#SingleParenting : Sawang Sinawang Dunia Ibu


Assalamualaikum w.w.

Hola Halo!

Tentang Sawang Sinawang


Sawang sinawang berasal dari bahasa Jawa, diambil dari ungkapan, "Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang" yang dalam bahasa Indonesia berarti 
"Hakekat hidup itu hanyalah persoalan bagaimana seseorang memandang sebuah kehidupan".

Indah atau tidaknya kehidupan, tergantung bagaimana kita melihat kehidupan. Di mata orang pesimis, semua hal yang terjadi terlihat sangat berisiko. Takut gagal, takut salah, dan segala ketakutan lainnya. Namun, di mata orang optimis, hidup terlihat sangat indah, penuh dengan hal-hal yang harus disyukuri dan selalu semangat menjadi pribadi yang lebih baik. Sederhananya, begitulah contoh dari 'bagaimana seseorang memandang sebuah kehidupan'.

Selain 'melihat kehidupan', sawang sinawang ini juga sering digunakan untuk menggambarkan cara kita memandang seseorang. Sayangnya, kita lebih sering memandang seseorang ini hanya dari tampak luarnya saja. Misalnya, di zaman media sosial seperti saat ini, kita cenderung menilai seseorang dari timeline media sosialnya. Padahal, apalah arti deretan foto dan status di medsos?

Sawang Sinawang dalam Dunia Ibu


Yang bikin makin gregetan, ternyata sawang sinawang ini juga melanda dunia parenting alias pengasuhan yang berujung pada aksi nyinyir-nyinyiran dan mom war. Ibu-ibu memandang sebelah mata ibu-ibu lain yang sering upload foto anaknya sedang minum susu dari dot (misalnya). Atau working moms yang meremehkan 'kesibukan' stay at home moms. Ah, pokoknya banyak banget lah topik mom war yang bisa dijabarin di sini.

Saya sendiri mengenal istilah sawang sinawang ini dari grup Line ibu-ibu online shop. Ketika itu, anggota grup sedang hangat-hangatnya membahas seorang artis yang terlihat 'nakal' di layar kaca dan infotainment. Nah, kebetulan ada seorang anggota grup yang rutin bertemu dengan si artis karena alasan bisnis. Dari cerita si ibu ini, ternyata kehidupan nyata dari si artis ini jauh berbeda dari apa yang digambarkan di televisi. Di mata si ibu, artis ini adalah ibu yang sangat bertanggung jawab untuk anak-anaknya. Dia rela banting tulang dan jualan ini itu demi menghidupi anak-anaknya. Dan lebih wownya lagi, si artis ini nggak ambil pusing dengan apa yang diberitakan di media massa tentang dia. Dia memilih fokus untuk berusaha memenuhi hajat hidup anak-anaknya. Dan muncullah istilah 'sawang sinawang' ini setelah seorang anggota grup berkomentar, 
"Ternyata benar ya hidup itu sawang sinawang. Apa yang kita lihat belum tentu sesuai dengan kondisi sebenarnya."


Jatuhnya ghibah sih, tapi justru dari sini saya dapat pelajaran berharga. Saya jadi tahu istilah sawang sinawang dan lebih dari itu, saya malah jadi paham kalau kita nggak bisa menilai seseorang begitu saja hanya dengan mendengar cerita dari orang lain atau melihat timeline medsosnya. No, no, seseorang terlalu berharga kalau kita hanya menilai mereka dari tampak luarnya.

Sama juga seperti yang pernah saya alami.

Saya pernah merasa iriiii banget dengan seorang blogger yang bisa jalan-jalan ke sana kemari, dapat hadiah ini itu, ikut event ini itu, padahal dia seorang ibu yang memiliki anak-anak di bawah 10 tahun. Waktu itu saya mikir, "Ih kok enak banget ya, kok bisa ya, Ahza mah ditinggal ke kamar mandi aja bisa nangis jejeritan.". Ya, waktu itu memang Ahza masih kecil. Hehe..

Eh, ternyata, saya ada rezeki bertemu langsung dengan si blogger ini dan mendengar ceritanya. Ternyata, dia adalah seorang single moms yang ditinggal suaminya ketika anak-anaknya masih kecil. Pendapatannya hanya bersumber dari blog karena nggak enak kalau harus minta orangtua terus. Deg, dari situ saya merasa, saya jahat banget ya dulu pernah mikir yang enggak-enggak tentang dia. Maafkan ya, Mbak! :(

Foto lagi liburan belum tentu lagi senang-senang, kan?

Contoh lainnya..

Ada seorang ibu yang inspiratiiiif sekali bagi saya. Kesabarannya, keramahannya, senyumnya setiap bertemu orang-orang, keaktifannya di komunitas, belum lagi betapa rajinnya dia membuat mainan edukasi untuk anak-anaknya dan anak-anaknya tumbuh jadi anak yang pintar. Suaminya? Masya Allah, support banget dengan aktivitas sang istri dan ikut mengasuh serta mendidik anak-anak mereka. Terdengar sempurna? Setidaknya, itu yang kita tahu kalau kita mengikuti medsosnya.

Lagi-lagi, ketika saya berkesempatan berbincang dengan beliau, saya baru tahu ternyata beliau sempat punya masa kecil yang suram, punya masalah dengan inner child, punya mertua yang nggak kooperatif dan sejumlah masalah psikis yang lain. Tapi, berbeda dengan saya yang gampang putus asa, beliau memilih untuk move on dan berusaha untuk menjadi ibu terbaik untuk anak-anaknya.

Masya Allah, sawang sinawang. Nggak semua yang kita lihat itu, begitu adanya.

Di beberapa kasus, bisa jadi kita seperti melihat fenomena gunung es, yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari gunung es tersebut. Ketika kita melihat seseorang, bisa jadi apa yang kita lihat itu hanya sebagian keciiiiiil sekali dari keseluruhan hidupnya. Kita nggak pernah tahu seberapa sering ia berdarah-darah, seberapa pahit masa lalunya, seberapa besar usahanya untuk menjadi apa yang kita lihat hari ini. Kita nggak pernah tahu latar belakang dia, nggak pernah tahu apa yang sebenarnya dia alami, nggak pernah tahu masalah apa yang dia hadapi.


Atau di kasus lain, mungkin kita melihat panggung sandiwara. Orang yang sebenarnya pemalu, karena tuntutan peran, ia bisa ber-acting menjadi sosok yang penuh jumawa dan percaya diri di atas panggung. Saking jagoan acting-nya, semua penonton mencap si aktor sebagai orang yang sombong dan percaya diri, padahal semua adalah sandiwara belaka.

Ah, saya jadi ingat kejadian ketika saya duduk di tingkat kedua perkuliahan. Sekitar sepuluh tahun yang lalu? Ketika itu, saya mendapat kabar tentang Mama yang menikah lagi dengan seseorang yang amat saya benci ketika itu (Engking yang sekarang sayang banget sama Ahza, wkwk). Saking kecewanya, saya kabur dari rumah Mama dan dunia seakan nggak berpihak pada saya. Semua orang terlihat jahat. Tapi, apa yang terjadi ketika saya masuk kelas? Saya tetap menjadi Dece yang dikenal semua orang: petakilan dan semangat 45. 

Sampai suatu hari, seorang teman yang nantinya menjadi Presiden Mahasiswa IPB, yang bawaannya serius banget, berkata seperti ini pada saya, "Dece, kayaknya hidup kamu bahagia banget ya? Setiap saat bisa ketawa-ketawa kayak gitu". Dan saya hanya bisa menjawab, 
"Kamu nggak tahu apa yang saya alami. Tapi seburuk apapun itu, nggak akan bisa berubah kalau saya cemberut. Lebih baik senang-senang, kan?". 
Haha, jawaban dodol sih, tapi itulah pengalaman sawang sinawang yang sangat berkesan untuk saya. Betapa sebenarnya, masing-masing kita nggak pernah tahu apa yang sebenarnya dialami seseorang sebelum kita ber-tabayyun pada yang bersangkutan. 

Teruntuk Para Single Moms yang Saya Sayangi


Menjadi ibu tunggal pastinya akan memperbesar risiko terkena penyakit hati sawang sinawang. Misalnya, mudah iri melihat hidup ibu lain yang terlihat sangat sempurna di medsos.

"Ah, enak banget ya kalau punya suami. Ada yang bantuin jaga anak.."
"Pasti enak ya kalau ada suami, ada yang menafkahi setiap bulan.."
"Ibu itu kerjaannya jalan-jalan terus sama suaminya. Duh.."

Dan sederet komentar lain setiap melihat medsos seseorang. Pernah mengalami?

Yakinlah, kalau hidup mereka nggak seindah apa yang kita lihat di medsos.

Ada ibu yang terlihat romantis dengan suami, tapi punya ibu mertua yang galak. Ada ibu yang senang travelling untuk menghibur hati karena belum juga dikaruniai momongan. Atau ada istri-istri yang berjuang bekerja karena suami mereka tidak mampu menafkahi. Sawang sinawang. Nggak semua yang kita lihat benar adanya.

Tersenyum bahagia belum tentu bahagia, kan?

Kalau boleh mengutip kata Ust. Nouman Ali Khan, bersyukurlah, maka Allah akan memberi lebih untuk kita. Nggak hanya Ust. NAK aja sih yang bilang begini, di Al Qur'an juga jelas adanya, kan, ya?

Bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang. Menjadi ibu tunggal berarti nggak harus ngerasa nggak enak kalau ada mertua berkunjung ke rumah, nggak harus berantem sama pasangan kalau ada perbedaan pendapat, bebas berkarya karena nggak ada yang melarang dan banyak lagi pikiran positif lain yang bisa kita bangun dibandingkan dengan terus menerus iri melihat kehidupan orang lain. Ya, kan?

Saya pun masih berusaha, keras banget, untuk selalu bersyukur. Karena faktanya, mengeluh itu lebih gampang dibandingkan bersyukur. Astaghfirullah.. Tapi coba deh, sesekali lihat ke bawah, masih ada banyaaaaak sekali orang-orang yang kondisinya lebih buruk daripada kita, tapi semangat juang mereka luar biasa. Coba sesekali belajar dari orang-orang ini, yang bisa bertahan hidup ketika nggak ada seorang pun yang membantu.

Karena kita punya Allah.

Ah, semoga saya dan ibu-ibu lainnya jauh-jauh dari iri karena sawang sinawang ya. Karena sekali lagi, nggak semua yang kita lihat benar adanya.

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Betul, yang terlihat kadang tidak selalu sama dengan apa yang terjadi aslinya. Mari kita syukuri apa yang sudah Allah anugerahkan kepada kita.

    ReplyDelete
  2. Itulah kenapa saya malas terlibat mom war. Kita gak tau 'dapur' seseorang. :)

    ReplyDelete
  3. betul sekali, dan mom war itu hrs dihindari krn gak akan pernah selesai

    ReplyDelete
  4. Setuju mba Dece,
    Tapi kadang sebelum bersyukur sering ngeluh dulu hehehe

    ReplyDelete
  5. bener banget mba..

    eh kadang aq juga merasa iri dengan ibu lain yang bisa istirahat dirumah punya banuak waktu sama anaknya sementara aku harus berjuang membantu suami cari nafkah.

    sedih awalnya, tetapi harus bersyukur karna semua akan indah dan nikmat jika di syukuri

    ReplyDelete
  6. Semangat terus untuk para Ibu dimana pun berada����

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts