NHW #1 : Ilmu yang Ingin Ditekuni di Universitas Kehidupan


Assalamu'alaikum wr.wb.
Hola Halo!

"What it's like to be a parent: It's one of the hardest things you'll ever do but in exchange it teaches you the meaning of unconditional love." - Nicholas Sparks, The Wedding.

Jadi orangtua itu seru ajaib susyah. Seru karena bisa mengalami dan belajar banyak sekali hal baru. Ajaib karena ternyata saya bisa jadi ibu. Susyah karena nggak ada yang namanya "Buku Panduan Orangtua". Hehe..

Iya, jadi orangtua itu nggak sekolahnya, tapi banyak sumber ilmu untuk kita mempelajari banyak hal tentang dunia parenting ini. Salah satu sumber ilmunya adalah Matrikulasi Institut Ibu Profesional (IIP). IIP bukanlah komunitas yang asing bagi saya, karena hampir dua tahun ini saya memang intens berkomunikasi dengan para anggotanya dan sesekali mengikuti kegiatan yang mereka adakan. Tapi menjadi anggotanya? Saya belum berani karena merasa belum menjadi "ibu yang profesional". Apalah saya ini yang masih blah bloh jadi ibunya Ahza. 

Tapi, gimana mau berubah jadi lebih baik kalau kita nggak ada aksi? Jadi, dengan basmallah akhirnya saya mantap mendaftar program Matrikulasi IIP yang saat ini sudah masuk batch 4. Bismillahirrohmaanirrohiim.. :)

Materi pertama dalam matrikulasi ini adalah "Adab Menuntu Ilmu". Setelah setiap penyampaian materi dan diskusi via grup Whatsapp, para peserta disuguhi Nice Homework (NHW) yang harus disantap setiap minggunya. Supaya blog saya ada isinya, jadi nggak ada salahnya NHW ini saya kerjakan di blog ya. Hehe.. :)

Nice Homework #1 "Adab Menuntut Ilmu"


1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan Anda tekuni di universitas kehidupan ini.


Latar belakang pendidikan formal saya adalah manajemen bisnis dan tugas akhir selama S1 dan S2 membawa saya untuk mendalami keuangan UMKM. Latar belakang ini membawa saya pada profesi pengajar mata kuliah Kewirausahaan di salah satu universitas swasta di Bandung. 

Tapi, sebenarnya saya lebih mencintai profesi saya yang lain. Mencintai dan menikmati. Profesi tersebut adalah konsultasi literasi keluarga dan blogger. Keduanya memiliki persamaan karena sama-sama ada di ranah literasi, membaca dan menulis. Yang lebih menarik lagi, literasi adalah passion saya sejak dulu. Saya suka membaca apa saja dan menuliskan perasaan saya. Dan, apa yang lebih baik daripada hobi yang menjadi profesi?

Perkembangan selama dua tahun terakhir ini membawa saya ke satu titik bahwa saya harus mendalami satu jurusan ilmu agar apa yang saya lakukan saat ini bisa lebih bermanfaat untuk lebih banyak orang. Pencarian jurusan untuk program doktoral yang saya lakukan selama setahun terakhir malah membawa saya ke jurusan ini, jurusan yang membuat saya terngiler-ngiler. Hehe..

Literacy Education. Pendidikan Literasi.

Jurusan ini berhasil saya temukan di University of Melbourne, salah satu kampus terbaik di Aussie. Laman tentang jurusan ini bisa dilihat di sini. Program ini mengklaim akan memberikan spesialisasi keahlian dalam hal literacy policy, teori dan kurikulum, hingga bagaimana cara menghadapi kebutuhan literasi dari berbagai rentang umur. Hal-hal ini terdengar sangat menarik untuk saya. Tuh, kan, ngiler.. :)


2. Alasan terkuat apa yang Anda miliki sehingga ingin menekuni ilmu tersebut?


Literasi adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki semua orang untuk dapat bertahan hidup pada abad ke-21 ini. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh hasil riset Economic Forum. Di luar dari hasil riset itu, saya merasakan sendiri bagaimana kemampuan literasi berpengaruh besar pada hidup saya. Bagi saya, buku adalah jendela dunia, literally. Dengan membaca buku, kita bisa tahu banyak sekali hal di luar jangkauan kita secara fisik. Kita akan banyak mendapat inspirasi dari setiap buku yang kita  baca, dan saya percaya bahwa tiap-tiap kita akan bertemu dengan satu buku yang akan mengubah hidup kita. Percaya, ndak? :)

Oleh karena itulah, saya memiliki mimpi bahwa anak-anak saya dan anak-anak Indonesia harus melek literasi sedini mungkin. Mereka harus memiliki minat baca sejak kecil. Ingat ya, minat baca bukan kemampuan membaca. Menumbuhkan minat itu nggak instan dan butuh ketekunan. Siapa yang bertugas untuk menumbuhkan minat tersebut? Siapa lagi kalau bukan orangtua.

Maka, jika teman-teman penggiat literasi anak fokus untuk menumbuhkan minat baca dengan mengedukasi dan menciptakan aneka event untuk anak, fokus saya berbeda. Fokus saya adalah bagaimana agar para orangtua bisa memiliki kesadaran bahwa literasi itu penting bagi kehidupan. Setelah kesadaran itu muncul, diharapkan mereka akan dapat menularkannya pada anak-anak mereka. Sekarang gini deh, buah itu kan nggak akan jauh jatuh dari pohonnya. Maka, untuk mendapatkan apel yang lezat, maka pastikan agar si pohonnya sehat. Betul?

Nah, jadiii.. Atas dasar itulah saya membutuhkan ilmu pendidikan literasi ini. Harapannya adalah agar saya bisa memiliki fondasi kuat untuk mengedukasi para orangtua mengenai pentingnya literasi serta membagikan informasi mengenai bagaimana menumbuhkan minat baca kepada anak sesuai rentang umur berdasarkan teori dan pengalaman.

3. Bagaimana strategi menuntut ilmu yang akan Anda rencanakan di bidang tersebut?


Wah, kalau ada rezeki, rasanya ingin sekali mengikuti program yang saya sebutkan di atas. Tapi, bukan berarti kita harus menunggu sampai semua itu terwujud, kan? Sumber ilmu bisa berasal dari mana saja, terutama di tengah roda zaman yang luar biasa cepat bergulir ini.

Sumber ilmu yang pertama ada di depan mata. Anak-anak kita. Sebelum membagikan ilmu pada orangtua lain, alangkah lebih baiknya jika kita mempraktikkan terlebih dahulu pada anak-anak kita, sehingga kita bisa mengetahui apa manfaat sebenarnya dari membacakan buku pada anak dan bagaimana metodenya. Dan sependek ini, saya sangat merasakan manfaat dari membacakan buku untuk Ahza. Selain bonding, sesi membaca buku juga bisa memperkaya kosa kata Ahza dan meningkatkan daya imajinasinya.

Kemudian, ada banyak sumber ilmu lain, di antaranya:
  • Buku,
  • Video di Youtube dan audio di Podcast,
  • Artikel-artikel di blog seantero jagad,
  • Praktisi literasi anak,
  • dan orangtua yang lebih berpengalaman.
Kunci dalam menuntut ilmu ini adalah selalu mengosongkan gelas, jangan mudah puas dan selalu ingin belajar hal-hal baru. Setiap sumber ilmu, walaupun membahas hal yang sama, pasti akan memberikan sudut pandang berbeda dan akan memperkaya pengetahuan kita. Jadi, jangan bosan-bosan belajar. Semoga.

4.  Berkaitan dengan adab menuntut ilmu, perubahan sikap apa saja yang Anda perbaiki dalam proses mencari ilmu tersebut?



Pastinya banyak sekali yang ingin saya perbaiki. Musuh utama saya adalah diri saya sendiri. Saya mudah terserang malas dan manajemen waktu saya buruk. Saya juga lumayan moody-an, sehingga ketika on fire rasanya semangat sekali untuk belajar, tapi ketika bosan, tiba-tiba saja saya lupa akan niat saya.

Berangkat dari sana, yang harus diperbaiki adalah niat saya. Luruskan niat, untuk apa saya ingin belajar ilmu tersebut. Tujuan-tujuan apa yang ingin saya capai ketika saya memiliki ilmu tersebut. Apa yang ingin saya dapatkan.

Untuk manajemen waktu yang buruk, saya memerlukan jadwal teratur. Sudah beberapa kali mencoba dan sangat membantu ketika dijalankan. Namun biasanya jadwal ini hanya bertahan 2-3 hari, setelah itu bubar jalan. Solusinya, kembali lagi ke niat. Ayo, luruskan niat! Ingat-ingat untuk apa masa belajar ini. Jangan sampai apa yang dicita-citakan menguap begitu saja karena kemalasan.

Semangaaaatttt!

Sekian dulu NHW saya. Menarik sekali ya NHW-nya. Suka!
Semoga jadi pemecut dan pengingat. Aamin.

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

Popular Posts