Rayakan Kata, Bumikan Ilmu di Festival Sastra Banggai 2017


"Sastra adalah pendidikan untuk jiwa." - Ahmad Tohari
Assalamu'alaikum wr.wb.

Hola Halo!

Jika ada pertanyaan besar tentang sastra yang ingin saya ketahui, pertanyaan itu adalah mengapa ada seorang penulis yang menyatakan bahwa sastra bisa melembutkan hati manusia? Bagaimana bisa? Dan saya sungguh beruntung bisa menemukan jawabannya saat menyimak materi demi materi yang disampaikan para sastrawan Indonesia di Festival Sastra Banggai 2017.


Festival Sastra Banggai (FSB) 2017 diadakan di Luwuk, Banggai pada tanggal 20-23 April 2017. Jika kamu pecinta sastra dan literasi, kamu pasti akan bahagia ketika menghadiri festival ini. Betapa tidak, sejak pagi sampai malam, para peserta akan disuguhi beragam kelas seputar sastra dan literasi serta ditutup dengan malam seni selama empat hari berturut-turut. 

Tahun 2017 ini adalah tahun pertama diselenggarakannya FSB oleh Babasal Mombasa. Babasal (yang merupakan akronim dari tiga suku besar yang bermukim di Banggai) Mombasa adalah gabungan dari komunitas literasi yang ada di Banggai. FSB ini lahir dari kegelisahan para Babasal Mombasa yang menginginkan Kota Luwuk memiliki sebuah identitas baru, Kota Aksara. 
Nah, kembali lagi pada pertanyaan saya di awal. Benarkah sastra bisa melembutkan hati manusia? Bagaimana caranya?

Jawaban dari pertanyaan ini saya temukan dari Seminar "Budaya Lokal dalam Karya Sastra" yang dibawakan oleh Bapak Prof. Maman S. Mahayana, seorang sastrawan, peneliti dan pengajar yang pernah menerima  tanda kehormatan Satyalancana Karya Satya dari Mantan Presiden SBY dan Bapak Ahmad Tohari, penulis trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang sudah mendunia. Rasanya pas sekali jika kedua tokoh memberikan materi tentang budaya lokal dalam karya sastra sekaligus membuka daftar panjang kelas selama FSB 2017.

"Mengapa sastra itu penting? Sastra berfungsi untuk menanamkan nilai-nilai pada hati manusia. Sastra membuat manusia tidak hanya pintar, tapi juga menjadi perasa, sensitif dan imajinatif. Sastra adalah pendidikan untuk jiwa," kira-kira begitulah yang disampaikan oleh Bapak Ahmad Tohari. Dengan membaca karya sastra, kita akan mengetahui bagaimana cara manusia menghadapi suatu persoalan. Walaupun tidak berlaku secara umum, namun kita akan belajar sesuatu dari sana, sambung beliau sekaligus menjawab pertanyaan saya.

Kelas-kelas di Festival Sastra Banggai 2017


Seperti yang sudah saya sampaikan di atas, kamu pasti akan kegirangan jika melihat daftar kelas dan acara yang disuguhkan FSB 2017 untuk para pesertanya. Penasaran? Ini dia..


Jika dilihat, pada satu waktu terdapat beberapa kelas yang diselenggarakan secara bersamaan. Dan saat itulah saya merasa ingin membelah diri. Dengan berat hati, saya harus membuat prioritas dan memilih kelas-kelas yang benar-benar saya butuhkan. Dan inilah daftar kelas yang saya ikuti selama FSB 2017:

Kelas Pembacaan Puisi bersama Khrisna Pabichara
Daeng, panggian dari Khrisna Pabichara, adalah salah satu pembaca puisi ekspresif di Indonesia.
Saat kamu menyaksikan Daeng membaca puisi, kamu akan mendapatkan pengalaman baru dalam menikmati pembacaan puisi.
Daeng menggabungkan nyanyian, budaya lokal, gerakan dan ekspresi saat membaca puisi.
Pada kelas perdana di FSB 2017 ini, Daeng berbagi hal-hal penting apa saja yang harus diperhatikan dalam pembacaan puisi.

Kelas kedua pada hari pertama FSB adalah seminar "Budaya Lokal dalam Karya Sastra". Seminar ini menghadirkan pakar sastra dan sastrawan Indonesia, Bapak Prof. Maman S. Mahayana dan Bapak Ahmad Tohari serta dimoderatori oleh penggiat literasi Palu, Kak Neni Muhidin.

Bapak Prof. Maman S. Mahayana menyampaikan bahwa kita harus bangga dengan apa yang kita miliki (dalam hal ini kebudayaan dan sastra). Begitu banyak tradisi sastra lisan yang dimiliki Indonesia dan akan terkikis jika tidak ditransformasikan ke dalam sastra tertulis. Hal ini penting untuk menjaga sastra dan menyampaikan pada anak cucu kita. Salah satu cara melestarikan kearifan lokal adalah dengan menyisipkan kebudayaan pada karya sastra.

Menulis itu bukan bakat tetapi keterampilan yang bisa dipelajari. Caranya adalah dengan menulis setiap hari, menulislah saat emosi datang dan gunakan smartphone yang kita miliki sebagai alat kita untuk menulis. Hal itulah yang saya catat baik-baik dari apa yang disampaikan Bapak Ahmad Tohari. 

Kelas Menulis Kreatif bersama Bapak Aslan Abidin, sastrawan dan pengajar di Universitas Negeri Makassar.
Pada kelas ini Pak Aslan mengupas tentang makna literasi dan pentingnya melek literasi sebagai keterampilan yang wajib dimiliki pada abad ke-21 ini. Beliau juga menyampaikan bahwa untuk dapat menulis dengan baik kita harus terlebih dahulu banyak membaca.

Bernard Batubara sedang bercerita tentang pengalamannya menjadi penulis sejak awal mula ia memiliki motivas ingin menjadi penulis hingga kini telah menerbitkan sebelas buku kumpulan puisi, cerpen dan novel. Hal yang penting dalam menulis, menurut Kak Bara, adalah menemukan motivasi untuk menulis dan menemukan jalan untuk menerbitkan tulisan kita.

Kopi Puisi.
Menghabiskan sore dengan berdiskusi dan menyaksikan pembacaan puisi. Foto diambil saat Kak Aan Mansyur sedang membacakan beberapa puisi dari buku kumpulan puisi terbarunya, "Sebelum Sendiri".

Pada hari ketiga saya memutuskan untuk mengikuti dua kelas sekaligus pada pagi hari. Alasannya, karena kedua kelas ini sangat menarik untuk diikuti. Kelas pertama adalah Kelas Teater bersama Kak Shinta Febriany. Kelas ini berhasil membuat saya ingin sekali mencoba berteater, karena ternyata dengan berteater kita bisa mengenali diri sendiri dan juga lebih peka terhadap keadaan lingkungan sosial di sekitar kita.

Kelas kedua di pagi ketiga adalah Kelas Menulis Puisi bersama Kak Aan Mansyur. Kelas Kak Aan ini dipenuhi pengunjung dan pertanyaan. Di akhir sesi Kak Aan meminta semua peserta untuk membuat sebait puisi tentang Teluk Lalong. Kemudian, peserta yang membacakan puisi karyanya dan memiliki penilaian terbaik mendapatkan hadiah buku kumpulan puisi dari Kak Aan.

Kelas terakhir. Hari terakhir. Last but not the least. Kelas ini benar-benar mengaduk-aduk perasaan saya. Haru, sedih sampai terinspirasi. Pada kelas ini, Kak Lian Gogali mengajarkan metode menulis yang benar-benar baru bagi saya. Istimewanya lagi, metode ini digunakan oleh Kak Lian untuk memberikan terapi pada anak-anak dan perempuan korban konflik di Poso. Ah, rasanya jadi ingin membagikan materi ini kepada ibu-ibu di komunitas saya. Very inspiring!

Malam Seni Budaya di Festival Seni Banggai 2017


Ada banyak hal yang membuat saya bangga berada di Banggai. Selain karena alamnya yang memesona, penduduknya yang ramah dan kulinernya yang juara, ada satu hal lagi yang membuat saya kagum pada Banggai: ia memiliki banyak pemuda pemudi berbakat. Bravo!

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Teluk Lalong disulap menjadi pusat kegiatan masyarakat sekaligus panggung terbuka di mana acara pembukaan dan penutupan FSB 2017 diadakan. Dan setiap malam, saya melihat bakat demi bakat, harta karun Banggai, ditampilkan di sana.


Pada malam pembukaan, yang dihadiri Bupati Banggai, ada banyak talenta di panggung terbuka. Ada Yunita Idol dengan suara indahnya, ada kelompok tari yang mempersembahkan tarian pembuka, Tante Jahariya dengan ba ode-nya yang membuat saya merinding sampai band lokal yang keren. 


Malam kedua, remaja Luwuk mempersembahkan kabaret yang mengusung tema Pinasa -Pia na sampah ala; jika melihat sampah, buanglah- sebuah gerakan untuk menjaga alam Luwuk agar tetap indah. Pada malam ini Tante Jahariya kembali membawakan ba ode yang mengajak masyarakat agar menjaga kebudayaan Banggai. Lagi-lagi sukses membuat saya merinding. Malam ditutup dengan pertunjukan monolog dari mahasiswa Gorontalo yang mengajak penonton tertawa, merenung dan menangis bersama.


Di malam ketiga, Luwuk menjadi saksi penampilan luar biasa dari Bli Tan Liao Lie, seorang pakar musikalisasi puisi. Penampilan Bli Tan berhasil menyedot perhatian penonton dengan gayanya yang eksentrik dan penuh makna. Setelah menyaksikan pertunjukan Bli Tan, diputarlah film Istirahatlah Kata-Kata, film yang menceritakan pelarian Wiji Tukhul sebelum dinyatakan hilang pada 1998. Kami beruntung bisa menyaksikan film ini karena konon tidak sembarang orang yang memiliki kopi film ini dan hanya di acara-acara tertentu saja film ini diputar.


Malam penutup menjadi malam yang mengaduk perasaan saya. Bahagia, haru dan sedih bercampur menjadi satu. Malam ini kami disuguhi penampilan dari Daeng Khrisna Pabichara, yang sebelumnya tampil dengan sang istri di malam pembukaan. Kelompok seni lokal juga membawakan pertunjukan-pertunjukan luar biasa dan ditutup dengan menari dan menyanyi bersama dengan para panitia dan relawan. Luwuk, saya bahagia pernah berada di tanahmu.

Kamu tahu? Mungkin saya hanya empat hari berada di Luwuk, namun ada banyak sekali semangat dan cerita yang saya bawa pulang. Setelah berpuluh tahun menjadi penikmat sastra, baru kali ini saya mendapat semangat untuk menulis karya pertama saya. Semangat setelah mendapatkan banyak hal dari kelas-kelas dan percakapan yang saya lalui di FSB 2017. Tentang cerita yang saya bawa pulang, jangan ditanya lagi. Bukankah setiap perjalanan akan menyisakan cerita untuk dikenang?

Babasal Mombasa, saya bangga dengan kalian. FSB 2017 jadi juara di hati saya. Slogan "Rayakan Kata, Bumikan Ilmu" akan selalu berkesan untuk saya.

Saya tunggu FSB 2018! Semoga kita berjodoh lagi bertemu di Banggai. Oh ya, tenang saja, saya sudah minum air Luwuk yang konon akan membawa saya kembali ke sana! :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Sangat mengagumkan. Saya agak malu terhadap diri sendiri sebab saat ajsng berlangsung saya tak bisa mengikuti beberapa rangkaian kelas padahal saya berada bersama mereka di Kota Luwuk. Terimakasih sudah menguraikan dengan sangat indah dan berharap kita bertemu pada FSB2018 mendatang.

    ReplyDelete
  2. Eah yg kutahu cm bang bara hihi

    ReplyDelete
  3. DC aku padamuuuu.....kereeeen....kapan meet up

    ReplyDelete
  4. Terima kasih untuk infonya,sangat bermanfaat

    ReplyDelete
  5. semoga bisa jumpa lg di FSB 2018 nanti...

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts