Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak


Assalamua'alaikum wr.wb.

Hola Halo!

Long time no see..
Blognya sudah lumutan, ya! Hihi -.-

Kemarin, saya menghadiri seminar keren berjudul "Mengenal dan Mengembangkan Bakat Anak". Seminar parenting yang berbasis talent mapping ini dipandu oleh pasangan kece: Teh Elma Fitria dan Pak Muhammad Firman. Teh Elma adalah seorang penggiat parenting yang juga sering 'berpapasan' di grup WA atau sosmed. Huaha.. papasan doang.. :p Sedangkan Pak Firman adalah seorang praktisi Talent Mapping. Keduanya juga mengklaim sebagai strength based family practitioner. Ah, dari titelnya saja saya sudah yakin seminarnya akan keren. Heuu..


Seminar ini dilaksanakan di Gedung Serba Guna Masjid Salman ITB, yang mana adalah tempat nongkrong saya saat SMA. Yup, ITB adalah mantan calon kampus saya. Udah mantan, calon pula, watir.. :P Lalu, kenapa nggak masuk ITB? Karena ITB ada di Bandung. T_T

Jadi, belajar apa kita kali ini? Saya simpan di blog ini sedikit dari yang saya catat dan ingat dari seminar kemarin siang, ya. Semoga bermanfaat!

Child Centered Parenting


Jika selama ini orangtua selalu merasa menjadi pusat dari dunia anak-anak mereka, maka mari kita balikkan menjadi pengasuhan berbasis anak-anak. Maksudnya adalah memandang pengasuhan dari sudut pandang anak. Orangtua memang punya hak untuk dipatuhi dan dilayani, tapi anakpun punya hak yang sama akan kebutuhannya.

Orangtua sejatinya mampu mengetahui apa yang harus dilakukannya untuk mempersiapkan anak dalam menjalani kehidupannya.

Misalnya begini. Pada suatu Minggu yang cerah, kita membelikan mainan mobil-mobilan yang cukup mahal untuk anak kita. Awalnya, mobil-mobilan tersebut dimainkan dengan 'benar' layaknya mobil-mobilan. Namun, ketika kita pulang kerja keesokkan harinya, kita mendapati mobil-mobilan tersebut sudah tercerai-berai nggak karuan.

Parents Centered Parenting
Ortu: "Ya Allah, kenapa ini mainannya dihancurin gini? Ini kan mahal, blablablablablabla.."
Anak: "Iya, yah, aku mau liat dalemnya kayak apa."
Ortu: "Pokoknya besok-besok nggak akan dibeliin mainan lagi"

Child Centered Parenting
Ortu: "Wah, adek mainannya jadi bagus ya. Ayah boleh tahu nggak, kenapa mainannya dilepas-lepas kayak gini?"
Anak: "Iya, yah, aku mau liat dalemnya kayak apa."
Ortu: "Ooh, gitu ya. Adek senang bongkar-bongkar ya? Kalau begitu, nanti kita cari mainan yang bisa dibongkar pasang, ya?"

Terasa perbedaannya? Kira-kira bakat anak akan lebih berkembang di bawah pengasuhan orangtua yang mana? Ya, simpan dulu jawabannya.. :)

Arti Pengasuhan


Siapa Anak?
Anak adalah ciptaan Allah, titipan Allah.
Anak diberi kehidupan dengan maksud untuk memenuhi tujuan dari Allah. Tujuan yang mana? Yang pasti, masing-masing kita memiliki peran masing-masing dalam kehidupan ini. Tugas orangtua lah untuk mengaktifkan kemampuan anak untuk mampu memenuhi tujuan dari Allah. Tanggung jawab yang besar, bukan?

Siapa orangtua?
Orangtua adalah yang diberi anugerah dan amanah berupa anak. 
Kita adalah orang-orang yang paling pas untuk membimbing, melatih dan mendewasakan anak-anak kita. Kita berkewajiban untuk terus belajar dalam hidup dan anak-anak kita lah yang akan memberikan banyak pelajaran bagi kita.

Kita belajar sabar dari anak. Belajar berkomunikasi dengan baik. Belajar empati. Belajar nggak egois. Dan banyaaaaak sekali pelajaran yang diberikan anak-anak kita. Terima kasih ya, Nak!

Apa sih tujuan akhir dari mengenal dan mengembangkan bakat anak?

Kalau kita berpikir bahwa bakat anak sangat penting untuk dilejitkan sedini mungkin agar anak-anak kita menjadi keren dan hebat. Hey, mohon maaf, Anda salah.

Tujuan akhir kita dari mengenal dan mengembangkan bakat anak adalah:
  1. Menerima, memahami dan menghargai anak.
  2. Menerima rencana Allah Yang Maha Sempurna (baik rencana baik, maupun rencana yang kurang enak untuk kita, namun tetap baik di mata Allah).
  3. Melahirkan cinta yang utuh dan tanpa syarat.
  4. Yakin akan kebaikan dalam fitrah anak. Setiap anak dilahirkan dengan fitrahnya masing-masing dan selalu bersumber pada kebaikan. Fitrah setiap anak adalah menjadi baik.

Tugas orangtua


Ada banyak sekali tugas orangtua. Di antara yang buanyaaak itu, ada dua tugas mendasar yang harus kita penuhi yaitu:

Membantu anak memahami diri dan menemukan jalan hidupnya. Mengapa? Karena anak lahir tanpa kedewasaan. Tugas orangtua lah yang harus mencontohkan dan melatih anak.

Misalnya begini. Sejak kecil, Rama selalu tidak diperbolehkan untuk membantu ayah mencuci mobil atau membantu ibu mencuci piring. "Sudah, kamu main saja ya dengan teman-temanmu" atau "Sudah, belajar saja sana!", begitu yang selalu ayah dan ibu katakan pada Rama. Namun, ketika sudah mulai beranjak dewasa, ayah dan ibu selalu marah jika Rama tidak membantu mereka mencuci mobil atau piring sendiri. Tapi, siapa yang salah, ya? Nah, tugas orangtua lah untuk mencontohkan dan melatih kedewasaan anak. Eh, ini contoh yang paliiiing sederhana sekali ya. Ehehe..

Memfasilitasi proses pendewasaan diri. Orangtua harus mampu menjadi fasilitator agar anak mampu:
  • Menjadi manusia mandiri.
  • Hidup secara otentik dan produktif. Maksud otentik di sini adalah hidup menjadi dirinya sendiri. Misalnya, ia berbakat untuk menjadi seorang auditor handal, namun karena bakatnya tidak pernah tereksplor, maka ia seumur hidupnya bekerja di wilayah administrasi. Sungguh bertolak belakang sekali, bukan?
  • Sadar bahwa kita adalah hamba Allah dan khalifah Allah di bumi. Menjadi khalifah berarti menjadi wakil Allah, sehingga memiliki tugas yang harus diemban. 
See? Jadi orangtua itu tidak mudah. Bukan hanya 'cuman'!

Prinsip Dasar Pengasuhan


Nurturing Nature

Asuh anak berbasis fitrahnya. Semua anak dilahirkan dalam keadaan baik dan memiliki fitrahnya masing-masing. Fitrah semua manusia di bumi berbeda antara satu dan lainnya, sehingga diperlukan pengasuhan yang sesuai dengan fitrah masing-masing anak.

Dual Parenting

Tahukah bahwa Indonesia adalah negara kedua dalam daftar negara bertitel "Fatherless Country"? Anak-anak Indonesia merasa tidak punya ayah, mereka terjerembab dalam kasus "father hungry". Ah, rasanya patah hati sekali saat mengetahui fakta ini.

Di mana sih para ayah ini? Dual parenting artinya melibatkan ayah dan ibu dalam pengasuhan. Keduanya memiliki peran pengasuhan masing-masing sesuai fitrahnya. Ayah dan ibu memiliki peran sesuai fase perkembangan anak dari semua aspek.

Ayah, kalian adalah standar moralitas dalam keluarga. Jika hanya ibunya yang mencontohkan kebaikan, sedangkan anak mendapatkan contoh yang buruk dari ayah, maka tidak ada jaminan bagi anak bisa menjadi manusia yang baik. Kewajiban kalian memang mencari nafkah bagi keluarga, namun ada hal penting lain yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah, yaitu bagaimana cara kalian mengasuh anak-anak kalian, bagaimana kalian bertanggung jawab pada keluarga.

Standar Pengasuhan

Menurut Teh Elma dan Pak Firman, standar pengasuhan yang baik tertulis dalam kalimat-kalimat ini:
  • Ayah ibu hadir dalam pengasuhan, 
  • dengan kualitas memadai,
  • jumlah waktu yang cukup,
  • pada waktu yang tepat.
Dan saya setuju dengan hal ini. Kita memang butuh hadir untuk anak-anak kita. Hadir ya, bukan hanya ada di dekat anak dan sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Heu.. -.- Dan pada waktu yang tepat. Misalnya, pada fase 0-7 tahun adalah fase yang tepat untuk menanamkan masalah akidah kepada anak, maka sebaiknya orangtua memanfaatkan momen ini untuk bercerita tentang Allah dan Rasul-rasulnya, bercerita tentang alam raya, penciptaan dan lain sebagainya. Hal-hal yang bersifat abstrak pun akan mudah masuk pada anak. Jangan takut anak tidak mengerti. Percayalah jika anak lebih cerdas dibandingkan yang kita tahu.

Lalu, jika kita ingin menjadi teman anak, jadilah temannya sejak ia masih anak-anak. Akan percuma rasanya jika mereka sudah menginjak dewasa kita baru 'PDKT' dengan mereka dan memaksa mereka dekat dengan kita. Lah, kemarin-kemarin kemana atuh? :(

Ada rumus yang diberikan Bu Elly Risman agar orangtua menjadi sahabat bagi anak, yaitu dengan lekat, dekat lalu menjadi sahabat. Hal pertama yang harus dilakukan adalah berlekatan dengan anak. Hal ini bisa dilakukan sejak anak lahir, yaitu dengan menyusui bayi. Bagi ayah, ayah sebisa mungkin lekat dengan anak ketika anak sedang tidak menyusui. Lalu, dekat dengan anak. Jadilah temannya bicara, jadi teman main mereka, maka niscaya kelak kita akan menjadi sahabat mereka. Aamiin  ya Allah.

Sekilas tentang Fitrah Anak


Nah, sekarang pembahasan sudah masuk ke fitrah anak, seru! Lebih seru lagi karena referensi Teh Elma dan Pak Firman adalah buku Fitrah based Education (FEB) karya Ust. Harry Santosa yang mana adalah buku bacaan Ramadhan saya! Buku ini wajib dibaca oleh semua orang, orangtua dan calong orangtua! Kalau cari, bisa hubungi saya yaa.. (Jiaaa, jadi jualan, ngahahhahaha)

Jadi, fitrah anak dapat diklasifikasikan menjadi delapan, yaitu:
  1. Iman
  2. Jasmani
  3. Perkembangan
  4. Belajar
  5. Individualitas
  6. Seksualitas
  7. Estetika
  8. Bakat
Keterangan dari masing-masing fitrah dapat dilihat di sini:
Klasifikasi Fitrah Manusia
Buku Fitrah based Education
Ust. Harry Santosa

Fitrah iman, jasmani dan perkembangan dapat kita amati dan kembangkan sejak anak lahir atau di bawah 7 tahun. Kemudian, fitrah belajar dapat mulai dikembangkan saat usia 7 tahun. Dan fase pada setiap fitrah yang lain dapat dilihat di gambar di atas, ya! Nggak kelihatan? Boleh hubungi saya via Whats'app atau e-mail, nanti saya kirimkan gambar yang bisa di-zoom. Hehe..

Bakat, Petunjuk Menemukan Misi Hidup


Subjudulnya berat ya. Hebat banget bakat ini, masa sih bisa menjadi petunjuk menemukan misi hidup? Secanggih itu kah dia? Dan ternyata, dijawab Allah pada surat cintanya di Al Isra':84 yang berbunyi:

"Qul kulluy ya'malu 'alaa syaakilatih, fa robbukum a'lamu biman huwa ahdaa sabiilaa.."
"Katakanlah (Muhammad), "Setiap orang berbuat sesuai dengan pembawaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya."

Penjelasan tentang ayat ini dijelaskan dengan sangat sangat baik dan menyentuh oleh Ust. Nouman Ali Khan. Teman-teman bisa menonton kajiannya di video berikut ini (wajib kudu mesti ditonton):


Jadi, semua orang punya syaakilat-nya masing-masing dan itulah petunjuk misi hidup kita. Masya Allah.. Belajar! Belajar!

Jadi, apa sih bakat itu?

Definisi Gallup berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 25 tahun kepada jutaan orang adalah:
"Pola pikir, perasaan dan tindakan alami yang muncul berulang-ulang dan dapat digunakan untuk sesuatu yang produktif."

Bakat juga bisa dikatakan sebagai:
"Ketika kita bisa melakukan sesuatu yang baru, dengan memerlukan waktu yang relatif singkat untuk belajar, namun hasilnya langsung bagus."

Ada yang merasa punya bakat terpendam alias bakat yang belum tereksplor tapi sudah terasa? Hehehe..

Bakat memiliki beberapa sifat, di antaranya adalah:
  • Alami, sudah ada sejak lahir.
  • Permanen, tidak bisa diubah.
  • Berkembang seiring pengalaman. dan pendewasaan diri.

Mencari Bakat dengan 5 Ciri Ini

  1. Yearning. "Nagih". Aktivitas yang butuh terpenuhi setiap hari. Misalnya, kalau saya nggak nulis sehariiii aja, rasanya perasaan nggak enak, bawaan labil. Haha, emang suka curhat itu mah -.-
  2. Rapid Learning. Cepat belajar, cepat menguasai.
  3. Satisfaction. Rasa terpuaskan dan bahagia ketika melakukan aktivitas tersebut.
  4. Flow. Mengalir alami. Waktu menjadi tidak terasa.
  5. Glimpses of Excellence. Sekelebat keunggulan dan hasil maksimal. Nggak butuh effort besar untuk melakukan sesuatu yang hasilnya baik.

Nah, jadi terbayang ya kalau kita bisa bekerja di ranah yang sesuai dengan passion dan bakat kita. Pasti jadi bahagia lahir batin. Whoaa, goals banget, bukan? Maka, bakat ini memili kaitan yang amat erat dengan aktivitas kita sehari-hari. Aktivitas akan dinikmati jika sesuai bakat, dan sebaliknya.

Ragam Bakat

Bakat bisa diklasifikasikan menjadi 2 jenis:

  1. Bakat aspek fisik. Contohnya: jago main basket, jago nyanyi, jago gambar, dll dsb.
  2. Bakat aspek kepribadian. Contohnya: penyabar maksimal, senang ngobrol, suka berorganisasi, dll dsb.

Menerima dan Memahami Anak


Dan, inilah bagian yang paling penting. Bagaimana kita, sebagai orangtua, mampu menerima dan memahami anak-anak kita setulus-tulusnya. Ada 4 tahap relasi orangtua dan anak yang pasti kita lewati dan akan lewati:
  • Orangtua menerima anak. Emang ada ya, orangtua yang nggak menerima anaknya. Belum pernah dengar? Pasti kita pernah tahu ada orangtua yang kecewa karena anaknya perempuan, padahal selalu mengidam-idamkan anak laki-laki. Pasti kita pernah dengar orangtua yang ngomel-ngomel, "Adeeek, kamu itu kok sembrono banget jadi anak. Gitu aja tumpah, gitu aja nggak bisa!". Pernah tahu? Pernah dengar? Nah, ini adalah contoh orangtua yang belum bisa menerima anak apa adanya. Jadi mari kita pejamkan mata, dan berjanji mulai saat ini untuk menjadi orangtua yang menerima anak apa adanya. Selalu mensyukuri anak dan tidak membanding-bandingkan anak. Aamiin.
  • Anak menerima orangtua. "Dulu masa kecilku suram. Orangtuaku nggak pernah ngertiin aku, jadilah aku orang yang seperti ini saat dewasa." Mungkin ada beberapa di antara kita pernah merasakan ini? Yuk, mencoba ikhlas, berdamai dengan masa lalu dan menerima orangtua kita apa adanya. Kita nggak bisa memilih untuk mempunyai orangtua kayak apa, tapi kita punya pilihan untuk menjadi orangtua seperti apa untuk anak-anak kita. Setuju?
  • Orangtua melepas anak. Ada waktunya orangtua harus rela melepas anaknya. Entah karena pergi kuliah ke luar kota, bekerja, menikah atau karena kematian.
  • Anak melepas orangtua. Pun anak, ada saatnya harus melepas orangtua jika orangtua pergi mendahului kita semua.
Ah, jadi mellow ya? Huks.. :'(

Yang harus dicatat dan digarisbawahi di sini adalah bagaimana penerimaan orangtua terhadap anak sangat amat memengaruhi kehidupan sang anak sampai jangka waktu yang amat panjang. Bagaimana hal tersebut sangat memengaruhi kepribadian, cara berpikir dan jalan hidup sang anak.

Kemarin, Teh Elma membacakan lirik lagu dari Michael Jackson yang seperti kita tahu, masa kecilnya bisa dibilang nggak menyenangkan karena ia sangat berbakat. Sedih ya! Supaya makin sedih (lah) tonton dulu yuk videonya!


Ooh, merinding.. Semoga kita dan anak-anak kita dijauhkan dari hal-hal seperti ini, ya :(

Mari Mengenal Bakat!


Jadi, sudah tahu bakat kita? Atau masih bingung? Tenang, kita bisa mencari tahu melalui tes bakat online yang hasilnya cukup akurat, lho! Caranya:

1. Masuk ke www.temubakat.com
2. Pilih "Ayo Cari Tahu!"
3. Isi identitas dengan lengkap
4. Isi kuesioner dengan jujur dan segenap hati

Tak butuh waktu cukup lama, dan keluarlah hasilnya. Bagaimana? Sudah dicoba? Untuk saya pribadi, hasilnya cukup mewakili kepribadian saya dan hal-hal yang saya sukai.

Tes ini bisa kita berikan kepada pasangan (dan calon pasangan, hehe), anak-anak (di atas 12 tahun atau jika ia sudah paham dengan instruksinya), karyawan (calon karyawan) dan banyak lagi. Ini juga bisa menjadi cara kita untuk lebih memahami orang lain dari bakat yang dimilikinya.

Langkah Mengenal Bakat Anak

Lalu, bagaimana cara untuk mengenal bakat anak sejak kecil? Kita punya banyak waktu untuk mengobservasi anak, jadi mari kita belajar untuk mengenal bakat anak dengan 7 langkah ini:

  1. Amati. Amati apa yang ia senang kerjakan. Apa yang paling sering ia lakukan. Apa-apa saja yang membuat dia paling senang. Amati dengan mata dan hati.
  2. Interaksi. Jangan lupa untuk selalu berinteraksi dengan anak. Ikut bermain mengikuti permainan anak. Bertanya tentang apa saja yang sedang dilakukan anak, hal-hal seremeh dan sedetail mungkin.
  3. Komunikasi. Komunikasi menjadi sangat penting dalam mengenal bakat anak. Rajin-rajinlah mengobrol, bercerita atau sekadar membacakan buku kepada anak. Jangan lupa, komunikasinya harus dua arah, ya..
  4. Eksplorasi. Eksplorasi apa yang kemungkinan disukai anak. Ajak anak melakukan banyak hal baru, pergi ke tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi dan bertemu banyak orang baru dari berbagai kalangan. Hal ini akan membantunya untuk mengetahui apa yang ia sukai.
  5. Uji. Setelah kita mengetahui apa yang disukai anak, kita bisa memberikan proyek-proyek kecil untuk menguji bakatnya. Kita bisa memulai dengan hal-hal yang sederhana. Misalnya, jika anak kita memiliki bakat bebersih, berikanlah tanggung jawab kepadanya untuk menjaga salah satu sudut di rumah, misalnya kamar tidurnya sendiri.
  6. Dokumentasi. Dokumentasikan setiap aktivitas dan hasil karya anak. Hal ini untuk mempermudah kita melihat track record anak sejak lahir hingga saat ini. Dokumentasi bisa dilakukan untuk semua aspek, sampai kepada aspek kesehatan, misalnya anak pernah alergi atau terjangkit penyakit berbahaya, dll dsb.
  7. Evaluasi. Jangan berhenti mengevaluasi dan belajar.

Sayangnya, acara yang seharusnya selesai pukul 17.00 masih terus berlanjut dan saya sudah janji untuk pulang jam 5 sore. Jadi, mohon maaf materinya hanya sampai di sini. Tapi saya rasa, sudah cukup mewakili tentang bagaimana mengenali dan mengembangkan bakat anak, bukan? Ya, semoga hehe..

Yang saya rasa penting untuk diingat adalah,
kita mencari tahu dan mengembangkan bakat anak bukan dengan tujuan menjadikannya manusia hebat dan penuh talenta, tapi untuk menjadi fasilitator terbaik untuk anak dalam menjalani kehidupannya dengan mengemban misi hidup dari Allah Swt.

Video seminar bisa dilihat di sini yaa >> Nouman Ali Khan Indonesia

Semoga kita bisa menjadi fasilitator-fasilitator terhebat untuk anak-anak kita, ya! AAMIIN! :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts