[6/30] NHW #3: Membangun Peradaban dari Dalam Rumah Kami


Assalamu’alaikum wr. wb.

Hola Halo!

Tema yang diangkat di Program Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP) minggu ketiga ini adalah "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah". Qadarullah, setiap materi kok ya selalu pas banget dengan buku apa yang sedang saya baca. Setelah mengeksplor diri pada minggu pertama dan pas dengan buku “Business Model You” yang baru selesai saya baca, minggu ini pun temanya bersinggungan dengan Bab 1 dari buku yang sedang saya baca: Fitrah Based Education (FBE) karya Ustadz Harry Santosa. Kayaknya jodoh ya.. #ApaSih :p

Sedikit mengutip apa yang saya baca di buku FBE, tujuan pendidikan adalah peran peradaban. Pendidikan menumbuhkan semua potensi fitrah menuju peran peradaban (misi penciptaan). Setidaknya ada tiga fitrah yang dimiliki anak sejak lahir:
  1. Fitrah Keimanan: Setiap anak lahir dalam keadaan telah terinstal potensi fitrah keimanan. Setiap kita pernah bersaksi bahwa Allah sebagai Robb. Tidak ada anak yang tidak cinta Tuhan & Kebenaran, kecuali disimpangkan dan dikubur oldeh pendidikan yang salah dan gegabah.
  2. Fitrah Belajar: Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Tidak ada anak yang tidak suka belajar kecuali fitrahnya telah terkubur atau tersimpangkan.
  3. Fitrah Bakat: Setiap anak adalah unik, mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya, yang akan membawanya kepada peran spesifik peradaban.


Masya Allah. Semoga di tangan kita, anak-anak kita tetap terjaga fitrahnya hingga dewasa nanti ya, Maks! Aamiin..


Kembali lagi ke tema "Membangun Peradaban dari Dalam Rumah", Nice Homework (NHW) kali ini sangat menantang. Ada tiga jenis pertanyaan yang bisa kita pilih: pranikah, nikah dan orangtua tunggal. Tentu saja saya memilih orangtua tunggal dan ini dia NHW #3 saya:

Buatlah “Tanda Penghormatan”, dengan satu dua kalimat tentang sisi baik “ayah dari anak-anak kita” sehingga dia layak dipilih Allah menjadi ayah bagi anak kita, meskipun saat ini kita tidak lagi bersamanya.

Ada dua hal yang dimiliki ayahnya Ahza yang membuat saya –saat itu- jatuh hati. Yang pertama adalah rasa sayangnya yang sangat besar pada keluarga. Ia sangat menyayangi keluarganya dan paling marah jika ada seseorang yang membuat sakit hati salah satu anggota keluarganya. 

Yang kedua adalah kecintaannya pada alam. Alam adalah tempat satu-satunya ia bisa merasa nyaman. Kalau ditanya tentang passion, mungkin ia akan menjawab hidup di tengah alam. Ya begitulah sekilas tentang ayah Ahza, maaf nggak kuat nulis tentang dia mah. Gagagaggagahhh…

Lihatlah anak-anak anda, tuliskan potensi kekuatan diri mereka masing-masing.

Potensi kekuatan Ahza:
  • Dari bayi merah banyak yang bilang kalau Ahza adalah anak yang keras kepala. Mencoba melihat dari sisi positif, jika sejak kecil ditanamkan nilai-nilai kebaikan, mudah-mudahan kelak Ahza bisa menjadi orang yang keras kepala mengenai hal-hal baik. Nahi mungkar.
  • Ahza anak yang periang dan mudah akrab dengan anak lain. Meski butuh waktu untuk beradaptasi, namun pada beberapa kasus Ahza bisa sangat cepat akrab dan bermain dengan anak lain.
  • Semangatnya luar biasa. Kalau sudah ingin sesuatu, Ahza akan mengusahakan sampai dapat. Karena masih kecil, usahanya ya nangis. Tapi kalau dirasa berlebihan, saya orangnya tegaan membiarkan Ahza menangis, demi kebaikan. Maafkan Ibu ya, Nak! Hehe..
  • Ahza sangat suka membaca buku. Ia sudah bisa memilih buku apa yang ia sukai dan meminta orang-orang dewasa di sekitarnya untuk membacakan buku.
  • Ahza sudah bisa mendongeng. Mendongeng apa saja, mengarang cerita seperti ibu. Kadang-kadang pura-pura membaca buku yang ia hafal isinya.
  • Ahza sudah hafal jalan sejak umur 2 tahun. Ia sudah tahu jika Ibu mau pergi ke rumah Kakek Uu, atau mengajak pulang tapi jalan yang diambil berbeda. Ahza juga hafal apa-apa saja yang dijumpai selama perjalanan dan akan membahasnya di lain kesempatan.
  • Komunikasinya sudah baik. Untuk anak yang semula mengalami speech delay, kosa kata Ahza sudah cukup banyak. Ada beberapa kata yang baru saya pakai ketika di atas umunya tapi sudah ia pahami dan pakai.
  • Masing-masing anak unik dan punya gaya belajar masing-masing. Gaya belajar Ahza yang main sambil belajar mengakomodir kelemahan saya dalam membuat DIY mainan untuk Ahza. Alhamdulillah *ibu pemalas*
  • Masih banyak lagi potensi yang dimiliki Ahza, insya Allah, semoga ibu bisa memfasilitasi Ahza untuk mengembangkan potensi dan bakat-bakat yang Ahza miliki ya, Nak! Aamiin.


Lihatlah diri anda, silakan cari kekuatan potensi diri anda. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.

Hadeuh, yang ini susah bener pertanyaannya.. -.-

Potensi saya apa ya? Saya merasa nggak punya potensi apa-apa. Modal saya hanya satu: semangat belajar. Saya punya semangat untuk mempelajari hal-hal yang nggak saya tahu tapi saya anggap penting untuk dikuasai. Misalnya, untuk menyusui Ahza, saya sengaja membeli beberapa buku dan concern untuk mencari ilmu tentang ini. Hal ini saya lakukan karena saya yakin kalau menyusui itu penting dan ASI itu hal terbaik yang bisa saya berikan untuk Ahza. Dari sana, Alhamdulillah, Ahza bisa jadi professor ASI dan sedikit ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat juga untuk orang lain.

Dari sana juga saya menyebut diri saya sebagai Life Long Learner Mom, walaupun sudah bertitel ibu, tapi mudah-mudahan semangat belajar saya nggak akan pernah padam tergerus usia dan kerutan di wajah. Eh apa pula :p

….. kemudian tengok kembali anak anda, silakan baca kehendak Allah, mengapa anda dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasiaNya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.

Speechless sama pertanyaan ini. Saya bingung mau jawab apa.. -.-

Potensi saya adalah semangat untuk belajar dan kalau menengok Ahza, saya rasa Ahza pun punya semangat itu. Bukti: bisa naik sepeda padahal belajar sendiri, bisa nyuci sepatu sendiri, bisa bikin gerobak, perahu, mobil sendiri dari perabot kamar. Semangat kan, itu? *maksa

Jadi, mungkin, mungkin yaa.. Allah menakdirkan saya yang bersemangat memiliki anak yang nggak kalah semangat agar kami berdua bisa menghadapi berbagai tantangan kehidupan ini dengan semangat dan pantang menyerah! Mungkin Allah memberikan ujian demi ujian agar kami berdua karena Allah ekstra sayang dengan kami. Karena janji Allah itu nyata: Allah nggak mungkin membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Kami punya semangat dan itu yang membuat kami akan bisa mencapai limit kemampuan itu. Dan mudah-mudahan dengan semangat ini kami bisa mengubah ujian menjadi hal-hal baik yang bisa bermanfaat untuk banyak orang. Ibu keren ya, Nak? Toss dulu, ah! :)

Lihat lingkungan di mana anda tinggal saat ini, tantangan apa saja yang ada di depan anda? Adakah anda menangkap maksud Allah, mengapa keluarga anda dihadirkan di sini?

Alhamdulillah, saya punya malaikat-malaikat di sekeliling saya yang sangat membantu dalam mengasuh Ahza: Enin, Engking dan Madel. Mereka-mereka ini cueknya kelas berat sama saya, dalam artian ya nggak pernah tuh nanya-nanya, mancing untuk curhat. Tapi mereka sayaaaaaaang banget sama Ahza. Perhatiaaaan banget. Pokoknya benar-benar seperti guardian angel-nya Ahza. Beruntung banget saya.



Oia, baru belakangan ini sebenarnya saya bisa menerima kecuekan keluarga ini. Setelah sempat depresi karena merasa nggak ada yang perhatian sama masalah saya, saya belajar menerima kalau memang tiap keluarga itu unik dan beginilah keluarga saya. Mereka cuek tapi mereka sayang sama kami. Alhamdulillah juga saya depresi, saya jadi punya pengalaman perjalanan panjang berkontemplasi dan berusaha berdamai dengan semua orang. Perjalanan spiritual yang nggak mungkin saya alami kalau saya nggak depresi. Berharga banget untuk saya karena dalam perjalanan ini saya banyak kenal orang baru, ilmu-ilmu baru dan menemukan apa yang ada dalam diri saya.

Keluarga adalah tempat pulang. Jika selama dua puluh sekian tahun saya hidup dan selalu nggak punya tempat pulang, sekarang saya sudah menemukan rumah. Rumah adalah di mana Enin, Engking, Madel, Bebi Levi dan Ahza berada. Dengan bersama mereka, saya sudah punya segalanya. Saya orang paling beruntung di dunia. Saya kaya raya. Allah Maha Baik, Alhamdulillah.. :)

Mak, aku nangis.. T_T

Setelah menjawab pertanyaan - pertanyaan tersebut di atas, sekarang belajarlah memahami apa sebenarnya "peran spesifik keluarga" anda di muka bumi ini.

Wah, apalagi ini, wahahaha -.-

Bicara tentang keluarga, dulu saya selalu benci dengan kata ini. Saya benci keluarga. Saya benci pulang ke rumah.

Nggak ada satu orang pun yang bisa saya ajak ngobrol di rumah. Mama pergi, Madel dibawa ke Jakarta. Yang membuat saya betah hanya alasan saya harus sekolah, sekolah saya bagus dan anjing-anjing saya. Setelah pengalaman traumatic di masa kecil, ternyata setelah dewasa pun saya banyak mengalami pengalaman-pengalaman menyakitkan dan makna “rumah” menjadi semakin kabur. Di mana keluarga? Di mana rumah?

Sampai pada puncaknya adalah perpisahan saya dengan ayahnya Ahza yang berujung depresi karena saya semakin merasa sendiri.

Tapi lihat apa yang saya rasakan sekarang. Ternyata benar kata orang. Kepedihan-kepedihan yang saya alami sejak saya kecil, kini berbuah manis. Melalui perjalanan panjang dan menyakitkan, sekarang saya sadar apa makna bahagia. Untuk berkumpul bersama seperti hari ini perlu cerita panjang. Dan saya bersyukur saya ada di titik ini sekarang.

Peran keluarga saya di muka bumi adalah sebagai bukti bahwa sesuatu yang awalnya buruk belum tentu berakhir buruk dan sebaliknya. Kami membuktikan bahwa janji Allah itu benar: di setiap kesulitan pasti ada kemudahan!

Tetap semangat keluargaku!
I love yoouuu sooooo much :*
Ribuan terima kasih untuk Enin. Mama malaikat hidup saya.

Selamat membaca hati dan menuliskannya dengan nurani. Sehingga kata demi kata di nice homework #3 kali ini akan punya ruh, dan menggerakkan hati yang miembacanya.

Salam Ibu Profesional
/Tim Matrikulasi Ibu Profesional/

Oke, sama-sama ya tim matrikulasi IIP. Anda semua luar biasa bikin saya nulis empat halaman. HAHAHA..

NHW 3 ini luar biasa berkesan. Benar-benar butuh effort untuk menuliskannya. Menyadarkan saya kalau mungkin kita bisa berkontribusi -walau amat kecil- untuk membangun peradaban ini. Semoga,

Dan sengaja saya publish di blog untuk menginspirasi wanita-wanita lain yang mungkin punya pengalaman yang sama dengan saya namun belum bisa bangkit dan berbenah. Pesan saya: sabar dan nikmati. Karena Allah punya maksud dengan semua ini. Skenario-Nya itu luar biasa, mengalahkan drama Korea terbaper sekalipun. Jangan menyerah! Jangan menyerah! Jaga lilin semangat itu.

Sebagai penutup, saya ingin bercerita tentang Kisah Tiga Lilin yang disampaikan Prof. Dey saat pelepasan wisuda tahun lalu. Cerita ini saya copy dari sini karena sudah lelah ngetik. Gahahahaha.. enjoy!

Kisah Empat Lilin

Ada 4 lilin yang menyala, sedikit demi sedikit habis meleleh.
Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata: “Aku adalah Damai. Namun manusia tak mampu menjagaku: maka lebih baik aku mematikan diriku saja!” Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.

Yang kedua berkata: “Aku adalah Iman. Sayang aku tak berguna lagi. Manusia tak mau mengenalku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.” Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara: “Aku adalah Cinta. Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.” “Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna. Mereka saling membenci, bahkan membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.” Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam. Karena takut akan kegelapan itu, ia berkata: “Ekh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, Aku takut akan kegelapan!”
Lalu ia menangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:
“Jangan takut, Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:
“Akulah HARAPAN.”

Dengan mata bersinar, sang anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah HARAPAN yang ada dalam hati kita….dan masing-masing kita semoga dapat menjadi alat, seperti sang anak tersebut, yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya!


Maks, jangan matikan api semangat dan harapanmu ya! Selama ia menyala, kita akan baik-baik saja, insya Allah :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

Popular Posts