ada yang care sama saya, wkwkwk.


Nah, kemarin, Bubu mengisi kajian dengan tema Manajemen Emosi dalam Pengasuhan Anak. Kajian yang diadakan di Kawaluyaan ini juga mengangkat tema tentang Emotional Healing di sesi kedua yang dibawakan oleh Teh Shinta. Ah, Teh Shinta juga ibu yang sangaaat inspiratif. Ibu yang setrooong dan hebat! Masya Allah. rezeki banget yaa bisa kenal dengan ibu-ibu hebat seperti mereka.

Kali ini saya akan mendokumentasikan kajian kemarin di blog supaya.. Supaya nempel aja, nggak tiba-tiba hilang bersama ingatan dan kenangan. Hihi..

Manajemen Emosi dalam Rumah Tangga


Emosi itu apa sih? Definisi emosi bisa kita lihat di KBBI atau referensi lain dari sisi psikologis. Sederhananya, emosi itu adalah
manifestasi perasaan yang disertai gejala fisiologis karena ada peristiwa yang menimpanya.

Dari definisi ini, ada tiga poin penting:
  • Manifestasi perasaan, yang berarti bahwa emosi itu nggak melulu tentang marah. Sedih, bahagia, kesal, terharu adalah beberapa jenis emosi yang sering kita alami.
  • Gejala fisiologis. Jika selama ini kita berpikir bahwa emosi itu hanya tentang kondisi psikologis, ternyata emosi juga mempengaruhi fisiologi kita lho. Contohnya, ketika kita takut, secara fisiologi kita akan mengalami: bulu kuduk berdiri, merinding, keringetan, deg-degan, dan masih banyak lagi.
  • Ada peristiwa yang menjadi pemicu. Nah, jadi kita nggak ujug-ujug merasakan emosi, tapi pasti ada sebabnya. Apakah yang menjadi pemicu emosi kita? Yuk, baca sampai selesai ya kakak! :)

Apa Sih yang Menyebabkan Kita Marah?


Hayo, siapa yang nggak pernah marah? Ada? Ada? Ih, pasti bohong iiih.. Jangankan kita yang manusia biasa, Al Qur'an saja mendokumentasikan beberapa Nabi yang pernah marah. Nah, jadi buibu, marah itu normal, sekali lagi, normal ya.. Marah itu wajar jika bisa dikendalikan, bukan dipendam atau dilampiaskan.

Marah menjadi nggak wajar ketika:
  • Bersifat destruktif (berkata kasar, merusak benda, menyakiti orang lain) 
  • Sedih berlarut-larut
  • Melarikan diri dengan narkoba atau gadget, atau
  • Menjadi dendam.
Nah, jadi, apa sih yang menyebabkan kita marah? Kalau saya nih ya, saya pasti marah kalau apa yang menjadi realita tidak sesuai ekspektasi (kesal tiada tara) ataaau Ahza ngelakuin apa-apa yang sudah kami sepakati untuk nggak dilakukan (tapi kan anak kecil yaa..) atau ketika Enin sibuuuuk sekali dengan gadget atau drakor. Wkwkwk, sepele ya..

Secara garis besar, ada hal-hal yang bisa memicu kemarahan kita, yaitu:
  • Kenyataan tidak sesuai harapan
  • Melanggar alarm tubuh (ketika capek atau lapar, pasti bawaannya pengen marah-marah, kan?)
  • Ada masalah yang belum selesai atau unfinished business. Bisa juga berupa luka batin yang tersimpan lama.
Jadiii.. Faktor-faktor pemicu ini nantinya akan menyebabkan kita stres, emosi dan marah. Nantinya, ketika kita stres, tubuh akan menghasilkan hormon stres yang bisa memengaruhi kondisi fisiologis kita dan juga memengaruhi sistem kerja organ tubuh kita, seperti kulit, sistem pencernaan dan banyak lagi. Faktanya, 80-90% penyakit itu disebabkan karena stres atau pikiran dan disebut sebagai psikosomatis. Hayo loh, 80-90% lho.. Berarti, pikiran itu benar-benar memengaruhi kesehatan kita ya, bu!

Contohnya ya, bu.. Dulu, setiap mau ujian, saya pasti sakit. Sakit panas, tipes, radang tenggorokan, dan lain-lain. Setelah dipikir-pikir, mungkin itu karena saya stres mau ujian ya. Hihi.. Ada juga beberapa orang yang saya kenal baik, yang akan mengalami sakit maag akut ketika mereka punya masalah. Duh..

Jadi, sebenarnya, Allah itu memang Maha Baik, ya.. Sebenarnya marah itu adalah alarm dari Allah agar kita segera menarik diri, supaya kita nggak khilaf. Tapi sayangnya, alarm ini malah sering kita abaikan. Marah, malah ngomelin anak. Marah, malah banting-banting barang. Marah, malah pundung.

Mengenali Akar Masalah


Kalau bisa diibaratkan, marah itu seperti fenomena gunung es. Marah itu hanya puncak gunung es yang ternyata hanya sebagian kecil dari gunung es raksasa. Marah itu hanya puncak, hanya permukaan. Coba kita lihat yuk, apa sih yang nggak kelihatan dari gunung es ini?

Angry Iceberg
Sumber: https://www.gottman.com/blog/the-anger-iceberg/

Nah, keliatan ya, ternyata ada banyak hal yang harus dipahami jika kita ingin menghapus kemarahan kita. Marah adalah manifestasi dari perasaan yang kita pendam selama bertahun-tahun. Dan di bagian paling bawah dari gunung es ini ada yang disebut akar masalah. Akar masalah ini adalah
pertama kalinya dalam hidup, ketika kita merasa tidak nyaman atau terpukul sehingga tersimpan di belief system kita.

Contohnya seperti ini. Kita sering marah kalau anak-anak kita susah makan. Marahnya kenapa sih, bu? Oh, mungkin takut anaknya kelaparan, takut kurang gizi, takut nggak bertumbuh. Tapi, ternyata, akar masalahnya bukan itu. Ternyata, si ibu ini pernah dimarahi mertua karena nggak becus ngurus anak. Dari situ ada perasaan yang terpendam yang dimanifestasikan menjadi marah pada anak. Sudah terbayang ya?

Nah, jika melihat lebih jauuuuuh ke belakang, bisa jadi ada unfinished business di masa lalu kita, di masa kecil kita. Yuk, coba diingat-ingat, apa sih yang paling diingat dari masa lalu kita?

Jika dulu ketika kecil kita memiliki trauma terhadap suatu kejadian, bisa jadi ada unfinished business yang mengganggu dan menjadikan inner child kita merespon keadaan saat ini. 

Inner Child


Saya yakin, teman-teman pasti sudah akrab ya dengan istilah Inner Child (IC) ini? Saya sendiri baru mengetahui istilah ini dari Bubu dan Pak Supri. Hmm, membahas ini agak membuat bulu kuduk saya berdiri, karena berbau-bau abstrak, tapi benar adanya. Maksunya, Bu Elly Risman saja mengakui jika IC ini bisa menjadi faktor mengapa ibu emosi pada anak dan seterusnya.

Jadi, apa sih IC ini? Untuk tahu detil tentang IC, mangga diklik tautan ini yaa >> Inner Child, Yayasan Kita dan Buah Hati

Sederhanya, IC adalah anak kecil yang hidup di dalam diri kita. Tuh, kan, apa saya bilang. Ngeri kan, wow! >.<

Anak kecil ini adalah sosok kita ketika kecil. IC ini bisa jadi merespon apa yang kita alami saat ini. IC lahir karena dipicu oleh akar masalah. Misal, mengalami kekerasan waktu kecil, pernah kecelakaan waktu kecil, pokoknya sesuatu yang traumatis ketika kecil.

Jadi, bisa jadi mengapa kita manjanya nggak ketulungan, nggak bisa bertanggung jawab, suka marah-marah, suka takut berlebih, itu bukan karena sifat kita memang begitu, tapi karena IC yang benar-benar menguasai diri kita. Membajak pikiran kita. Ngeri, ya? Huhu..

Mari Benahi Belief System Kita!


Yang dimaksud dengan belief system adalah landasan keyakinan yang melatarbelakangi seseorang bersikap dan berperilaku. Belief system ada di pikiran bawah sadar, jadi kita nggak bisa mengontrol dengan sesuka hati.

Misalnya, ada anak yang dididik dengan kekerasan. Orang tuanya sudah biasa main pukul untuk mendidik anak tersebut. Dari sini, terbentuk belief system bahwa memukul orang lain itu nggak apa-apa, wajar. Nah, ketika ia dewasa, memukul akan menjadi alat komunikasinya untuk mengungkapkan emosi. Kenapa? Ya karena di belief systemnya memang sudah di-setting seperti itu. Huhu..

Jadi, apa yang bisa kita lakukan ketika belief system kita memengaruhi kondisi kita sekarang yang suka marah-marah ini?

Pertama, bangun kesadaran. Sadari, akui, bahwa kita sering marah-marah. Kita sering sengcok, senggol bacok, ceunah.

Kedua, setelah ada kesadaran, mari kita restukturisasi belief system kita. Caranya:
  • Jujur, mengakui.
  • Cari alasan kuat, mengapa kita ingin berubah menjadi jiwa-jiwa yang lebih sehat, insya Allah.

Tentang Self Healing


Setelah memaparkan seluk belum emosi, khususnya marah, Bubu juga memberikan sharing tentang perjalanannya melakukan self healing. Duh, saya jadi terharu sepanjang Bubu cerita. Kenapa? Karena Bubu seperti membahasakan apa-apa yang selama ini saya lakukan tapi saya nggak ngerti lagi ngapain. Bingung, kan?

Bubu bercerita bagaimana perjalanan traumatisnya, bagaimana akhirnya ia berkeluarga dan bagaimana perjalanannya mencari metode self healing yang paling cocok dengannya. Ada beberapa catatan yang disampaikan Bubu berkaitan dengan self healing ini:
  • Yang namanya self healing ini kan benar-benar berkaitan dengan diri sendiri, jadi, terapi akan spesifik ke setiap orang. Orang yang satu akan berbeda dengan yang lain.
  • Ada banyak metode self healing. Coba deh googling, niscaya kita akan mabok informasi. Nah, resapi, baca semua, dan temukan mana yang paling pas untuk kita.
  • Mencari bantuan. Carilah instruktur self healing yang bisa membantu kita dalam melakukan terapi.
  • Move on! Tuh, kata saya juga move on, sis! Hehehe.. Caranya, yakini bahwa ada hikmah di balik semua masalah dan plis, jangan pernah bandingkan kehidupan kita dengan kehidupan orang lain.
  • Take action. Ketika sudah belajar self healing, jangan malas untuk berlatih.
  • Kita pasti bisa berubah!
  • Berlatih dan evaluasi. Buatlah daftar apa-apa saja yang membuat kita marah.
Nah, salah satu self healing yang bisa kita praktekkan adalah dengan metode DEPTH. Teman-teman yang ingin tahu tentang metode ini, bisa menghubungi Teh Shinta. Bisa follow dulu instagramnya di sini >> Instagram Teh Shinta.

Narasumber-narasumber inspiratif
Sumber: instagram Teh Shinta

Saya juga penasaran dengan DEPTH ini, jadi besok saya janjian dengan Teh Shinta untuk berkonsultasi. Hihi.. Mudah-mudahan bisa share di blog juga, ya.. 

Sekian dulu catatan singkat saya tentang kajian Manajemen Emosi dalam Rumah Tangga. Semoga bermanfaat, yaa! :)

Salam jiwa sehat,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Aku masih sering tidak bisa mengendalikan emosi. Terkadang terlalu perfeksionis dan suka ngatur, tersebab dari kecil terlalu sering mendapat perlakuan 'tidak boleh', tentang apapun. Hiks. Kebawa sampe sekarang :(

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional