NHW #5: Learning How To Learn


Assalamu'alaikum wr.wb.

Hola Halo!

Buku Learning How to Learn karya L. Ron Hubbard ini saya pinjam di Bapusipda Jabar sekitar satu tahun yang lalu. Bukunya penuh dengan ilustrasi dan penjelasannya disampaikan dengan sangat menarik. Singkat, padat, jelas, mencubit. Iya, mencubit karena menyadarkan saya akan apa arti 'learning' sesungguhnya yang ternyata jauh dari apa yang saya lakukan seumur hidup saya di bangku sekolah.


Buku ini sendiri sangat fenomenal dan dijadikan acuan oleh Applied Scholastics, sebuah organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan, untuk membantu siswa dan guru agar memahami bagaimana cara 'learn' dan 'study'. Teman-teman bisa langsung main ke situs www.appliedscholastics.org untuk mendapatkan informasi lebih lengkap beserta banyak testimoni siswa, orangtua dan guru yang telah merasakan manfaat metode 'learning' L. Ron Hubbard.


Rencananya saya akan membahas tentang design pembelajaran, tapi, karena saya nggak punya ide apapun tentang design pembelajaran, maka saya akan membahas topik ini dari apa yang saya dapatkan dari bukunya L. Ron Hubbard ini, ya. Oia, buku ini adalah salah satu buku yang menginspirasi saya dalam melakukan pengasuhan pada Ahza. Saya juga sempat sedikit berdiskusi tentang definisi 'learning' pada buku ini dengan Mbak Farda dan kami setuju bahwa definisi ini sangat jauh berbeda dengan 'learning' yang dilakukan di bangku sekolah. Malahan, saya jadi ingin meng-homeschooling-kan Ahza saja, deh! Hmm..

Definisi 'Learning'


Definisi 'learning' berdasarkan Kamus Merriam-Webster adalah sebagai berikut:
1:  the act or experience of one that learns a computer program that makes learning fun
2: knowledge or skill acquired by instruction or study people of good education and considerable learning
3:  modification of a behavioral tendency by experience (such as exposure to conditioning)

Sedangkan, 'learning' yang disampaikan oleh L. Ron Hubbard adalah:
Understanding new things and getting better ways to do things.

Proses 'Learning'


'Learning' adalah sebuah proses yang diawali dari rasa ingin tahu tentang sesuatu. Rasa ingin tahu ini kemudian dilengkapi dengan keinginan kita untuk mempelajari tentang suatu subject. Subject yang ingin kita pelajari ini kita yakini memiliki kebermanfaatan pada kehidupan jika kita pelajari secara mendalam.

Setelah kita memiliki keinginan untuk 'learning something', maka proses selanjutnya adalah 'study'. 'Study' ini terdiri dari tiga hal: 
to look at something, ask about it and read about it, LOOK, ASK and READ.

Melihat sesuatu yang menjadi subject pembelajaran kita. Lihatlah pesawat jika ingin mempelajari pesawat, kunjungilah kebun binatang jika ingin mempelajari dunia binatang, atau rasakanlah dinginnya air es jika ingin mempelajari proses pembekuan. Jika tidak bisa melihat benda aslinya, kita bisa menggantinya dengan foto atau video yang sekarang dapat mudah kita akses melalui Google dan YouTube.

Bertanya. Bertanyalah pada ahlinya. Jika ingin mempelajari pesawat, datanglah ke para ahli pembuat pesawat. Bisa di kampus atau ke PT. DI. Jika ingin mempelajari dunia binatang, kita bisa bertanya ke dokter hewan, ahli biologi, atau ahli zoologi, dan seterusnya.

Membaca. Carilah bahan bacaan yang sesuai dengan subject yang kita pelajari. Rauplah sebanyak-banyaknya fakta yang terdapat pada bahan bacaan tersebut dan bandingkanlah dengan apa yang kita ketahui atau data yang kita dapat di lapangan. Bacalah sebanyak-banyaknya.

Setelah semua proses ini kita jalani, barulah kita bisa menyebut bahwa kita sudah mempelajari tentang subject tersebut. We already learn something.


Sungguh berbeda bukan dengan yang kita alami di sekolah? Di sekolah, komunikasi yang terjadi adalah satu arah, yaitu guru memberikan sebanyak-banyaknya fakta kepada murid. Sayangnya, hal tersebut bukanlah suatu bentuk 'learning'. Apakah fakta tentang tahun ditemukannya bohlam dapat menyelamatkan hidup kita hari ini? Atau pengetahuan tentang di mana letak Zimbabwe di peta buta membuat kita tidak bisa bekerja? Nggak, kan? Ya, 'learning' adalah ketika kamu ingin mempelajari sesuatu karena kamu tahu bahwa subject tersebut akan bermanfaat dalam hidupmu.

Kenali Tiga Hambatan dalam Belajar


Menurut Hubbard, ada tiga hambatan terbesar yang umumnya dihadapi seseorang saat melakukan kegiatan 'learning', yaitu:
  1. Absense of mass. Ketiadaan objek. Seperti yang telah dibahas di atas, akan sangat sulit bagi kita untuk mempelajari tentang pesawat jika kita tidak pernah melihat pesawat sekali pun dalam hidup kita. Oleh karena itu, perkenalkanlah objek dari apa yang akan dipelajari anak sebelum mengajaknya belajar.
  2. Skipped gradient. Melewati tahapan, tidak step by step. Alih-alih setahap demi setahap, ada beberapa orang yang nekat mempelajari sesuatu langsung pada level advance sebelum menguasai basic. Hasilnya adalah kebingungan dan tidak tahu apa yang sebenarnya tidak ia mengerti. Oleh karena itu, proses 'learning' memang butuh kesabaran. Dibutuhkan waktu untuk belajar setahap demi setahap untuk mencapai ilmu yang paripurna dan menjadi pakar dalam bidangnya.
  3. Misunderstood word. Hambatan ini adalah hambatan yang paling sering ditemukan dialami oleh murid sekolah. Saat guru menerangkan atau saat membaca buku, kita seringkali menemukan kata-kata yang kita tidak tahu artinya atau kita salah mengartikannya. Terlihat sepele, tapi apa yang terjadi adalah kekacauan saat kita mencoba mempelajari sesuatu. Solusinya adalah berhenti sejenak dan bukalah kamus. Carilah arti dari kata-kata yang tidak kita mengerti dan buatlah contoh kalimat menggunakan kata tersebut. Dengan ini, kita bisa memahami apa yang sedang dipelajari dan apa yang disampaikan guru pun dapat diterima dengan baik.

Tujuan 'Learning'


Apa sih tujuan kita belajar?

Kalau saya nih, dulu waktu masih sekolah dan kuliah, tujuan belajar adalah supaya mendapatkan nilai yang baik, dapat melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya dan melanjutkan studi ke tempat terbaik. Iya, sebatas itu aja. Nggak ada tuh keinginan untuk menjadi ahli di bidangnya dan lain-lain. Hehe..

Padahal, tujuan sebenarnya dari belajar adalah untuk mengetahui sesuatu yang baru dan dapat melakukan sesuatu tersebut dengan cara yang lebih baik. Ada dua kata kunci di sini: mengetahui dan menemukan. Mengetahui sesuatu yang baru dan menemukan cara untuk melakukannya dengan lebih baik.


Metode 'learning' yang dikemukakan oleh Hubbard ini pun memiliki tujuan:
Menciptakan anak-anak yang dapat menjadi pembelajar yang mandiri dan memiliki minat tinggi untuk belajar; mencintai proses belajar dan mempelajari bagaimana melakukan sesuatu yang baru.

Huaaa, orangtua mana sih yang nggak senang melihat anaknya suka belajar? Rajin belajar tanpa disuruh, belajar karena mereka suka dengan subject-nya dan tahu tujuan mereka dalam mempelajari subject tersebut.

Ya, hal terpenting sekaligus PR terbesar bagi saya adalah bagaimana menciptakan willingness to learn dan loves to study dari anak-anak saya. Bagaimana menjadi orangtua yang openminded dengan karakter generasi C (generasi yang lahir tahun 2000 ke atas) yang pastinya jauh berbeda dengan generasi kita. Bagaimana menjadi orangtua yang bisa menjadi fasilitator bagi anak-anak, agar anak-anak ini bisa mengaktivasi potensi diri yang sudah dianugerahkan Allah sejak lahir. Bagaimana menjadi orangtua yang mau belajar bersama-sama dengan anak, mencoba mencintai -minimal mengemal- apa yang anak sukai agar anak memiliki rasa percaya pada kita, orangtuanya. Saya ingin menjadi orangtua yang tidak pernah berhenti belajar. Saya ingin menjadi longlife learner moms.

Oia, dan satu lagi yang harus dicatat: jangan pernah mematikan rasa ingin tahu anak-anak kita karena itulah modal terbesar untuk belajar.

Desain Pembelajaran Ala Ibu Jerapah


Oke, penjelasan panjang lebar tentang 'learning' di atas sebenarnya hanya pengantar dari part ini. Huahahaha.. *dilempar botol sama penonton*

Bagian ini akan menjawab apa yang menjadi NHW minggu kelima Matrikulasi Institut Ibu Profesional, yaituuu:

Setelah malam ini kita mempelajari tentang “Learning How to Learn” maka kali ini kita akan praktek membuat *Design Pembelajaran* ala kita.
Kami tidak akan memandu banyak, mulailah mempraktekkan "learning how to learn" dalam membuat NHW #5.
Munculkan rasa ingin tahu bunda semua tentang apa itu design pembelajaran.
Bukan hasil sempurna yang kami harapkan, melainkan "proses" anda dalam mengerjakan NHW #5 ini yang perlu anda share kan ke teman-teman yang lain.
Selamat Berpikir, dan selamat menemukan hal baru dari proses belajar anda di NHW #5 ini.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Matrikulasi IIP/

... lalu saya tertegun membaca NHW kali ini >.<


Berdasarkan apa yang saya dapatkan dari beberapa bahan bacaan ataupun dari sharing sesama ibu pembelajar, desain pembelajaran yang (akan) saya gunakan dan optimalkan di rumah adalah sebagai berikut:
  1. Mengobservasi minat dan potensi Ahza melalui permainan sehari-hari. Ada kalanya minat terlihat saat Ahza hanya fokus pada suatu subject. Misalnya, pada rentang umur 1,5-3 tahun, Ahza terlihat sangat menyukai binatang, terutama kuda. Hal ini saya lihat dari observasi saat Ahza berinteraksi dengan kuda, keinginan yang besar untuk melihat kuda, saat memilih mainan, saat membentuk lego-legonya menjadi kuda dan masih banyak lagi.
  2. Arahkan pembelajaran sesuai dengan minat dan potensi Ahza dengan cara yang menyenangkan. Saya nggak pernah memaksa Ahza untuk belajar, tapi kalau ada momen yang pas untuk dijadikan pembelajaran, mengapa tidak? Seperti saat Ahza suka sekali memperhatikan gerobak kuda, secara tidak langsung ia hafal dengan berapa jumlah roda gerobak dan bagaimana bentuk roda tersebut. Biasanya, saat bermain di rumah saya 'uji' dengan menggambar gerobak dengan jumlah roda yang salah. Dan ternyata benar! Ternyata Ahza hafal jumlah roda yang ada di gerobak tersebut dan langsung protes. Di sana saya selipkan pengenalan tentang angka dan jumlah. Saya jelaskan bahwa gerobak kuda ada dua, ada sepasang, dan menjelaskan bahwa yang saya gambar ada empat roda. Tidak memaksa, tapi dengan pengulangan akhirnya Ahza tahu yang mana satu dan dua.
  3. Menggunakan cerita untuk menanamkan nilai-nilai positif. Cerita-ceritaan dengan Ahza itu jadi we time favorit saya. Tidur-tiduran sambil cerita banyak hal. Ada kalanya, karena masih balita, saya harus menyampaikan sesuatu yang lumayan berat, seperti menasehatinya untuk berbagi mainan. Maka, yang saya gunakan adalah menyampaikannya dengan bercerita. Cerita binatang masih menjadi favoritnya atau membacakan buku yang sesuai dengan apa yang akan saya sampaikan.
  4. Jadikan setiap waktu dan tempat menjadi momen untuk memberitahu sesuatu yang baru, menjelaskannya dan merangsang anak untuk bertanya. Suka agak males sih, apalagi kalau badmood, haha. Tapi percayalah, anak akan jadi lebih kritis saat bertemu dengan hal-hal baru dan 'aneh'
  5. Dokumentasi. Well, ini PR besar untuk saya. Seharusnya untuk balita seusia Ahza, ibu harus membuat dokumentasi untuk mengetahui sejauh mana perjalananan sudah terlalui. Tapi ya begitulah, saya sering malas mendokumentasikan kegiatan Ahza. Malah saya lebih sering curhat nggak jelas di sosial media. Huahaha. Maafkan ibu ya, Nak.. -.-
Apalagi ya?
Duh, ini kayaknya NHW paling ngalor ngidul ya..
Maafkan aku teteh Fasil..
Sungkem sama Teh Ami dulu.. :D

Ya, intinya, kalau belajar ala saya mah ya nggak usah dipaksain untuk ngajarin apa yang anak nggak suka atau minati. Perkuat potensinya maka kelemahannya akan tidak berarti. Bukankah begitu filosofinya?

Semoga curhatan ini bermanfaat. Aamiin..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

Popular Posts