#SingleParenting : Aku 2.0


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Walaupun keliatannya kalem (cih, kalem dari mana? Wkwkw), sebenarnya saya ini orangnya (agak) ambisius. Punya banyak target, tapi kalah sama malas. Lah, kalau gitu mah bukan ambisius ya? XP

Pokoknya, saya pengen jadi ibu yang kayak blablabla buat Ahza, pengen jadi ini, jadi itu, pengen punya ini, punya itu, pengen mencapai ini, mencapai itu, dan lain sebagainya. Sebenarnya bagus juga sih punya sifat kayak gini, ngasih semangat untuk saya supaya nggak pernah berhenti belajar dan berjuang. Jiaah..

Supaya, nggak pernah berhenti dan bilang, “Ini aku apa adanya. Suka nggak suka terima aja, ya!”. Saya pengen jadi seseorang yang dengan bangga bilang, “Ini aku apa adanya. Tapi ini aku yang selalu berusaha jadi seseorang yang berprogress lebih baik dari aku yang kemarin!”
Tsah.. Pengennya sih gitu, keren kan, ya? :P


Pembukaannya nggak nyambung nih, tapi postingan kali ini terinspirasi dari obrolan panjang tapi singkat dengan Bu Sri, kepala sekolah Hayat School, yang inspiratif banget buat saya. Dari berbagai topik yang kami bahas, ada satu topik yang ngena banget di hati saya, yaitu tentang bersaing dengan diri sendiri.

Kita, manusia, seringkali selalu merasa nggak mau menjadi si nomor dua. Kita selalu ingin menang, menjadi juara, si nomor satu. Kita nggak mau kalau ada seseorang yang lebih hebat dari kita, atau minimal kita harus menyamai si dia.

Wah, ibunya si A bebikinan gitu buat anaknya! Wah, bunda B baru aja ngambil sertifikasi ini! Wow, ummi C hari ini masak ini! Aku harus lebih hebat dari mereka. Fyuh, capek banget..

Yes, sayangnya, ‘perlombaan’ ini hanya bikin kita capek. Mungkin kompetisi melawan orang lain ini ada manfaatnya, membangun jiwa kompetitif, tapi, duh, kayaknya lebih banyak ruginya. Selain karena bersaing melawan orang lain itu nggak akan pernah selesai, sebenarnya ada satu hal yang seringkali kita lupakan.

Bahwasanya, setiap orang itu unik. Kita semua dilahirkan dalam keadaan yang berbeda satu sama lain, nggak ada manusia yang sama plek plek, even itu kembar identik. Kita semua punya kekuatan dan kelemahan masing-masing. Kita semua punya kompetensi masing-masing. Kita terdiferensiasi. Kita punya pembeda yang menjadikan diri kita unik. Hanya ada satu aku di dunia ini.

Kadang kita lupa, masing-masing kita punya misi masing-masing di dunia ini. Tentang semua manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, ini sudah pasti. Tapi tentang bagaimana jalan kita beribadah kepadaNya, bagaimana cara kita bermanfaat untuk orang lain, bagaimana kita punya peran di bumi ini, akan berbeda-beda bagi setiap manusia.

Nah, kalau kita semua punya peran masing-masing, lantas kenapa kita harus saling memaksakan untuk lebih hebat daripada orang lain? Mengapa kita nggak jadi versi terbaik dari diri kita sendiri. Iya kan? Iya nggak sih?

Perlombaan yang paling berfaedah itu adalah perlombaan melawan diri sendiri. Tentang bagaimana menjadi aku 2.0. Tentang aku yang menjadi aku yang lebih baik daripada kemarin. Tentang besok yang harus lebih baik dari hari ini.

Karena toh manusia yang paling merugi adalah dia yang hari ini sama dari hari kemarin. Dan akan menjadi celaka jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin. Seraaamm.. :(

Gampang ya ngomong mah, ngelakuinnya yang susah. Susah, tapi bukan berarti nggak bisa. Sekarang saya punya kebiasaan baru sebelum tidur untuk memastikan saya nggak merugi. Setiap sebelum tidur, saya akan melakukan muhasabah singkat, memutar memori dari bangun tidur hingga akan tidur, apa-apa saja yang sudah saya kerjakan. Mencoba mengingat-ingat apa-apa saja yang membedakan saya dari hari kemarin, mencoba mencari satu poin yang bisa menambah skor saya hari ini sehingga bisa lebih besar dari hari kemarin. Jika ada, syukuri dan azzamkan bahwa besok skor saya harus lebih besar lagi. Jika tidak ada, banyak-banyak istighfar, mungkin dosa saya terlalu banyak sampai-sampai masuk ke dalam golongan orang-orang yang merugi. Huhu..

Ish, bahasannya berat kali ini, mak! Nggak apa lah, sesekali, wahaha :D

Terima kasih yaa Bu Sri yang sudah ngasih reminder ini. Makasiiiih banget.. Mengingatkan saya untuk berhenti membandingkan diri saya dengan orang lain, berhenti untuk ingin jadi lebih dari mereka. Saya ya saya, dengan segala kelebihan dan kekurangan saya. Saya ya saya, mereka ya mereka, yang punya peran masing-masing di bumi Allah ini. Semoga bisa berhenti untuk ingin nampak lebih dengan manusia lainnya dan benar-benar bisa berkata, “Ini aku apa adanya. Tapi ini aku yang selalu berusaha jadi seseorang yang berprogress lebih baik dari aku yang kemarin!”.

Semoga kita bisa menjadi ibu-ibu terbaik untuk anak-anak kita, bukan berambisi menjadi ibu yang lebih baik daripada ibu-ibu lainnya. Hehe..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Ini aku banget Mba haha. Apalagi kalo liat Mama-Mama sekolahan yang bisa santai anter jemput anak. Rasanya gatel mau "pensiun" aja. Tapi ternyata aku blom bisa sekeren itu
    dan masih harus ngantor.

    ReplyDelete
  2. Aku juga sering kayak gitu Mbak.. Pengen kayam ibu si a, si b.. Baca ini sedikit jd reminder buat saya agar tdk gampang ngiri, apalagi masalah dunia.. Salam kenal juga ya Mbak..

    ReplyDelete
  3. Mbak,gmn cara utk follow blog ibu jerapah?maaf sy kudet bgt, pemula blogger krn bqn dan nulis di blog gr2 mengerjakan game tantangan kls bunsay IIP he3.terima kasih

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts