[8/30] #SingleParenting : Belajar Ikhlas

Assalamu'alaikum wr.wb.

Hola Halo!

Bismillah.. Dengan ini, saya berkomitmen untuk memulai menulis pengalaman saya selama menjalani single parenting dalam mengasuh Ahza. Tujuannya untuk berbagi, bukan menggurui apalagi memberi tahu yang mana yang benar atau salah. Selama tiga tahun belakangan ini saya 'digembleng' oleh Ahza, belajar banyak hal dari Ahza. Ya, memiliki anak itu anugerah, karena seperti halnya sekolah, setiap hari ada saja hal baru yang kita dapatkan dari kegiatan mengasuh anak. Dari hal yang menyenangkan, menjengkelkan, membuat tangis haru atau stres. Lengkap! :)

Saya memutuskan untuk berbagi bukan merasa saya sudah benar atau memiliki gaya single parenting terbaik. BIG NO! Karena saya merasa saya ibu yang buruk untuk Ahza. Karena saya merasa masih harus banyak banyak banyak belajar menjadi ibu terbaik untuk Ahza. Masih harus belajar banyak sabar, belajar tentang mendidik anak sesuai fitrah, menjadi fasilitator untuk Ahza, teman curhat dan banyak lagi.


Saya berbagi karena mungkin ada banyak ibu-ibu tunggal yang baru memulai perjalanannya menjadi single parent dan tidak tahu harus berbuat apa. Atau para wanita yang masih ragu untuk memulai hidup baru karena tidak ada bayangan tentang single parenting. Ibu-ibu, teman-teman tersayang, saya hanya ingin berpesan, "Tenang saja, insya Allah semua akan baik-baik saja selama masih ada harapan di hati kita. Allah akan selalu menerangi jalan hamba-Nya yang meminta, yang memohon pada-Nya. Insya Allah."

Melalui segmen baru ini, saya harap bisa sedikittt menginspirasi atau memberi pencerahan bagi ibu tunggal bahwa tidak selamanya single parenting itu nightmare. Semua tergantung cara kita menyikapinya. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya? :)

Postingan #SingleParenting pertama ini akan saya isi dengan pengalaman berharga yang saya dapat hari ini. Saya belajar berlatih ilmu baru hari ini. Dari Ahza, anak laki-laki berusia tiga tahun. Putra saya tersayang.

Hari ini adalah hari ke-17 Ramadhan. Sejak jam 10 pagi, saya, Ahza dan Mama sudah berjibaku melawan kemacetan di Jalan Soekarno Hatta, Bandung, yang memang selalu macet setiap saat. Destinasi kami adalah rumah Madel. Kami akan menjemput Madel untuk menemaninya berburu kain untuk memproduksi mukena.

Aktivitas mencari kain ini memakan waktu lumayan lama. Sekitar 12.30 akhirnya kami bertolak ke daerah Dago untuk mem-booking tempat di Kapulaga untuk buka bersama keluarga besar Mama. Karena macet di mana-mana, akhirnya kami baru sampai di Kapulaga pukul 14.00 dan.. saya belum shalat. Maafkan ya Allah :(

Di bagian belakang Kapulaga terdapat arena bermain di taman terbuka yang super asyik. Halaman yang ekstra luas dengan rumput halus, rumah pohon, jembatan gantung, perosotan, kolam ikan dan kandang musang. Wah, wah, Ahza langsung berlari riang, padahal baru saya bangunkan dari tidurnya.

ilustrasi, ini bukan Kapulaga :P

Waktu semakin mepet, saya pun mengajak Ahza untuk ke Mushola selagi Mama dan Madel mem-booking tempat. Seperti yang sudah disangka, Ahza mogok. Ia lebih memilih nongkrong di dekat kolam ikan, asyik memperhatikan ikan yang berenang ke sana ke mari. Setelah membujuk lama, akhirnya saya menyerah. Saya harus rela meninggalkan Ahza di kolam ikan.

Siang tadi pengunjung Kapulaga cukup ramai, sehingga saya tidak begitu khawatir untuk meninggalkan Ahza di kolam ikan. Toh ada banyak mata yang mengawasi jika ada -amit-amit- yang mengajak Ahza pergi.

Namun belum sampai raka'at kedua, saya membatalkan shalat saya lantaran pikiran-pikiran buruk terus menyerang saya. Khawatir Ahza diculik, Ahza jatuh, Ahza diganggu orang, dan seterusnya. Saya pun memutuskan untuk menghampiri Ahza di kolam ikan dan membujuknya untuk mengikuti saya ke Mushala.

"Ahza, ikut ibu ke Mushala, yuk! Habis itu kita ke sini lagi. Ya? Mau, ya? Ibu khawatir sama Ahza..", bujuk saya.
"Nggak mau.", jawabnya pendek sambil memajukan bibir tanda kesal.
"Ini udah mau hujan, lho. Tuh, udah gerimis.", kata saya lagi.
"...", diam.

Huft.. Bagaimana ya.. Rasanya bersalah juga sama Allah karena shalat terlambat padahal sedang shaum Ramadhan.

"Ya sudah, nanti kalau Ahza selesai liat ikan atau sudah hujan, Ahza langsung ke Mushala ya?", akhirnya saya menyerah.
"Iya," jawabnya pendek (lagi).

Akhirnya saya meninggalkan Ahza (lagi) sambil membulatkan tekad. Menitipkan Ahza pada Allah.

Saya jadi teringat pada seorang teman yang berangkat haji bersama suaminya dari Belanda. Karena tidak ada handai taulan yang bisa dititipi di Belanda, maka sang anak dititipi di neneknya di Bandung. Bayangkan, selama waktu yang cukup panjang, ibu dan anak ini terpisah jarak Indonesia-Arab Saudi. Ketika saya tanya bagaimana caranya agar tenang, sang teman menjawab bahwa ia menitipkan anaknya pada Allah. Ia dan suaminya yakin bahwa ini adalah salah satu ujian Allah, apakah mereka lebih menyayangi anak atau Allah. Pilihan yang amat berat, namun akhirnya semua berakhir bahagia.

Maka saya pun memutuskan demikian. Saya menitipkan Ahza pada Allah dengan jarak yang hanya beberapa meter saja. Di tengah kerumunan pengunjung restoran pasti tidak akan ada kejadian buruk yang bisa terjadi. Saya ikhlas, saya percaya.

Saya pun mengulang shalat saya. Mencoba khusyu, memusatkan tujuan hanya pada Allah. Tak disangka, selesai raka'at kedua tiba-tiba terdengar suara dentingan uang receh pertanda Ahza datang. Ia pun masuk Mushala dan duduk di sebelah saya, menunggu saya selesai shalat. Maafkan shalatku yang tak sempurna ini ya Allah, tapi terima kasih sudah menjaga Ahza. Alhamdulillah.

Selesai shalat saya langsung memeluk Ahza dan berbisik, "Makasih yaa sudah datang ke sini, nunggu ibu shalat. Makasih ya Ahza sholeh. Ibu sayang Ahza.."

Sederhana. Tapi saya ilmu penting tadi siang. Belajar untuk ikhlas. Bukankah semua ini adalah milik-Nya? Harta kita milik-Nya. Anak kita milik-Nya. Bahkan tubuh ini pun milik-Nya. Maka, mengapa kita tidak ikhlas saat harus menitipkan anak-anak kita pada-Nya saat menghadap pada-Nya?

Dan anak-anak pun cerdas. Mereka memiliki fitrah takut akan sesuatu yang mengancam. Mungkin Ahza merasa ssesuatu yang mengganggunya. Tetesan air hujan, rasa lapar atau kesepian ditinggal ibu. Apapun itu. Allah mengirimkan jalan agar Ahza datang ke Mushala, menunggui saya.

Jangan takut untuk melepaskan. Jangan takut untuk ikhlas.

Baru saja saya baca kemarin, tapi lupa entah di mana. Kira-kira seperti ini:
"Kita lahir dalam keadaan tangan yang mengepal dan meninggal dalam keadaan tangan membuka, melepaskan.
Maka, tujuan akhir kita adalah melepaskan, bukan menahan segala yang kita punya."

Lepaskanlah, ikhlaskan semua pada Allah, maka hidup kita akan tenang.

Huhu, terima kasih yaa, Ahza. Sudah mengajarkan ibu ilmu baru hari ini.
Ibu sayang Ahza..

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Ya Allah, mbak. Nyesek saya bacanya. Terharu biru. Pingin nangis juga. Betapa ikhlas itu memang tidak mudah. Saya sering merasa terlalu khawatir saat si kecilku, Rafa sedang di sekolah, di rumah, pokoknya tidak sedang sama saya. Padahal, bila saya yakinkan diri bahwa Allah akan menjaga anak kita, InsyaAllah segala kekhawatiran tidak perlu ada. Terimakasih untuk remindernya, mbak Dessy.

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah.... betul mba, segala sesuatu yg kita serahkan pada Allah, akan Allah jaga sebaik2nya. Peluk utk Ahza :)

    ReplyDelete
  3. Allah sebaik-baik penjaga. Sehat selalu ya Dece dan Ahza :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts

Institut Ibu Profesional