#SingleParenting : Ayah, Mari Turun Tangan dalam Pengasuhan!


Assalamu'alaikum wr.wb.

Hola Halo!

Fatherless Country


Indonesia adalah salah satu negara yang disebut-sebut sebagai Fatherless Country, negara tak berayah. 

Lah, ayah-ayahnya pada ke mana? Ada beberapa kemungkinan: ayahnya meninggal dunia, ayahnya meninggalkan keluarga atau ayahnya ada tapi sibuk (atau sok sibuk). Fatherless Country adalah negara yang keluarga-keluarga di dalamnya kehilangan sosok ayah.

Ayah, sebenarnya memiliki tugas utama untuk menanamkan nilai-nilai keimanan pada anak. Ia bertanggung jawab untuk membentuk emosi dan perilaku anak. Jadi, kalau kecerdasan itu menurun dari ibu, emosi dan perilaku itu menurun dari ayah. Ayah memang sedikit bicara, tapi jadi panutan untuk anak-anaknya. 

Sebegitu pentingnya peran ayah, tapi masih sedikiiiiiit sekali ayah yang mau membantu ibu untuk mengasuh anak-anaknya. Ayolah, ini bukan tentang siapa bertanggung jawab apa, tapi masalah masa depan anak-anak kita. Ayo, ayah! Mari turun tangan dalam pengasuhan!


Sebagai gambaran, saya coba menyantumkan hasil penelitian yang dilakukan oleh University of Guelph Canada yang berjudul “The Effect of Father Involvement: An Updated Research Summary of the Evidence”. Penelitian ini ingin melihat sejauh mana pengaruh keterlibatan ayah dalam pola pengasuhan terhadap perkembangan anak secara sosial. Walaupun penelitian ini dilakukan tahun 2007, tapi saya rasa masih relevan dengan kondisi hari ini.

Berdasarkan penelitian tersebut, terbukti bahwa ada dampak positif dari keikutsertaan ayah dalam pengasuhan terhadap perkembangan psikologi anak. Bayi yang diasuh oleh ayah memiliki kemampuan kognitif yang lebih baik ketika memasuki usia enam bulan hingga satu tahun. Selain itu, ketika menginjak usia tiga tahun, anak-anak ini memiliki IQ yang lebih tinggi serta berkembang menjadi individu yang memiliki kemampuan problem solving yang lebih baik. Keren, kan?

Ayah, kamu masih nggak mau juga mengasuh anak?

Balik lagi ke Fatherless Country.

Efek dari Fatherless Country ini adalah Fatherless Generation, generasi-generasi yang tidak memiliki sosok ayah. Seperti yang kita semua sudah tahu, ayah memiliki peranan penting dalam perkembangan dan pertumbuhan seorang anak (baik dari segi fisik dan mental). Bicara tentang efek negatif dari ketiadaan efek ayah juga nggak bakal habis, bisa 7 hari 7 malam membahas masalah ini. 

Tapi ya mari kita coba bahas sedikit, ya..

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan oleh Kalter dan Rembar dari Children’s Psychiatric Hospital, University of Michigan, AS, ada 3 masalah utama yang ditemukan pada anak-anak yang kehilangan sosok ayah melalui perceraian orangtua:
1. 63% anak mengalami masalah psikologis seperti gelisah, sedih, suasana hati mudah berubah, fobia dan depresi.
2. 56% kemampuan akademisnya rendah atau menurun dibandingkan dengan yang pernah mereka capai pada masa sebelumnya.
3. 43% melakukan agresi terhadap orangtua.

Teruuus, dalam Journal of Divorce (ada lho jurnal kayak gini, omg) dari Harvard University, AS, Ibu Rebecca L Drill, PhD mengatakan bahwa ketiadaan sosok ayah memiliki dampak yang luar biasa negative terhadap perasaan anak. Anak mengalami kesulitan dalam melakukan penyesuaian di sekolah, penyesuaian social dan penyesuaian pribadi.

Kalau ada yang bertanya-tanya, bener nggak sih hasil penelitiannya? Boleh lah bertanya sama saya yang sudah mengalami langsung. Hehe.. 

Oia, ada satu lagi ciri Fatherless Generation yang sering disampaikan oleh Bu Elly Risman adalah tercaiptanya generasi BLAST:
B (Bored). Bosan karena terlalu banyak aktivitas di luar rumah (full day school, les ini itu).
L (Lonely). Tidak ada teman curhat karena ayah ibu sibuk.
A (Afraid, Angry). Sedih dan marah karena keadaan.
S (Stressed). Terlalu lelah dengan aktivitas dan kurang apresiasi dari ayah ibu.
T (Tired). Anak merasa lelah karena orangtua terlalu banyak menuntut dan kurang memeluk.

Kesimpulannya, absennya sosok ayah benar-benar berdampak buruk terhadap hidup anak. Sosok ayah mutlak diperlukan dalam pengasuhan anak. MUTLAK. WAJIB. FARDHU ‘AIN.

Lalu, bagaimana kalau ayahnya meninggal dunia? Lalu, bagaimana dengan para single parents? Apakah tidak ada jaminan jika anak-anak mereka akan tumbuh normal dan bahagia?

Hey, tenang buibuk. Bukankah Nabi Muhammad saw. adalah sebaik-baiknya teladan dan beliau adalah seorang anak yatim? Yang perlu digarisbawahi pada pengasuhan Nabi Muhammad saw. adalah tentang beliau yang tidak pernah kehilangan sosok ayah. Saat ayahandanya meninggal, sosok ayah digantikan oleh kakek tercinta, Abdul Muthalib. Lalu, saat sang kakek meninggal, sosok ayah diperankan oleh paman tersayang, Abu Thalib. Jadi, walaupun ayah biologis tidak ada, yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menghadirkan sosok ayah untuk anak-anak kita. SOSOK AYAH.

Sosok ayah adalah sosok pria dewasa yang bisa melindungi anak. Siapapun itu: kakek, om, kakak, tetangga, pak guru, dll dsb. 

Sebenarnya sih, lebih baik lagi jika anak bisa mendapatkan sosok ayah dari ayahnya sendiri. Maka, untuk para single moms, sebaiknya jalinlah hubungan baik dengan mantan suami demi pengasuhan anak. Haha, ini mah toyor diri sendiri.

Pesan untuk para ayah (dan calon ayah):
1. Mulai saat ini, ayo ikut serta dalam pengasuhan anak. Karena mengasuh anak itu adalah tugas ayah dan ibu. Kalau kata AyahASI mah, “Bikinnya berdua, ngasuhnya juga berdua!”. Ya, kan?
2. Wahai lelaki, yang sudah berkeluarga atau belum, sadarilah bahwa kalian bisa menjadi sosok ayah untuk siapapun. Coba perhatikan lingkungan sekitar. Apakah ada anak-anak yatim atau anak-anak yang tidak berayah? Nah, kalianlah yang bisa menjadi sosok ayah untuk anak-anak itu. Ikut berinvestasi lah untuk keberlangsungan generasi bangsa. Misi yang mulia, kan, ya? Heuu..

Cerita Ahza

Nah, sekarang mau cerita sedikit tentang Ahza. Yakali postingannya nggak ada unsur curhat hihi.. -_-"

Ahza sudah berpisah dengan ayah sejak usia 3 bulan. Alhamdulillah, selama 3 bulan pertama ini ayahnya aktif ikut mengasuh. Ikut menggendong, mengajak main, dan lain sebagainya. Tapi ya, bayi 3 bulan kan belum bisa diapa-apain. Hehe..

Setelah berpisah dengan ayah, Ahza punya sosok ayah dari para pria yang ada di sekelilingnya. Masya Allah, ada banyaaaak sekali yang sayang sama Ahza (dan saya ahey). Ada Engking yang baiiiiiknya ngalahin siapapun, ada Opa yang walau cuek tapi kalau Ahza datang selalu ngajak main sama binatang-binatang di rumah, ada Ayahnya Om Alvin yang dipanggil Ayah juga, ada teman-teman ibu yang kalau datang langsung apet (apet=akrab) sama Ahza, ada om dan bapak di kampus yang kalau ada Ahza. Semua jadi sosok pria dewasa yang siap melindungi Ahza. Keren, kan? :D

Ahza juga beberapa hari yang lalu baru saja main sebentar bareng ayahnya. Walaupun hanya beberapa jam, tapi Ahza bahagia dan bahagianya menular ke ibu. Alhamdulillah.

Untuk seumuran Ahza (3 tahun), memang sedang butuh perhatian dan kedekatan dari sosok ibu dan ayah. Banyak penelitian yang menyatakan dampak negatif jika anak tidak memiliki kedua sosok ini pada level umur Ahza. Jadi, saya merasa beruntuuuung sekali, karena walaupun single moms, tapi ada banyak sosok ayah untuk Ahza.

Semoga kelak Ahza bisa menjadi sosok laki-laki yang baik ya, Nak. Sayang sama ibu, menghargai wanita dan bisa menjadi sosok ayah yang baik untuk anak-anak di sekeliling Ahza. Aamiin :)

Oke, sekian ceritanya. Hehe..

Semoga Ahza bisa cepat-cepat punya bapak, ya.. Jangan lupa dukung #CariBapakUntukAhza! Bahahahaah..

Sekian.

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Referensi:
Bincang Keluarga di MQFM bersama Teh Ncha (Institut Ibu Profesional Bandung) dan Kang Zaqi dengan tema "Fathering to Avoid Fatherless Generation"
http://www.republika.co.id/berita/koran/medika/15/10/16/nwb2cd11-dampak-pengasuhan-ayah-bagi-anak
http://nasional.kompas.com/read/2010/04/02/0915433/Efek.Ketidakhadiran.Ayah.Buruk.

Comments

  1. Alhamdulillah Ahza dapat banyak ayah disekelilingnya ya. Salam sayang untuk Ahza.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa alhamdulillah tante.. peluuuk :)

      Delete
  2. yg nyebelin suamiku kl lagi asuh anak, anak dibawa ke kasur dan anak dibiarkan main di sana, dia bisa tiduran

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua bapakbapak kayaknya gini mba 😂

      Delete
  3. Wow speechless bagian cerita single parent dg tanpa beban, karna aku sendiri blm pernah berhasil cerita bagian itu dg tanpa mendramatisir keadaan...hehehe eniwei ada solusi klo single parents perantauan dri klrga mba?jd ga bs menghadirkan sosok ayah dri kakek or paman?is it oke dari temen2 cowok di lingkungan kita?karna takut jg menimbulkan fitnah yg gimana2 kalo anak deket sm mereka, dibilang emaknya yg kecentilan apalagi klo temen ud berstatus suami org...you know what I mean kan ya mba...hihihi BTW toss dulu ah sesama single parent...salut bgt sama cerita edisi #singleparent tanpa beban...inspiratif...Mau nyobain juga ah...Makasi mba...ijin ngelink-in ke blog ya...

    Silahkan mampir ke
    emaknizam.com
    jalanberdua.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangat mbaaa!
      Hihi..
      Untuk mba yang jauh dari keluarga, saya rekomendasikan baca bukunya mba Rahayu "Single Mom's Diary".
      Di sana beliau bercerita tentang bagaimana akhirnya dia bisa minta tolong dengan orang-orang di sekitarnya untuk menghadirkan sosok ayah.
      Nggak usah yang muluk2 mba.
      Misalnya, tukang antar jemput anak ke sekolah, tukang kebun, tetangga, dll.
      Tapi di zaman kayak gini, harus lebih waspada dengan strangers sih memang ya.. hehe..

      Delete
  4. Setujuuu, sdh nggak jaman lg pengasuhan diserahkan sepenuhnya kpda ibu, btw aku izin share ya mbk, matur nuwun sharingnya, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mba.. mindset bapak2 harus diubah ya.. hehe..
      Mangga mba, semoga bermanfaat :)

      Delete
  5. alhamdulillah suamiku termasuk mau diajak kerja sama buat ngurus anak. malah kadang telatenan dia dibanding aku. heu

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts