#SingleParenting : Me Time, Yes! Depresi, No!



Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Hari Kamis dan Jumat kemarin, tim Me Time Story, komunitas One Day One Posting, menyelenggarakan Kuliah Whatsapp (KulWap) dengan tema "Me Time, Yes! Depresi, No!". Narasumbernya tak lain dan tak bukan yaitu saya sendiri. Wkwkwk.. Bukan bermaksud menggurui atau apa. Saya sengaja memilih tema ini karena memang punya pengalaman tentang mencegah depresi dengan me time dan alhamdulillah efektif. 

Jadi, daripada berakhir di file laptop, saya simpan materinya di blog aja, ya! Hehehe.. :)

Depresi, Siapakah Dia?

Yuk, kenalan dengan depresi! 
Semakin kita mengenali, semakin kita tahu cara mencegahnya. Dan jika ternyata kita sedang menderita depresi, dengan lebih mengenali hal-hal mendetail tentang depresi, diharapkan kita bisa tahu cara terlepas dari jeratan depresi. Tak kenal maka bahaya!


Berdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (Edisi ke-4), depresi didefinisikan sebagai gangguan kejiwaan yang ditandai dengan kehadiran mood negatif (bad mood) atau berkurangnya kemampuan untuk mengalami kebahagiatan selama setidaknya dua minggu. Setelah gejala utama tersebut, biasanya penderita juga akan menunjukkan setidaknya empat gejala tambahan seperti perasaan tidak dihargai atau rasa bersalah, gangguan tidur, kegelisahan  atau berkurangnya kemampuan untuk berkonsentrasi.

Bad mood, sedih dan galau adalah hal biasa yang terjadi di keseharian kita. Namun, jika selama bad mood atau kesedihan melanda selama berminggu-minggu bahkan berbulan dan menahun, ibu harus waspada dengan kemungkinan depresi. Cara membedakan sedih ‘biasa’ dengan sedih depresi cukup mudah. Jika kondisi psikis kita sangat mengganggu tidur, selera makan, cara kita berinteraksi dengan orang lain sampai cara kita memandang kehidupan, langsung hubungi dokter atau psikolog untuk penanganan depresi.

Parahnya lagi, depresi adalah kontributor terbesar pada keputusan seseorang untuk bunuh diri. Ya, penyakit yang tak bersuara, tak terasa nyerinya namun sangat mematikan itu bernama depresi.

Bagaimana Gejala Depresi?


Sekilas Fakta Tentang Depresi

Beberapa waktu yang lalu Indonesia digemparkan dengan begitu banyak berita bunuh diri yang dilakukan di berbagai tempat oleh beragam kalangan masyarakat. Mulai dari yang tidak terkenal dan hidup menyendiri, sampai artis dunia dengan jutaan fansnya!

Ini baru satu fakta tentang depresi. Ada beberapa fakta menarik lainnya tentang depresi yang harus ibu tahu:
  • Wanita berpeluang dua kali lebih besar mengalami depresi dibandingkan dengan pria.
  • Depresi adalah gangguan kejiwaan yang paling lazim ditemukan di seluruh dunia sekaligus paling melemahkan.
  • Depresi adalah satu dari lima penyebab utama dari disabilitas dan penyakit di seluruh dunia.
  • Setiap orang memiliki peluang untuk mengalami depresi, namun memiliki kemampuan berbeda untuk bertahan dari depresi.

Bagaimana, bu? Semoga kita tidak menyepelekan depresi karena bahayanya ada di sekitar kita ya, bu..

Depresi dan Wanita

Seperti yang telah disampaikan di atas, ada banyak penelitian yang menyatakan bahwa wanita berpeluang dua kali lebih besar menderita depresi dibandingkan pria. Terdapat beberapa faktor yang memengaruhi hal tersebut, antara lain
  • Faktor Reproduksi

Qadarullah, wanita diberi banyak keistimewaan oleh Allah, termasuk memiliki fase-fase reproduksi yang meliputi menstruasi, kehamilan, kelahiran dan menopause. Fase-fase inilah yang memiliki kontribusi tertinggi atas tingginya tingkat depresi pada wanita. Beberapa bukti menyatakan bahwa homon estrogen berpengaruh pada sistem neurotransmitter. Bahkan, berdasarkan data dari WHO, kondisi postpartum depression dialami oleh sekitar 6% populasi dunia.

Bisa dikatakan, kesedihan yang kita alami ketika PMS adalah miniatur dari depresi. Bahkan, bagi beberapa individu, PMS dapat menyebabkan gangguan emosi yang begitu besar dan sangat mengganggu. Pun ketika kita mengalami perasaan yang sangat sensitif ketika kehamilan, baby blues ketika pasca melahirkan atau coba tanyakan kepada ibu-ibu kita bagaimana rasanya bulan-bulan pertama ketika datang masa menopause.

  • Peristiwa pemicu stress dalam kehidupan

Ternyata peristiwa-peristiwa yang memicu stress juga sangat berpengaruh terhadap peluang wanita mengalami depresi. Dimulai ketika seorang gadis mengalami puber, ia terbebani dengan problem seperti “Ah, aku harus punya baju model terbaru!”, “Bentuk badanku nggak oke, nih!”, “Kenapa aku nggak bisa seperti kelompok gaul itu, ya?” dan lain sebagainya yang jarang dialami oleh pria.

Contoh lain dari peristiwa stressful adalah kenangan akan pengasuhan masa kecil yang traumatik atau kekerasan yang pernah dialami ketika kecil. Sayangnya, wanita pun lebih berpotensi untuk mengalami peristiwa traumatik ketika dewasa, seperti kekerasan seksual atau penyerangan fisik dibandingkan pria. Wanita juga lebih berpeluang mengalami stress yang lebih besar ketika mengalami peristiwa-peristiwa seperti menjadi orang tua tunggal, sakit berat atau merawat keluarga yang sakit.

Tak kalah penting, kemiskinan juga menjadi faktor dominan yang bisa memicu depresi. Ketakutan wanita akan malgizi yang dialami keluarganya, isolasi sosial, sulitnya akses pendidikan, dan lain-lain meningkatkan peluang wanita mengalami depresi.
  • Faktor genetik
  • Faktor sosial
  • Dan faktor-faktor lainnya

Kabar baiknya, walaupun wanita berpeluang lebih besar mengalami depresi, tapi ternyata wanita cenderung mencari bantuan kepada ahlinya, sedangkan pria cenderung ‘lari’ kepada hal-hal seperti alkohol, obat-obatan terlarang dan sejenisnya. Hal ini pula yang menyebabkan tingkat bunuh diri pria lebih besar dibandingkan wanita. 

Penyembuhan

Bersyukurlah ketika ibu sadar jika ibu menderita depresi. Lebih lebih jika ibu sudah mengenali gejala-gejala depresi dan segera ‘ngeh’ sebelum kondisi bertambah buruk. Namun, jika ibu sudah terlanjur menderita depresi, ada beberapa pengobatan yang bisa dilakukan oleh ibu, tentunya di bawah pengawasan dokter atau psikolog ya, bu J
  • Segera temui dokter atau psikolog yang dapat membantu ibu. Teman mungkin bisa membantu ibu untuk mengeluarkan uneg-uneg, namun tidak bisa membantu menyembuhkan depresi.
  • Mengonsumsi obat-obatan anti depresi. Beberapa teman mengonsumsi obat-obatan anti depresi yang diresepkan oleh dokter mereka dan merasa jauh lebih baik setelah mengonsumsi obat-obatan tersebut. Ada yang memerlukan waktu beberapa bulan dan ada pula yang memerlukan waktu menahun, sesuai dengan tingkat depresi yang dialami.
  • Melakukan sesi psikoterapi dengan psikolog dan terapi simulasi otak adalah dua opsi lain dari obat anti depresi yang biasanya diberikan oleh dokter atau psikolog untuk menyembuhkan depresi.
  • Melakukan self healing. Kini, ada beragam self healingyang bisa dicoba oleh ibu. Saya sendiri sampai saat ini mempraktekkan Trauma Release Exercise (TRE) untuk menjaga agar kondisi psikis saya tetap sehat. Walaupun self healing dilakukan diri sendiri, namun untuk mempelajarinya tetap dibutuhkan bantuan dari pelatih tersertifikasi.
  • Mendekatkan diri kepada Allah Swt. Belajar percaya bahwa ketetapannya pasti yang terbaik, walaupun saat ini kita belum dimampukan untuk mengetahui maksud dari peristiwa yang ditakdirkan untuk kita. Kita bisa merutinkan puasa, shalat sunnah, ibadah malam, shalawat dan dzikir untuk membuat hati semakin tenang.

Boleh saya titip pesan, bu? Jika ada saudara atau kenalan yang mengalami depresi, tolong jangan katakana hal-hal seperti, “Tenang, semua akan baik-baik saja”, “Kamu kurang bersyukur sih, jadinya seperti ini!”, “Ah, kamu mah lebay banget, gitu aja stress!” dan judgement lainnya, karena percayalah bahwa hal itu tidak sedikitpun dapat membantu penderita depresi. Sebaliknya, ibu bisa mencoba untuk menjadi pendengar setia (ingat, mereka tidak butuh komentator), membuat mereka sibuk dengan hobi mereka atau sekedar memeluk dan menyentuh mereka J

Pencegahan

Setelah berkenalan dengan depresi, yuk cari tahu bagaimana mencegah depresi! J
  • Cara pertama adalah dekatkan, dekatkan dan dekatkan diri kepada Sang Pencipta. Klise, tapi semakin banyak mengingat Allah, insya Allah hati kita menjadi semakin tenang.
  • Mencoba mencari sisi positif dari setiap kejadian. Seorang bapak pernah memberi resep menjalani hidup dengan tenang, yaitu: berkhuznudzon terhadap ketetapan Allah. Duh, susah ya, bu. Yuk, sama-sama pelan-pelan belajar..
  • Membuat goal setting. Kalau punya banyak waktu, ibu bisa membuat dream book berisi impian-impian yang ingin dicapai selama hidup. Jika terbatas, ibu bisa menulisnya di selembar kertas dan membaginya menjadi beberapa periode (misalnya: Target 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun, dst). Fungsinya untuk apa, bu? Dengan membuat goals, maka kita akan disibukkan untuk mencapai impian-impian kita dibandingkan memikirkan kesulitan dan kesedihan yang pasti tak pernah berhenti datang di kehidupan kita.
  • Jangan pernah sendiri. Penyendiri berpeluang lebih besar terkena depresi. Bersosialisasi, berkomunitas. Ajak anak-anak pergi beraktivitas ke luar rumah, bertemu banyak orang, mengerjakan hal-hal baru. Atau ibu juga bisa mengikuti beragam komunitas online sesuai minat ibu. Berteman dengan sebanyak-banyaknya orang. Siapa tau bisa jadi jalan rezeki juga, kan? J
  • Untuk ibu-ibu yang baru melahirkan, komunikasikan pada keluarga sejak jauh-jauh hari sebelum melahirkan, bahwa kelak ibu memerlukan istirahat pasca melahirkan. Jangan sungkan meminta bantuan pada keluarga untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Ingat bu, hanya ibu bahagia yang bisa menghasilkan ASI berlimpah dan memenuhi kebutuhan bayi.
  • Memiliki me time yang berkualitas.


Depresi dan Me Time

Salah satu penyebab depresi pada wanita adalah perasaan merasa tidak berguna dan powerless. Solusinya bukan menjadi yang lebih segala-galanya dibandingkan suami, tetapi tentang bagaimana ibu bisa melakukan aktualisasi diri.

Satu-satunya cara yang bisa dimanfaatkan ibu untuk mengaktualisasikan diri adalah ketika me time. Jadi, jika ibu masih menganggap bahwa me time adalah omong kosong dan nggak penting, yuk dipikir-pikir lagi J

Me Time, Ketika Aku Menyelami Diriku

Jadikan me time sebagai sarana kita mengenal diri sendiri, menyapa diri sendiri. Jadikan me time sebagai waktu kita untuk sejenak keluar dari rutinitas harian 24/7.

Karena me time kita sangat terbatas, pastikan kita hanya melakukan sesuatu yang benar-benar kita sukai. Lakukan apa-apa yang menjadi passion kita ketika me time tiba. Dan akan lebih baik lagi jika me time dapat menjadi waktu kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Menjadi ibu bukan berarti mengubur impian dalam-dalam, karena ibu juga berhak untuk bahagia. Ibu juga berhak untuk melakukan hal-hal sesuai passionnya.

Jika ibu memiliki passion menulis, isilah me time dengan menulis, berkomunitas dengan penulis lain, belajar tentang kepenulisan, menjadi professional dalam bidang kepenulisan.

Jika ibu memiliki passion mengajar, isilah me time dengan berbagi ilmu dengan banyak orang lain. Tak perlu keluar rumah jika memang tak memungkinkan. Kini, media sosial telah menjadi media pembelajaran terefektif dan terefisien yang bisa dimanfaatkan ibu. Ada banyak orang di luar sana yang mungkin saja membutuhkan ilmu yang ibu miliki.

Jika ibu memiliki passion berbisnis, isilah me time dengan belajar berbisnis. Dimulai dari menjual hal-hal sederhana, tanpa modal dan tanpa stok, yang kini peluangnya sudah sangat amat banyak. Tapi ingat nasihat Bu Septi (founder Institut Ibu Profesional), “Rezeki Itu Pasti, Kemuliaan Harus Dicari”. Nggak harus ngoyo berbisnis sampai melupakan keluarga, karena rezeki itu sudah diatur. Yang pasti, kemuliaanlah yang harus terus dicari.

Dan banyak lagi contoh passion yang ada. Masing-masing ibu adalah individu yang unik, maka jangan paksakan untuk ingin seperti orang lain, mengisi me time dengan sesuatu yang kekinian hanya karena mengikuti tren. Sekali lagi, karena me time ini sangat terbatas, maka pastikan jika ibu sudah memenuhi kewajiban ibu sebelum melakukan me time.

Jangan lupa komunikasikan dengan keluarga tentang me time ini. Tentang seberapa pentingnya me time bagi ibu. Tentang me time yang membuat ibu bisa mengaktualisasikan diri. Tentang bagaimana me time bisa membuat ibu semakin bahagia. Dan tentang bagaimana anak-anak yang bahagia hanya bisa dihasilkan oleh ibu-ibu bahagia.

So, Me Time, Yes! Depresi, No!


Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional