[4/30] Saya dan Al Qur'an


Assalamu'alaikum wr.wb.

Hola Halo!

Bulan Ramadhan memang bulan istimewa. Dan semakin istimewa karena Al Qur'an diturunkan pada bulan Ramadhan, tepatnya tanggal 24 Ramadhan. Bahkan, Imam al-Qurthubi dalam tafsirnya pernah berkata bahwa bukan hanya Al Qur'an yang diturunkan pada bulan ini tetapi kitab suci lainnya seperti Taurat dan Injil. 

“Watsilah bin al-Asqa’ meriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alayhi wa Sallam bahwa beliau bersabda: Shuhuf Nabi Ibrahim diturunkan pada malam pertama Ramadlan, kitab Taurat pada 3 Ramadlan, kitab Injil pada 13 Ramadlan, dan al-Qur’an pada 24 Ramadlan”. Aku (al-Qurthubi) berkata: Hadits ini merupakan dilalah apa yang telah dinukil oleh al-Hasan bahwa lailatul Qadar ada pada malam 24 Ramadlan”.  

Masya Allah..

Bagi saya pribadi, Al Qur'an punya bagian sendiri dalam cerita hidup saya. Ada cerita panjang dan agak memilukan tentang saya dan Al Qur'an, sampai akhirnya berakhir bahagia seperti hari ini. Hari ini saya bisa membaca Al Qur'an sebanyak yang saya mau. Saya bisa membacanya di mana saja, di kamar, di ruang keluarga, di mana saja. Kondisi ini sangat jauh berbeda dibandingkan belasan tahun yang lalu. 

Kali ini, saya akan sedikit menulis tentang cerita saya dan mushaf tercinta, Al Qur'an.

Semua berawal saat saya melanjutkan sekolah ke SMPN 14 Bandung, salah satu SMP terbaik di Bandung yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari rumah saya. Sebelumnya, saya bersekolah di SD Santo Agustinus, sekolah Katolik yang merupakan sekolah 'langganan' keluarga besar Papa. Selama enam tahun, saya menjadi satu dari sekitar tiga orang siswa Muslim yang bersekolah di sana.

Oh ya, saya terlahir di keluarga multiagama. Papa Katolik Roma dan Mama Islam. Sejak lahir Mama meminta agar agama saya Islam, namun sejak lahir sampai lulus SD saya jarang sekali bersinggungan dengan Islam. Setiap Minggu saya ke gereja, belajar agama Katolik di sekolah, menjadi solois saat malam Natal dan membantu Oma saat doa mingguan di rumah. Saat itu saya kebingungan, sebenarnya saya menganut agama apa?

Sampai akhirnya saya sampai di hari pertama di SMP. Saat itu ketua kelas memimpin kami untuk memberikan salam, "Beri salam!". Dan serempak semua anak di kelas berseru, "Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh..". Saat itulah pertama kalinya hidayah datang pada saya. Saya merasa gemetar, merinding takjub, mengapa mereka semua begitu kompak memberi salam? Apa artinya salam tadi?

Kemudian datanglah sesuatu yang membuat saya panik: jam pelajaran agama Islam. Jika anak-anak Muslim lainnya menerima pelajaran agama sejak balita, bagi saya inilah pelajaran agama pertama saya. Dipimpin oleh ibu guru yang sudah sangat tua (saya lupa namanya), pelajaran agama Islam menjadi momok bagi saya. Betapa tidak, apa yang dianggap teman-teman sudah menjadi pengetahuan mendasar (rukun Islam, iman, dll) adalah suatu hal yang baru untuk saya. Saya merasa menjadi anak yang paling bodoh di kelas.

Kengerian bertambah ketika bu guru berkata jika setiap murid akan mendapatkan giliran mengaji. Mengaji? Apa pula itu?

Sampainya di rumah saya bertanya pada Mama tentang bagaimana cara mengaji. Mama sempat kebingungan karena tampaknya dirinya pun sudah lama tidak memegang Al Qur'an. Saya makin panik. Bagaimana ini? Apa kata teman-teman kalau saya tidak bisa mengaji? Bu guru juga galak. Saya menangis panik.

Akhirnya Mama mendaftarkan saya belajar mengaji di Pusat Dakwah Islam (Pusdai) di Jalan Diponegoro, Bandung, yang tidak jauh dari rumah. Saat itu Pusdai baru saja berdiri dan sampai sekarang menjadi tempat bersejarah bagi saya karena di sana lah saya pertama kali belajar mengaji dan mendapat ketentraman hati saat berkunjung ke rumah Allah.

Proses belajar mengaji bisa dibilang tidak mudah. Karena waktu itu saya mendapat giliran kelas siang, saya harus memutar otak agar diizinkan keluar dari rumah untuk mengaji. Akhirnya saya terpaksa berbohong pada Oma dan Papa. Saya meminta izin untuk keluar rumah jam 10 pagi karena harus mengikuti les tambahan yang wajib diikuti di sekolah. Alhasil mereka percaya dan setiap hari-hari tertentu saya bisa berangkat untuk mengaji.

Mengapa harus berbohong? Ya, Oma dan Papa sebenarnya tidak suka jika saya, adik dan Mama beribadah di rumah. Intimidasi saat beribadah sudah saya rasakan sejak kecil. Jika kami mencuri-curi shalat, saya akan diberikan tatapan marah. Jika kami pergi ke masjid, kami akan dikatai seperti telah melakukan kejahatan kelas berat. Dan saya sempat benci bulan Ramadhan, karena saat bulan ini kami harus berpuasa seharian, sedangkan teman-teman lain tidak, dan jika tarawih kami harus mati-matian menahan kata-kata pedas dari keluarga. Ini saya rasakan dari SD hingga menjelang lulus SMA.

Di Pusdai saya dibimbing oleh teteh-teteh penyabar untuk belajar Iqro dan surat-surat pendek. Dari mereka lah akhirnya saya bisa membaca Iqro sampai jilid 3 dan menghapal beberapa surat pendek. Karena saya tidak tahan berbohong (saya tidak suka berbohong), akhirnya perjalanan mengaji saya hanya sampai Iqra 3 dan selanjutnya saya belajar sendiri, autodidak, secara diam-diam.

Alhamdulillah, Allah memang Maha Baik. Selama SMP dan SMA, saya tidak mengalami kesulitan berarti selama mengaji di sekolah. Ternyata, teman-teman saya yang belajar mengaji sejak kecil pun banyak juga yang kemampuan mengajinya sama seperti saya. Alhamdulillah, hehehe :)

Sampai akhirnya saya merantau ke Bogor untuk melanjutkan studi di IPB. 98% lulusan SMA saya berpencar di ITB dan Unpad dan saya memilih menjadi pencilan karena saya memang sudah bertekad harus keluar dari Bandung. Selepas perceraian orangtua, rumah bukanlah rumah bagi saya. Saya hanya menemukan ketakutan dan ketidaknyamanan di sana. Maka, saya harus pergi sejauh-jauhnya dari rumah.

Maka, akhirnya saya masuk ke asrama putri Tahap Persiapan Bersama (TPB) IPB. Di sana saya mendapatkan teman sekamar yang masya Allah, hadiah dari Allah untuk saya: Icha dan Delina. Icha yang pengetahuan agamanya luas dan Delina yang penyabar dan jago menggambar.

Di tahun pertama kuliah itulah saya pertama kalinya melakukan ibadah dengan tenang, bebas dari kata was-was. Saat itu umur saya 18 tahun dan akhirnya saya bisa melaksanakan ibadah shalat tanpa intimidasi. Sekaligus, tahun itu pula saya bisa mengkhatamkan bacaan Al Qur'an saya untuk pertama kalinya. Alhamdulillah.

Berbekal Al Qur'an pertama saya yang merupakan kado ulang tahun dari Kamelia, sahabat saat SMA, saya menjadi jatuh cinta dengan Al Qur'an. Membaca Al Qur'an seperti meminum air di padang yang tandus. Begitu segar mengisi jiwa saya.

Lulus kuliah dan bekerja di BSM, yang saat itu adalah bank syariah terbesar, telah memberikan saya banyak wawasan agama, termasuk perbaikan dalam membaca agama. Di BSM pula lah saya merasakan salah satu bulan Ramadhan terindah di hidup saya. Terindah di sini adalah saya bisa memiliki banyak peluang beribadah dan difasilitasi oleh kantor. Saya bisa memiliki waktu mengaji yang cukup panjang, bisa shalat berjama'ah di masjid, mengikuti kajian setiap selesai shalat Dzuhur, berbuka bersama anak yatim, hingga tarawih di mushola gedung. Indah sekali.

Termasuk salah satu kegembiraan Ramadhan di BSM adalah saya bisa memperbaiki bacaan Al Qur'an saya. Dua orang karyawan Learning Center Division (LCD) yang juga imam langganan di masjid kantor memberikan beberapa kali kelas mengaji. Di sana saya mendalami lagi cara membaca huruf-huruf hijaiyah dan membaca Al Qur'an -yang tidak pernah saya pelajari sebelumnya-. Di kelas-kelas ini saya mendapat sedikit pujian karena bacaan saya yang lumayan baik, mengingat saya belajar membaca Al Qur'an secara autodidak. Boleh ya bangga sedikit :)

Lalu, bagaimana cerita saya dan Al Qur'an hari ini?

Ketika menjadi ibu baru, sampai Ahza berusia 2 tahun, saya mengalami kesulitan dalam memiliki waktu mengaji. Shalat wajib saja saya kerjakan dengan terburu-buru karena Ahza belum bisa ditinggal. Huhu..

Sampai akhirnya Ahza sudah bisa bermain sendiri, akhirnya saya bisa memiliki waktu untuk mengaji Rasanya rindu setelah sekitar 2 tahun kurang berinteraksi dengan Al Qur'an. Kini, saya memiliki harapan untuk mencontohkan Ahza membaca Al Qur'an setiap ada kesempatan. Saya ingin Ahza bersahabat dengan Al Qur'an. Dan semoga saya bisa memperbaiki bacaan saya dengan mengaji ke guru ngaji. Aamiin..

Ah, panjang juga yaa cerita saya dan Al Qur'an.. :)

Terima kasih untuk kamu yang sudah membaca sampai selesai, semoga menginspirasi :)

Salam sayang,
-Si Ibu Jerapah-

Comments

  1. Waoo, ceritanya membuatku bersyukur, sekaligus terlecut untuk lebih bersungguh2 lagi.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung, semoga bermanfaat! :)

Popular Posts